BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
31 Tahun berganti


__ADS_3

Bintang


Aku merasa udara di kamar ini semakin dingin. Aku menyibak selimut dan berjalan menuju jendela besar kamar di flatku.


Ku buka tirai jendela. Dan mataku membulat sempurna. Musim gugur. Ya, pada bulan September, Negara Inggris memang mulai memasuki musim gugur sebelum akhirnya memasuki musim dingin pada bulan Desember. Ya, salju akhir tahun.


Sudah setahun aku tinggal di negara Inggris. Tepatnya di Brighton, kota bagian selatan. Tepatnya di kabupaten Sussex Timur.


Aku kuliah disalah satu Universitas di kota ini sejak September tahun lalu, melanjutkan program S2 ku yang hanya ku tempuh selama setahun di sini.


Minggu ini aku akan wisuda. Dan harusnya mama papa akan tiba dua hari lagi.


Aku duduk sambil menyeduh coklat panasku setelah mencuci muka. Menatap arah jendela dimana dedaunan tertiup angin. Ya, flatku terletak di lantai 2. Jika di Indonesia, hunian seperti ini mungkin lebih dikenal dengan istilah apartemen.


Selama setahun ini aku tak pernah kembali ke Indonesia. Mama dan papa pernah datang berkunjung. Pada akhir tahun kemarin. Saat musim dingin.


Tidak ada yang berubah dariku. Aku masih berusaha menjadi Bi yang lebih baik.


Apa kabar dengan Indonesia? Entahlah. Aku tak banyak tahu sejak semua orang memblokir akunku dari sosial media mereka. Termasuk para guru di Cahaya Bangsa. Kehancuran yang akhirnya membawaku ke sini.


Hanya ada kontak keluarga terdekat di ponselku. Akun media sosialku tak pernah lagi tersentuh. Dan syukurnya dengan begitu aku lebih fokus pada kuliahku.


Mama, papa semakin romantis. Dari video call rutin yang kami lakukan hampir tiap minggu saat aku punya waktu luang. Karena jujur saja perbedaan waktu 6 jam Jakarta-London membuat kami sedikit kesulitan menemukan waktu yang tepat.


Nair dan Nath, si kembar kesayangan. Keduanya kuliah di Universitas negeri di Jakarta. Nair memilih jurusan Kedokteran sementara Nath memilih jurusan Arsitektur.


Zoya. Ah, dia masih sama. Masih fokus pada Arumi Resto. Hanya saja tidak ada lagi Ezra di sampingnya.


Ya, semenjak Ezra berniat melamarnya sementara keraguan masih menyelimuti hati Zoya, akhirnya Zoya menunda untuk mempertemukan Ezra dengan keluarga.


Dan karena alasan itu, terpaksa papa memberhentikan Ezra. Demi menghindari zina dan hal tak diinginkan terjadi. Karena bagaimana pun Ezra menaruh perasaan pada Zoya.


Orion? Entah. Aku tak pernah tahu kabarnya. Sebab setahun lalu aku terpaksa pergi karena ulahnya. Rion membuat kesalahan yang menurutku fatal. Hingga seluruh akses untuk kami bertemu tertutup rapat.


...Flashback on...


"Maaf mengganggu acara ini sebentar saja. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua." Ucap Rion di sebuah panggung. Malam ini adalah acara perpisahan sekolah untuk guru dan murid kelas XII.


Acara ini di adakan di ballroom sebuah hotel mewah.


"Aku Orion. Aku ingin mengakui perasaanku pada seorang gadis." Aku menatapnya yang sesekali melirikku. Jarak kami hanya sepuluh meter. Karena meja yang di sediakan untuk guru ada di bagian depan panggung.


"Aku berjanji padanya untuk mengesampingkan perasaanku demi fokus belajar agar lulus dengan nilai yang bagus."


Aku berdebar, apa yang akan Rion lakukan.


"Dan sekarang aku sudah lulus dengan nilai yang sangat bagus."


Ya, Rion mendapati urutan ke tiga nilai tertinggi jurusan IPS di Cahaya Bangsa.


"Aku telah membuktikan ucapanku. Menepati janjiku selama tiga bulan ini."


"Tapi sekarang tidak lagi."


Rion menjadi perhatian semua orang. Termasuk om Ray dan tante Sania.


Tante Sania menatapku. Aku menggeleng tanda tak setuju jika Rion melanjutkan aksinya ini.


Om Ray memberi kode pada Rion untuk berhenti. Sontak membuat semua guru dan murid kebingungan.


"Tidak masalah, pi." Malah itu yang keluar dari bibir Rion.


"Jika dia memintaku untuk menunggu lagi. Aku akan menunggu. Asal dia berjanji untuk tidak menerima pria manapun selain aku." Ucapnya makin serius.


"Kak Bi..." Dia menatapku.

__ADS_1


Ya Allah. Hentikan Rion.


Semua orang saling tatap. Bertanya-tanya siapa yang di maksud Rion. Kecuali mereka yang sudah benar-benar mengenal kami berdua.


Rion tertawa, "Salah. Harusnya bukan begitu."


Rion menghela nafas berat. "Bintang Alkhaleena. Untuk sekian kalinya aku meminta. Jadilah pendampingku hingga maut yang memisahkan kita."


Jantungku rasanya berdetak tak karuan. Semua guru menatapku penuh tanya. Pandangan murid mengintimidasiku seolah memintaku menjelaskan semuanya.


