
Nath
"Hellooooo... epribadeeeeh..." Suara Ethan menggema di ruangan ini. Anak-anak bahkan sampai menoleh seketika. Lalu begitu melihat Ethan yang datang, anak-anak langsung kembali fokus.
Aku ingin tergelak, karena anak-anak tidak tertarik dengannya.
Ethan adalah satu dari kami, teman-teman Rion yang sering datang kesini.
"Muka pada tegang kek semvak baru. Ada apa Nath."
Rizal menunduk sambil berusaha menahan tawanya. Bahunya bergetar sangking di paksanya menahan tawa agar tak meledak.
"Gak ada." Jawabku singkat.
"Zal, udah makan?"
"Udah bang."
"Ngemil yuk." Ajaknya dan Ethan membawa Rizal ke belakang, tepatnya area pantry.
"Anak-anak, abang bawa gorengan. Rapikan buku kalian, ikut abang ke belakang kuy!" Ethan masih sempat menawari anak-anak.
"Yeee... terima kasih abang!"
Itu adalah salah satu caranya mendapat perhatian dari anak-anak yang ada disini. Walau agak sinting, Ethan sebenarnya baik, dia suka berbagi, dia dermawan. Huh! Orang tuanya, Josep dan Nathalia, pasangan berduit. Percuma dong kalau anaknya pelit.
Hanya tinggal aku dan Tiara di sini. Aku duduk di depannya. "Lain kali pakai baju jangan yang kurang bahan begitu. Banyak anak-anak disini. Kurang pantas dilihat mereka."
"Apa lagi remaja kucing garong kayak tadi."
"Memangnya abang pernah lihat pakaianku yang kurang bahan?"
Pernah! Pas lamaran kakak-kakakku, baju kamu juga kurang bahan, dada kamu sam-
"Astagfirullah." Aku tersadar dari pikiran kurang ajarku.
"Ini buktinya."
"Ini gak kurang bahan bang. Lihat." Tiara membuka kemeja yang ku gunakan menutup bagian depan tubuhnya.
Menurutku baju itu pas di tubuhnya. "Ini masih longgar bang." Dia menarik bagian perut. Iya sih masih nampak longgar.
"Aku juga gak pakai ini doang."
"Aku tadi pakai denim jaket."
"Lah, kemana sekarang?"
"Basah!"
"Kok bisa!"
"Banyak tanya!"
"Jawab!"
Mata kami memancarkan kilatan persaingan. Tidak ada yang mau mengalah. Kami menatap tajam satu sama lain.
"Ck!" Tiara berdecak.
"Kena air."
"Ya tau, basah itu karena kena air. Tapi air apa Tiaaaaraaa!" Geramku.
"Air kran!" jawabnya cuek. Tiara fokus pada layar komputer di sebelah kanannya. "Iya kali air kencing." gumamnya pelan dan aku masih bisa mendengar dengan baik.
"Kok bisa!"
"Ya bisa lah. Krannya rusak bang!"
"Kok bisa rusak."
Tiara berdiri. "Oh my...!" Kalau di film kartun, mungkin saat ini telinganya sudah berasap, giginya muncul dua taring dan kepalanya bertanduk merah.
"Tau ah!"
"Jaga sebentar!"
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanyaku dan memutar duduk kearahnya yang berjalan ke belakang.
"Ambil jaket!" Sahutnya cepat. Bertepatan dengan Ethan dan anak-anak kembali dari belakang.
"Makan sana. Masih ada gorengannya di belakang, es kopi juga ada."
Pas deh, haus juga debat sama lampir.
"Titip depan, ya."
"Rizal mana?" tanyaku.
"Langsung ke atas."
Aku berjalan ke belakang.
"Bang, tolong ambilin buku itu." Seorang bocah perempuan sekitar 7 tahunan sedang kesulitan mengambil sebuah buku di rak atas. Ia bahkan sampai naik di kursi kecil yang memang di sediakan untuk anak-anak mengambil buku yang letaknya di atas.
"Yang ini?"
"Bukan bang. Yang itu. Yang tata surya."
"Oh, ini..." Aku mengambil buku tentang tata surya.
"Tata surya itu apa?" tanyaku padanya sebelum memberikan buku di tanganku.
"Tentang bumi, matahari, dan planet-planet."
"Good! Pinter kamu!" Aku memberikan buku itu dan mengelus rambutnya.
"Iya dong. Aku mau jadi astronot bang!" Ucap gadis itu semangat.
"Waah! Amin. Abang doain semoga tercapai, ya..." Aku meninggalkan anak itu sambil menggumamkan doa. "Bantu ia mewujudkan cita-citanya ya Allah."
