Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 22: Permainan?


__ADS_3


Disalah satu Hotel Bintang Lima tertentu, ada kejadian yang cukup menarik perhatian.


Disana ada pemuda tertentu yang tengah diseret keluar oleh beberapa orang berpakaian putih.


Pemuda itu hendak melawan, namun karena lawannya terlalu susah, jadi pada akhirnya dia tidak bisa berbuat banyak.


Dia dilemparkan ke keluar hotel ke tempat parkir dengan sengit, dan ditinggal begitu saja disana.


Wajahnya ada beberapa luka lebam, dan sedikit darah dibibirnya. Baju yang dia pakai juga berantakan.


Reno merasa buruk, lalu kemudian dia segera kembali ke mobilnya.


Dirinya tidak berharap akan ketahuan secepat ini, dan masalahnya menjadi lebih buruk lagi.


Bagaimana ini??


Apa yang harus dirinya lakukan sekarang?


Bagaimana kalau dirinya tidak bisa bertemu Serra lagi?


Tidak.....


Reno mencoba menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Dia lalu naik ke mobil, dan kembali kerumahnya.


Namun siapa yang mengira, kalau sampai di rumah, Reno langsung bertemu Ibunya di Ruang Tamu.


Wanita itu berdiri dengan kaget melihat Reno yang sekali lagi terlihat wajahnya penuh memar.


"Sekarang apa lagi, hmm? Kamu berkelahi lagi? Tunggu, bukankah hari ini kamu pergi Ke Pesta Ulang Tahun Putri Keluarga Lee? Jangan bilang ini kelakuan mereka?"


Mendengar kata-kata Ibunya barusan membuat raut wajah Reno pucat. Benar-benar bisa ditebak dari raut wajahnya. Reno hanya menunduk mencoba mengelak.


"Ini tidak ada hubungannya."


Namun semakin Reno mengelak, semakin curigalah Ibunya.


"Dasar, Keluarga Lee itu mereka berani sekali dengan Putraku! Jadi apakah cukup dengan perang dingin ini dan mereka hendak berperang terang-terangan?" Kata wanita itu terlihat marah.


"Ma, ini tidak seperti itu."


"Diam! Kenapa kamu menutupi nya? Lagipula siapa yang menyuruhmu datang ke Pesta milik Keluarga Lee, Hah? Walaupun aku tahu kamu dan Putri Keluarga Lee satu Kelas, kamu tidak perlu datang! Apa kamu mengerti? Kamu sebaiknya tidak perlu memiki hubungan dengan Putri mereka atau bahkan seluruh Keluarga Lee!"


Reno tidak ingin lagi mendengar kata-kata ini, rasanya sangat muak sekarang, jadi dia mengabaikan apa yang Ibunya katakan, lalu naik ke kamarnya.


Dia langsung mandi dan menyegarkan pikiran.


Memikirkan ini, Reno jadi teringat, dirinya belum memberikan hadiah ulang tahun pada Serra.


Dia lalu mengambil hadiah itu dari Meja, kemudian memikirkan sebuah ide.


Reno tahu ide ini gila, tapi bukankah ini memang hal-hal yang patutnya dilakukan?


...####...


Di suatu rumah tertentu, suasana masih sangat sepi.


Itu mungkin karena pemilik rumah tengah tidak ada disana sekarang.


Sedang mengadakan Pesta ditempat lain, dan penjagaan tempat ini agak sepi.


Bukannya sepi, namun tempat ini memang seperti itu, hanya ada penjaga didepan gerbang, dan tidak ada yang berjaga di pintu belakang.


Itu karena salah satu penghuni rumah ini tidak suka ada terlalu banyak orang dirumah, dia lebih suka ketenangan.


Disalah satu pintu belakang tertentu, saat ini terlihat pemuda yang mencurigakan.


Dia memakai sebuah masker, dan hoodie yang menutupi rambutnya.


