BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
102 Peringatan


__ADS_3

Bintang


"Selamat pagi, Mi, Pi." Sapaku pada kedua mertuaku yang sudah berada di meja makan.


"Selamat pagi, Bi. Seger banget ih bumil cantik." Mami memujiku. Ya, hari ini memang aku merasa lebih segar, aku tidak muntah pagi ini. Yeey... aku senang. Tahu penyebabnya? Semua produk yang aromanya tidak ku sukai baik di kamar mandi atau kamar tidur kami, sudah Rion singkirkan.


Sabun mandi cair berganti dengan sabun mandi batang, pengharum ruangan sudah tidak ada lagi. Parfum yang aromanya kuat sudah diganti dengan yang soft dan lebih mirip aroma buah atau sirup.


Aneh? Memang. Entahlah, aku juga tidak tau kenapa bisa begini. Tapi aku senang, Rion selalu melakukan yang terbaik. Saat ku pinta dia memelukku tanpa memakai baju semalaman, dia tidak keberatan. Dia sampai menggigil karena AC yang tidak ingin ku ubah lagi suhunya.


Aku tidak menyangka dia berubah secepat ini. Dia jadi lebih dewasa baik cara berfikir hingga sikapnya. Dia penyabar, lebih kalem, tidak pecicilan, dan yang pasti makin ganteng.


Aku dan Rion duduk bersebelahan. Papi berada di ujung meja, mami dan Chiara duduk di depanku dan Rion.


Kami sarapan bersama, rutinitas yang tak pernah terlewatkan di rumah ini. Menu yang di hidangkan terkadang bertambah satu atau dua jenis, mengingat aku yang tak kuat dengan aroma tajam rempah-rempah. Aku lebih sering makan sayur yang hanya di rebus atau hanya ayam goreng dan sambal.


Kata mami, tidak masalah, saat Rion menanyakan apakah makanan yang ku makan sudah memenuhi kebutuhan gizi yang dibutuhkan olehku dan calon anak kami.


Kata mami aku masih bisa mengkonsumsi buah dan susu serta vitamin yang diresepkan dokter, jadi tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan selagi aku masih bisa makan dan tidak memuntahkannya kembali.


"Hari ini, jalan-jalan yuk, kak!" Chiara mengajakku saat sarapan pagi ini selesai.


Aku berfikir sejenak. "Boleh."


"Gak boleh." Aku dan Rion berucap bersamaan.


Chiara langsung cemberut. "Pelit!" Dia melirik tajam ke arah Rion.


"Biarin, istri abang, ini." Jawabnya sambil meraih gelas berisi air putih yang tinggal setengah lalu meneguknya.


"Sebentar doang, bang. Ke cafe yang baru buka di jalan X." Bujuk Chiara.


Rion menggeleng berkali-kali tanda tak akan pernah setuju.


"Ayolah, Yon. Sebentar aja." Aku ikut membujuknya. Aku juga butuh jalan-jalan, tau! Rutinitasku hanya rumah-kampus-rumah baca- kadang ke gedung Orbit.


"Bi, Nanti kalau kandungannya udah usia empat bulan, kamu bebas pilih mau kemana." Kami semua menatapnya. Mami sampai memicingkan mata mencurigai putranya sendiri.


"Mau apa? Babymoon?" Papi langsung menebak.


"Heheheh... iya." Rion tertawa menunjukkan giginya.


Plak!


Aku memukul lengannya. "Kebanyakan baca buku mami nih." Tuduhku.


"Emang iya. Kehamilan di trisemester pertama itu rentan, Bi. Nanti kalau janinnya udah kuat, kita naik pesawat, jalan-jalan jauh. Okey!" Rion mengelus kepalaku.


"Dan ibu hamil gak boleh stress, kamu harus happy. Boleh deh mulai sekarang coba browsing tempat liburan yang ingin kamu kunjungi."


"Bilang ke aku, kita atur jadwal sama budget." Lanjutnya.


"Rion, dengar ya sayang. Aku sama Chia cuma keluar sebentar. Lokasinya juga cuma 15 menit dari sini."


