BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
106 Nath pulang


__ADS_3

Bintang


Malam ini aku sengaja menginap di rumah mama karena Nath memberi kabar akan pulang malam ini.


Selama di Jogja, Nath sungguh menutup semua informasi tentangnya. Ia hanya sesekali mengirimkan foto selfie saat berada di sebuah tempat yang ia kunjungi. Kadang di tempat wisata, kadang di restoran.


Mustahil bukan, kalau dia disana sendirian? Tapi dengan siapa dia disana? Pertanyaan silih berganti masuk dalam fikiranku. Membuatku sulit tidur nyenyak kemarin malam.


Aku takut ia mengecewakan mama, sama seperti aku dan Zoya. Dan mengingat dia anak kandung papa, laki-laki pula, maka jika dia berbuat di luar batas, papa pasti akan sangat murka. Untuk itulah aku disini. Untuk menenangkan mama dan papa.


"Bi... udah dong sayang. Kamu tidur, ya." Bujuk Rion yang sedari tadi hanya melihatku mondar mandir di dalam kamar. Aku menatap jam dinding, sudah jam 10.


"Nath kenapa belum pulang, sih?" tanyaku kesal. "Katanya malam ini dia pulang."


"Mana aku tau sayang!" Jawab Rion serba salah. "Lagi pula malam masih panjang. Bisa aja dia sampai pas tengah malam nanti."


Tok... Tok... Tok...


Rion membuka pintu dan ternyata Ezra dan Zoya ada di depan kamar kami.


"Masuk bang." Rion memberi jalan agar Ezra dan Zoya bisa masuk.


"Belum tidur juga, Bi?" tanya Zoya.


"Gak bisa, Zoy. Ini kayak de javu. Inget banget pas kita buat salah dan mama marah besar." Ucapku mengingatkan Zoya pada kesalahan kami 2 tahun lalu.


"Heemm!" Deheman Rion membuatku nyengir. Dia merasa bersalah juga, ya karena memang kesalahnku dulu juga atas campur tangannya.


Tok... Tok...


"Kak, aku boleh masuk." Itu suara Nair.


"Masuk aja, Nair." Sahutku.


Nair masuk dan terkejut melihat Zoya juga berada disini. "Kak Zoy disini juga?"


"Gak bisa tidur, Nair. Kamu kenapa kesini?" Balas Zoya.


"Sama kak. Gak bisa tidur juga. Entah kenapa feelingku gak enak banget." Aku semakin khawatir, biar bagaimanapun Nair adalah saudara kembar Nath. Ikatan batin diantara mereka berdua pasti tidak bisa dianggap remeh.


"Kamu bikin mereka jadi khawatir, Nair!" Bisik Rion pada adikku itu.


"Ya aku harus gimana, Yon!"


"Sholatlah, Zikir dan berdoa. Katanya ikut pengajian tapi gitu aja masih diajari." Rion mencibir Nath. Aku mendelik kearah suamiku yang bicara tanpa fikir dulu.


"Udah Yon tapi masih gelisah juga."


"Kak..."


"Aku sebenarnya merasa sebulan ini, Nath itu berubah." Kami menatap Nair lekat-lekat.


"Issh... biasa aja lihatnya." Nair mendorong wajah Rion yang melihat wajahnya terlalu dekat.


"Berubah gimana?"


"Dia sering melamun kak. Kadang marah sendiri, kadang senyum-senyum. Yang lebih parah, kadang dia uring-uringan gak jelas kak."


"Dia stres kali, Nair. Kan kemarin-kemarin dia lagi ujian." Nah, jawaban Ezra ada benarnya juga.


"Tapi itu kayak ciri-ciri orang jatuh cinta, bang." Rion membuat kami serentak menatapnya. Ia sampai memundurkan wajahya karena takut melihat tatapan kami yang seperti ingin melahapnya.

__ADS_1


"Aku takut dia buat salah, Nair."


"Aku gak bisa bayangin, kalau Nath pulang bersama wanita hamil tua dan mengaku bahwa itu anaknya."


"Ihh... amit-amit, Bi." potong Zoya.


"Atau bahkan Nath dan wanita itu menggendong bayi. Bisa aja kan, dia kesana karena wanita itu melahirkan?" Rion membuat kami semakin bergidik ngeri.


"Udah ah! Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Nih lagi duo bumil, bukannya rileks dan gak mikir yang berat-berat. Ini malah mikirnya pada ngaco." Ezra always paling dewasa. Hehehe..


Suara motor masuk ke halaman rumah. "Nath!" Teriak kami bersamaan.


Kami segera turun, mama papa bahkan sampai terkejut saat kami berlima menuruni anak tangga. Ternyata mama dan papa menunggu di ruang keluarga.


"Tersangkanya aja belum masuk. Tapi algojonya udah pada turun." Bisa aja nih papa bercandanya. Gak tau apa orang di atas udah deg-degan kayak mau nerima kelulusan.


"Tapi bagus lah."


"Assalamualaikum." Ucap Nath pelan saat membuka pintu.


"Waalaikum salam." sahut kami bersamaan.


Nath yang sedang menutup pintu itu sampai terjingkat karena terkejut.


