Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Season 2 Part 44: Keputusan Reno


__ADS_3

Hari itu, tiba-tiba hujan turun, salah satu mobil sport mewah, menerjang hujan deras dengan kecepatan cukup tinggi.


Seolah mobil itu meluapkan emosi dari pemilik mobil itu.


Dijalanan yang sudah cukup sepi malam itu.


Entah kemana tujuan sang pemilik mobil.


Semua hal ini membuat gadis itu frustasi, dirinya tidak tahu bagaimana cara membuat orang-orang percaya padanya.


Seolah-olah tidak akan ada cara untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.


Nama baiknya sudah hancur seperti ini, tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Publik.


Keluarganya tidak ada yang percaya padanya....


Bahkan dari semua orang, Kakaknya juga tidak percaya.


Setelah Kakaknya kembali, dan langsung pergi entah kemana, Serra diseret oleh Ibunya.


Semua orang kembali berkumpul melihat hasil dari Tes itu, namun sayangnya, Mikael yang datang kalau mereka tidak jadi melakukan Tes.


Karena hasilnya sudah jelas, kata Kakak Serra, Johan Lee.


Dan tentu saja, itu membuat Serra bahkan tidak bisa membela diri lagi, dan hanya tuduhan.


Dia lalu sekali lagi berlari, keluar dari ruangan itu.


Siapa yang tahu kalau dirinya disana bertemu dengan Farrel.


"Serra, kamu tidak apa-apa?" Tanya Farrel dengan cemas, melihat tampang lusuh Serra saat itu, dia berniat menyentuh Serra untuk menenangkannya, namun tangan itu ditepis.


"Jangan sentuh aku!!"


Farrel memiliki wajah kaget dan syok, dia juga tidak tahu harus seperti apa.


"Serra.... Maafkan aku...."


"Jangan minta maaf!!!"


"Serra.... Aku tidak tahu soal malam itu,"


"Aku tahu, kamu tidak tahu,"


"Aku akan bertanggung jawab atas semua ini,"


"Tanggung jawab apa, Hah?"


"Atas kejadian malam itu.... Kita...."


"Farrel!! Bukankah aku sudah bilang kalau tidak ada apapun malam itu?"


"Tapi, Serra...."


"Kamu juga tidak percaya padaku?"


"A... Aku tidak tahu...."


Mendengar respon membingungkan dari Farrel tersebut, membuat Serra makin frustasi, jadi dia langsung pergi meninggalkan Farrel, berlari menjauh dan langsung menaiki Mobilnya.


Dia berputar-putar tidak tentu arah pada awalnya, dan akhirnya ketika malam tiba dan ada dijalanan yang cukup sepi, Serra mengemudi cukup cepat, bahkan walaupun hujan turun.


Sekarang mobil itu sampai pada salah satu bukit pinggir kota.


Disana, cukup sepi karena sekarang bukan weekend.


Hanya ada gelapnya langit, dan rintik hujan.


Serra mulai keluar dari Mobilnya, menatap kearah pemadangan kemerlap dibawah sana.


Dirinya tidak pernah ketempat ini sebelumnya.


Ini juga perasaan baru ketika datang kesini.


Harusnya tempat ini akan terlihat begitu indah, namun cuaca buruk dan suasana hati Serra yang kacau, membuat gadis itu tidak memperhatikan keindahan tempat itu.


Serra mulai berdiri didekat pagar pembatas.


Mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Kembali mengulang hal-hal yang terjadi.


Seolah baru kemarin, dirinya bertemu dengan Reno...


Namun seakan itu sudah terjadi lama sekali.

__ADS_1


Tiba-tiba, sekarang ini mengigatkannya pada kejadian ketika Pengumuman Kelulusan dulu.


Bahkan walaupun dirinya berusaha mati-matian saat itu, namun hasilnya tetap saja.....


Begitu melelahkan hidup seperti ini...


Disana, Serra yang melamun sendiri, tidak sadar kalau ada mobil yang juga berhenti didekat sana.


Terlihat seorang pemuda tertentu, membawa sebuah payung, lalu mulai perlahan turun dari mobilnya.


Pemuda itu berjalan mendekat kearah gadis didekat pagar pembatas itu.


Perasaan cemas dan khawatir muncul dalam dirinya ketika dirinya mencari gadis ini.


Tentu saja, beruntung dirinya memasang GPS pada gadis ini, jadi jika hal-hal seperti ini terjadi, dirinya bisa menemukan gadis ini.


Ya...


Perasaan tidak ingin lagi ditinggalkan secara tiba-tiba seperti dulu.


Jadi dirinya mengawasi gadis ini, Serra nya.


Melihat Serra yang berdiri didekat pagar pembatas itu, seolah-olah ingin terjun dari sana membuat pemuda itu cemas.


Meninggalkan payungnya, dia berlari lalu memeluk gadis itu dari belakang.


"Serra.... Jangan...."


Merasakan sebuah pelukan yang familiar itu membuat Serra kaget.


"Re... Reno...."


Sekarang, menghadapi Reno ada disini, ketakutan Serra semakin bertambah.


Takut kalau hal yang paling buruk terjadi....


Takut kalau Reno juga akan.....


Menghadapi ini, Serra mencoba melepaskan pelukan Reno, namun dia gagal.


Reno membalik tubuh Serra hingga mereka berdua saling berhadapan.


Disini, Serra memalingkan wajahnya, tidak bisa menatap langsung kearah Reno.


"Apa yang kamu lakukan, Serra? Kamu jangan berpikir yang macam-macam,"


"Mari dari pada disini, kita harus mencoba menyelidiki siapa orang dibalik ini semua, seseorang yang menjebak mu seperti ini,"


Mendengarkan perkataan yang tiba-tiba tanpa keraguan itu membuat Serra kaget, dia lalu memberanikan dirinya menatap kearah Reno.