"Kamu ajak Rizal sana!" Apa-apaan Rion ini. Chia ngajak aku, bukan Rizal. Ayo dong, setuju sayang.


"Yon! Awas aja kalau anak aku sampai ileran gara-gara keinginanku yang gak keturutan!" Aku bersungut-sungut.


"Sebentar aja, Rion! Bi selama ini juga baik-baik aja tiap hari ke kampus kadang ke rumah baca juga kan?" Ucap mami membelaku. Aku mengangguk.


Rion diam dan berfikir sejenak. "Boleh. Aku ikut!" Aku dan Chiara membulatkan mata.


Mami dan papi menahan tawa.

__ADS_1


Jika tadi ku katakan dia menjadi lebih dewasa, maka akan ku sambung dengan, tapi makin posessif.


Aku gemas melihatnya yang malah asyik memeriksa statistik penjualan Orbit. Aku melirik ke ponselnya.


Astaga! Kenapa grafiknya naik setinggi gunung. Alhamdulillah...


"Kenapa matanya mendelik begitu, Bi?" Rion mengagetkanku.


Spontan aku mengendalikan diriku, menetralkan debaran jantung yang terkejut melihat grafik penjualan bulan ini yang meningkat 2 kali lipat.


"Ehh.. enggak."


"Kaget lihat grafik?" Tanyanya.


Aku mengangguk pelan. Dan Rion mengelus perutku. "Rezekinya dia." Usapan tangannya menenangkan. "Selama ada dia disini, semua berjalan lancar."


"Memang begitu, Yon. Percaya atau gak, anak itu memang membawa rezeki bagi orang tuanya." Papi membuatku menatap kearahnya.


"Tetap menjadi Rionnya mami, nak."


"Jangan putus asa dan selalu happy menghadapi setiap masalah. Kalau di ibaratkan, kesuksesan kamu masih di atas sana." Mami menunjuk lantai dua.


"Kamu masih menapaki anak tangga pertama, atau kedua. Jadi perjalanan masih panjang." Lanjut mami. Rion mengangguk faham.


"Bi, tetap berada di samping Rion. Berjalan bersamanya, dampingi dia, gandeng tangannya. Dan jika dia mulai goyah, ingatkan. Tujuan kalian masih jauh di depan."


"Iya pi." Aku mengangguk. "Bi sanggup, asal Rion gak menggandeng wanita lain dengan satu tangannya yang lain." Ucapku pelan membuat mereka menatapku penuh tanya.


"Maksudnya?" Mami bertanya.


"Anak mami ini banyak yang naksir, mi." Rion yang menjawab.


"Sok ganteng." Cibir Chiara dan papa.


"Iya... iya..." aku sudah kenyang karena sarapan pagi ini. Jangan sampai aku muntah mendengar gombalannya yang receh itu.


Siangnya, Rion menepati janji. Membawaku dan Chiara ke cafe dengan tema cotton candy ini.


Aku dan Chia memesan dua cotton candy. Pilihanku jatuh pada bentuk hello kitty dominasi warna pink dan putih. Sedangkan Chia memilih warna biru berbentuk kepala doraemon.


Kami bertiga duduk satu meja dengan Rion di depanku dan Chiara di sebelahku. Rion berkali-kali mencomot cotton candy milikku dan melahapnya dengan cepat.


"Bagi dikit, Bi. Kamu gak boleh kebanyakan makan gula. Entar endut."


"Bang! Kasian kak Bi-nya." Chia membelaku. "Segini gak akan buat kak Bi gendut, bang!"


Aku menjulurkan lidah kearah suamiku yang tampan meski hanya dengan kaos hitam dan topi berwarna senada itu.


"Iya, calon dokter!" Cibir Rion.


Rion berdiri. "Mau kemana?" Tanyaku.


"Toilet. Kenapa? Mau ikut?" Tanyanya.


"Boleh, pengen pipis nih." Aku bersiap dan berdiri dari kursi.


"Kamu disini dulu ya, Chia."


"Siap kak!"


Aku masuk ke toilet wanita dan Rion ke toilet pria yang kebetulan letaknya bersebelahan.


