
Lintang
Setelah keluar dari kamarku, aku mencari keberadaan anak-anak. Mas Akhtar mengatakan mereka sedang keluar bersama kak Satya. Sedangkan Bunga sedang pergi ke rumah bunda.
Aku duduk di gazebo. Merenungkan semua nasehat bunda, Mas Akhtar dan Bunga.
Apa sikapku keterlaluan pada anak-anak?
Apa kecewaku berlebihan?
Apa aku terlalu keras pada mereka?
Ya Allah, apa aku tidak boleh marah?
Aku sayang mereka. Hingga tidak ingin hal buruk terjadi pada keduaya.
"Lin..." Mas Akhtar memeluk pinggangku. Dagunya bertumpu di bahuku.
"Ya..." Sahutku tanpa melihat kearahnya.
"Kamu masih marah?" Aku mengangguk.
"Istigfar sayang. Anak-anak butuh kamu. Apa lagi aku." Aku ingin tertawa dalam hati.
"Kalau Bi berubah, kamu memaafkannya?" ucapnya lagi.
"Pasti, mas." Jawabku yakin.
"Begitu juga dengan Zoya?" Aku mengangguk.
"Lalu dengan Rion?" tanyanya padaku.
"Aku..." Aku bingung harus jawab apa.
"Dia masih muda, Mas." jawabku.
"Lalu apa yang salah jika keduanya siap?"
"Aku takut Bi gagal mas." Aku menoleh ke samping. Mas Akhtar menjauhkan wajahnya di bahuku supaya kami bisa saling memandang.
Aku merasa mataku berembun. Jika memikirkan masa depan, aku terkadang merasa takut sendiri.
"Mengapa kamu mendahului kehendak Allah, Lin. Kamu meragukan sang pemilik takdir."
"Dia, pencipta kita akan menjadi sebaik-baiknya penolong sayang. Selama kita berada di jalan-Nya. Jangan pernah ragu."
Ya Allah, maafkan aku yang meragukan-Mu.
"Seandainya mereka berjodoh, kamu merestui sayang?"
Aku mengangguk. "Tentu mas. Asalkan keduanya saling mencintai."
"Kalau mereka menikah setelah Rion lulus?"
Pertanyaan mas Akhtar membuatku mengelus pipinya. "Semua keputusan ada pada Bintang Mas."
"Makanya aku marah saat kamu ikut campur dengan memberi Rion syarat."
Mas Akhtar mencium pipiku. "Maaf ya Lin. Aku cuma mau Rion membuktikan perasaannya."
"Awas mas! Malu dilihat mang Joko." Aku mencoba melepaskan diri.
"Mang Joko lagi cuci mobil di depan."
Ting...
Pesan dari Bunga.
Aku membuka pesan dari Bunga.
Lihat putrimu kak.
Dan sebuah rekaman menyusul di bawahnya. Dalam rekaman aku melihat Bintang dan Zoya menangis dan mengadu pada foto Almarhum papa mereka. Aku dan mas Akhtar saling pandang. "Maafkan anak-anak ya Lin."
__ADS_1
Aku mengangguk.
Belum tengah hari. Aku, Bi Imah dan Bunga sudah selesai memasak beberapa menu masakan.
Ya, aku akhirnya menemui Bunga saat ia sudah kembali dari rumah bunda sekitar jam sepuluh.
"Kakak minta maaf, Na." Aku memeluknya. Aku sadar, sikapku padanya pagi tadi sangatlah tidak baik.
"Tapi mereka anak-anakku. Aku tidak akan membiarkan kamu membawa mereka."
"Kakak memaafkan anak-anak?"
"Pasti, Na. Mereka anak-anakku."
Bunga melepaskan pelukanku. "Mereka sudah besar kak."
"Tapi mereka masih membutuhkanmu."
Aku mengangguk.
"Ayo kita masak buat mereka, kak. Untuk makan siang."
Anak-anak pulang. Mas Akhtar langsung memita mereka bergabung dengan kami di ruang keluarga.
Keduanya duduk di sofa yang agak jauh dariku.
Ya Allah, anak-anakku. Mereka pasti menjauh karena takut aku masih marah.
Mas Akhtar meminta mereka mendekat ke arahku. Keduanya saling pandang. Masih enggan, karena takut membuatku semakin marah.
"Gak mau peluk mama." Aku merentangkan tangan dan keduanya memandang ke arahku.
Mereka langsung menghambur dalam pelukanku. "Maafka Bintang ma."
"Zoya juga minta maaf sama mama."
Keduanya terisak. Begitu juga aku.
"Mama juga minta maaf, nak."
"Bi janji gak akan ulangi lagi ma."
"Zoy juga."
Aku mengurai pelukan. "Bi, kita selesaikan masalah ini dengan keluarga Rion, ya."
