
Orion
Jam 11 siang kami tiba di Jeju Island. Waktu di sini berbeda 2 jam lebih cepat dengan waktu di tanah air.
Kami tiba di sebuah penginapan dua lantai yang akan kami tinggali selama beberapa hari kedepan. Di bagian depan terdapat sebuah jendela besar yang langsung menyuguhkan birunya air laut.
"Ini luar biasa Yon. Subhanallah banget..." Ucap kak Bi senyum dengan menempelkan dua tangannya di kaca besar itu. Kak Bi menatap deburan ombak yang berkejar-kejaran beberapa meter di hadapannya.
"Hari ini kita kemana, Yon?" Tanyanya tanpa melihat kearahku. Sepertinya birunya air laut mengalahkan ketampananku hingga begitu menyita perhatian istriku.
"Gak kemana-mana kak. Kita istirahat hari ini. Sore nanti kita bisa keliling di sekitar sini tanpa guide." Ucapku yang duduk di sofa teoat di belakangnya.
Kak Bi berbalik, menatapku tanpa bergerak dari posisinya. "Tanpa guide?"
"Kamu bisa bahasa korea?"
Aku menggeleng. "Mereka pakai bahas Inggris kak. Kakak tenang aja deh."
"Kita ke Seoul yuk, Yon?" Ajaknya.
"Boleh sih. Kita pulang pergi naik pesawat aja kak." Aku sudah mencari-cari info bagaimana untuk bisa sampai ke Seoul.
Sorenya kami berjalan di sekitar penginapan. Aku dan kak Bi kompak memakai sweater hoodie karena udara cukup dingin.
"Kak!" Panggilku dan aku membidiknya dengan kamera yang ku pegang. Untung saja sempat kursus kilat dengan Ethan.
"Lagiiiiii...." Kak Bi mengatur gayanya lagi.
Beberapa foto sudah ku ambil. "Sini!" Kak Bi melambaikan tangan kearahku.
Aku datang kearahnya dan kak Bi langsung mengarahkan kamera ponselnya. "Selfie sebentar pak bos!"
Malamnya kami berburu makan malam di salah satu tempat makan. Kami menikmati beberapa hidangan seafood.
Paginya kami pergi ke sebuah tempat untuk melihat matahari terbit dengan mobil rentalan. Untung saja drivernya tergolong ramah bahakn mau memberikan saran tentang tempat-tempat yang wajib kami kunjungi.
***
Bintang
Aku terpesona dengan pemandangan indah ini. Dan dinginnya udara disini ternyata tak lantas membuat Rion untuk terus-terusan mengajakku bertempur. Kami lebih menikmati setiap perjalanan, menikmati momen yang Rion abadikan dengan kamera yang tak pernah terlepas dari lehernya, terkecuali aku yang minta.
Sore ini kami pergi ke sebuah taman, berjalan menyusur jalan setapak yang di kelilingi pepohonan dengan dedaunan yang mulai berguguran. Daun-daun dengan gradasi warna hijau-kuning keemasan-dan oranye sangat memanjakan mata.
Aku merapatkan long cardiganku. Aku memakai celana rok dan kaos sebelum memakai cardigan. Aku juga memakai kaos kaki dan ankle boots serta hijab pashmina berbahan tebal.
Suami tercintaku lebih memilih jeans senada dengan rokku dan sweater hoodie serta snaekers putih favoritnya.
"Sini kak." Rion meraih tanganku dan memasukkannya ke kantong sweater miliknya.
Aku tertawa melihat tingkahnya.
"Bawa karung gak kak. Banyak banget ini loh daun-daunnya."
__ADS_1
Aku menggeleng sambil menahan tawa.
Kami sempat beberapa kali mengambil foto. Bermacam gaya dan sesekali kami meminta foto dengan warga lokal atau turis yang lain.
"Bukti kak!" Ucapnya saat menunjukkan foto selfie kami dan beberapa warga lokal.
"Bukti?"
"Iya, bukti kalau kita ke luar negeri."
"Harus banget ya?"
"Iya lah kak."
"Jadi nanti kalau si dede mukanya agak manis dan matanya agak sipit aku gampang jawabnya."
Aku makin bingung. Aku duduk di kursi besi dan Rion ikut duduk di sampingku.
