BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
35 Merpati Satu : Pink


__ADS_3

Nath


Sejak mendengar penuturan kak Bi soal perasaannya pada Rion, hatiku rasanya tertimpa berton-ton beban.


Aku adalah salah satu penghalang diantara mereka berdua. Rasa sayangku pada kak Bi, dan rasa marahku pada Rion membuatku tak mengizinkan keduanya bertemu lagi.


Nair, mama, papa dan yang lain sependapat denganku.


"Rion mencintai kakakmu Nath. Hanya saja caranya mencintai, itu yang salah." Ucapan mama benar. Saat itu mama belum setuju soal ideku memisahkan mereka dengan cara begini.


Tapi karena paksaanku, mama akhirnya menurut.


Kak Bi pergi membawa luka karena sedikitpun tak ada kesempatan untuk keduanya memperbaiki keadaan.


Apa selama ini kami salah menjadi penghalang bagi mereka?


Apa seharusnya kami tidak ikut campur?


Tapi Rion sudah keterlaluan, dia tak pernah berfikir panjang. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri.


Bukankah mereka sudah sama-sama dewasa?


Harusnya mereka berdua bisa menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Batinku berkecamuk.


Dan senyum terindah muncul di wajah kakakku saat dengan toganya ia menghampiri kami yang menunggu di luar kamarnya.


"Happy graduation our Star!!" Teriakku bersama Nair dan kak Zoya.


"Are you Ready Sayang?" tanya papa pada kak Bi.


"Yes, i am, Pa."


Kami berangkat ke gedung dimana wisuda kak Bi dilaksanakan.


Aku, Nair dan Kak Zoy memilih untuk menunggu di luar sekaligus jalan-jalan di sekitar gedung.


"Dia jatuh cinta, Nath!" Ucap Kak Zoy dengan pandangan kosong. Saat ini kami sedang duduk di sebuah kursi besi di sebuah taman.


Aku tahu maksudnya. "Iya kak. Kami dengar semuanya." Ucapku tanpa sadar.


1 detik, 2 detik. "Ooopsss." Aku menutup mulutku menyadari bahwa aku salah bicara. Aku melirik kak Zoya sekilas. Matanya membulat bak bola pingpong.


"Kalian nguping?" Kak Bi berkacak pinggang.


"Gak sengaja dengar kak!" Ucapku membela diri.


"Ehm, gak malu di lihat para bule." Sindir Nair yang berdiri bersandar di pohon dengan melipat tangannya di dada.


Aku melihat sekeliling, pria dan wanita berhidung mancung, berambut pirang dan bola mata aneka warna menatapku dan kak Zoya.


Eh, busseett!! Cakep-cakep bener!


Aku tersenyum canggung ke arah mereka.


Nair ikut duduk di sebelah kami. "Kita harus perbaiki keadaan atau kita biarkan kak Bi sendiri yang menyelesaikan?" Tanya Nair.


Si Mister Serius always serious. Dia gak pengen lihatin bule-bule cakep dulu, apa?


"Perbaiki." Ucap Kak Zoy cepat.


Kami berdua menatapnya. "Kalian bayangkan Bi pulang dan melihat Rion berjalan dengan tongkatnya. Lalu Bi mempertanyakan dimana rasa kemanusiaan kita."


"Kenapa tak ada satu pun dari kita yang memberi tahunya?"


"Bi akan merasa bersalah, kecewa, marah, menyesal. Kasian dia Nath, Nair."

__ADS_1


"Lalu," tanya Nair


"Plan B." Ucap Kak Zoya.


Dan kami memutuskan untuk mengambil cara B.


Sebenarnya kami semua ikut kesini bukan tanpa tujuan. Aku, Kak Zoy, dan Nair punya misi rahasia. Yaitu memastikan perasaan kak Bi.


Tiap kali kami melakukan video call, tampak jelas yang ada di wajahnya hanya senyum palsu. Kami bertiga mengartikan, bahwa dia tidak bahagia disini.


Dia hanya sambil menyelam minum air. Dia hanya sambil melupakan rasa sakitnya, dengan melanjutkan kuliah.


Mungkin itu caranya untuk melupakan kesalahan Rion. Ternyata dia salah langkah, dan kami juga. Luka kak Bi masih terasa, dan rasa bersalah Rion makin menyiksa.


Aku melihat jam di tanganku. 13:20 waktu Inggris. Aku memutuskan untuk mengirim pesan Ethan atas persetujuan kak Zoy dan Nair.


****


18:20 WIB, Jakarta.


Ethan


Saat menikmati me time dengan main game. Aku di kejutkan dengan isi pesan Nath.


Merpati Satu, Pink.


Jalankan plan B.


Aku melompat dari atas tempat tidur. Ini berita besar. Gilaaaa!!! Riooon!!! Cintamu terbalas, bod*h!! Aku rasanya ingin menjerit. Berteriak di telinga pria yang sudah kehilangan arah hidup itu.


Pesan itu berisi kode rahasia, bagian dari misi rahasia kami. Anggap saja aku agent ke 4 setelah Kak Zoy, Nath dan Nair.


Ini adalah beberapa kode rahasia kami.


- Merpati satu \= Bintang


- Pink \= Cinta


- Black \= Benci


- White \= Netral, memaafkan


- Grey \= Tak tertebak


Plan A adalah tidak melakukan apapun. Dan plan B adalah membuat semangat Rion kembali menyala.


