
Orion
Aku baru saja menghentikan mobilku. Dan ku lihat beberapa orang berkumpul di depan rumah baca. Aku juga sempat melihat tiga orang berbadan besar mengendarai sepeda motor keluar dari parkiran rumah baca.
Aku keluar dari mobil dan ku lihat pintu rumah baca itu tak berkaca lagi. Pintu kaca itu hancur berkeping.
Aku segera berlari masuk ke dalam. Aku melewati serpihan kaca yang berserakan. Dan mataku langsung tertuju pada dua gadis yang berusaha membangunkan seorang anak laki-laki.
"Kak! Astaga!" Teriakku saat kak Bi dan Tiara berusaha membuat Rizal sadar.
"Rion! Cepat tolong, Yon!"
Aku berusaha menggendong Rizal.
"Rion! Ini aku yang urus!" Nath datang di belakangku bersama Nair.
"Kamu urus polisi yang sebentar lagi datang."
"Warga di depan sudah lapor polisi." Ucap Nath sambil mengangkat tubuh Rizal.
"Tiara, ikut Nath ke klinik!" Perintah kak Bi pada Tiara. Tiara langsung ikut di belakang Nath setelah aku memberikan kunci mobilku padanya.
"Anak-anak." Kak Bi tiba-tiba berucap cepat dan segera berdiri. "Nair, anak-anak di belakang!"
Kami bertiga langsung berlari ke belakang. Aku berusaha membuka pintu yang mereka kunci dari dalam.
"Aku takut, bang." bisik salah satu anak perempuan.
"Huhuhhu..." Suara rintihan tangis anak-anak terdengar di telingaku.
"Anak-anak! Ini kak Bintang sayang. Buka pintunya." Kak Bi menggedor-gedor pintu.
"Abang disini, adik-adik." Ucapku panik karena mereka tak ada yang mau membuka pintu.
Cklek! Pintu terbuka.
Anak-anak menghambur memeluk kami termasuk Nair.
"Tenang ya, kalian gak usah takut. Mereka sudah pergi." Ucap kak Bi pada mereka.
"Kalian tetap di sini sama kakak dan abang ini ya. Tunggu pak polisi datang."
"Takutnya di luar belum aman untuk kalian."
"Siapa pelakunya kak?"
Kak Bi menggeleng.
"Bang Baron, bang!" Ucap salah satu anak.
Aku tahu siapa Baron. Preman yang sering memalak anak-anak dan memperdaya mereka untuk jualan.
Dan sekarang dia mencari masalah dengan menghancurkan tempat yang anak-anak suka.
Buugh! Aku meninju dinding.
"Bajing*n!"
"Nair, titip kak Bi sama anak-anak." Ucapku sambil melangkah.
"Rion! Mau kemana Yon!" Teriak kak Bi.
"Mau kasih pelajaran sama mereka kak. Biar gak seenakya mengacaukan tempat orang!"
Kak Bi mengejarku dan berdiri di depanku. Dia merentangkan tangannya.
Sementara aku melihat orang-orang mulai membubarkan diri. Mereka tak ada yang berani melawan tiga orang preman yang menyerang dua orang gadis dan seorang anak kecil.
__ADS_1
Apa karena takut atau rasa empati memang sudah tak ada lagi di hati mereka?
"Kak! Aku harus memberi mereka pelajaran!" Aku menatap kak Bi yang juga menatapku tajam.
Sudut bibirnya terdapat darah yang mulai mengering. Pipinya masih merah. Apa yang mereka lakukan padamu kak?
Keadaan kak Bi semakin memancing amarahku. Tangaku mengepal dan aku melangkah maju.
"Rion jangan!" Kak Bi berteriak dengan air mata yang sudah menetes.
"Awas kak!" Aku meminta kak Bi minggir dan tak menghalangi jalanku.
"Gak Rion!" Teriaknya.
"Kak!" Bentakku.
Greep. Kak Bi memelukku. Aku tercengang, terkejut dan berdebar bercampur jadi satu.
Rasanya semua emosi dan amarah luruh seketika.
"Gak Yon! Jangan tambah masalah." Kak Bi mengkhawatirkanku?
"Pelakunya gak cuma satu orang!"
"Bahaya, Yon!" Kak Bi mungkin tak sadar tengah memelukku.
"Jangan, Yon!" Suaranya melemah.
Aku ingin membalas pelukannya, tapi aku takut kak Bi salah mengartikannya.
"Kak," Aku melerai melukannya.
"Kita obati luka kakak dulu, ya." Ucapku lembut.
Kak Bi menatapku lalu mengangguk. "Janji jangan gegabah, Yon? Serahkan semua pada polisi." Ucap kak Bi.
Aku mengangguk lemah. Bertepatan dengan datangnya beberapa orang polisi.
