
Orion
Malam ini aku ikut bergabung dengan papi dan mami yang sedang duduk di ruang keluarga. Papi sedang menari-arikan jemarinya di atas layar tab. Sedangkan mami sedang fokus pada layar TV.
Aku mendaratkan bok*ngku di sofa, dan duduk bersandar.
"Rion mau lamar kak Bi, pi."
Papi menatapku sekilas lalu kembali fokus pada layar tabnya. "Kalau mau mimpi, tidur dulu, Yon!"
"Ck! Rion serius, pi. Kak Bi udah terima Rion."
Papi langsung meletakkan tabnya di meja dan langsung menatapku. Mami juga ikut menatapku.
"Kamu serius?"
"Serius mi."
"Terus masalahnya apa?" tanya papi padaku.
"Uang Rion belum cukup." Jawabku lemas.
"Uang papi ada."
Aku menggeleng.
"Kak Bi bilang, kalau uang Rion udah cukup buat biaya pernikahan sama honeymoon ke Jeju Island. Rion boleh melamarnya pada om Akhtar dan tante Lintang, pi." Aku menjelaskan permintaan kak Bi yang tak ingin aku menggunakan uang papi.
"Bi bilang begitu?" tanya mami yang terheran.
Aku mengangguk.
"Selera calon mantu kita oke juga Ray." Mami tersenyum bangga.
"Itu ide Rion, mi. Rion yang ajak kak Bi honeymoon ke Jeju."
"Ck! Dasar kamu. Dompet tipis tapi janji muluk-muluk, Yon." Sindir papi yang menatapku sinis.
Aku diam sejenak. Tabunganku memang belum cukup. Hasil R cafe selama setahun ini memang masuk ke rekeningku. Mungkin hanya cukup untuk ke Jeju. Tapi tidak cukup jika untuk membiayai pernihakanku dan kak Bi.
"Bagi saham rumah sakit 50% dong, pi. Biar dua bulan lagi aku bisa nikahin kak Bi."
Mami sampai tertawa melihatku yang hampir putus asa.
"Janji deh setelah itu Rion balikin lagi ke papi."
Papi belum merespon. "Atau Rion jual mobil sama motor aja, pi."
Ya, mudah-mudahan papi mengizinkan. Motor dan mobilku mungkin berkisar 400-500 juta. Walau pun itu hasil pemberian papi.
Papi tertawa. "Kalau kamu gembel begitu, yakin Bi masih mau sama kamu?"
Laah, iya juga. Aku mengacak rambutku frustasi.
"Rion." Aku menatap papi. "Selama ini penghasilan R cafe masuk ke rekening kamu kan?"
Aku mengangguk. "Berkurang sedikit pi, waktu persiapan buat rumah baca kemarin."
Papi mengangguk faham.
"R cafe ada berapa cabang, Yon?"
__ADS_1
Aku berfikir sejenak. "Empat sama yang Rion pegang, pi."
"Papi menyerahkan R cafe padamu, bukan cuma satu."
"Tapi semuanya."
Aku melongo.
"Tapi kamu lebih suka mengurus yang dijalan X. Dan tidak pernah datang ke cabang yang lain walaupun papi minta."
"Kenapa?"
"Mengenang kesalahan?" Tanya papi dengan senyum miring.
Maksud papi adalah kesalahanku pada kak Bi. Di ruangan itu.
Papi mengambil dompet dan mengeluarkan kartu ATM dari bank ternama.
"Ini isinya penghasilan 3 cabang R cafe lainnya selama setahun lebih." Papi menyodorkannya di depanku.
"Setelah ini, urus semua cabang." Perintah papi. Aku menerima kartu ATM itu.
"Mau lihat isinya?" Papi menyodorkan tabnya.
Aku mengecek melalui e-banking dan mataku membulat. "Se-segini?" Ucapku gugup. Sebanyak ini?
Jelas, penghasilan satu cafe saja sudah lumayan apalagi ini 3 cafe dan hasilnya tidak di ulik sedikitpun.
