BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
52 Tanggung jawab


__ADS_3

Bintang


Aku bangun sebelum azan Subuh. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan bertukar kamar dengan Zoya.


Kami berselisihan di depan pintu kamarku. Aku menatap Zoya dengan senyuman termanisku.


Tunggu kejutanku Zoya sayang.


Tapi Zoya malah menatapku dengan senyuman miring. Ada kejutan apa Zoy di dalam?


Aku segera masuk ke kamarku dan menutup pintunya. Aku langsung mencari keanehan yang merupakan hasil maha karya Zoya.


Ku lihat tempat tidur, aman. Cermin rias, aman. Pouch make up, tak ada yang berubah sedikitpun. Berarti aman.


Ah, ya kamar mandi. Aku masuk ke dalam dan semuanya aman. Apa kejutannya?


Oke Bi, harus ekstra hati-hati.


Selesai sholat subuh aku dan Zoya membantu mama di dapur. Tidak setiap hari memang, hanya sesekali kami ikut membantu mama.


Hampir jam 6 aku dan Zoya kembali ke kamar untuk bersiap. Aku memoles make up tipis dan lipcream berwarna nude. Warna favoritku.


Aku keluar kamar dan ku lihat di meja makan sudah ada papa dan Ezra. Aku tersenyum. Lihat kejutanku Zoya sayang.


Tapi mataku membulat sempurna saat ku lihat seorang pria lagi yang baru datang dari arah dapur dengan membawa gelas kosong dan mengisinya di dispenser lalu ikut bergabung dengan papa dan Ezra.


Pria itu bukan Nath, bukan Nair apa lagi mang Joko.


"Rion?" Gumamku pelan. "Mau apa dia kesini?"


Urusan dengan Nath dan Nair, tidak mungkin. Mereka beda universitas. Dengan papa, tidak mungkin. Ah terserah Rion lah mau apa. Toh dia memang sering kesini.


Aku masuk ke kamar Zoya dan berdiri melipat tanganku di dada.


Dandan yang cantik Zoy. Pangeranmu ada di bawah.


Gadis yang kulihat sedang memakai lipstick itu tersenyum pada bayanganku di cerminnya.


"Gimana kejutanku, suka?"


"Kejutan? Rion?" Tanyaku. Dan dia mengangguk.


Aku ternganga.


"Aku menunggu kejutanmu." Ucapnya agak sombong.


"Ada di bawah." Ucapku agak kesal lalu


meninggalkannya. Aku masuk ke kamarku.


Aku berfikir bagaiman Zoya menyuruh Rion datang jika sepanjang malam ponselnya ada padaku.


Apa mungkin dia menghubungi Rion setelah subuh?


Atau... "Astaga! Semalaman hpku ada pada Zoya!" Aku segera memeriksa ponselku yang baru ku ambil dari dalam tas.


Panggilan keluar, panggilan terakhir ke nomor Rion saat di bazar. Berati dia tidak menelpon Rion.


Lalu aku beralih pada pesan Wa. Dan apa ini Zoyaaaaaaaa!!!!!!!! teriakku dalam hati.


Rion.


I can't sleep. I'm always thinking of you. Pick me up tomorrow morning at 7. See you, Yon. 😚

__ADS_1


*Rion.


Aku gak bisa tidur. Aku selalu mikirin kamu. Jemput aku besok pagi jam 7. Sampai ketemu, Yon. 😚


Doogh... Doogh... Doogh...


"Bintang! Buka pintunya!" Teriakan menggelegar milik Zoya di depan pintu kamarku.


Doogh... Doogh... Doogh...


"Biiiiii..."


Ceklek.


Aku membuka pintu dan ku tatap wajah Zoya yang menahan marah.


"Kamu suruh Ezra kesini?"


"Aku lagi bimbang dan gak pengen ketemu dia, Bi! Kamu malah suruh Ezra kesini." Teriaknya dengan wajah kesal.


"Terus ini apa Zoy!" Aku juga berteriak. Ku tunjukkan pesan yang ia kirim pada Rion.


"Kamu bikin malu, Zoy. Aku aja geli bacanya, gimana lagi Rion! Emoticonnya gak bisa apa pakai yang lain?" Aku lebih kesal dari kamu Zoy. Asal kamu tahu itu.


"Hahahah... Rion pasti suka Bi. Jamin 100%. Percaya sama aku. Hahahah." Sialan Zoya. Dia malah terbahak saat ku tujukkan pesan itu.