Polisi meminta keterangan dari kak Bi mengenai kronologi kejadiannya.
Jadi preman itu mencariku?
"Pak, tolong selidiki kasus pemerk*saan yang di lakukan oleh bos preman itu pada kakak dari anak bernama Rizal pak." Ucap kak Bi memohon pada pak polisi.
"Baik, bu akan kami selidiki."
"Yon, bukti rekamannya?" tanya kak Bi padaku.
Aku memberikan file rekaman yang telah ku copy terlebih dahulu.
"Terima kasih atas kerja samanya. Kami harap kalian bisa hadir jika sewaktu-waktu kami panggil ke kator polisi."
"Baik pak."
Rumah baca untuk sementara diberi garis polisi. Aku meminta pada polisi untuk mengantarkan anak-anak ke rumah mereka dengan mobil patroli.
Dan petugas kepolisian bersedia. Demi keselamatan mereka juga.
Aku membonceng kak Bi menggunakan motor Nath menuju klinik tempat Nath membawa Rizal dan Tiara.
Nair mengikuti di belakang dengan motornya.
Diperjalanan kami saling diam. Hingga sampai di klinik yang tak jauh dari rumah baca.
Kami tiba bertepatan dangan Nath yang hendak berjalan masuk dengan dua botol air mineral serta beberapa makanan di dalam kantung plastik di tangannya.
"Gimana Nath?" Tanyaku.
__ADS_1
"Kita masuk aja dulu." Ajak Nath.
Kami duduk di kursi di depan ruangan Rizal di rawat. Tiara sudah ada disini terlebih dahulu. Lukanya juga sudah diperban.
"Rizal butuh istirahat sebentar, Yon!" Ucap Nath sambil memberikan sebotol air mineral dan kantong plastik itu pada Tiara. "Makan!" Ucapnya pelan pada gadis itu.
Kaku banget, Nath. Sempat-sempatnya ada hiburan gratis disaat seperti ini.
"Luka goresnya gak terlalu parah." Lanjut Nath.
"Cuma kata dokter tangan kanannya mungkin terkilir atau retak."
"Astagfirullah!" Ucap kak Bi terkejut. "Dia memang terbentur cukup keras." Lanjutnya.
"Mungkin itu penyebabnya kak. Kita harus bawa Rizal ke rumah sakit untuk pertolongan lebih lanjut." Ucap Nath.
"Oke segera ku urus." Aku langsung berdiri.
"Aku harus telpon mami untuk menyiapkan segala sesuatunya di sana."
Aku segera menghubungi mami. Aku memberi tahu mami bahwa ada seorang anak yang terluka akibat diserang preman di rumah baca.
"Bagaimana bisa, Yon?" Suara mami terdengar khawatir.
"Ceritanya panjang, Mi. Untuk sementara rumah baca masih dipasang garis polisi." Ucapku lemas.
Niatku baik, tapi mengapa diawal yang jalannya mulus kini mulai muncul kendala.
"Papi tau?"
"Enggak Mi. Rion sudah urus semuanya. Ada kak Bi sama Nath di sini."
"Bi di sana?"
"Ya udah. Mami langsung urus di sini."
"Kamu hati-hati, Yon."
Panggilan terputus.
Aku menghela nafas berat. Rasanya kenapa aku jadi membawa mereka semua dalam bahaya. Kak Bi, Tiara, Rizal, dan anak-anak yang lain.
Aku duduk di kursi dan mengucap wajahku berkali-kali. Tepukan ringan di bahu kanan membuatku menoleh, aku menengadahkan wajahku. Ku lihat kak Bi tersenyum.
"Semua akan baik-baik aja, Yon." Tepukan itu kini berubah menjadi usapan lembut.
"Kak, maaf membawa kakak dalam masalah." Ucapku menunduk memijat kening dengan siku bertumpu di lututku.
Tapi tangannya berpindah ke kepalaku. Mengusap rambutku dengan lembut. Terasa nyaman.
"Ada seseorang yang mengatakan padaku, Yon."
"Menemani seseorang dari nol akan sangat membanggakan, terlebih jika kita tiba di puncak dengan tangan yang masih saling menggenggam." Ucapannya membuatku memberanikan diri menatap wajahnya. Wajah lelah dengan sudut bibir sedikit membiru.
Kak Bi tersenyum. "Dan aku ingin membuktikannya. With you."
*Ahhhhh, aku melt*ed.
****
Minggu pagi langsung ku kasih 2 nih 😊
Pagi-pagi Rion udah melted 😂
Ah, konflik ini ibarat jeruk asem, terus rayuan gombal Bi jadi gulanya. Melted deh di atas kena air jeruk 😂
Aku ngomong apa 😆
__ADS_1
Jejaknya di tinggal kak.
Kolom komentar coret aja. Gapapa 😃