Bintang mengangguk. "Iya ma."
****
Orion
Selesai Dzuhur papi mengajakku pergi.
Tumben-tumbenan. Biasanya juga gak pernah.
Mungkin papi kasihan padaku yang hari ini terpaksa libur sekolah karena pagi tadi aku terlihat seperti zombie.
Lingkar mata menghitam, rambut acak-acakan. Dan sudut bibirku membiru.
Kalian tahu penyebabnya. Aku diserang oleh pinang dibelah dua. Dan papi malah duduk santai melihat mereka menyeretku dari lantai dua.
Saat mami panik, papi baik hati nan lembutku hanya berkata. "Rion gak akan mati, San."
"Mereka menyerang Rion." Ucap mami.
"Anak itu pantas mendapatkannya."
Mereka malah berdebat.
"Raaay..." Rengek mami.
"Lihat saja, San. Mereka anak-anak Akhtar."
__ADS_1
"Jadi kalau anak-anak Akhtar yang melukai anak kamu. Kamu diam saja Ray!"
"Kalau seandainya Nath melakukan hal yang sama pada Chiara, seperti yang Rion lakukan pada Bintang."
"Apa yang akan kamu lakukan padanya." Papi menujuk Nath dengan dagunya.
Mami langsung diam. Dan aku langsung pasrah. Karena benar kata papi. Jika semua di balikkan pada kami. Mungkin Nath sudah babak belur sejak kemarin.
"Buugh." Pukulan pertama Nath di sudut kanan bibir. "Untuk kekurang ajaranmu." Memang benar, bibirku kurang ajar.
"Buugh." Satu pukulan di perut dari Nair. "Untuk keberanianmu mencintai kakakku."
"Buugh." Satu pukulan lagi dari Nath di sudut bibir kiri. "Ini untuk penghianatanmu dalam persahabatan kita."
"Buugh." Satu pukulan dari Nath di perut. "Ini untuk salam perpisahan dari kak Bi." Aku menatapnya.
Mereka melepaskanku yang bersandar di dinding. Keduanya berjalan mundur. "Jangan sebut aku Nath jika aku tidak bisa membawa kak Bi pergi jauh dari hidupmu." Keduanya pergi setelah menyapa papi.
"Terima kasih samsaknya, om."
"Sama-sama, Nath."
Aku bertekad untuk tetap meraih kak Bintang. Tapi semalaman aku terjaga hanya karena memikirkan bagaimana aku mengulang untuk memulainya.
Kami mengendarai mobil baru papi, jenis Rubicon yang baru dibelinya sebulan lalu.
Orang tua tapi seleranya gak main-main.
"Keren mobil papi, warisan untuk Rion ya Pi." ucapku di kursi belakang karena kami akan mampir menjemput mami kerumah sakit. Aku hanya malas pindah-pindah tempat duduk.
"Warisan gundulmu. Papi belum mati." Bentak papi. Lumayan ada hiburan baru.
"Kali aja papi ada rencana mati dalam waktu dekat." Ucapku asal.
"Lama-lama kamu kurang ajar, Rion."
"Kurang cinta juga, Pi."
"Kurang beruntung pun iya juga." Ucapku lagi.
"Kasian baget, bego sih!" Cibirnya.
"Papi, gelut yuk. Depan sana ada tanah lapang, noh." Tunjukku pada tanah lapang yang akan segera kami lewati.
"Gak tipe papi gelut-gelutan."
"Papi gak suka main otot."
"Tapi kalau bacot, boleh lah kalau terpaksa."
"Dih, ngebacot itu mainnya cewek, pi."
"Cowok mah harus stay cool. Minimal main bogem-bogeman."
"Lah, terlalu cool sih, sampe bonyok gitu." Sindir papi.
"Rion tau Rion salah. Makanya gak Rion lawan, pi."
"Bagus kalau udah sadar." Inilah papiku. Kami dididik dengan caranya yang memberi kebebasan. Papi tidak ada menasehatiku yang terlalu panjang lebar dari A sampai Z yang jika diketik akan lebih dari 10 lembar kertas A4.
Tapi papi membiarkanku berfikir hingga aku sendiri yang menyadari kesalahanku.
Kami menjemput mami dan setelah pergi ke tempat tujuan. Aku memejamkan mata selama sisa perjalanan. Karena papi sudah punya teman bicara.
Dan yang membuatku terkejut adalah "Rumah Kak Bi?"
"Mau selesai gak masalahnya, Rion?" Ucap papi yang sudah turun dari mobil.
"Mau, Pi." sahutku dari dalam mobil.
"Ayo! Anak laki harus gantle."
Aku langsung turun. Papi sepertinya akan membantu menyelesaikan masalah kemarin.
__ADS_1