Dia perlahan menengok ke kiri dan ke kanan, setelah dipastikan aman, dia lalu mengeluarkan sebuah Kunci dari saku bajunya.


Pemuda itu sudah melakukan ini kemarin malam, jadi mengulanginya tidak terlalu jadi masalah. Lagipula, salah satu penghuni rumah juga memberikan beberapa kunci rumahnya padanya dan membuat beberapa jalur rahasia.


Yups, jalur rahasia, karena begitu pemuda itu masuk, dia akan tahu langsung menuju kemana tempat-tempat tanpa ada kamera pengawas. Disalah satu titik tersembunyi tertentu ada sebuah kayu panjang, yang digunakan untuk menarik sebuah tali tangga kayu yang terikat diujung balkon suatu kamar tertentu.


Setelah memikirkannya lagi, Reno mulai bertanya-tanya, kenapa peralatan pelarian di rumah Serra begitu lengkap?


Dari mulai tali tangga yang praktis ini sampai kunci belakang, bahkan jalan tanpa kamera pengawas?

__ADS_1


Seolah-olah sesuatu seperti ini sudah lama disiapkan.


Tunggu?


Apa Serra sering keluar rumahnya diam-diam?


Tapi sepertinya dia terlihat seperti seseorang yang begitu patuh?


Tapi, gadis benar-benar terlihat begitu patuh sampai taraf yang mencurigakan.


Sesekali melanggar peraturan terlihat menyenangkan bukan?


Itu adalah kata-kata yang gadis itu ucapkan padanya beberapa hari lalu.


Dan gadis itu bahkan membual dan memberitahukan semua jalan rahasia ini padanya dengan santai seolah-olah berkata,


'Reno, kamu selalu boleh kekamarku, kapanpun kamu mau, Ah~'


Membayangkan Serra mengatakan kata-kata seperti itu dan sedikit mengodanya.


Ah, itu benar-benar gaya Serra yang dia tahu.


Perlahan Reno naik menuju kamar Serra.


Kamar itu saat ini gelap, seolah tanda tidak ada yang menghuni kamar itu.


"Apa mungkin, Serra masih di hotel?" Pikir Reno binggung.


Namun Reno tetap membuka jendela kamar itu, lalu masuk kedalamnya.


Menikmati kegelapan kamar itu dan perlahan membaringkan tubuhnya pada satu-satunya tempat tidur disana.


Aroma lembut tertentu memasuki penciuman Reno. Dia lalu mengambil selimut itu untuk menutupi dirinya.


"Ah~ semua yang ada disini beraroma seperti, Serra. Begitu manis,"


"Tunggu!! Apa yang aku pikirkan disaat seperti ini?"


"Tunggu dulu, dan kenapa aku jadi begitu berani bisa sampai menyusup ke kamar Serra? Ini benar-benar terlalu Impulsif.... Tapi aku benar-benar ingin melihat, Serra."


"Sial, Akhhhh.... Bahkan belum sampai satu jam tidak melihatnya!!!"


Namun tidak lama setelah itu, Reno malah tertidur disana.


...####...


Gadis itu mulai memikirkan banyak hal-hal negatif didalam kepalanya.


Terutama memikirkan bagaimana kalau Kakaknya melaporkan ini pada orang tuanya.


Ini masih terlalu awal....


Namun tidak beberapa saat pintu Kamar terbuka.


Serra menatap kearah pintu, melihat Kakaknya masuk.


"Apakah kamu sudah mempersiapkan apa yang akan kamu jelaskan padaku?"


"Apa lagi? Ini hanya permainan anak-anak," kata Serra dengan wajah senetral mungkin.


"Setelah ketahuan kamu masih mengelak?"


"Jadi penjelasan seperti apa yang Kakak inginkan?"


"Akhir hubungan kalian."


"Hubungan apa? Aku bahkan tidak berkencan dengannya apa yang harus diakhiri?"


"Serra berhentilah keras kepala!!! Kamu tidak tahu seperti apa dia!!"