"Pada disini semua?" Tanyanya mendekat.


Aku melihat dia tampak lelah. Kantung matanya terlihat jelas. Wajahnya juga tampak kusam. Dia liburan atau nguli di pasar?


"Duduk!" Perintah papa. Kami semua duduk di sofa dan Nath, si tersangka harus duduk di sofa kecil tanpa sandaran itu.


"Beegh. Langsung masuk meja hijau nih?" Tanyanya saat menyedari setiap orang punya pertanyaan di otak kami masing masing.


"Kamu kemana, Nath?" Suara lembut mama membuatnya menatap wanita yang melahirkannya itu.


"Sama siapa?"


"Sendiri, ma." Jawabnya pelan dan ia menunduk.


Aku, Nair dan Zoya saling pandang. Kami tau Nath menyembunyikan sesuatu, tapi apa? Dari caranya menjawab pertanyaan mama, memandang mama, kami bertiga tau. Bahkan mama pasti juga menyadarinya.


"Kamu baik-baik aja kan, Nath?" Tanya papa.


Nath mengangguk. "Kalau ada apa-apa cerita sama mama papa."


"Kamu boleh masuk ke kamar." Perintah papa.


Nath yang kebingungan perlahan berdiri dan naik ke atas. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa dia begitu mudah dilepaskan.


"Pa, kenapa?" tanyaku saat Nath sudah masuk dalam kamar.


"Dia punya masalah, tapi belum mau cerita. Biarkan dia istirahan dulu. Besok kita akan ajak dia bicara lagi."


Mama mengangguk setuju.


"Pa, harusnya kemarin kita susulin dia ke Jogja. Supaya kita tahu dia disana sama siapa dan ngapain aja." Usul Nair.


"Gak apa-apa, Nair. Sekarang kalian istirahat ya. Nath sudah pulang dengan selamat, itu sudah sangat melegakan bagi mama papa."


Aku dan Rion masuk ke dalam kamar. Kami tidur lumayan nyenyak karena Nath ternyata baik-baik saja.


Aku menggeliat saat s uara qiroah di masjid mulai terdengar. Aku mengguncang tubuh Rion untuk membangunkannya.

__ADS_1


Kami sholat subuh berjamaah di musholah rumah ini. Kegiatan rutin sejak dulu yang biasa kami lakukan.


"Keluarga ini terasa lengkap." Ucap mama selesai sholat. Aku dan Zoya duduk di sebelah mama.


Mama mengelus perut kami bergantian. "Ayo! Siapa yang mau keluar duluan, nih?" Kami tertawa melihat tingkah mama.


"Jangan barengan, ya. Omanya entar bingung harus gendong yang mana."


Kami semua tertawa. "Oma gendong satu, opa gendong satunya lagi." Papa mengacungkan jempolnya padaku.


"Dengan senang hati, Bi."


"Kalian kembali ke kamar, ya. Biar mama sama bibi yang masak."


Dan saat sarapan, Zoya mengeluh perutnya sakit. Dia sampai meringis memegangi perutnya.


"Zoy...!" aku segera bangkit. Aku tidak tega melihatnya sampai membungkuk begitu.


"Bi, jangan panik. Hati-hati sayang."


Erza berjongkok di samping tubuh Zoya, mengelus perutnya dan berbisik entah apa. Mungkin ia sedang berbicara pada bayinya agar tetap baik-baik saja.


"Maaa... darah." Ezra langsung mengangkat tubuh Zoya saat menyadari daster panjangnya itu terdapat noda darah.


"Astagfirullah."


"Sakit, Zra."


"Sakit ma." Rintih Zoya.


"Apa Zoya mau melahirkan, Ma?" tanya Ezra.


"Mungkin aja Zra." Sahut mama mendekat pada Zoya.


"Siapkan mobil, Nair, Nath! Ini kenapa pada diem aja sih." Bentakku panik, bukannya cepat bergerak, mereka malah sibuk menonton.


"Bi, jangan panik sayang!" Rion lagi-lagi memperingatkan aku. Ia merengkuh bahuku dan mengusap lembut dengan telapak tangannya.


Tak berselang lama, klakson mobil dibunyikan tanda mobil sudah standby.


Ezra menggendong tubuh Zoya dan mama ikut di belakangnya. "Ma, pakaian bayi?" Tanyaku saat melihat mama tak membawa apapun kecuali tasnya sendiri.


"Gak ada disini, Bi. Mungkin di rumahnya."


Atau mungkin Zoya belum belanja karena acra tujuh bulananya baru dilaksanakan beberapa hari lalu sebelum aku.


"Kita kesana, Yon."


"Bi...." Rion memohon agak aku tak pergi.


"Aku khawatir, Yon."


"Kamu boleh khawatir tapi ingat anak kita, Bi."


"Tadi malam Nath yang kamu fikirin, sekarang kak Zoy."


"Kita tunggu kabar dari mama papa aja ya. Kamu duduk tenang dan banyak berdoa untuk kak Zoya dan bayinya."


Aku memeluk Rion. "Dia akan baik-baik aja kan, Yon?"


"Insya allah, Bi."

__ADS_1


Ya Allah, selamatkan Zoy dan babynya.


__ADS_2