BUKTI CINTA UNTUK BINTANG

BUKTI CINTA UNTUK BINTANG
57 Gak tahu kalau tahun depan


__ADS_3

Orion


"Naik-naik kepuncak gunung. Tinggi-tinggi sekali."


"Kiri kanan kulihat saja. Banyak pohon cemara a...a...."


"Kiri kanan kulihat saja. Banyak pohon cemara."


Suara dua orang gadis memenuhi atmosfer mobil ini. Tawa ceria mereka seperti anak kecil yang diajak berlibur bersama orang tuanya.


Mobil milik om Akhtar yang dikemudikan oleh bang Ezra dan om Akhtar di sampingnya ini membelah jalanan menuju Bandung.


Di baris kedua ada kak Bi, kak Zoy dan tante Lintang. Sementara di kursi paling belakang ada aku, Nath dan Nair.


"Kak bisa gak sih gak usah norak." Nath menggerutu di belakang.


"Gak bisa!" Jawab keduanya kompak tanpa melihat ke belakang.


Aku mengulum senyum mendengar jawaban kompak itu.


"Ish... Ma, anak gadis mama kelakuannya kayak anak TK." Nath menadu pada tante Lintang.


"Nath, coba deh kamu anteng aja di belakang kayak Nair." Kak Zoy membandingkan Nath dan Nair.


Nair memang sedang berdzikir. Sepertinya sih begitu karena tangannya menggenggam tasbih sedari tadi.


Saat ini kami sedang dalam perjalanan menuju villa milik kak Zoy. Kami serombongan pergi dari rumah om Akhtar. Dan satu rombongan lagi ada keluarga om Satya.


Aku dan bang Ezra ikut karena Shaka yang mengajak. Dan menyuruh kami ikut bergabung dengan mobil om Akhtar.


Untungnya kami di terima baik disini.


Ethan juga sebenarnya diminta untuk ikut tapi sayang sekali dia punya acara sendiri dengan keluarganya.


Liburan ini hanya satu malam dan besok sore kami sudah kembali lagi. Jadi, tidak banyak yang bisa ikut termasuk om Langit dan orang tua tante Lintang.


Setelah perjalanan lebih dari 3 jam mobil kami berhenti di sebuah Villa dua lantai dengan halaman yang cukup luas.


"Alhamdulillah." Kami berucap syukur karena tiba dengan selamat.


Semua orang turun dari mobil. Aku, bang Ezra, Nath dan Nair membuka pintu belakang mobil untuk mengambil perbekalan kami.


Aku membawa satu box terbuat dari styrofoam yang berisi ikan segar dan beberapa bungkus soziz dan daging sapi beku yang akan menemani kami malam nanti.


Aku jadi teringat drama dibalik isi box ini.


"Ayam aja, Yon." Ucap kak Bi saat kami memasuki area pasar yang lumayan becek.


"Ikan kak. Ayam udah biasa." Ucapku yang berjalan di belakangnya.


"Itu!" Tunjukku kearah jam 12. Tepatnya tempat penjual ikan dan daging. "Disana ikannya masih segar-segar kak." Aku berjalan mendahuluinya. Tante Lintang memberi tugas ini pada kami. Karena tante Lintang harus berkemas dan menyiapkan apa yang akan kami bawa.


Kak Zoy dan bang Ezra bertugas membeli makanan ringan untuk perbekalan. Serta daging sapi beku. Huuh! Mereka sih enak. Belanjanya di supermarket.


"Ikan direndam es batu gitu, ya segerlah Yon." Bisiknya padaku.


"Enggak kak. Lihat aja matanya masih jernih. Insangnya juga masih merah."


Semenjak mengurus R cafe aku mulai belajar membedakan ikan dan daging yang masih segar dan yang sudah tak layak konsumsi.


"Penganten baru ya, mbak."

__ADS_1


"Belanja ke pasar aja sampai dikawal." Seorang penjual ikan melontarkan pertanyaan pada kak Bi.


Kak Bi tampak terkejut mendengar pertanyaan itu. Aku mengulum senyum sambil menunggu jawaban kak Bi.


"Belum menikah, pak. Gak tahu kalau tahun depan." Jawabnya acuh sambil melihat-lihat ikan mana yang akan ia beli.


Jawaban mengandung kode. Batinku.


"Ikan yang itu pak, 5 kilo ya." Kak Bi menunjuk ikan yang entah apa namanya.


"Masih bagus kan, pak."


"Bagus dong, mbak. Kita jualannya no tipu-tipu. Asli fresh from sea." Aku terkekeh. Fresh dari laut? Iyalah pak. Masa dari oven.


"Loh, dihalalin dong mas. Kasihan si nengnya di gantungin gitu." Ucap ibu-ibu seorang penjual sayuran.


Kalian gak tahu aja kalau selama ini aku yang digantungin setinggi langit.


"Nunggu waktu yang pas, bu." Semoga jawabanku ini tidak menimbulkan pertanyaan lain.


