
Bintang
Dua minggu, tak terasa hampir terlewati. Setelah persiapan yang menghebohkan seluruh anggota keluarga. Akhirnya pernikahan akan segera di gelar.
Bunda Una, mama, tante Rara, Uti, Nenek, semua para wanita sibuk memilih baju seragam yang akan mereka pakai di acara akad nikah dan resepsi.
Perdebatan mulai dari warna, bahan hingga model menjadi peramai setiap diskusi kami.
Papa, ayah Satya dan semua kepala keluarga harus ikhlas saat tabungan mereka dibegal cantik oleh istri masing-masing.
Orang tua Rion juga tak kalah sibuk. Memberikan banyak pilihan padaku. Mulai dari isi kotak hantaran, sampai cincin kawin yang hampir sepuluh pilihan mereka berikan.
"Yang ini kak." Tunjuk Rion pada sepasang cincin emas putih yang menurutku terlalu besar berlian di tengahnya.
"Yang ini aja Bi," tunjuk tante Sania pada sepasang cincin yang memang ku sukai sejak awal.
"Atau yang itu." Tante Sania juga menunjuk sebuah cincin yang sangat mewah, tapi ku yakin harganya setara dengan biaya pesta pernikahan yang digelontorkan ayah Satya sebagai hadiah untukku dan Zoya.
"Uang Rion dan Ezra, gunakan dengan sebaik-baiknya. Tabung untuk masa depan kalian. Kali ini biar ayah yang tanggung." Ucap ayah Satya kala kami berkumpul untuk membicarakan masalah pernikahanku dan Zoya.
"Bi suka yang ini, tante." tunjukku pada pilihan pertama yang tante Sania tunjuk.
Kami mencobanya. Dan ternyata pas di jariku dan Rion. "Bagus kak. Cocok di jari kakak yang cuma seukuran kentang goreng."
Rion terbahak. Tante Sania mencubit perut putranya.
"Jari sekecil ini bisa membuat telingamu memerah, Yon! Mau bukti?" Aku bersiap menjewer telinganya.
"Gak kak. Gak minat." Rion menutup telinga dengam kedua telapak tangannya.
"Bi, setelah pernikahan nanti. Katakan apapun yang kamu inginkan pada Rion. Terkadang para pria tidak sesakti itu hingga bisa membaca pikiran perempuan." Nasehat tante Sania saat kami sedang dalam perjalanan pulang.
"Begitu pun Rion, katakan apapun pada Bi. Kamu ingin apa? Kamu maunya bagaimana? Kamu memikirkan apa?"
"Terbukalah pada pasangan kalian. Karena hanya dengan cara seperti itu perbedaan bisa teratasi. Terlebih usia kalian yang berbeda cukup jauh. Pola pikir kalian pasti sangat berbeda."
"Bicarakan semua hal. Jangan menyembunyikan rahasia sekecil apapun. Karena akan sangat menyakitkan jika kita tahu rahasia pasangan kita dari orang lain."
"Bi, sabarlah menghadapi putra tante yang belum dewasa itu." Tante Sania menunjuk Rion yang sedang mengemudi.
"Ck! Mami. Rion udah gede, Mi."
Itu adalah serentetan nasehat dari tante Sania. Calon mertuaku.
Lalu bagaimana dengan Zoya? Dia akan menikah dengan Ezra yang kebetulan tinggal sendiri di Jakarta. Bagaimana mereka mempersiapkan pernikahan mereka sendiri?
Beberapa hari lalu, Zoya dan Ezra sempat ke Semarang, ke kediaman ayahnya Ezra. Dan syukurnya semua berjalan lancar.
Aku turut prihatin, tapi melihat senyum bahagia tak pernah luntur dari wajahnya, aku yakin Ezra memberikan yang terbaik untuknya. Dengan tangan Ezra sendiri.
"Mbak, rambut saya di potong sedikit ya." Ucap Zoya pada pegawai salon yang sekarang sedang menata rambutnya.
__ADS_1
"Iya mbak. Rambut saya juga di potong sedikit ya. Biar fresh."
Aku dan Zoya saat ini sedang ada di salon. Kami akan menikmati serangkaian perawatan tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Bukan keinginan kami sebenarnya tapi ini hadiah bunda Una. Siang tadi aku dan Zoya di jemput olehnya. Kami ditinggal di salon ini dan hampir 3 jam kami belum selesai juga.
