BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
42 Dosen cantik


__ADS_3

Orion


"Parah-parah-parah. Cantik banget."


"Siapa sih?"


"Dosen baru. Muda, cantik, berhijab pula. Ah, kudu nge-halalin aja."


Aku mendengar obrolan beberapa mahasiswa di meja depan. Aku sekarang sedang duduk di kantin kampus. Menikmati sarapan yang tertunda karena bangun kesiangan akibat terlalu bahagia bisa diterima kak Bi.


Sebenarnya bukan diterima. Tapi masih digantung. Tidak masalah, karena semua bergantung pada diriku, sikapku dan pembuktian rasa cintaku.


"Smart, dan inner beauty-nya beeeh, untung aku cewek. Kalau cowok, fix bakalan jatuh cinta." Ucap salah satu gadis di kumpulan itu.


"Lulusan S2 di Inggris sih dari yang ku dengar."


"Tau dari mana?" Yang lain bertanya penasaran.


"Om ku kan dosen. Udah jadi trending banget tau di kalangan dosen."


"Jadi rebutan pasti."


"Ah, pak dosen gantengku bisa-bisa kepincut sama dosen baru itu."


Aku menggeleng. Sempat-sempatnya bergosip masalah dosen.


Dosen baru? Entahlah, tak ada nama dosen baru dalam jadwalku. Itu berarti aku tak masuk di kelasnya.


"Yang naik mini cooper biru, bukan?" tanya seorang cowok pada temannya.


"Nah, iya! yang itu." Seorang gadis membenarkan.


"Gila.. tajir sih udah pasti. Paket komplit."


Mini cooper biru, berhijab, lulusan S2 Inggris, tajir, paket komplit, rebutan para dosen.


Astaga!! Kak Bi?


Aku meninggalkan sarapanku yang hanya tersisa piring dan sendok. Lalu segera membayar.


Aku berlari mencari tempat parkir khusus dosen dan mataku membulat sempurna. Sebuah minicooper dengan plat B 5 TAR bertengger diantara mobil para dosen.


Star, Bintang.


Oh my God. Kak Bi jadi dosen di sini? Sejak kapan?


Aku kembali ke kelas. Karena aku masih punya beberapa jadwal hari ini. Walaupun sedikit tak berkonsentrasi, aku harus tetap menyelesaikan jadwalku hari ini.


Aku keluar sekitar jam 2 siang. Entah ku sebut ini kesialan atau keberuntungan, tapi ban mobilku yang bocor membuatku terdampar dalam mini cooper biru bersama pemiliknya yang sedang menjadi trending topic dikalangan dosen dan mahasiswa.


"Heheh... Aku bisa naik taxi sebenarnya kak." Ucapku saat kak Bi menyuruhku mengemudikan mobil.


Kak Bi melihatku di pinggir jalan, sedang duduk hendak memesan taxi online. Lalu menyuruhku masuk.


"Belum dipesan, kan?" Tanyanya saat aku mulai melajukan mobil.


"Belum."


"Udahlah, lumayan ngirit ongkos."


"Tapi aku belum mau pulang kak." Ucapku pada kak Bi.


Kak Bi menatapku. "Jadi?"


"Aku mau..." Aku ragu.


"Ketemu Tiara?" tanyanya sedikit kesal.

__ADS_1


Why? Apa salahku?


Belum sempat ku jawab, ponselku bergetar. Sengaja ku letakkan di dashboard mobil.


"Kak, tolong diangkat. Siapa tahu penting."


"Punya tangan kan, Yon?"


"Punya kak. Kan untuk nyetir. Lagi pula bahaya kak nyetir sambil angkat telpon." Aku memberi alasan.


Kak Bi melihat layar ponselku. "Panjang umur nih anak." gumam kak Bi.


"Tiara, Yon." Ucapnya menyodorkan ponsel kearahku.


"Tolong loudspeaker aja kak. Siapa tahu penting."


Kak Bi menjawab panggilan Tiara.


"Bang! Dimana?" tanyanya dengan nada manja.


Mati! Feeling gak enak.


Wajah kak Bi datar.


"Masih di jalan, Ti. Ada apa?"


"Cepat kesini bang! Teman abang yang kayak Upin-Ipin datang. Tapi Tia gak tau ini yang Upin atau Ipin?"


"Dia nanyain abang terus."


Aku dan kak Bi saling tatap.


"Siapa Ti? Nath sama Nair?"


"Tia gak tau namaya, Bang. Pokonya ini yang cerewet, banyak omong, usil, tengil..."


"Kalau ngomongin orang jangan pas ada orangnya dong!" Suara pria di sebrang sana.


