BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
90 Kemungkinan terburuk


__ADS_3

Orion


Mama dan papa menyusul bang Ezra dan kak Zoy. Jadi, kami memutuskan untuk pulang.


"Mampir ke mini market, Sayang." Ucap kak Bi saat kami baru keluar dari gerbamg komplek rumah mertuaku.


"Yang dekat rumah aja, ya."


"Boleh."


Mobil terus melaju membelah jalanan yang sangat ramai ini. Hari minggu sore, waktu libur yang sangat tidak disia-siakan oleh banyak orang.


Aku menepikan mobil di parkiran sebuah minimarket.


Kak Bi membawa keranjang di tangannya. Dan aku segera merebut keranjang itu. "Aku aja, ya."


"Terima kasih bos tampan!" Istriku pintar sekali membuatku melambung tinggi.


"Sama-sama cantik." Aku berjalan di belakangnya. Dan tujuan utamanya jajaran adalah rak makanan.


Wanita ini sepertinya diciptakan untuk memberiku semangat bekerja. Bagaimana tidak, jika dalam sekejap keranjang yang ku pegang penuh dengan makanan yang akan ia beli.


Kak Bi bergeser ke rak lainnya. Ia mengambil tissu, kapas pembersih wajah dan pembalut?


Astaga! Itu artinya aku akan libur panjang.


"Memangnya udah datang bulan?" Bisikku pelan.


"Belum. Untuk stok aja, takut datangnya pas di kampus, yang."


"Oooo..." ucapku tanpa suara. "Berarti malam ini masih bisa!" gumamku pelan dan istri cantikku ini malah menatapku tajam.


Kami tiba di rumah sekitar jam 5 sore. Mami sedang duduk ditaman depan melihat-lihat tanaman bonsai yang ia rawat seperti anak sendiri.


Di depan juga terlihat Rizal dan Chiara yang sedang bergantian melemparkan bola ke ring basket.


Sejak Rizal tinggal disini, Chira jadi punya teman walaupun Rizal lebih sering ke rumah baca dan Chiara lebih banyak les privat. Tapi kalau libur begini, mereka sering bersama.


"Assalamualaikum mi."


"Waalaikum salam."


Kami menyalami mami. Mami memperhatikan plastik yang aku dan kak Bi bawa.


"Pembalut, Bi?" tanya mami penuh selidik sambil menunjuk plastik tipis berwarna putih dengan nama minimarket tempat kami belanja tadi.


"I-iya, Mi. Buat stok." Jawab kak bi.


"Stok?"


"Berarti belum?"


"Belum, Mi. Besok pagi kak Bi masih bisa basaah lagiiii." Aku masuk kedalam meninggalkan mereka.


"Rion!" Kak Bi geram.


"Sabar ya, Bi. Rion memang begitu."


"Udah hafal, Mi."


"Bi masuk dulu ya, Mi." Aku masih bisa mendengar perkataan kak Bi dan mami walaupun samar.


***


Bintang


Aku masuk ke kamar dan mencari berondong termanisku itu. "Riioooon!" Panggilku dengan suara mendayu.


"Ohh... Riooonnn!"


"Lagi puuup!" Teriaknya dari dalam kamar mandi.


"Jorok banget ih!" Aku memukul pintu kamar mandi. Dan di dalam sana penghuninya sedang tertawa.


"Diam Rion! Puup gak boleh sambil ngomong, apa lagi ketawa!" Jeritku sambil membongkar belanjaan yang jumlahnya sangat banyak ini.


Aku mengambil beberapa bungkus keripik kentang untuk ku simpan di dapur. Siapa tahu Chia dan yang lain butuh cemilan.


Dan sisanya ku simpan di kamar, termasuk tissu, kapas dan pembalut.


"Leegaaa!" Rion keluar dari kamar mandi sambil mengusap perutnya.


"Awas!" Aku menerobos masuk kedalam kamar mandi. Aku ingin segera menyegarkan tubuhku.


Rion tidak mandi lagi karena ia telah membilas tubuhnya setelah berenang tadi.

__ADS_1


Aku membuka satu persatu kain di tubuhku. Hingga bayangan tubuhku yang tanpa sehelai benang pun terlihat jelas di cermin.


Aku memperhatikan tubuhku. Tidak ada yang berubah. Aku mengelus perut rataku. "Hamil?" Aku teringat mama mengatakan aku hamil karena nafs* makanku yang meningkat.


