
Bintang
Aku saat ini sedang berada di SMA Cahaya Bangsa. Tempatku mengajar setahun lalu. Tempat penuh kenangan dimana aku memulai karir, tapi runtuh dalam sekejap karena ulah Rion.
Om Ray sudah memperbaiki keadaan secepat mungkin. Tapi memang aku yang tak punya kepercayaan diri tinggi untuk menghadapi tatapan para guru yang masih mempertanyakan kebenarannya.
Aku memutuskan untuk berhenti mengajar dan fokus pada kuliahku.
Dan sekarang, atas ajakan Ethan untuk membantu Rion di bazar sekolah aku kembali menginjakkan kakiku di sini.
Awalnya aku ragu. Aku takut. Aku malu. Tapi setelah kufikir-fikir untuk apa malu, untuk apa takut. Aku harus menatap ke depan, bukan kebelakang. Lagi pula mau bagaimanapun aku dan Rion juga masih berhubungan.
Dan satu lagi, bukankah aku ingin menemani Rion melangkah hingga ke puncak? Meskipun aku belum menerimanya, setidaknya dari kesempatan yang ku berikan, disana ada harapan.
Harapan untuk Rion menjadi pendampingku. Harapan untuk melihat Rion menjadi pribadi yang lebih baik. Hingga ia layak dijadikan pedoman bagi anak-anak kami kelak.
Akhirnya aku ada disini mengalahkan kekhawatiran akan segala kemungkinan yang terjadi termasuk lontaran pertanyaan dari para guru.
Aku dan Marisa membantu menawarkan produknya dari kelas ke kelas. Kami juga membagikan brosur dimana tertulis bagaimana caranya memesan secara online dan bagaimana langkah yang harus di ambil untuk menjadi reseller. Menurutku cara ini cukup efektiv.
Saat Rion datang dengam setumpuk kaos yang masih terbungkus rapi di tangannya aku bisa melihat tatapan memuja para murid.
Tak sedikit yang melontarkan pertanyaan. Seperti berapa lama prosesnya jika pesan secara online? Ataukah bisa costom sesuai keinginan pembeli?
"Nah, mumpung owernya ada disini kalian bisa tanyakan langsung." Aku menunjuk Rion yang berdiri di sebelahku. Karena aku sendiri memang tak memahami pertanyaan yang mereka ajukan.
"Abang ini ownernya?" tanya seorang murid perempuan dengan tatapan memuja. Huuhh kenapa aku kepanasan begini?
Rion mengangguk dan tersenyum.
"Ya ampun! Paket komplit banget bang. Ganteng, muda, kreatif, pekerja keras dan pasti mapan." Ucap yang lainnya.
"Udah punya pacar belum, bang?" tanya yang lain lagi.
Aku dan Rion saling lirik. Marisa menyenggol lenganku. Ya, semenjak kesempatan yang ku beri beberapa orang mulai mengetahui hubungan kami. Termasuk sahabat Rion yang mendukungnya untuk terus berjuang.
"Maaf ya, saya sudah menikah." Dia tersenyum mengucapkan kalimat itu.
Dan berhasil membuat jantungku berdetak tak terkendali. Untuk apa dia berbohong? Untuk menghentikan pertanyaan selanjutnya atau untuk memupuskan harapan mereka? Entahlah hanya Rion yang tau.
Bicara tentang paket komplit. Ya, Rion layak mendapat predikat itu. Berlebihan? Ku rasa tidak.
Selama sebulan ini aku melihat Rion yang seperti terlahir kembali. Rion dengan watak yang sama tapi dengan pribadi yang berbeda. Dia jauh lebih baik. Dia berubah dengan sangat cepat.
Dia menjadi sosok yang bertanggung jawab dan mandiri. Dia cepat tepat saat mengambil keputusan. Setiap langkahnya juga penuh perhitungan.
Hanya saja ketika penyerangan itu entah mengapa dia tak bisa mengendalikan emosinya. Hingga ia berusaha mengejar pelakunya.
Tapi kurasa itu wajar. Karena tempat yang ia bangun dengan tujuan baik dikacaukan oleh orang tak bertanggung jawab. Bahkan ada anak yang menjadi korban.
Setelah berkeliling dua jam, aku dan Marisa berhasil menjual lebih dari 30 potong kaos.
Dan saat aku dan Marisa akan kembali ke stand, seorang guru yang ku kenal menghampiriku.
"Hai, Bu Bintang." Sapa Miss Agatha padaku dengan senyum lebarnya.
Huuuh... Aku menghembuskan nafas berat. Haruskah ku hadapi ini?
"Hai Miss Agatha."
"Marisa, kamu duluan aja. Saya mau reunian sebentar." Ucapku pada Marisa. Dan gadis itu segera berjalan menuju stand.
__ADS_1
"Sekian lama tak bertemu, sekalinya bertemu malah jualan." Ucapnya meremehkanku.
Okey. Memancingku emosiku heh?
"Sudah dinikahi sama brondong?" Tanyanya mengejek sambil mengelus perut buncitnya.
Dor!
Tembakan pertanyaan yang langsung menembus jantung. Tapi tunggu dulu.
Oh wow. Dia hamil? Siapa pelakunya. Ah, otakku. Tentu suaminya. Tapi siapa?
"Kenapa, belum ya? Hati-hati ditinggalkan kalau dia bosan." Ucapnya lagi.
Apa urusannya denganmu?