Terlalu kekanakan memang, tapi anggap saja kami sedang bernostalgia dengan masa kecil yang dulu sangat menyenangkan tanpa melibatkan perasaan.


Aku bergegas, tapi bingung harus mulai dari mana. Memberi tahu misi ini pada om Ray dan tante Sania. Oh, big No. Bisa mati aku di hajar Nath.


Oke. Sepertinya aku harus bekerja sendiri. Ini gara-gara si Delvin malah akal-akalan masuk Akademi Militer. Jadi sulit kan!


Aku mencari Rion ke rumah, tapi dia tidak ada. Padahal sudah malam. Aku putuskan ke R Cafe. Dan kata manager Rion menitip pesan akan pulang sebelum jam tutup cafe.


Masih jam 8. Batinku.


"Abang manager, pesen nasi goreng dong, yang spesial ya." Ucapku pada Bang Handoko, manager cafe yang sudah seperti temanku sendiri. "Gak pake lama."


"Boleh, special gak di goreng. Atau special yang masih utuh beras?" Candanya.


"Beras, emangnya aku ayam." Cibirku.


"Lagi pula kamu, mau cepat. Kamu fikir gak butuh waktu buat masak." Ucapnya sambil berlalu meninggalkanku.


"Bang, teh manis dingin sekalian." Ah, seleraku sederhana sekali.

__ADS_1


"Tambah goceng, pakai sianida, Than!" Aku mendengar ucapannya.


"Boleh bang, ku tambah ce ban. Banyakin dikit sianidanya." balasku.


Kalau pengunjung cafe tidak tahu kami hanya becanda, bisa-bisa cafe ini langsung di tutup karena menjual teh manis dingin dengan sianida.


Ah, om Ray gak akan bangkrut. Palingan Rion yang jadi gembel. Karena cafe yang akan diwariskan untuknya sudah tak ada lagi. Hahaha...


Sejam aku menunggu, nasi goreng di piring sudah habis. Es sianida sudah kandas tapi aku belum mati juga. Eh, salah. Tapi Rion belum keluar juga.


Aku naik ke lantai dua. Ku ketuk berkali kali hingga ia keluar dari sarang persembunyiannya.


Dia membuka pintu dan terjadilah drama sesuai keinginanku. Aku sebenarnya tak tega melihatnya kesakitan karena ku paksa berjalan.


Ya Tuhan, maafkan aku jika caraku menyadarkan Rion salah. Doa ku dalam hati.


Kata tante Sania, Rion sebenarnya bisa sembuh total. Tapi dia terlalu takut untuk kembali mencoba. Dia sudah tidak ingin berjuang lagi.


Rion menjerit dan memanggil nama kak Bi. Menjerit Yon. Sampai rasa bersalah itu memotivasimu untuk bangkit. Kak Bi mencintaimu, Yon.


Aku tahu dia salah. Tapi dia sahabatku. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Tidak, aku bahkan tidak pernah meninggalkannya.


Rion menatapku saat ku katakan dia masih bisa bersama kak Bi.


"Caranya, jadikan dirimu layak." Itu ucapku kemudian. Aku tahu hatinya tertohok. Terlihat jelas dari bola matanya yang membulat.


Aku ingin dia sadar, bahwa selama ini dia tidak bisa bersama dengan kak Bi karena dia belum layak. Kualitas dirinya masih jauh di bawah kak Bi. Dia masih terlalu bocah untuk mengimbangi kak Bi yang dewasa, cerdas dan mandiri.


Rion malah berhenti berjalan. Aku harus membuat gebrakan baru untuknya. Lihat saja Rion.


Aku mengambil ponselku dari kantong celana. Aku mengangkat panggilan fake. Ya, tak ada panggilan apapun di ponselku.


Aku memasang wajah cemas. "Apa!!! Iya. Iya bang aku kesana sekarang!" Teriakku.


Aku buru-buru memasukkan ponselku ke kantong.


"Ada apa Than!" Rion ikut panik.


"Aku harus pergi, Yon. Bang Caraka bilang pesawat kak Bi dan rombongan gagal mendarat!" Aku berlari keluar pintu dan meninggalkannya.


Tak jauh dari ruangan itu. Tante Sania dan om Ray baru saja tiba. Mungkin mereka khawatir dengan keadaan Rion yang belum pulang sampai sekarang.


Terlebih selama sakit Rion lebih sering mengendarai taxi online jika tidak di antar supir.


Om Ray dan tante Sania khawatir melihatku yang berlari dari ruangan Rion.


"Ada apa Than!" Tanya tante Sania panik.


"Ethan! Tunggu Than!" Rion berteriak.


Dia keluar dari ruangan itu dan berusaha berlari. Saat melihat kami bertiga, Rion berhenti dan perlahan melangkah. "Aku ikut, Than!"


"Aku harus ikut!" Air matanya mengalir.


Aku nyaris terbahak. Bagaimana dia bisa sebodoh ini. Jika aku baru saja menunjukkan story Nath yang masih di London. Dan bagaimana mungkin dalam sepuluh menit mereka sudah di Jakarta.


Rion... Rion... Konsentrasi Yon!


****


Jangan Bilang Ethan jahat.


Yang jahat itu Sethan yang menggodaku untuk tidak up. 😂


Senin pagi, boleh lah sumbangin vote, mawar, sama siram kopi juga gak apa-apa 😆

__ADS_1


Like-komennya paling di tunggu 😚


Doakan bisa up 2 bab hari ini.😊


__ADS_2