Aku setiap akan datang bulan juga mengalami peningkatan nafs* makan. Jadi aku tidak begitu excited mendengar pendapat mama.


Dan jika aku hamil, kebahagian akan hadir di dua keluarga. Orang tuaku dan orang tua Rion pasti akan bahagia.


Aku menggeleng pelan, "Jangan terlalu berharap, Bi. Atau kamu akan kecewa nanti." Aku berbicara pada bayanganku di cermin.


"Bi...." Suara Rion membuatku kembali terfokus dengan tujuanku masuk ke sini, yaitu mandi. Tapi sudah lima menit aku terus bercermin.


"Yaa..."


"Kamu ngapain? Aku fikir tidur. Dari tadi gak kedengeran suara airnya."


Aku tak menjawab dan mulai mengguyur tubuhku.


****


Zoya


Sudah dua hari aku pengalami mual dan muntah di pagi hari dan berkurang saat siang. Alina mengajakku ke dokter untuk segera memeriksakan diri karena aku terus terusan merasa pusing sepanjang hari.


Bahkan seharian ini aku tidur di sofa kantor dan Alina mengerjakan semua pekerjaanku.


"Zoya, lebih baik ke dokter Zoy. Kamu parah banget nih sakitnya." Alina memberiku segelas jus jeruk. "Minum dulu, nih!"


"Gak Al, aku malas minum obat dokter yang banyak banget jumlahnya." Aku meminum jus jeruk menggunakan sedotan.


"Bandel banget sih. Kalau kamu hamil gimana, Zoy? Kasian anak kamu ikutan lemes tuh di dalem." Alina menunjuk perutku.


"Hamil? Kok bisa?"


Alina malah menepuk keningnya. "Ya bisalah Zoya! Kamu kan punya suami."


"Maksudku, aku kemarin udah datang bulan tapi gak lancar Al. Cuma flek gitu dan ini udah gak ada lagi."


"Astaga! Zoya! Itu bisa aja karena kamu hamil."


"Sok tau kamu." Aku malas berdebat dengannya.


"Gini nih kalau taunya hitung duit terus!" Alina berdiri dan kembali ke meja kerjaku.


Sore hari sekitar jam 5 Ezra menjemputku. "Zoy..." Ezra langsung duduk di sebelahku. "Bangun tidur?" tanyanya.


"Iya... Kelihatan banget, ya Zra?"


"Banget sayang! Capek ya sakit-sakit dipaksain kerja!" Ezra mengelus kepalaku. Aku langsung menyandarkan kepalaku di bahunya. Nyaman.


Aku mengangguk pasrah.


"Dih! Kerja apaan Zra, dari tadi molor mulu tuh bini lu!" Alina suka nyablak kadang-kadang.


"Dari tadi?'


"Dari pagi bahkan Zra! Bawa ke dokter gih! Pastiin ada atau gak kecebong di dalam perutnya." Alina merapikan berkas dan mengambil tasnya.


"Kecebong? Gimana caranya ada kecebong di dalam, Al!" Ezra malah panik mendengar Alina mengatakan ada kecebong di perutku.


"Tau!" Alina mengangkat bahu. "Kamu yang tau gimana cara masukinnya Zra!" Alina keluar meninggalkan kami berdua dengan aku yang merasa pusing dan Ezra yang semakin penasaran.


"Kecebong apa Zoy?" Tanyanya padaku.


"Kecebong, hasil garapan kamu Zra."


"Zra! Ayo pulang!" Ajakku. Ezra malah mematung di tempatnya.


"Kamu hamil, Zoy?" Tanyanya lagi


"Gak tau Zra."


Ezra mengendarai mobil dengan sanagt pelan. "Perut kamu masih kram, Zoy?"


"Masih."


"Masih mual?"


Aku mengangguk. "Gak separah tadi pagi."


Ezra tak lagi mengajakku berbicara, sampai akhirnya Erza memarkirkan mobil di sebuah klinik dokter kandungan.


"Kenapa kesini, Zra?" tanyaku.


"Kita pastikan dulu, Zoy. Kalau kerumah sakit, jam segini pasti sudah panjang antriannya."

__ADS_1


Kami mendaftar lebih dahulu. Dan mendapatkan antrian ke 5. Semantara pasien ke 3 sudah masuk kedalam.


