BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
82 Persiapan.


__ADS_3

Rion


Sesuai janjiku, malam ini kami akan berangkat ke Jeju Island, dengan pesawat dalam waktu tempuh sekitar 12 jam dengan sekali transit ke bandara Internasional di Seoul.


"Kita pergi tanpa guide atau ambil paket wisata plus guide, Yon?"


"Pergi tanpa paket kak. Tapi semua udah ku pesan. Kalau gak ada kendala kita akan 4 hari disana. Aku udah pesan tiket pulang pergi."


"Ini hari Senin, dan Jumat malam kita sudah kembali ke Jakarta kak." Jawabnya yang sedang mencari jaket di dalam lemarinya.


"Kak, sekarang ini disana lagi musim gugur loh. Kalau kita menunda sebulan lagi, di sana sudah masuk musim dingin, kak."


"Salju di mana-mana. Mau kita tunda sampai musim dingin kak?"


"Rion!" Aku menatapnya tajam.


"Kenapa penawaran kamu baru datang saat kakak sudah mengajukan cuti?" Aku geram. Kemarin-kemarin dia sama sekali tidak memberikan penawaran seperti ini. Aku memakluminya karena mungkin jadwalnya lebih banyak kosong di minggu ini.


"Hehehe..."


"Iya... iya... nanti kita pergi lagi kesana ya, kalau dedenya udah gede." Rion langsung memeluk pinggangku.


Ck! Merayu!


"Aku sebenarnya punya banyak alasan sih kak."


Aku menatap wajahnya dan mengalungkan tanganku di lehernya.


"Pertama, ini honeymoon yang sama sekali gak ingin ku tunda. Jujur karena berkaitan sama jadwal dan Orbit yang kebetulan semuanya aman sampai dua minggu kedepan."


"Kedua, aku takut kalau kita menunda keberangkatan sampai bulan depan dan tiba-tiba kakak hamil, gimana?" Wajahnya dibuat sedramatis mungkin.


"Aku baca beberapa artikel, gak aman perbangan untuk yang sedang hamil muda, kak."


Aku mencubit hidungnya. "Mana ada hamil tiba-tiba, Yon!"


"Hehehe. Salah bicara ya? Maksudku kalau usaha kita sekarang sudah berhasil di bulan depan kak."


"Musim gugur juga romantis kok kak."


"Kita bisa karungin daun-daun gugur untuk Ethan, Shaka sama Caraka. Buat oleh-oleh."


Dia tergelak.


"Sekalian aja, kita bawa botol air mineral, terus isi pakai air laut buat oleh-oleh."


"Ide bagus kak."


"Disana ada umang-umang gak ya kak?"


Aku jadi ingat, dulu Nath dan Nair suka sekali membeli umang-umang atau kadang disebut dengan kelomang yang sering dijual di sekolah SD. Yang cangkangnya dicat dengan berbagai warna dan karakter toko kartun.


"Kenapa? Buat oleh-oleh juga."


"Hahahah... iya. Nair sama Nath pasti suka." Kami tertawa bersama.


"Mereka udah gak suka umang-umang lagi, Yon! Sekarang sukanya uang-uang."


Kami tergelak lagi. Air mataku bahkan sampai menetes.


"Sudah siap packingnya kak?" tanyanya dengan posisi yang sama, masih melingkarkan tangannya di pinggangku.


"Sudah."


Pakaianku dikirim mama dari rumah sore tadi. Mantel, jaket, boots, sneakers dan beberapa pakaian yang dibutuhkan untuk menghadapi suhu udara musim gugur di Pulau Jeju.


"Jam berapa ini kak?"


"Jam 5."


"Masih ada waktu satu jam untuk-"


"Untuk apa Rion?" Sambarku.

__ADS_1


Satu jam menunggu magrib dan kami akan berangkat jam 8 malam.


"Heheheh... Untuk ganti malam nanti." Rion langsung membawaku ke ranjang.


Kali ini aku mengalah, karena siang tadi ia tidak berhasil melakukan pertempuran. Sebab aku yang tertidur pulas dalam pelukannya.


"Rion..."


"Hem..." Sahutnya yang masih menyembunyikan wajah di dadaku setelah pertempuran yang memakan waktu setengah jam.


"Itu tadi style balapan karena terlambat sekolah." Ucapnya setelah mengatur nafas.


Aku jengah, semakin hari, Rion semakin menggunakan istilah yang aneh-aneh untuk aktivitas ngadon baby.


"Ck! Ku kira balap liar." Cibirku.


"Gak liar kak. Masih banyak berhentinya karena macet."


"Hehehe..."


"Durasi singkat karena ngejar waktu kak."


"Jadi kalau balap liar gimana lagi?" tanyaku. Yang begini saja aku kewalahan, apa lagi yang ia sebut balap Liar? Gak kebayang.


"Kita praktek pas honeymoon ya kak." Dia memelukku, bukan- tapi memeluk dadaku.


"Issh!! Jangan mulai, Yon."


Rion terkekeh saat aku memperingatkannya. Rion sengaja menggigit dua benda favoritnya itu.


"Dulu kamu minum ASI kan, Yon?." Aku coba mengingat. "Iya, kamu dulu ASI. Mana rakus lagi." Aku tergelak mengigat moment saat mami menyusui Rion. Dulu usiaku sudah 5 tahun, jadi aku masih mengingatnya sedikit.


"Sekarang juga masih rakus sih." Sindirku dan dia malah tergelak.


"Kata mama ASI sampai setahun kak. Setelahnya mama sibuk kuliah kedokteran, aku lanjut sufor."


"Iya, aku ingat. Kamu lebih sering dibawa ke rumah sama mbak."


