BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
30 Siapa pria itu?


__ADS_3

Zoya


Pagi ini kami sekeluarga jogging setelah sholat Subuh berjamaah. Aku berlari di samping Bi. Mama dengan papa. Nath dan Nair entah sudah sampai mana. Karena batang hidung mereka sudah tidak kelihatan.


"Istirahat sebentar, Mas!" Pinta mama. Mama memang tak terlalu kuat berlari jauh. Mungkin faktor usia.


"Di sana aja ma," tunjuk Bi di taman kecil. "Bi beli minum di sana dulu." Tunjukknya di minimarket tak jauh dari posisi kami.


Mama dan papa duduk di kursi taman. Aku duduk di rumput dengan meluruskan kaki dan kedua tanganku menopang di belakang.


"Capek banget, ma?" Tanyaku.


"Lumayan, Zoy." Ucap mama. Mama memandangiku dan membuatku malu.


"Zoya cantik berhijab, Nak."


"Mama berlebihan." Aku makin tersipu.


"Beneran, anak papa makin cantik." Papa ikut memuji.


"Alhamdulillah, mama senang kalian mau berubah. Mungkin terlalu mendadak. Tapi mudah mudahan kalian konsisten."


"Jangan sebentar buka sebentar tutup." Lanjut mama.


Aku teringat pagi tadi aku menyelinap ke kamar Bi. Ku guncangkan bahunya saat ia tengah memakai hijabnya. "Bi, minjam hijab instannya." Bisikku pelan.


Bi menatapku tak percaya. "Cepat Bi, mama sudah menunggu."


"Eh, iya... iya..." Bi terkesiap.


Dia mencari di dalam lemarinya. "Warna navi ya Zoy. Cocok sama baju kamu."


"Eh tunggu!" Dia memukul bok*ngku. "Apa-apaan celana ketat begini," ucapnya.


Dia keluar kamar dan dalam tiga menit dia kembali dengan celana di tangannya.


"Aku cuma punya satu ukuran ini, Zoy. Kamu pakai punya Nair aja."


Dan akhirnya aku tenggelam di dalam celana Nair. Jelas tenggelam. Tinggi badan kami saja hampir 20 centi selisihnya.


"Nih." Bi mengejutkanku dengan menepelkan air mineral botol di pipiku. "Ngelamun terus." lanjutnya.


Aku langgung membuka tutup botol dan meneguk isinya.


"Pak Akhtar, sekeluarga di bawa semua, nih?" tanya seorang pria yang berjalan disamping wanita. Dan pria itu mendorong stroller bayinya.


"Iya Sam, anak kamu aja yang bayi juga di bawa."


"Heheh.. Iya pak. Sekali-kali babynya juga cuci mata." Pria itu tertawa. "Duluan ya, pak." lanjutnya.


Kami diam beberapa saat.


"Ma, Pa. Ada yang melamar Zoy." Ucapku tiba-tiba.


Mama dan papa menatapku serius. Bi diam saja sambil bermain ponselnya.


"Kenapa anak kita belakangan ini laku keras sih, Lin." gumam papa yang masih bisa kami dengar.


"Memangnya kita barang obral? Laku keras! Bahasanya agak di perbaiki pa!" Sindir Bi dengan menatap papa sekilas. Lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Lagi pula kalian kenapa sih? Kemaren Bi, sekarang Zoy. Besok-besok Nair sama Nath sibuk minta dilamarkan." Ucap papa.


"Gak apa-apa, mas! Syukur ada yang mau sama anak kita." Mama terkekeh.

__ADS_1


"Maaaa." Rengekku.


"Siapa pria itu, Nak?" tanya papa.


"Apa karena dia kamu ingin berubah, Nak?" tanya mama.


Aku menggeleng. "Bukan karena dia. Tapi Zoy pernah dengar kata orang jodoh itu cerminan diri, ma."


Mama tersenyum dan mengangguk.


"Untuk itu Zoy ingin memperbaiki diri. Karena Zoy ingin berjodoh dengan pria baik yang bisa membawa Zoy dan anak-anak kelak di jalan kebaikan."


"Semoga Zoy dan Bi berjodoh dengan pria baik yang Allah kirim."


"Amin. Ucapku dan Bi kompak.


"Siapa pria itu, Zoy." tanya papa lagi.


"Pa, jika dia bukan orang kaya apa papa dan mama mau menerimanya?" tanyaku ragu-ragu.


Mama dan papa saling pandang. "Yang terpenting, dia pekerja keras, bertanggung jawab, berakhlak baik dan tidak pernah membagi cintanya pada yang lain." Ucap papa kemudian.