"Aku tinggal jawab, kakak pas hamil suka lihat foto liburan kita."
Aku mengulum senyum. Alasannya receh banget. Tapi harapannya besar. Dan aku ounya hadiah untuk harapannya itu.
Kami kembali berjalan dan Rion terus mengoceh.
Malamnya aku tidak ingin kemana pun. Karena cuaca dan suhu udara disini membuat tubuhku kurang nyaman jika terlalu lama diluar ruangan.
"Kak..."
"Sama..." Aku tidur dengan berbantalkan lengannya. Menarik selimut hingga ke dada. Rion tidak tahu kalau di dalam selimut itu tubuhku tak berbalut apapun. Aku naik ke ranjang lebih dulu saat Rion masih di kamar mandi dan meninggalkan baju ku di dalam lemari.
"Bang Ezra gak mau pas aku ajak."
"Zoya juga, Yon."
"Ck! Mereka pengusaha tapi takut meninggalkan pekerjaan. Mereka bos loh."
"Rion, itu namanya totalitas sayang."
"Dari pada ngobrolin mereka yang entah sedang apa di sana mendingan kita...."
"Tempuuurrrr!!" Sahutnya semangat.
Aku tertawa. "Balap liar boleh juga." Aku mengerling.
"Pengennya down hill." Tangannya sudah berada di tempat favoritnya.
Aku tertawa saat Rion membulatkan matanya. Merasaka tangannya tak terhalang apapun.
"Kak..."
"Apa?"
"Ini." Aku terkekeh melihat ekspresinya.
__ADS_1
"Kemarin sebelum berangkat kesini, kamu menguji imanku dengan menanggalkan kain terakhir di tubuhmu. Dan sekarang, gantian. Kamu kuat iman atau gak?" Aku menatap manik matanya yang mulai berkabut.
Wajahnya mendekat, "imanku kuat, tapi imunku jauh lebih kuat!"
Rion langsung menenggelamkan tubuhnya di dalam selimut. Melakukan aktivitas favoritnya.
Rion kembali mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Perlahan menautkan bib*r kami. Dia pria yang penuh kelembutan kalau urusan membakar gair*ah seperti ini.
Dan satuhal yang ku salut darinya. Dia tidak pernah meninggalkan jejak kemerahan di kulitku. Alasannya, aku terlalu berharga untuk disakiti dan tidak ingin memberi noda di kulit putihku.
"Kita mulai balap liarnya." Bisiknya pelan. "Ini akan lama, kak. Gak ada rem dan gak akan berhenti sampai ke finish."
"Buktikan saja!" Aku menantangnya.
Rion memulainya dan terus melakukannya. Dia benar, tidak berhenti dan semakin lama semakin menambah kecepatannya.
Masihkah lama dia sampai ke finish? Aku sudah... sudah entah berapa kali.
Dan akhirnya kami sampai ke finish bersama-sama dengan dia yang meledak di dalam tubuhku.
Rion ambruk dan memelukku. Rion masih mengatur nafasnya dan dibawah sana belum juga ia lepaskan.
"Yon...!" Aku menyeka keringatnya.
"Rion...!" Panggilku lagi karena Rion tidak menyahut.
"Sayang... Jangan pingsan, Yon." Aku mulai panik.
Dia tertawa pelan. "Takut baget aku pingsan."
"Isss!! Aku menarik rambutnya pelan." Disaat seperti ini masih sempat dia mengerjaiku.
Aku hanya takut dia pingsan dalam keadaan kami sedang seperti ini dan kami hanya berdua disini. Aku mau minta bantuan siapa?
Rion malah kembali menyembunyikan wajahnya di leherku. Menghembuskan nafasnya berkali-kali disana. Aku tahu tujuannya, yaitu kembali membakar hasr*tku.
"Karena kita seri. Kita balap ulang." Apa-apaan dia?
Rion, please!
Terlambat! Rion kembali bersiap digaris start. Dan dia curang! Dia memulai tanpa menungguku lebih dulu.
"Rioon!" Aku memperingatkannya sebelum aku terbawa arus bersamanya.
"Just relax kak."
Just relax katanya? Bagaimana bisa relax jika aku sudah terbakar begini.
****
Jejak sayang 😗😗
Jangan minta yang hot. 😂 Aku gak punya kompor 😙
__ADS_1