Papi mengangguk. "Gak pernah lihat duit banyak, ya?" Ejek papi.
Aku mengangguk.
Ini hampir melebihi penjualan mobil dan motorku.
Aku menatap papi tak percaya. Belum cukup?
"Dulu, om Akhtar kasih mahar 270 juta untuk tante Lintang, lain cincin kawin."
Segitu banyaknya? 20 tahun lalu itu loh?
"Masa iya kamu kalah sama mertua."
"Malu dong."
Ah, aku harus cari uang kemana lagi ini?
"Jadi gimana, pi."
"Apa Rion harus nunggu beberapa bulan lagi atau mungkin setahun lagi. Menunggu tambahan dari penghasilan R cafe dan OrBit."
"Ya, Rion harus sabar."
Papi menggeleng. Papi kembali membuka dompet dan mengambil kartu ATM lalu meletakkannya di depanku.
"Ini apa, pi?" Tanyaku penasaran.
"Dulu kakek buyut sebelum meninggal titip saham 10% dari perusahaan untuk kamu."
Kakek buyut meninggal saat usiaku 4 tahun dan sekarang aku sudah berusia 19 tahun. Jadi itu kejadian 15 tahun lalu?
"Karena kamu cicit pertama dan laki-laki pula. Hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya." Aku melihat papi berkaca. Papi pasti mengingat almarhum kakek buyut.
__ADS_1
"Kakek buyut ingin menjamin biaya pendidikan kamu."
"Nah, papi sisihkan hasil keuntungan dari 10% saham itu selama sekitar 15 tahun. Karena papi masih sanggup biayai kamu sama Chiara."
"Mamii?" Aku menatap mami yang mengangguk.
Aku memegang dua kartu ATM sekarang.
"Mau lihat isinya, Yon?" tanya mami.
"Enggak mi. Takut lupa nafas." Jawabku.
Penghasilan 3 cabang R cafe selama setahun saja berhasil membuatku tercengang. Apa lagi ini hasil keuntungan saham sebesar 10% selama 15 tahun. Aku tidak sanggup membayangkannya.
"Akhirnya San, kesibukanku berkurang. R Cafe sudah ada yang handle." Papi bersandar di sofa.
Aku terpaku. Selama ini papi memang mengurus semuanya sendiri. Perusahaan, rumah sakit, dan R cafe.
"Empat sampai lima tahun lagi, aku mau kita berdua menikmati masa tua main sama cucu."
"Rion udah bisa handle semuanya."
"Chiara baru bisa pengang rumah sakit sekitar sepuluh tahun lagi."
Ya, benar. Chiara saat ini kan masih berusia 14 tahun.
"Ck! Pantesan beli Rubicon. Mau menikmati masa tua rupanya." Sindirku.
"Kenapa?"
"Mau minta Rubicon juga diwariskan?"
"Kalau papi kasih, Rion gak nolak, pi."
"Pengen banget kamu sama Rubicon papi."
"Mobil bagus gitu, pi. Siapa coba yang gak pengen?" Ucapku asal.
"Kamu bisa beli, Yon. Pakai uang yang ada di dalam 2 kartu ATM itu." Papi menunjuk dua kartu yang ada di depanku.
Aku mengambilnya dan memeluk kedua kartu itu. "Gak deh. Modal kawin, pi."
Papi tertawa. "Makanya kerja keras biar bisa beli sendiri."
Aku bangkit dan mencium pipi keduanya bergantian. "Terima kasih, pi."
"Terima kasih, mi."
Aku langsung berlari menaiki anak tangga. Hatiku bersorak. Akhirnya, jadi juga aku kawin.
"Rion, cium Bi sana!" Suara papi terdengar kesal. Aku tau papi mengelap pipinya yang ku cium tadi.
"Entar pi, kalau udah halal." Teriakku dari tangga.
****
Hai semuanya. ๐
Semoga kekayaan Rion masih masuk akal ya.โบ
Semoga haluku kagak muluk-muluk ๐
__ADS_1
Jejak please๐