Aku diam sejenak. "Dia Ezra pa."


"Pria itu Ezra." ulangku.


"Selama ini kalian pacaran?" tanya mama.


Aku menggeleng. "Enggak Ma."


"Kamu tau dia suka sama kamu, sebelumnya?" tanya mama lagi.


Aku menggeleng lagi. "Enggak Ma. Malah Zoy mikirnya Ezra suka sama Bi."


"Dia kalau puji-puji kebaikan Bi pas jaman kuliah dulu, beeegh... kalau di tulis bisa berlembar-lembar, Ma." Ucapku agak kesal.


Aku menatapnya. "Gak!" Padahal hatiku sedikit mengiyakan.


"Dia gak mungkin suka sama aku Zoy. Dia lihat aku tuh kayak Jerry lihat Tom yang harus dikerjain."


"Lagi pula dia bukan tipeku." Lanjutnya.


"Iya deh, yang tipenya abege unyu." Sindirku.


Hening...


"Jadi bagaimana, Pa?" tanyaku.


"Zoy, harus bagaimana, Ma?"


"Loh, kok tanya mama papa. Kamu tanya hatimu, Nak. Ada perasaan apa di sana."


"Kamu punya impian bersamanya dimasa depan atau tidak?"


"Kamu yakin tidak bisa berjalan bersamanya di masa depan?"


"Cuma kamu yang bisa jawab, Zoy."


Aku menggeleng, "Bingung, Ma."


"Kamu aja terlihat ragu." Ucap mama.


"Coba sholat dan minta petunjuk, Nak." Ucap mama lagi.

__ADS_1


"Setelah yakin dia yang terbaik. Temui kami. dan ajak dia menemui papa mama untuk memintamu secara baik-baik."


Aku mengangguk.


"Dulu mama juga galau begini, Ma. Pas mau menerima papa?" Tanyaku.


Mama mengangguk. " Tapi kakung sama uti selalu ada untuk mama. Selalu menasehati mama."


"Berapa lama mama sama papa kenal dan akhir nya menikah?" Tanyaku lagi.


"Tiga bulan." Ucap papa tanpa ragu.


"Ti-tiga bulan?" Aku terkejut. Secepat itu?


"Langsung nikah?" tanyaku lagi.


Papa mengangguk lagi. "Mamamu yang minta di lamar." Papa tertawa pelan saat mama berhasil mencubit perutnya.


"Mata kamu yang kurang ajar, Mas!" Gumam mama.


"Nah, loh!" Ucap Bi tiba-tiba. "Kisah mana yang terlewat dari Bi, Ma?"


Mama menghela nafas berat.


"Dengar sayang, jika seorang pria memandang kalian dengan pandangan menikmati dalam tanda kutip." Mama membentuk tanda kutip dengan jemarinya. "Itu menambah dosa kita."


"Kita menimbulkan syahwat seorang pria karena pakaian, atau parfum kita, itu juga dosa."


"Kan lebih baik di halalkan jika memang pria itu adalah pria yang kita rasa tepat."


"Jika kita yakin pria itu yang terbaik."


Kami mengangguk paham.


"Tiga bulan, ya? Berarti kamu pemecah rekor, Bi." Ucapku. Dan Bi menatapku tajam.


"Kenapa gitu, Zoy."


"Iya dong. Mama papa aja cuma tiga bulan langsung yakin. Lah kamu 18 tahun. Masih belum yakin juga?" Tanyaku.


Dia tampak marah. Dia tahu maksudku adalah dia dan Rion. Kami memang mengenalnya sejak Rion masih dalam kandungan. "Iya kali aku yang masih bocah jatuh cinta sama bayi, Zoy."


"Pulang ah. Kamu kalau galau suka rese'." Bi langsung berdiri dan meninggalkanku.


Aku langsung bangkit dan mengerjar Bi. Tapi ku bisa mendengar mama berbicara pada papa di belakang sana.


"Kelak anak-anak akan meninggalkan kita, Mas. Bersama keluarga kecil mereka."


"Kita hanya akan berdua, Mas."


"Doa kan saja anak-anak bahagia, Lin."


"Pasti, Mas."


Aku terenyuh dengan obrolan mereka.


*Kelak, kalau Zoy menikah. Zoy janji gak akan benar-benar meninggalkan kalian Ma, Pa.


Zoy sayang kalian dan selamanya gak akan pernah berubah*.


****


Gimana kalau kita giring Bi sama Rion ke KUA Setelah Rion lulus 😁

__ADS_1


Sekalian Zoy sama Ezra. 😂


Coret di kolom komentar kak 😊😊


__ADS_2