"Mbaknya kemana sekarang, Yon?"


"Issh!! Rion!" Teriakku lagi saat tiba-tiba Rion kembali menggigitku.


"Gemessss kak!"


"Mandi sana!" Aku menarik rambutnya dan menjauhkan kepalanya dari tubuhku.


"Mandiin..." Rengeknya dengan semakin membenamkan wajahnya di dadaku. Rion memindahkan tanganku untuk mendekap kepalanya dan satu tangan lagi mengelus rambutnya.


Sebenarnya yang bertugas melindungi di sini siapa sih? Aku mengartikan setiap dekapan adalah perlidungan. Seperti dekapan mama saat aku kedinginan, saat aku sedih dan dekapan Zoya saat aku kesepian.


Dan Rion? Malah aku yang mendekapnya. Memang ada perasaan hangat di hatiku melihat dan merasakan tingkah manjanya ini. Aku baru mengerti sekarang, bagaimana perasaannya padaku, sedalam apa hanya dari perlakuannya selama beberapa hari ini. Dia tulus, dia mengutamakan aku dalam hidupnya.


"Ayo!" Ajakku berusaha bangkit, tapi Rion masih belum mau. Dia malah makin mempererat pelukannya.


Heemm... harus dirayu nih.


"Sayaaang..." Aku mencium pucuk kepalanya.


"Lagi...!" Permintaanmu Rion!


"Sayaaaaaaaang...."


"Sayaang..."


"Sayaaang..." Aku menusuk-nusuk pipinya dengan jari telunjukku.


Dia tertawa. "Iya sayang..."


Rion bangun dan mengecup singkat bibirku. "Di gendong atau diangkat?"


Pertanyaan apa itu, Yon? Bukankah artinya sama saja?


"Gak mau jawab, malu ya?" Godanya dengan wajah jenaka khas dirinya.

__ADS_1


Dalam sekali gerakan, tubuhku sudah melayang di udara karena ulahnya.


Rion mendudukkanku di closet. "Pakai shower ya kak."


"Gak ada bathtube soalnya. Atau mau di bak mandi aja?"


Aku terkekeh. "Kamu pikir aku sejenis lele. Berenang di bak." Aku mengguyur tubuhku di bawah shower.


"Lelenya ada di bawah." Arah matanya menunjuk boxer yang ia pakai.


Tapi aku tidak peduli, waktu magrib kurang dari lima belas menit lagi. Belum lagi aku harus mengeringkan rambutku.


"Kak!" Panggilnya. Aku menoleh kearahnya sebentar lalu kembali meneruskan mandiku.


Nih anak malah menggoda dengan melepas kain terakhir di tubuhnya.


Aku meraih handuk dan keluar dari kamar mandi. "Kak, nasipku gimana?"


"Terserah! Mau pakai sabun atau shampo. Senyaman kamu aja." Sahutku dari luar kamar mandi.


Aku memakai gamisku, dan meletakkan long cardigan sepanjang betis untuk ku simpan dalam tasku. Agar mudah mengambilnya saat tiba di Pulau Jeju.


Aku mengeringkan rambutku. Rion keluar dari kamar mandi dengan handuk yang ia pakai untuk menutupi tubuhnya dari pinggang hingga lutut.


"Biar ku bantu, kak." Rion merebut hairdryer dari tanganku. Dia sangat telaten mengeringkan rambutku.


"Udah azan, Yon." Ucapku saat Rion selesai dengan mengeringkan rambutku.


"Gak apa-apa kak. Kita sholat di kamar aja."


Kami berangkat dari rumah menuju bandara sekitar jam 8 malam, setelah maka malam dan sholat Isya.


Pesawat kami berangkat sebelum jam 10 malam.


"Tidur aja kak. Perjalanan kita masih lama." Ucap Rion saat pesawat sudah take off.


"Nyaman banget. Mahal ya, Yon?" tanyaku karena Rion memilih kelas bisnis untuk penerbangan kami ini.


"Gak kok kak. Biar kakak gak capek di perjalanan. Karena di sana kakak akan ku buat capek."


"Tau ah." Aku menutup mataku. Dia selalu bicara mengenai pertempuran. Apa otaknya sudah rusak akibat menikah terlalu muda? Hingga jiwa muda yang masih sangat penasaran itu terus menguasai otaknya untuk terus memikirkan masalah ranjang dan pertempuran.


Aku menatapnya yang ternyata juga menutup mata. Aku merasa bersalah memintanya menikah muda. Dan sekarang aku merusak otaknya?


Ck! Aku menggeleng, menghalau pikiran yang semakin tidak masuk akal. Di luar sana banyak yang menikah di usia yang sama seperti Rion dan bahkan ada yang lebih muda. Dan sepertinya mereka baik-baik saja.


Atau memang suamiku saja yang omes. Hihihihi, aku tertawa dalam hatiku. Brondong termanisku yang omes.


"Kenapa senyum-senyum sendiri kak?" Tanyanya.


Aku terkejut. "Eh, enggak."


"Eng... enggak apa-apa."


"Mikir yang jorok ya?"


Mulai deh.


"Untuk apa dipikirin kalau tiap hari di pratekin." Aku memanyunkan bibirku lalu kembali memejamkan mata.


"Kak, bikin dede di sini seru nih kayaknya." Bisiknya di telingaku.


"Tidur atau libur!" Dia tahu maksudnya libur. Libur bertempur selama di tempat tujuan kami.


"Iya... iyaa... tidur!"


Akhirnya dia mengalah.


****


Zoya kemana thor?


😔😔

__ADS_1


Dikurung di kamar sama Ezra 😥😥😥


__ADS_2