BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
77 Double paket komplit


__ADS_3

Ezra


Aku meregangkan otot tanganku yang terasa pegal karena aku tidur dengan posisi miring. Aku mengambil ponselku diatas nakas. "Jam 2."


Aku melihat ke sisi kiriku. Terlihat punggung putih milik istriku terpampang jelas karena selimut tak menutupnya dengan baik.


Aku bergeser sedikit dan mendekapnya dari belakang. Zoya sama sekali tak bergerak. Dia mungkin sangat lelah. Karena beberapa jam lalu istriku ini melakukan kewajibannya untuk pertama kali.


Aku masih ingat bagaimana saat kami baru tiba di hotel ini. Sedikit canggung tapi sepertinya kami sudah mulai terbiasa dengan keberadaan satu sama lain. Hingga keadaan mulai mencair.


Kami masuk ke kamar ini dan langsung menghempaskan diri diatas ranjang. Zoya memang mengeluh kelelahan sejak masih di rumah. Aku tahu kesibukannya. Bahkan saat tidak bekerja begini, Alina masih sempat menghubunginya untuk menanyakan hal-hal yang sekiranya sangat penting.


"Zra..." Panggilnya saat aku sedang memejamkan mataku. Aku tidak tidur, aku hanya sedang menetralkan debaran jantungku, berusaha mengendalikan diriku karena hasr*t yang tiba-tiba mulai menggelora saat aku hanya berdua saja di kamar ini dengannya.


"Ya..." Sahutku.


"Mikirin apa sih? Kok diem aja dari tadi." Tanyanya.


Aku sedang memikirkan cara meloloskanmu malam ini, sayang.


Sangat tidak mungkin aku menyerangnya sedangkan kondisi tubuhnya sedang kelelahan.


"Ehm, gak ada. Cuma lagi pengen diem aja." Jawabku menatapnya wajahnya yang tersenyum kearahku.


"Yakin?"


"Iya sayang." Aku mengulurkan tanganku menyentuh kepalanya yang masih tertutup hijan.


"Yakin gak pengen yang lain?" Dia mengerling.


Memancing ikan lapar, Zoya?


"Yang lain apa, sayang." Aku memiringkan tubuhku dan mencubit hidungnya.


"Maunya apa?"


Menggemaskan!


"Apa ya?" Jawabku lembut sambil berfikir.


"Mau coba paket komplit gak? Mulai appetizer, main course sampai dessert?" Tawarnya. Aku sedikit terkejut Zoya berani menawariku seperti itu.


"Yakin sanggup?" Aku melemparkan senyum. Dia menawarkan paket komplit sementara appetizer sore tadi saja berhasil membuat nafasnya tersengal.


"Why not?" tantangnya malu malu.


Aku bangun dari atas ranjang. Aku menggesekkan hidungku dengan hidungnya.


"Bobo cantik aja ya sayang. Kamu capek kan?"


Zoya menarik kaosku dan tubuhku ambruk di atas tubuhnya.


"I can't stop, Zoy." Aku merasakan sesak dibawah sana.


"So, don't stop!" Dia mengecup singkat bibirku.


Zoya, jangan buat aku gila, sayang. Jangan memancing hal yang ingin ku lakukan. Aku menatap wajahnya yang tersenyum manja.


Aku menekan pusat diriku yang sudah siap tempur berada tepat di pahanya. "Oke. Kita mulai? Sudah terasa alat tempurnya?"

__ADS_1


Aku menatap matanya. Aku tersenyum miring menantangnya. Tapi wajah Zoya tiba-tiba berubah tegang. Dia takut, padahal dia yang menantang, dia yang memancingku.


"Jangan sekarang!" Zoya mendorongku dan segera berlari ke kamar mandi.


Aku tersenyum melihatnya terburu-buru masuk kamar mandi.


Aku membaringkan tubuhku di ranjang. Celana pendek dan kaos putih polos yang melekat di tubuhku terasa kurang nyaman. Apalagi celanaku semakin terasa sempit.


Aku membuka koper untuk mencari boxerku. Kalau tidak ada, setidaknya celana training juga boleh. Aku tidak tahu isi koper ini karena bukan aku yang menyiapkan. Mungkin mama dan yang lainnya yang menyiapkan semua ini.


Aku mengangkat koper di atas ranjang. Aku membukanya dan mulai mencari boxer.


"Ini dia." Aku menemukan boxer berwarna hitam bermotif.


"Kaosnya ini aja." Aku menimbang, kaos yang ku pakai sepertinya tak perlu diganti.


Aku menutup koper dan wait! Apa tadi?


Aku membongkar sebuah gaun tidur supermini. Lebih mini dari pakaian renang dan yang pasti lebih menantang.


"Zoyaaaa!" Teriakku.