"Pantas saja guru baru langsung diangkat jadi wali kelas. Ternyata calon mantu pemilik sekolah." Bisik seseorang.


Deg! Aku menatap sumber suara. Dan kulihat seorang guru senior menatapku remeh.


Aku ingin menangis detik itu juga.


Rion berjalan turun dari panggung. "Jadilah istriku. Entah itu esok, setahun lagi atau lima tahun lagi. Akan ku tunggu selama apapun itu."


Sekarang Rion berdiri di depanku. "Terima aku kak. Meski untuk bersama masih lama. Meski untuk menikah masih belum bisa."


"Aku janji akan membahagiakan kakak."


Rion berlutut di depanku dengan sebuah cincin yang bertengger di kotaknya.


Aku bingung. Aku melihat sekeliling. Semua orang menatapku dengan wajah sinis mereka.


"Jadi benar isu kemarin-kemarin."


"Kamu menolakku karena ada Rion yang jauh lebih kaya, Bintang." Ucap pak Vano yang berdiri di belakangku.


"Cih! Ternyata isu itu terbukti juga." Carletta berdiri di belakang Rion dengan gaun sexynya.


"Dan Bu Bintang, saya tidak menyangka ada guru semunafik anda." Sabung Carletta dengan senyum miring.


"Tutup mulutmu Letta!" Bentak Rion. Rion berbalik kearah Letta.


"Tiga bulan lalu, kalian memojokkanku. Karena aku yang menyebar isu itu."


"Dan sekarang! Lihatlah Rion, kamu sendiri yang mengakuinya. Miris sekali hidupmu!"


"Ini berbeda Letta!!" Bentak Rion.


"Dulu kamu mengarahkan fikiran orang ke hal negatif. Seolah kak Bi adalah perempuan yang dibayar!"


Carletta terbahak. "Lalu apa bedanya dengan sekarang, Yon!"


"Kalau pak Vano cukup untuknya. Mengapa dia mengincarmu! Menjeratmu dengan sikap sok lugunya!" Carletta menunjuk wajahku.


"Cukup Letta!" Bentak Rion.


"Rion!" Om Ray maju dan menarik Rion.


"Sebaiknya masalah ini diselesaikan dirumah, Pak." Ucap kepala sekolah pada om Ray.


Aku pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan malu.


"Kak Bi tunggu, kak!" Teriak Rion di belakang sana.


Aku terus berlari tak peduli dia mengejarku atau tidak. Aku malu. Hatiku hancur. Nama baik yang ku bangun runtuh dalam sekejap. Hanya karena Rion tak bisa menahan dirinya. Dia terlalu egois.


Aku duduk di kursi taman di halaman hotel. Rion berlutut didepanku. "Kak, terima aku kak. Please! Setelah ini aku harus ke Aussie." Dia memohon.


"Papi mendaftarkan kuliahku disana."


"Aku takut kakak dimiliki orang lain kak."

__ADS_1


"Tapi caramu membuatku malu, Yon!" Aku berdiri dan berlari meninggalkannya.


"Kak!!" Rion memelukku dari belakang. Sangat erat pelukannya hingga aku tak bisa melepaskan diri. "Lepas Rion!"


"Brengs*k!!!" Teriak seseorang. Dan seketika berhasil menarik Rion dan melepaskanku dari pelukannya.


"Bught... Bught... Bught..." Rion dihajar habis-habisan oleh Nair.


"Nair!" Terikku saat Nair yang duduk di perut Rion membabi-buta menghajarnya yang tergeletak di tanah.


"Nath, tolong!" Ucapku saat ku lihat Ethan dan Nath datang dengan berlari.


"Stop Nair! Stop Nair!" Teriak Nath.


Ethan berhasil memegangi Rion. Nath dan aku berhasil menarik Nair.


"Bajingan kamu, Yon!" Teriak Nath.


"Bught." Satu pukulan dari Nath membuat darah segar mengalir dari hidung Rion.


"Setelah ini jangan harap bisa bertemu kak Bi lagi!" Terika Nath di depan Rion yang sudah babak belur.


Nath dan Nair membawaku pergi dari tempat itu.


...Flashback off...


Aku menyesap coklat panasku. Menghela nafas berat dan menghapus bulir bening di sudut mataku.


Sudah lebih dari setahun semuanya berlalu. Tapi bekasnya masih sangat terasa.


Sejak itu aku keluar dari Cahaya Bangsa. Dan selama tiga bulan aku hanya di rumah, belajar dan belajar demi persiapan S2ku.


Hingga akhir Agustus tahun lalu aku berangkat kesini.


"Ting... tong... ting... tong..." Seseorang memencet bel dengan ritme cepat.


"Siapa sih?" gerutuku sambil berjalan ke arah pintu.


****


Haaaai semua 😊😊😊


Pasti kaget. Loh kok tiba-tiba udah di London?


Kecepeten Thor!


Bingung thor!


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ maaf. ini demi Misi menggiring Bi dan Rion ke KUA.


Perjuangan Rion makin berat, Nih!


Eh, tapi Rion dimana yak? πŸ˜‚


Tau😝


Masih merenung kali. πŸ˜‚


dua bab lagi kita munculin Rion ya πŸ˜‚


Dia lagi apa? Mendekam di kantor R cafe.


atau lagi berjemur sama bule di Aussie.


Atau dia lagi mencet bel flat nya Bi? πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Jejak kalian jangan lupa. πŸ˜‚


__ADS_2