"Memang apa yang, Kakak mengerti soal dia?"


"Dia hanya mempermainkan mu!!!"


"Terserah, Kakak mau berpikir apa."


"Serra!! Kenapa kamu jadi begitu keras kepala? Aku akan memberitahu ini pada, Kakek!!"


Serra lalu diam dan tidak lagi mengatakan apapun.


Ini bukan saat yang tepat untuk membuat Kakaknya marah.

__ADS_1


"Aku ingin menenangkan pikiran,"


"Baik, mari kita pulang dan renungkan apa yang akan kamu lakukan jika sampai Kakek tahu hubunganmu dengan Wilson Brengsek itu!"


Serra hanya bisa menghela nafas, apa yang bisa dia katakan pada Kakaknya sekarang??


Hal-hal akan menjadi begitu rumit....


Reno....


Bagaimana ini....


Bagaimana kalau aku tidak bisa bertemu denganmu lagi....


Apa yang harus lakukan....


Bagaimana cara agar meyakinkan Kakakku?


Serra penuh dengan pikirannya sendiri sampai-sampai, dia tidak sadar sudah sampai didepan kamarnya.


Kakaknya lalu menyuruh Serra masuk kedalam lalu mengunci pintu kamar.


"Kamu tidak perlu ke Sekolah dulu untuk beberapa hari," kata Johan dengan dingin dari luar kamar.


Serra tidak membalas.


Tidak ada gunanya membuat Kakaknya jadi lebih marah.


Perlahan Serra memasuki kamar gelap itu.


Tanpa menyalakan lampu, dia berniat berbaring ditempat tidur, namun siapa yang tahu kalau Serra malah menemukan sesuatu yang menarik di tempat tidurnya.


"Sayang, kenapa kamu begitu berani?"


Serra pun lalu memasuki selimut tempat tidurnya, lalu memeluk pemuda itu.


Gerakan Serra tiba-tiba membuat Reno terbangun.


"Kamu sudah pulang?"


"Hmm, kenapa kamu disini?"


"Kakakmu marah?"


"Ya, dan mungkin kita tidak akan bisa bertemu untuk beberapa saat,"


"Aku tahu, itulah kenapa aku kesini," kata Reno lalu membalik tubuh nya untuk menatap Serra disampingnya, dan memeluk erat gadis itu.


"Aku tidak bisa kalau tidak melihat mu."


Serra hanya menatap Reno tanpa mengatakan apapun sebagai balasan, lalu dia sekali lagi mencium Reno singkat lalu kembali saling memeluk merasakan kehadiran dan kehangatan masing-masing.


"Aku memiliki hadiah untuk mu," kata Reno melepaskan pelukannya, lalu bangun dan duduk, Serra pun mengikutinya.


"Apa?"


Reno mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya, lalu membukanya didepan Serra.


Itu adalah sepasang kalung, lalu berkata,


"Serra, percayalah tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Jadi tunggu aku oke? Aku akan bisa membawamu pergi suatu saat nanti," katanya sambil memakaikan kalung itu.


"Aku tahu, Reno. Sekarang kita hanya bisa melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan."


"Hmm," guma Reno.


"Reno kamu juga percaya padaku bukan?" Tanya Serra tiba-tiba.


"Ya, aku percaya padamu."


"Jadi jangan percayai apa-apa yang akan aku katakan setelah hari ini, oke?"


"Maksud mu?"


"Kamu akan mengerti nanti. Ingat jangan percayai kata-kata ku setelah hari ini, apapun yang kamu dengar dariku, ataupun apa yang aku katakan pada orang lain."


"Kemampuan berakting mu sangat baik?"


"Ya itu benar, sampai-sampai nanti kamu akan percaya. Aku sudah cukup berakting selama delapan belas tahun terakhir jadi jangan remehkan aku."


Lalu keduanya mulai saling tertawa.

__ADS_1




__ADS_2