"Tau ah, aku gak mau turun. Malu!" Aku hendak masuk kembali ke kamarku. "Kamu suruh dia pulang!"


Zoya menahan tanganku. "Masuklah. Akan ku panggil Rion dan bilang kalau kamu minta digendong." Oh, nantangin kamu Zoy?


"Bilang kalau berani. Biar ku bilang sama Ezra kalau kamu galau dan minta dinikahi." Tepat sasaran kan Zoy! Aku tersenyum penuh kemenangan.


"Bilang aja. Aku gak takut. Weeee." Zoya menjulurkan lidah.


Aku mendorong hidungnya. "Bilang aja kalau pengen cepat-cepat dinikahi."


"Berisik Nath!" Teriakku dan Zoya kompak.


Nath sampai terperanjat. "Tau deh. Lanjutin gih sampai Dzuhur." Nath meninggalkan kami.


"Kalau udah tau siapa yang menang, cepat turun. Penonton pada mau kasih selamat tuh." Ucap Nair sambil menunjuk dengan dagunya kearah bawah tangga.


Aku dan Zoya mengikuti arah yang ditunjuk Nair.


"Astaga!" gumamku.


"Mati." gumam Zoya.


Mama papa berdiri dengan milipat tangan di dada. Dengan dua pria di belakang mereka yang menatap kami tanpa ekspresi.


"Masih mau di atas dan menunggu semua orang di komplek ini datang nonton kalian?" Oke, mama marah.


"Atau turun dan jelaskan perkataa kalian tadi." Lanjut mama.


Mereka dengar semua? Pantas saja dua pria itu menatap kami tanpa ekspresi.


Akhirnya aku dan Zoya turun dengan drama saling dorong dan tarik. Menyuruh salah satu untuk jalan di depan.


Kami semua duduk di meja makan. Termasuk Ezra dan Rion.


"Sekarang siapa yang mau tanggung jawab, karena mereka berdua ada disini pagi-pagi." Ucap papa dengan menunjuk kedua pria itu dengan dagunya.


Kami saling diam.

__ADS_1


"Zoya, Bi!" Peringatan pertama dari papa.


"Zoya, Pa." Ucap Zoya.


"Bi, Pa." Ucapku.


"Oke Zoya duluan." Perintah papa.


"Zoy minta Rion datang." Ucap Zoya pelan.


"Tapi itu nomor kak Bi." Potong Rion.


"Iya Yon. Kakak yang kirim pesan pakai hp Bi." Zoya mengakui.


Aku juga menjelaskan bahwa aku yang mengirim pesan pada Ezra dengan menggunakan hp Zoya.


Mama dan papa malah menatap kami penuh selidik. Keduanya berbicara entah pakai bahasa apa. Bibir mereka tak bergerak sedikitpun tapi tatapan mereka seolah sedang berkomunikasi.


"Kok bisa samaan?"


"Kalian sengaja?" Lanjut mama. Apa lagi ini?


"Sengaja?" ulangku dan Zoya.


"Iya. Kalian sengaja pura-pura membuat ulah seperti ini supaya dijemput Ezra sama Rion. Padahal ini rencana kalian berdua." Ucap mama.


"Astagfirullah, ma."


"Astagfirullah, enggak ma." Aku dan Zoya saling tatap karena jawaban kami sama.


"Nah kan. Pasti iya nih mas. Jawabnya aja kompak banget."


Aku melihat kelima orang pria yang mengulum senyum. Mereka menahan tawa melihatku dan Zoy yang disidang mama.


"Ya Allah, enggak ma."


"Beneran enggak, ma."


"Yakin?"


"Yakin ma." Kami mengangguk mantap.


"Ya udah. Kasian yang lain pada terlambat karena menunggu menyelesaikan masalah kalian. Kita sarapan dulu. Kalian ikut sarapan juga." Ucap papa pada Rion dan Ezra.


Kami mulai sarapan setelah doa yang dipimpin papa.


Selesai sarapan papa berkata, "karena Ezra dan Rion sudah ada disini pagi-pagi buta."


"Kalian pertanggung jawabkan ulah kalian."


"Berangkat bareng mereka."


"Dengan protokol."


"Protokol kesehatan, Pa?" Tanya Nath sambil tertawa.


Dih, emangnya kita virus.


"Protokol bukan mukhrim." Ucapan papa membuat Nath semakin terbahak.


Ada ada aja papa ini.


****

__ADS_1


Pesannya biasa aja kok 😅


Doakan khilaf ya 😊


__ADS_2