Aku masuk ke area pantry. Tiara sedang berdiri di depan dispenser, ia sedang mengisi gelasnya. Gadis itu sudah memakai kembali denim jaketnya. Memang di rumah baca ini menggunakan Ac. Mungkin dia kedinginan.
"Makasih."
"Untuk?"
"Memperingatkan cara berpakaianku." Dia duduk di kursi dan aku duduk di sebelahnya setelah berhasil menemukan dua cup es kopi.
"Jangan difikirkan. Aku cuma terbiasa dengan wanita-wanita di sekitarku. Mereka semua berpakaian tertutup."
"Ya, walaupun kak Bi sama kak Zoya baru sekitar setahun lebih pakai hijab." Apa yang ku katakan ini benar, mama, bunda Una, Uti, tante Rara, tante Sora, mereka semua berhijab.
Aku mengambil sepotong tahu isi dan mengunyahnya dengan perlahan. Aku menunduk dan tangan kiriku mengusap embun di luar cup. Kurang kerjaan Nath!
Gadis itu diam, tapi aku merasa sedang di perhatikan. Aku melihat Tiara yang menatapku. Seperti maling yang tertangkap basah, Tiara langsung menundukkan pandangannya.
Dia kenapa? Dia lapar? Aku meletakkan kotak dari kertas yang berisi gorengan itu di depannya.
"Makan aja kalau mau."
Tiara menggeleng. "Kenyang."
Drrt... drttt....
Aku merasakan getaran di sakuku. Ku ambil ponselku dan panggilan video dari Rion.
"Yaaa..." Jawabku saat aku menggeser icon hijau, wajah Rion dan kak Bi ada di layar.
"Haiiiii adik tampan!"
"Hai kakak cantik. Sukses bulan madunya?"
"Sukses dong!" Itu suara Rion.
"Mau oleh-oleh apa Nath?"
"Jeju Orange. Terkenal banget tuh kak." Sahutku.
"Jeruk banyak di sana, Nath. Menuh-menuhin bagasi aja kamu." Protes Rion.
"Tapi kan jenisnya beda, Yon." Ucapku.
"Kamu dimana, Nath." Kak Bi bertanya. Aku tahu tujuannya agar perdebatanku dan Rion tak berlanjut.
__ADS_1
"Pantry rumah baca."
"Di sebelah kamu siapa?" Kak Bi kenapa bisa tau ada sesorang di sebelahku.
"Gak ada siapa-siapa?" Aku berbohong. Aku melirik Tiara yang melotot kearahku. Dia marah kuanggap tidak ada?
"Hahahah... bohong banget!" Rion tertawa.
"Aku udah telpon Ethan katanya kamu sama Tiara ada di pantry."
Sialan! Pasangan ini memang susah dikibulin.
"Iya.... iya... aku sama Tiara." Gadis itu membungkam mulutnya, dia menahan tawa karena aku ketahuan berbohong.
Aku mengarahkan ponsel ke wajahku dan Tiara.
"Haii... Tia..."
"Haii... Ra..."
"Hai kak, hai bang."
"Kamu mau oleh-oleh apa, Ra?"
"Apa aja kak." Sahutnya dengan nada lembut
"Saran dong?" Ucap kak Bi padanya.
"Skincare disana bagus-bagus kak. Pernak-pernik, sama boneka Dol Hareubang boleh juga kak."
"Yang miniatur patung itu ya?" Tanya kak Bi.
"Kita udah lihat sih tadi. Tapi belum kita beli."
"Iya kak."
"Oke deh, kita lanjut berburu oleh-oleh dulu ya..."
"Dada orang pacaran!" Kak Bi dan Rion kompak melambaikan tangan.
Dan kurang ajarnya mereka, belum sempat ku jawab, panggilan itu sudah di matikan sepihak.
Tapi aku tersenyum mengingat kakaku yang bahagia. *T*erima kasih sudah membuat kakakku bahagia, Yon.
Tiara berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Ke depan bang."
"Oh, ya udah pergi."
Tiara pergi dengan membawa kemejaku di lengannya.
"Kemejaku."
"Mau ku bawa ke depan."
"Letakkan di situ aja." Tunjukku pada sandaran kursi.
"Yakin?" tanyanya.
"Iya."
"Beneran?" tanyanya lagi.
"Beneran Tiaraaa!" Nih anak lama-lama usil banget.
Tiara kembali mendekat dan meletakkan kemeja itu di sandaran kursi. "Baiklah. Terima kasih kemejanya abang Nath yang maha benar." Ucapnya berbalik meninggalkanku.
"Satu lagi?" Potong ku cepat.
"Apa?" Dia menoleh kebelakang.
"Dan mempersona." Aku mengerling.
"Iya... iya...!" Tiara langsung pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku senyum-senyum sendiri, aku seperti punya lawan baru yang ku rasa kami seimbang.