"Berapa pak?"


"200 mbak."


Aku mengeluarkan uang dua lembar pecahan seratus ribu dari dompetku.


"Ini aja, Yon. Mama udah kasih kok."


Tapi aku terlanjur memberikannya pada penjual ikan tersebut.


"Yaah, udah terlanjur ya kan pak?" Ucapku.


"Iya. Udah yang ini aja. Uang pas." Ucap bapak berusia 30an tahun itu sambil tertawa.


"Wah, merajuk calonnya mas." Bisik bapak itu.


"Gak apa-apa pak."


"Latihan buat saya." Jawabku pelan.


"Hahahah..." Tawa pria itu menggelegar.


"Benar mas. Entar kalau udah nikah. Setiap hari juga begitu yang dilihat. Apalagi kalau masnya letakin handuk basah di kasur, baju kotor di lantai kamar mandi. Sama tuh, lupa nutup botol sampoh."


"Bakal rame pagi-pagi di rumah. Jamin dah." Ucapan bapak itu memancing tawa yang lain.


Aku ikut tertawa. "Kesana dulu ya pak. Takut makin panjang taringnya." Candaku meninggalkan tempat itu.


Apa kehidupan pernikahan seasyik itu? Apa akan seramai itu?


Aku jadi gak sabar kak.


"Udah kak?" Tanyaku saat kak Bi menerima seplastik besar berisi sayuran.


"Udah. Ayo pulang."


"Mas undang kita ya kalau nikah nanti." Kelakar seorang pria di ujung sana.


"Malam pertama live streaming ya." Jerit yang lain.


Semakin lama semakin melenceng entah kemana kata-kata mereka.

__ADS_1


"Wah... Saya gak berani pak. Rahasia perusahaan." Tawa mereka meledak seiring langkahku keluar dari pasar.


"Kamu memang bisa membawa diri, Yon. Tapi tidak semua hal harus di tanggapi." Ucap kak Bi saat aku baru mendaratkan bok*ngku di kursi kemudi.


Catat itu, Yon! Untuk bekal berumah tangga.


"Senyum terus! Awas meleng." Nath membuatku terkejut. Aku lupa jika saat ini sedang mengangkat sebuah box dari mobil menuju dapur.


"Dasar bucin." Ejeknya.


"Gak pernah jatuh cinta sih. Makanya kamu gak tau rasanya?" Jawabku asal pada Nath.


"Rasanya repot, Yon!" Ucap Nath yang duduk di pantri. "Udah ketebak."


"Makanya males jatuh cinta-jatuh cintaan."


"Suka langsung lamar." Gak segampang itu Nath. Entar digantung sepertiku baru tau rasa.


"Awas aja kamu ntar bucin, ya." Aku meletakkan box di dapur.


"Sama siapa?" Pertanyaan apa itu Nath, ya mana aku tahu sama siapa?


"Mana aku tahu, Nath!" Ucapku duduk meluruskan kaki di lantai dapur.


"Aku sih anti bucin. Seorang Nath yang harusnya dibucinin." Kenarsisan yang menurun dari om Akhtar.


"Kalau tiba saatnya nanti. Kita lihat Yon. Sebeg* apa dia." Shaka yang ikut selonjoran menepuk bahuku. Kami berdua tersenyum miring kearah Nath.


"Seorang Nair saja bisa berubah drastis. Yang dulunya suka pegang stick PS sekarang lebih suka pegang tasbih." Sambung Shaka.


Aku membenarkan dalam hati.


"Tunggu saja." Ucap Nath.


"Kita lihat, Nath." Sahutku tersenyum remeh.


"Loh, Tiara? Kamu ikut Ethan ke sini?" Suara bang Ezra membuat Nath berlari keluar dari area dapur. Aku dan Shaka juga mengikutinya.


"Dia ikut Bang?" Nath langsung menodong Bang Ezra dengan pertanyaan.


"Buahahahahah... hahah..." Bang Ezra tertawa.


"Belum satu menit ngomong gak bakal bucin. Nah ini udah ada bibit bucinnya." Ejek bang Ezra diikuti tawa kak Bi dan kak Zoy.


"Suka banget ngerjain." Gerutu Nath meninggalkan kami semua yang masih terbahak menertawakannya.


***


Aku mau ucapin terima kasih sama kalian semua. Readers setiakuπŸ€—πŸ€—πŸ€— 😘 Berkat dukungan kalian akhirnya novel ini lolos review kontrak 😘


Level masih rendah gapapa πŸ˜‚


Nunggu naik level baru ajuin kontrak?


Wah keburu tamat dan level masih stuck disitu aja.😁


*Curhat bund πŸ˜‚


Aku usahakan sering up date. karena mau coba kejar 60K kata. Siapa tahu level naik.


Dan itu sekitar 20an bab πŸ˜‚ Mimpi kali ye ngetik 20 bab sampai akhir bulan πŸ˜₯

__ADS_1


jejak kalian sangat berarti guys. 😘😘😘


__ADS_2