Aku masuk ke dalam, ada 4 pintu dan hanya ada 1 yang kosong. Aku segera masuk dan menuntaskan niatku.

__ADS_1


Aku keluar dan berdiri di cermin besar dengan 4 wastafel yang berjajar didepan cermin besar itu. Aku merapikan hijabku.


"Rion, kamu disini?" Aku bisa mendengar suara gadis yang menyapa pria bernama Rion. Rion suamiku, bukan?


"Seperti yang kamu lihat."


Aku segera keluar dan mendapati seorang gadis berdiri berhadapan dengan suamiku. Aku bersandar di dinding, melipat tanganku di dada. Aku ingin lihat, aksi apa yang akan mereka tunjukkan.


Gadis berpakaian seketat dan ses*xy itu pasti bisa membangkitkan milik Rion dibawah sana. Aku masih ingin jadi penonton.


"Kamu jutek banget sih." Eiits tangannya mulai jahil, mau noel hidung suamiku. Untung saja Rion refleks menghindar.


"Aku ada urusan." Rion berusaha menghindar dan berjalan maju. Namun gadis itu malah menghadangnya lagi.


"Kemana? Nyari simpanan? Udah bosen ya sama istri kamu? Buktinya ke cafe sama gadis belia."


Aku mengerutkan kening. "Aku lihat tadi di parkiran, kamu turun sama gadis yang kayaknya masih SMP."


Chiara? Oh, mungkin dia melihat Rion hanya turun dengan Chiara. Aku memang agak lama di dalam mobil karena menelpon Zoya, dan lagi pula Rion belum membukan pintu mobil untukku.


"Rion... Rion... kalau bosen sama yang tua, cari yang sebaya dong. Bukan sama yang masih bocah." Ucapannya membuat Rion tersenyum miring.


Maksudnya cari yang sebaya itu siapa? Dia? Mimpi!


"Bosen atau gak, bukan urusan kamu."


"Dan satu hal, pastikan dulu sebelum malu." Rion mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah gadis itu.


Ck! Mungkin maksudnya memastikan bahwa gadis belia itu adalah adiknya sendiri?


"Jangan memaksa masuk jika tidak dibukakan pintu."


"Karena tidak semua hubungan rumah tangga bisa kamu ketuk pintunya."


"Aku sudah punya berlian, jadi jangan harap aku memungut kerikil jalanan."


Rion berjalan dan segera menggandeng tanganku. Aku memalingkan wajahku ke belakang, ku lihat gadis itu menatap kami dengan wajah cemberutnya.


Dia gadis yang sama dengan yang ku temui di parkiran kampus. Gadis yang terang-terangan ingin merebut suamiku.


Aku berharap, ujian seperti ini dengan mudah kami lewati. Aku bukan tak percaya pada Rion. Tapi jika ombak besar selalu datang, bukan tidak mungkin dia akan goyah. Hingga biduk rumah tangga kami yang akan karam.


"Jangan khawatir, dia tidak secantik kamu, sayang." Rion menenangkanku dengan bisikan lembutnya.


"Tapi dia gitar spanyol." Jawabku.


"Tapi aku lebih suka gendang." Dia tertawa pelan.


"Jadi maksud kamu aku gendut, kayak gendang?" Ucapku penuh penekanan.


"Gitar gak bisa bikin aku nari. Kalau gendang bisa. Bisa buat aku nari diatas kamu." Pikiran mesum kembali menguasai otaknya.


"Tutup mulut kamu. Didenger orang malu." Aku mencubit perutnya.


"Hahahahah." Dia malah tertawa. "Nanti malam aku tunjukkan caranya menari di atas kamu." Dia kembali tertawa.


*****


Pelakor sudah di hempas oleh bapak Rion sendiri.


Minta masukan nama baby Enzoy sama Orbit dung.... 😂 Tetap dengan nama belakang Ganendra sama Danadyaksa ya 😃


Pliss coret di bawah. Aku udah browsing cari nama baby. (sampe berasa mau namai anak sendiri 😅) Tapi belum ada yg klop 😂

__ADS_1


__ADS_2