
Orion
Jam 5 sore Rizal kami pindahkan ke Rs Danadyaksa. Lukanya tak terlalu parah. Hanya saja tangannya memang terlihat bengkak.
"Nair, kamu tolong jemput ibunya Rizal." Perintahku. "Langsung bawa ke Rs." Aku sudah menyuruh supir mengantar satu mobil lagi guna untuk menjemput ibunya Rizal.
"Aku gak tahu rumahnya, Yon!"
Ah, iya ya.
"Tia tau bang daerah rumah Rizal. Nanti Tia ajak ibunya ke Rs bang." Ucap Tiara.
"Gini aja, Ra."
"Kamu sama Nath jemput ibunya. Sekalian kamu bisa pulang dan istirahat."
"Motorku kak?"
"Motor kamu biar supirnya Rion yang bawa langsung ke rumah."
"Pak, nanti dari rumah naik taxi gak apa apa kan?" Tanya kak Bi pada supirku.
"Gak apa-apa, mbak."
"Oke udah deal ya."
"Nair?" Tanyaku.
"Kamu pulang Nair. Kasih kabar mama papa. Setelah selesai kakak langsung pulang."
"Oke kak. Pas banget. Habis magrib aku ada pengajian di masjid."
Akhirnya aku dan kak Bi membawa Rizal ke rumah sakit. Kak Bi duduk di belakang bersama Rizal.
"Sakit banget, Zal?" Tanyaku.
"Udah gak terlalu bang."
"Mungkin masih ada efek obat, Yon." Ucap kak Bi.
"Zal, maaf abang terlambat datang." Ucapku penuh sesal.
Rizal tersenyum miring. "Gak apa -apa bang."
"Justru Rizal bersyukur ada di sana. Seenggaknya bang Baron mengakui kesalahannya dan itu terekam cctv." Ucapannya berhasil membuatku dan kak Bi tercengang.
"Jadi?" Ucap kak Bi.
"Aku sengaja kak. Aku sengaja keluar lagi dan memancing amarahnya. Aku ingat di rumah baca ada cctv dan aku perlu bukti pengakuannya soal pelec*han yang dia lakukan terhadap kakakku."
Rizal menatap lurus kedepan, wajahnya sendu dan bulir bening menetes di sudut matanya.
"Zal, polisi akan menyelidiki kasus itu. Kamu tenang ya. Berdoa semoga pelakunya mendapat hukuman yang setimpal, Zal." Kak Bi berusaha membuatnya tenang.
Rizal mengangguk lemah. "Kak Rita frustasi kak. Belum hilang traumanya, dia malah dapat kenyataan bahwa dia hamil." Rizal tergugu.
"Tetangga menatapnya jijik."
"Dia dicaci dan jadi bahan pergunjingan."
"Dan akhirnya kak Rita memotong nadinya." Rizal menyeka air matanya.
"Kamu sekarang fokus sama kesehatanmu, Zal."
"Semuanya kita serahkan pada polisi." Lanjutku.
Kami tiba di rumah sakit dan Rizal langsung melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Dan hasilnya memang benar, tulangnya mengalami keretakan. Tidak terlalu parah dan masih bisa pulih kembali dalam hitungan minggu.
***
Nath
Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian. Gadis yang duduk di sebelahku tak membuka mulutnya sekalipun.
__ADS_1
"Rumah Rizal dimana?" tanyaku yang duduk di kursi kemudi.
"Masih jauh." Ucapnya tanpa menatapku.
Sialan. Dikacangin.
"Jangan jutek-jutek bisa gak?" Ucapku padanya. "Gak ada bedanya sama Nair!" gumamku pelan.
Hening...
"Kalau ikut ke rumah sakit lagi boleh gak bang?"
Whaaat! Abang?
"Abang?" ulangku.
"Iya. Boleh ikut gak?"
"Sejak kapan jadi abang kamu?" Tanyaku dengan alis menyatu.
"Tau lah." Tiara malah cemberut kembali menatap lurus ke depan.
Salah lagi. Huufft!
"Depan situ, belok kanan, bang!" Tiara memberi petujuk.
"Bukan abang supir taxi online." Sahutku datar.
"Tia juga tau, bang. Taxi online juga gak minta petujuk sama penumpang."
"Belok kanan lagi bang."
"Kanan terus, kirinya kapan?" Cibirku.
"Kiri ke KUA bang, bukan rumah Rizal." Sahutnya cepat.
Aku terperanjat. "Kok bisa pas?" Gumamku pelan.
"Apa?" Dia dengar?
"Gak apa-apa." Jawabku cepat.
"Yang mana rumahnya?"
"Masuk gang itu bang." Tunjuknya pada gang selebar 2 meter itu.
"Jalan nih?" Tanyaku tak yakin.
Gadis itu turun lebih dulu. "Kalau bisa terbang silahkan. Aku sih gak bisa." Gadis itu berjalan duluan.
Oh My God. Seorang Nath ditinggalin.