"Kenapa orang pada betah disalon ya Zoy?"
"Tau, Bi. Padahal bosan kan ya?"
"He'em."
"Yang buat mbaknya bosan mungkin karena semua perawatan dilakukan. Kalau cuma creambath atau facial gak sampai sejam mbak." Ucap salah satu pegawai salon.
"Iya mbak, namanya juga gratis. Ya diterima aja." Zoya cekikikan.
"Kapan hari bahagianya mbak?" Pertanyaan gadis yang mengurus rambut Zoya membuat kami saling tatap, tapi melalui cermin.
"Kok mbaknya bisa tahu kami mau menikah?" Tanya Zoya terkejut. "Padahal dari tadi kita gak ada bahas pernikahan loh ini? Mbaknya cenayang ya?"
Kedua pegawai salon itu malah tertawa. "Kita taunya dari paket perawatan yang mbak jalani. Ini biasanya paket yang di ambil sama calon pengantin, mbak."
"Oh... Bilang dong dari tadi mbak." Ucapku pada mereka.
"Mbaknya kembar ya? Mukanya mirip."
Kami tidak kembar, tapi sedarah.
"Banget."
"Yang mau nikah dua-duanya?"
Aku dan Zoya mengangguk.
"Beruntung banget ya." Ucap salah satu pada temannya.
"Iya. Lahir bareng, nikah juga bareng. Entar punya anak juga bareng."
"Amin." Zoya mengaminkan.
Zoya sangat semangat mengaminkannya. Aku bahkan belum membayangkan sampai kesana. Pernikahan yang tinggal menghitung jam saja belum sempat ku bayangkan.
Huuh! Bintang, coba bangun dan lihat kedepan. Gerbang rumah tangga sudah di depan mata.
"Jangan-jangan suami mbaknya juga kembar?"
Aku dan Zoya tertawa. "Enggak mbak. Gak ada niat punya suami kembar. Takut ketukar." Kami semua tertawa.
Bagaimana jika suami kami tertukar? Aiisshhh amit-amit.
Sebelum magrib aku dan Zoya tiba di rumah. Kami terpukau dengan dekorasi serba putih ini.
__ADS_1
Di bagian luar dipasang tenda yang di dekorasi warna putih dan semua menggunakan bunga asli.
"Ini sih perfect Bi." Zoya menatap sekeliling sambil berputar-putar.
"Asli keren banget." Aku juga terpesona. Padahal tim EO belum selesai mendekorasi.
"Kamu gak lihat si Ethan berburu bunga sampai keluar kota, Bi?"
"Iya aku lihat story dia di wa. Katanya tugas negara."
"Tante Nathali bisa aja kalau ngerjain tuh anak."
"Ayo masuk, Zoy." Ajakku.
"Calon pengantin udah pulang?"
Uti dan nenek sedang duduk di ruang tamu. Oma Citra pun ada disini.
"Yang pada kumpul kok gak ngajak-ngajak kita sih?" Protesku.
"Kalian kan lagi me time."
"Me time apaan bunda, yang ada kita bosan ya, Zoy?"
"Banget, Bi."
"Bosan?" tanya bunda diiringi tawa kecilnya.
"Jelas bosan, Na. Biasanya mereka kerjanya kejar-kejaran, jambak-jambakan, gelut, recokin Nath sama Nair. Mana betah duduk manis di salon." Sindir papa.
Kami berdua nyengir kearah papa. Dan kami kompak menyodorkan ibu jari dan jati telunjuk kami membentuk finger heart.
"Papa terbaek!"
"Nah kan! Kompak banget!" Ucap papa pada yang lain.
Mereka semua tertawa. "Ganti baju dulu, Bi. Ayo!"
Aku dan Zoya naik ke atas untuk masuk kedalam kamar kami. Aku sempat melihat 2 meja yang akan menjadi tempat kami mengikat janji suci. Meja dimana akad nikah akan berlangsung.
Aku memeluk pinggang Zoya selama berjalan di tangga. Air mataku menetes tanpa ku minta.
"Zoy, tinggal menghitung jam."
"Benar Bi. Rumah ini akan mengukir sejarah kita berdua."
"Semoga lancar, ya Zoy."
"Amin. Semoga Bi."
Kami berpelukan sebelum masuk ke kamar masing masing.
__ADS_1