"I'm sorry miss Agatha. Saya akan menikah jika saya siap." Itu jawaban singkatku.
"Hon..." Suara pria yang ku kenal dari arah belakangku.
"Ya, honey." Jawaban miss Agatha membuatku mual.
Aku menoleh kebelakang dan ku lihat pak Vano berjalan melewatiku dan berdiri di samping miss Agatha.
"Aku sedang menyapa Bu Bintang." Ucap Miss Agatha sok manis.
Menyapa? Jadi zaman sekarang menyapa dan menghina beda tipis, ya?
"Hai Bintang, apa kabar?" Tanya pak Vano basa-basi.
"Seperti yang kalian lihat. I'm good."
"Dan ini suamiku." Ucap Miss Agatha dengan menempelkan telapak tangannya di dada pak Vano.
Oh my good, kelebay-an yang hakiki.
"Ku dengar kamu melanjutkan kuliah ke London?" Pak Vano tau dari mana? Sosial media?
"Hem, ya begitulah. Selagi ada kesempatan. Why not?" Jawabku seelegan mungkin. Padahal aku menahan tawa melihat pasangan ini.
"Tapi akhirnya tidak dinikahi kan, Bu Bintang?" Pertanyaan apa itu Miss Agatha?
"Bukan tidak, mungkin belum." Jawabku santai. Aku harus mengakhiri ini dengan sebuah kalimat pamungkas. Tapi apa? Mikir dong Bintang!
"Cari yang sudah mapan dan lebih dewasa, Bintang. Pasti akan segera dinikahi." Ucap pak Vano.
Oh, jadi secara tidak langsung mereka mengatakan aku tak cocok dengan Rion karena perbedaan usia kami?
"Kaya karena warisan, buat apa?" Lanjut pak Vano.
Buat apa? Kaya buat apa? Oh no, dia gak tau apa kalau Maladewa itu indah? Salju di London? Kota Paris yang romantis? Raja Ampat yang ah, pengen snorkling kan jadinya.
"Lebih baik hasil keringat sendiri, kan?" Lanjutnya lagi.
Memang benar, keringat sendiri lebih baik dari pada hasil warisan. Tapi kan Rion gak minta warisan dari Om Ray?
Kalau dia minta buat apa dia buka usaha sendiri. R cafe dan Cahaya Bangsa sudah cukup untuk menghidupi dirinya dan keluarganya kelak.
Ada dendam apa sampai-sampai pasangan ini sangat kompak saat menyudutkanku? Benar kata Zoya. Jodoh itu cerminan diri. Dan sekarang aku membuktikannya dengan mata kepalaku sendiri.
"Kak..." Suara Rion? Aku melihat kebelakang. Dan wajah tampan itu menyajikan senyum mengembang.
__ADS_1
"Disini?" Tanyanya.
"Iya. Miss Agatha menyapaku." Jawabku dengan senyum tipis.
"Selamat siang pak Vano, Miss Agatha. Apa kabar?" Rion menyalami keduanya.
"Baik." Jawab keduanya kompak.
"Wah, anak pertama ya Miss?" Rion menunjuk perut Miss Agatha yang membuncit. Mungkin kehamilannya sekitar 5 atau 6 bulan.
"Ah, Iya Orion."
"Permisi dulu, Pak. Kami harus kembali ke stand. Calon istri saya bisa dehidrasi karena berdiri terus."
"Ayo kak!"
Aku berusaha meyakinkan diri bahwa aku tak salah dengar. Rion bilang calon istri? Astaga, jangan mengulang kesalahan Rion!
"Permisi pak Vano, Miss Agatha." Pamitku.
Kami berbalik dan mulai berjalan. "Semoga usahaku sukses terus ya kak."
"Kalau aku kaya. Kita kan bisa umroh bersama, ke Paris, New Zealand, Korea, atau bawa anak-anak pergi ke Disneyland." Ucapnya dengan senyum.
Aku menatapnya. Inikah caranya membungkam mulut pak Vano dan Miss Agatha?
Karena ku yakin sepasang suami istri di belakang kami bisa mendengarnya dengan jelas.
"Atau kita honeymoon ke Jeju Island?" Tanyanya sambil mengerling.
Dih, centil.
Aku mencubit pinggangnya. "Aww... Gak mau ya?" Tanyanya sambil berusah melepaskan diri.
Aku melepaskan cubitanku.
Rion berjalan mundur dan menatapku. "Mau dimana kak? Jakarta? Tau aja Jakarta gerah." Dia tersenyum penuh arti.
Lalu kalau gerah kenapa? Hah! Gak pakai ba... Astaga pikiranmu Rion. Sekarang aku sadar akan ucapannya.
"Rion!" Aku berlari mengejarnya yang berjalan beberapa meter di depanku.
"Kenapa kak? Gak jadi di Jakarta? Berubah fikiran." Tanyanya saat aku sudah berhasil berjalan di sebelahnya.
Aku tersenyum miring.
"Iya berubah fikiran untuk kesempatan setahunnya." Aku berjalan lebih dulu.
"Kak... kak... jangan dong! Iya... iya... sorry gak bicara begitu lagi." Rion berusaha mengejarku. "Aku cuma becanda kak." Ucapnya meyakinkanku.
Aku berusaha menahan tawaku. Baru digertak begitu udah kelabakan.
Brondong bucin.
****
Hari ini belum tahu up berapa bab.
😢 Jangan di tunggu ya
Tapi doa kan saja khilaf 😅
__ADS_1