Aku segera menyusulnya. Berjalan tepat di belakang gadis yang tingginya tak lebih dari ketiakku itu. Aku tertawa dalam hati. Ada yang lebih pendek dari kak Bi dan kak Zoy ternyata.
Kepala Tiara menoleh ke kanan dan ke kiri seperti melihat nomor yang menempel di dinding tiap rumah. Dan aku masih setia berjalan di belakangnya.
Cih, setia? Kayak hubungan aja harus disetia-in.
"Nomor 18..."
"19." Ucapnya setiap beberapa langkah.
"20."
"21." Dia berhenti di rumah petak berwarna putih kusam itu.
"Harusnya sih ini." Ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya.
"Harusnya?" Tanyaku terkejut. "Kamu gak yakin?" Lanjutku.
"Sesuai data sih ini, bang."
Huuuufft.. Aku menghela nafas berat.
Kami berjalan semakin dekat. "Berantakan gini Ti." Ucapku padanya saat ku lihat botol bekas dan karung berserakan di teras kecil itu.
__ADS_1
"Yakin ini rumahnya, Tia?" Tanyaku ulang.
"Kalau lihat keadaannya ya gak yakin. Tapi harusnya ini." Tiara mulai menelisik dan hendak mengetuk pintu.
"Astaga. Kenapa kaca jendelanya berserakan dibawah gini." Ucap Tiara saat sandalnya menginjak pecahan kaca.
"Permisi, cari siapa?" Suara lembut seorang wanita membuatku dan Tiara menoleh kebelakang.
Tiara menghampiri wanita itu. "Apa benar ini rumah Rizal, Bu?"
"Astagfirullah..."
"Kenapa berantakan gini." Ibu itu baru menyadari barang belas yang berserakan di teras.
"Nih Rizal juga kemana? Bukannya diberesin dulu."
"Ya ampun. Kenapa kacanya pecah begini?"
Dengan raut wajah khawatir, ibunya Rizal membuka pintu dan lebih terkejut melihat barang-barang di dalam rumahnya berserakan.
"Ya Allah ini ulah siapa?" Ibu itu menangis. Lalu berjalan menuju rumah tetangga yang menempel dengan rumahnya.
"Romlah, ini siapa yang berantakin rumah."
Seorang wanita muda keluar dri dalam rumah. "Mbak udah pulang? Tadi ada preman yg tiba-tiba hacurin rumah Mbak Rosidah."
"Warga gak ada yang berani ngelawan, Mbak." Mata wanita itu memerah.
Kenapa sama seperti kejadian di rumah baca.
Ya Allah, apa hidup di pinggiran sesulit ini? Yang lemah ditindas. Yang berkuasa yang bertindak sesuka hati.
Ibu yang baru kutahu bernama Rosidah itu duduk di bangku teras. Bangku kayu yang terlihat usang.
"Astagfirullah, Rizal!!" Ibu Rosidah sepertinya teringat Rizal.
"Udah jam enam dia belum pulang juga."
"Mulung di mana sih?" Wanita itu bermonolog.
"Buk..." Tiara mendekat dan duduk di sebelah wanita berusia sekitar 40 tahunan itu.
"Eh, Iya. Kalian siapa?"
Tiara menjelaskan siapa kami dan tujuan kami datang kesini. Tiara juga menceritakan kondisi Rizal.
"Ya Allah. Tapi Rizalnya beneran gak apa-apa kan?"
"Ibu tenang ya. Rizal baik-baik aja."
"Sekarang ibu beresin pakaian ibu dan ikut kita ke rumah sakit." Ucapku.
"Bu, kalau bisa. Bawa semua surat dan benda berharga yang kalian punya. Karena dikhawatirkan preman-preman itu datang lagi buk." Aku memberi saran.
Akhirnya Ibu Rosidah ikut kami ke rumah sakit. Sepanjang jalan ia terus menanyakan kondisi Rizal.
Kami tiba di rumah sakit dan Bu Rosidah langsung memeluk Rizal.
"Kamu gak apa-apa Zal?"
"Kenapa bisa begini, sih?" Bu Rosidah menunjuk tangan Rizal.
"Gak apa-apa buk. Ibu tenang ya."
"Zal, rumah kita diobrak-abrik preman Zal." Adu ibu Risidah pada Rizal.
"Kurang ajar." Ku lihat rahangnya mengeras dan tangannya mengepal.
"Zal, sabar Zal." Kak Bi berusaha menenangkan Rizal.
"Tapi rumah udah gak aman buat ibu, kak."
"Bu, untuk sementara ibu temani Rizal di sini untuk dua hari kedepan." Ucap Rion.
"Tapi Rumah sakit ini mahal, nak. Ibu mau bawa Rizal pulang aja."
__ADS_1
"Tenang ya bu. Semua biaya sudah saya tanggung." Lanjut Rion.
Dih gayaan ditanggung. Gratis iya! Nih rumah sakit kan punya bokap lu, Bambang! Batinku.