"Ada apa Zra?" teriaknya dari dalam kamar mandi.


"Kamu mandi?" tanyaku.


"Gak, dingin. Aku mau hapus make up aja."


"Ganti baju gak?"


"Ganti, Zra."


Tok... tok...


"Owh... udah ada baju di dalam. Tadinya aku mau kasih ini." Aku mengerling dan memberikan pakaian berwarna marun yang lebih mirip kelambu bayi itu ketangannya.


"Da-dapat da-ri mana?" Tanyanya terbata. Sepertinya dia tahu ini pakaian jenis apa.


Ck! Dia tentu tahu Zra, dia wanita. Karena kamu yang pria saja bisa menebak itu apa.


"Tuh." Aku menunjuk koper.


Zoya keluar dari kamar mandi tanpa merespon apapun. Dan aku bergegas masuk kedalam.


Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihatnya sudah di atas ranjang dengan menarik selimut hingga ke dadanya.


Aku berbaring disebelahnya. Aku memeriksa ponselku sebentar dan tak ada pesan apapun. Benar-benar libur.


"Lagi apa?" Tanyaku saat melihatnya bermain ponsel. Aku mendekat kearahnya dan meletakkan kepalaku di samping kepalanya. Berusaha mengintip layar ponselnya.


"Gak ada." Zoya langsung menyimpan ponselnya di nakas.


Aku memeluknya erat. Dan tanpa ku duga Zoya langsung membenamkan wajahnya diceruk leherku.


"Tadi nawarin? Gak jadi nih?" tanyaku.


"Tadi katanya ada yang bilang suruh bobo cantik?" Balasnya tanpa bergerak sedikitpun.


Nafasnya yang berhembus di sepanjang leherku membuatku meremang. "Zoya."

__ADS_1


"Ya." Dan sekarang bibirnya menempel di leherku.


"Jangan dimulai sayang." ucapku penuh penekanan.


"Kalau gitu kamu aja yang mulai." Jawanya santai.


"Udah makin berani sekarang, ya." Aku menggelitik pinggangnya di dalam selimut.


"Kulit?" gumamku pelan saat aku merasa aku menyentuh kulitnya bukan bathrobe.


Aku menyibak selimut dan...


"Jangan paksa aku untuk berhenti, Zoy!"


Aku masuk kedalam selimutnya dan memeluknya erat. Satu tanganku mengusap kepalanya dan satu tangan lagi bergerak bebas karena di dalam sana hanya ada kain segitiga yang melekat pada tubuhnya. Bagian atas saja bahkan sudah tak ada sehelai benang pun.


Aku bisa merasakan Zoya juga menginginkan ini. Dia tak menolak saat aku menyentuhnya. Dan dia mulai bergerak liar dengan bibir yang memberi gigitan kecil dileherku.


"Zra...." Dia menyebut namaku saat tangaku bergerak bebas di dadanya.


"Aku mau makan ini dulu."


Dan semua mengalir begitu saja seperti keringat di tubuh kami. Penyatuan yang indah. Perlahan tapi pasti. Sekali gagal, dua kali masih gagal. Dan saat aku berhenti di tengah jalan justru Zoya mengatakan jangan berhenti.


Cukup lama aku dan Zoya mencapai puncak ken*kmatan. Aku dan Zoya berulang kali mengatur nafas saat aku menjeda aktivitasku.


Aku terhempas kesamping tubuh Zoya saat aku berhasil menyelesaikan menu utama yang ia sajikan. Aku sangat menikmatinya.


Aku mengecup seluruh tubuhnya. "Dessert." Bisikku saat Zoya melarangku. "Badanku berkeringat, Zra."


"Gak masalah karena ini ulahku."


"Istirahat sebentar, Zra." Zoya mengelus pipiku saat aku sedang menghujani pipinya dengan ciuman.


"Aku bahagia. Terima kasih telah menjaga dirimu, sayang." Aku memeluknya erat. Aku bahagia karena ini yang pertama baginya.


"Aku beruntung memilikimu." lanjutku.


"Sama-sama sayang."


"Di dapur masih ada bahan baku?" Tanyaku saat aku merasakan tanda-tanda senjata yang kembali siap tempur.


"Kenapa?" Dia sepertinya faham maksudku.


"Aku mau double paket komplit." Bisikku.


"As you want, sir!"


Dan pergulatan itu kembali terjadi.


Aku membantu Zoya membersihkan diri. Setelah selesai aku kembali membawa tubuh polosnya keatas ranjang. Aku menyelimutinya.


"Kamu tidur, ya."


"Aku mau bersih-bersih dulu."


"Jangan lama-lama."


"Siap nyonya."

__ADS_1


***


Maaf kalau masih flat 😭😭


__ADS_2