"Yon, cepat datang! Aku bawa banyak buku baru. Harus segera didata. Besok-besok aku gak sempat." Teriak pria itu.


"Iya, sabar donk! Aku juga di jalan Nath."


"Cepat, Yon. Penunggu Rumah Baca kamu serem. Cuma natap buku doang dari tadi."


"Emangnya Tia setan!" Ucapan Tiara berhasil membuat senyum di bibir Kak Bi terbit.


Aku tertawa. "Iya-iya. Jangan diganggu Nath, lecet sedikit kamu habis sama bang Ezra!"


"Tuut... tut... tut..." Panggilan terputus.


Tapi kak Bi menatapku penuh tanya. "Tanya aja, Kak."


"Dari pada menduga-duga, tapi salah duga kan susah. Entar miskomunikasi lagi." Aku senyum ke arahnya.


"Padahal baru baikkan." Lanjutku.


Kak Bi duduk bersandar, tapi matanya menatap kedepan. Mungkin dia merasa aku berhasil menebak isi kepalanya.


"Tiara di gaji?" Lah, pertanyaannya antimainstrem bener.


"Ya di gaji lah kak."


"Dia bukan founder Rumah baca?" Tanya kak Bi lagi.


"Bukan kak."


"Foundernya aku, tapi aku didukung banyak orang kak."

__ADS_1


"Terus kenapa contact person di selebaran hanya ada nama kalian berdua." Kak Bi bertanya penuh selidik.


Orang smart mah beda, cemburunya berkelas.


Oke Rion, mulai sekarang harus terbiasa seperti ini. Rasanya bahagia ada yang cemburu, tapi repot juga harus jelasin ini dan itu.


"Karena hanya ada Tiara yang standby di Rumah baca kak."


"Lagi pula itu ponsel memang khusus Rumah baca. Bukan barang pribadi Tiara."


"Lalu tentang Ezra?"


"Bang Ezra itu yang kenal Tiara kak. Ya bisa dibilang mereka kenal karena masa lalu bang Erza yang... kakak tau sendirilah."


Rasanya tidak perlu menjelaskan secara gamblang, karena kak Bi pasti lebih tau soal bang Ezra dimasa lalu.


Kak Bi mengangguk.


Aku menepikan mobilku di salah satu gerai milik bang Ezra di jalan Xx.


"Kenapa, Yon?" Tanya kak Bi, karena aku turun dari mobil.


"Ambil titipan kak. Sebentar, kakak di dalam aja." Perintahku. Aku segera keluar dan menemui seorang pria di gerai itu.


"Bang Rion, ya?" tanyanya.


"Iya, udah selesai bang?" tanyaku.


"Tunggu sebentar ya bang." Ucap pria itu.


Aku melihat ke arah mobil, kak Bi menatap ke arahku. Mungkin dia bingung apa yang sedang ku lakukan.


"Bang..." Panggil pria itu dan aku langsung menerima beberapa kantong plastik berisi kebab titipan bang Erza untuk dibagikan pada anak-anak yang berada di rumah baca.


"Terima kasih, Bang "


Aku kembali ke mobil dan meletakkan bungkusan itu di kursi belakang.


"Banyak banget, Yon?"


"Iya kak, titipan bang Ezra untuk anak-anak." Ucapku. Lalu aku kembali fokus mengemudi.


"Kita gini-gini aja kak?" Tanyaku sambil melihat kak Bi sekilas.


Kak Bi melirikku sekilas, lalu kembali menatap ke depan. "Jadi mau kamu gimana?"


Aku senyum-senyum sendiri. "Ya kali persiapan, cari hotel kek, fitting baju kek."


Kak Bi menatapku tajam. "Keputusannya setahun lagi, Yon. Kamu lulus atau gak jadi calonku."


Aku lemas. "Yaaaa... Lama lagi dong."


Kak Bi tertawa. "Biar gak lama kutinggal ke Inggris lagi mau gak?"


"Eh, ya jangan kak!" Ucapku tegang.


"Kalau kakak pergi, akan aku susul kemana pun." Ucapku yakin. Ya, kali ini kesalahan tak boleh terulang lagi.


Bibirnya mencebik. "Gayaan!"


"Bener kak..." Aku meyakinkan.


Hening...


Aku menatap kak Bi sekilas. Kak Bi tersenyum ke arahku, "Jangan kecewakan aku lagi, Yon."


Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bulir bening menetes di sudut matanya.

__ADS_1


Apa selama ini kak Bi juga tersiksa karena keadaan?


"Gak akan pernah, Kak." Ucapku tulus.


__ADS_2