"Reno... Kamu... Kamu percaya padaku?"


Sekarang, ekpersi binggung muncul diwajah tampan itu, seolah-olah sedang memikirkan apa yang salah dari ucapannya ini.


"Apa? Bukankan sudah jelas? Hal semacam skandal itu jelas pasti sebuah fitnah yang disengaja, aku tahu ini dengan pasti, karena Serra ku bukan orang seperti itu. Aku selalu percaya padamu."


"Reno.... Dari semua orang tidak ada yang percaya padaku... Aku takut....."


Disini Serra mulai meneteskan air matanya.


"Bukankah aku sudah berjanji padamu kalau aku akan percaya padamu? Aku akan selalu ada disisimu, aku akan selalu ada dipihakmu, bahkan walaupun semua orang menentang ini. Aku akan ada sini untukmu,"


Sebuah kata-kata tanpa keraguan itu membuat, hati Serra merasa hangat.


Semua rasa putus asa ini tiba-tiba seakan-akan menghilang.


Berpikir, kalau disisinya masih ada Reno yang percaya padanya.


"Sekarang sudah tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Maaf jika aku datang terlambat," kata Reno lagi sambil mempererat pelukannya, dia mulai membelai lembut rambut Serra mencoba menenangkan gadis itu yang saat ini masih menagis.


Mereka berpelukan cukup lama disitu, Serra meluapkan semua emosinya, dan masih terus menangis sampai dirinya merasa lega didalam pelukan Reno.


Pelukan yang terasa hangat, seoalah-olah sebuah pelukan yang akan selalu melindunginya.


Seolah-olah pelukan ini akan selalu membuat dirinya aman.


Memberikan rasa aman, dengan semua pelukan sederhana ini.


Memberikan sebuah kepastian jika pelukan ini, jika orang yang memeluknya ini akan selalu ada disisinya, bahkan ketika semua orang tidak percaya padanya.


Perasaan hangat dan kepercayaan tulus ini membuat hati Serra merasa meleleh.


"Kamu pasti lelah bukan? Mari kita masuk mobil dulu, diluar dingin. Nanti kamu sakit,"


Kata Reno lagi, sambil menatap Serra yang berada dalam pelukannya.

__ADS_1


"Hmm," guma Serra.


"Jangan menagis lagi oke? Semua akan baik-baik saja, aku sudah disini,"


"Reno.... Terimakasih.... Terimakasih karena kamu selalu percaya padaku,"


"Itu karena aku sangat mencintaimu, jadi tentu saja aku memberikan kepercayaan yang cukup pada orang yang aku cintai oke?"


"Hmm,"


Bersama dengan pelukan Reno, Serra lalu diajak oleh Reno untuk memasuki mobilnya.


Tubuh mereka basah, dan sekarang cuaca cukup dingin.


"Apakah kamu dingin? Untungnya aku membawa beberapa baju hangat disini," kata Reno yang saat ini mereka berdua sudah ada di mobilnya.


Dia lalu mengabil jaket di dekat kursi mobil itu, dan memakainya pada Serra.


"Tidak dingin," kata Serra.


"Ah? Masa? Aku bahkan cukup dingin,"


"Itu karena ada kamu, jadi aku tidak merasa dingin lagi," kata Serra lagi, sambil menatap Serra.


"Pfffff... Kamu bisa saja,"


Sekarang mereka saling bertatapan sekali lagi.


"Aku senang kamu ada disini,"


"Ya, aku akan selalu disini, oke? Semua akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi,"


"Reno... Terimakasih...."


"Berhentilah bilang seperti itu oke?"


"Hmm,"


Dalam tatapan itu, keduaanya lalu saling berciuman, meluapkan emosi satu sama lainnya.


Bahkan walaupun diluar hujan, mereka seolah tidak terpengaruh.


Seolah dunia hanya milik berdua, saling berpelukan dan berciuman didalam mobil itu.


####


Satu hari sekali lagi berlalu, pagi itu ketika Serra keluar dari Apartemen Reno, ada seorang gadis tertentu yang tidak sengaja menatap pemandangan ini.


Melihat Serra dan Reno masih bermesraan disana.


Veronica benar-benar tidak percaya ini.


Bahkan setelah ada insiden memalukan yang menimpa gadis itu....


Reno masih bersama dengannya....


Apa-apa ini...


Guratan rasa kesal dan sebal muncul di wajah cantiknya.


Dia lalu membuka ponselnya, mengambil foto diam-diam sekali lagi, lalu dirinya mengirimkan foto-foto ini bersama foto-foto lainnya kepada seseorang disana.


Sebenarnya, Veronica tidak bermaksud menunggunakan cara ini.


Namun ini tidak ada pilihan lainnya, dirinya sudah mendapatkan nomor ini dengan susah payah pula.


Sebuah nama muncul diponsel gadis itu.


Mikael Lewis


Lihat, bagaimana dia akan merespon sikap Calon Tunanga nya ini, tidak cukup bermain-main dengan Kakak Tirinya namun kali ini juga bermain-main dengan musuhnya, yaitu Reno Wilson.


Diam-diam gadis itu tertawa menunggu hal baik terjadi.


####


Bersambung


####


Hallo, maaf ya telah Updatenya 😆😆😆


Terimakasih juga yang sudah mendukung karya ini sampai disini,


Nantikan kelanjutannya ya,

__ADS_1


Owh iya, ada sebuah lagu yang cocok untuk mengiringi Chapter ini, bisa cek di Profilku di post Trending 😉


__ADS_2