Aku menatap Ezra yang tampak tenang. Aku meraih tangannya dan menautkan jemari kami. "Takut Zra." Bisikku.


"Relax ya... Aku disini, sama kamu."


"Kita terima kemungkinan terburuk."


Kami masuk kedalam saat sudah mendapat giliran.


Beberapa hal ditanyakan, misalnya hari pertama haid terakhir.


"Sudah terlambat 5 hari, ya Bu."


"Ada keluhan, Bu?" Tanya dokter wanita yang masih muda itu.


"Beberapa hari ini mual, muntah dok. Dan kepala selalu pusing setiap hari."


"Sama flek dua hari kemarin." Sambung Ezra.


"Sudah di tes?"


"Belum, dok." Jawabku singkat.


Seorang suster membantuku menampung urine dan mengecek menggunakan testpack.


"Hasilnya positif." Ucap dokter cantik itu sambil menunjukkan sebuah testpack dengan garis dua yang masih samar. Dan Ezra langsung memelukku sambil menangis.


"Selamat sayang. Calon mama yang cantik." Ezra mengecup keningku.


"Kita periksa lebih lanjut, ya."


Seorang suster membantu mengoleskan gel di perutku. Untung saja aku memakai celana bahan dan tunik. Jadi lebih muda saat melakukan pemeriksaan.


Dokter meletakkan alat di perutku, entah apa namanya aku tidak tahu.


"Ini adalah kondisi rahim ibu. Kehamilannya sudah 5 minggu dihitung dari HPHT (Hari pertama haid terakhir). Kantung janin belum terlihat, Bu, pak."


"Jadi maksudnya bagaimana, dok. Istri saya beneran hamil atau tidak?" Ezra sangat antusias.


Sementara aku langsung down saat dokter mengatakan kantung janin belum terlihat.


"Hal ini biasa terjadi, Pak, Bu. Kantung janin biasanya akan terlihat di usia 4-6 minggu dan janin itu sendiri biasanya akan terlihat di kehamilan 6-8 minggu."


"Perbanyaklah istirahat, jika perlu bedrest dan jangan berdiri terlalu lama, Bu." Jawab dokter saat aku bertanya, apa yang sebaiknya ku lakukan.


"Jangan terlalu stres dan banyak mengkonsumsi buah dan air putih."


Kami juga berkonsultasi mengenai beberapa hal termasuk soal garap menggarap. Dan ternyata aktivitas itu harus dihindari untuk saat ini.


Dokter juga menganjurkan untuk kembali melakukan pemeriksaan dua minggu lagi.


Kami tiba di rumah dan kelebay-an Ezra di mulai. Dia menggendongku turun dari mobil, dan langsung membaringkanku di atas ranjang.


"Jangan bergerak Zoya! Mulai besok jangan bekerja lagi." Ezra berdiri di sebelahku.


"Aku gak apa-apa Zra."


Ezra duduk di pinggir ranjang. "Kamu gak apa-apa Zoy, aku percaya kamu kuat. Tapi bagaimana dengan kandungan kamu?" Ezra mengusap perutku.


"Tapi, Zra..." Aku ingin mengatakan kalau aku belum tentu hamil. Bisa saja ini hanya kehamilan kosong atau hal lain yang selama perjalanan tadi terus menyerang pikiranku. Aku takut dengan kemungkinan terburuk dan berujung pada kekecewaan Ezra.


"Plis Zoy, nurut. Dua minggu, hanya dua minggu. Sampai pemeriksaan berikutnya."


"Kita akan memastikan apakah memang kamu hamil atau tidak, sayang."


"Untuk saat ini kita ikuti anjuran dokter, dia lebih tahu hal apa yang harus kita lakukan Zoy."


Aku mengangguk.


"Jangan fikirkan apapun."


"Soal pekerjaan, aku akan bantu Alina. Kalau ada berkas yang harus di tanda tangani, aku akan pulang dan atau Alina akan mengantarkannya ke rumah."


"Iya... iya..."


"Aku mandi dulu, ya. Setelahnya aku akan masak untuk kamu."


"Terima kasih, Zra."


"Gak ada terima kasih dalam hubungan suami istri, sayang."


"Yang ada terima gaji, ya kan?" Tanyaku dan Ezra tergelak keluar dari kamar.


Semoga pemeriksaan berikutnya menunjukkan hasil yang baik, ya Allah.

__ADS_1


__ADS_2