
Suasana Pesta masih sangat meriah, saat ini untuk membuat acara lebih meriah lagi, dari atas panggung terlihat seorang pembawa acara mulai muncul dan membuat beberapa pengumuman disana.
Terlihat para tamu undangan bertepuk tangan meriah mendengar pengumuman dari pembawa acara.
Beberapa orang juga mulai bersorak untuk mengoda teman mereka agar naik keatas panggung.
Sungguh, suasana Pesta itu benar-benar meriah.
Namun, itu terlihat berbeda sana di salah satu sudut ruangan tempat pesta itu berlangsung.
"Lihat, ini adalah Calon Tunanganku, Serra Lee,"
Disana terlihat seorang pemuda tertentu sedang memperkenalkan seseorang dalam rangkulannya, pada dua pasang mata didepannya.
Dia terlihat bengga dengan fakta ini entah bagaimana.
Bagaimana pun juga dirinya tidak ingin terlihat datang ke acara pernikahan seperti ini sendirian bukan?
Itu akan memalukan, apalagi melihat musuhnya Reno Wilson bersama seorang gadis yang mungkin merupakan pasangannya.
Jadi tanpa banyak berpikir, dirinya langsung memperkenalkan Serra tanpa menunggu reaksi gadis itu.
Namun saat ini dirinya juga sedikit cemas...
Bagaimana kalau gadis disampingnya itu tiba-tiba menolak dirinya didepan musuhnya?
Ini akan menjadi hal-hal yang sangat memalukan!!!
Bagaimana sekarang?
Namun suasana disekitarnya cukup hening, melihat baik Reno ataupun Serra belum merespon.
Suara dari atas panggung membuat Mikael memiliki sebuah ide bagus.
Akan buruk jika gadis ini menolak dirinya didepan Reno, namun bagaimana kalau ini didepan semua orang?
Apakah gadis itu berani menolaknya?
Itu benar, jika sampai ada kekacauan penolakan diacara besar seperti ini, pasti berita dan gosipnya akan sampai pada Keluarga Lee.
Dirinya benar tahu apa kelemahan, dari Serra Lee.
Disini Mikael tersenyum penuh kemenangan, lalu langsung menarik Serra kearah panggung bersamanya, membuat gadis itu yang belum sepenuhnya tersadar dari lamunannya kaget.
"Kupikir aku sedikit, sibuk Reno. Ada acara penting di panggung yang ingin aku dan calon tunanganku ikuti," kaya Mikael kemudian.
Lalu Serra diseret dengan paksa, dan tidak bisa melawan hanya berjalan perlahan menjauh dari Reno yang masih menatap mematung disana.
Tatapan mereka bertemu, namun disini Reno sekali lagi merasa tidak berdaya. Tatapan Serra yang seolah meminta beberapa pengertian.
Dirinya bahkan tidak bisa untuk mencoba mengandeng tangan Serra agar tidak pergi.
Dirinya masih bertanya-tanya...
Kapan hari dimana dirinya bisa mengungkapkan bahwa gadis itu adalah miliknya seutuhnya pada publik.
Memikirkan bahkan setelah tujuh tahun berlalu, namun jarak antara dirinya dan Serra masih sama.
Mereka masih ada didunia masing-masing....
Terjebak dengan acara perjodohan masing-masing...
Keluarga mereka masih memiliki hubungan yang buruk...
Itu seolah-olah juga, dirinya dan Serra masing-masing memiliki benang merah yang terikat dijari kelingking masing-masing, namun ujung dari benang merah itu tidak bertemu satu sama lainnya.
"Reno? Kamu mengenal mereka? Bukankah itu CEO yang tempo hari ikut pelelangan itu?"
__ADS_1
Kata-kata Veronica menyadarkan Reno dari lamunannya.
Benar, dirinya juga masih memiliki masalah.
Dirinya sudah sempat bilang pada Serra sebelumnya jika dirinya tidak akan pernah bertemu calon tunangannya, namun....
Hari ini dirinya malah datang ke acara ini dan bertemu Serra dalam keadaan yang tidak pas.
"Itu bukan urusanmu," kata Reno yang kesal, lalu melepaskan tangannya dari Veronica.
"Kurasa kakimu tidak separah itu sampai benar-benar tidak bisa jalan. Sebaiknya kamu sekarang pulang, aku akan menelepon supir untuk menjemputmu,"
"Tapi... Aku masih di sini bersamamu,"
"Kamu jangan keras kepala, segeralah pulang."
"Bagaimana denganmu?"
"Kamu tahu bukan? Jika pesta ini adalah milik sahabat terbaikku yang sudah seperti saudara untukku, tentu saja tidak mungkin untukku pulang duluan."
Disaat Reno sedang berdebat dengan Veronica, diatas panggung terlihat Mikael sedang menyikan lagu romantis yang terlihat sekali untuk Serra.
Dan ketika dirinya sudah selesai mengurusi Veronica, dia kembali melihat kearah panggung.
Dirinya hanya bisa mengenakan tangannya, menahan amarahnya.
Disana dipanggung, terlihat Mikael yang setelah menyanyi, berlutut dan memberikan bunga pada Serra.
Semua tamu berteriak sangat bersemangat, melihat betapa romantisnya ini.
Dan dirinya juga bisa melihat, saat dimana gadis pujaan hatinya itu menerima bunga itu.
Dirinya tahu pasti kalau ini bagian dari pertujukan dan akting saja namun tetap saja....
Ya, ini mengingatkannya soal perkataan Serra tempo hari saat mereka bertemu.
Tapi sampai kapan?
Bahkan Serra tidak tahu harus menjawab apa saat itu.
####
Akhirnya setelah rangkaian pesta yang panjang, pesta pernikahan itu ada di ujung acara.
Beberapa orang terlihat sangat bersemangat melihat akhir dari acara itu.
Terutama para gadis, yang sangat bersemangat sekali.
Rasanya acara terakhir saat penutupan adalah acara lempar bunga pengantin.
Ada beberapa mitos lama, jika saat acara pernikahan dan mendapatkan lemparan bunga dari Sang Pengantin, orang yang mendapatkan bunga itu akan segera menyusul.
Ah....
Ini benar-benar terlihat sangat romantis.
Itulah yang diincar para gadis-gadis ini.
Ya barangkali pemuda Incaran mereka atau Kekasih mereka tiba-tiba tergerak untuk segera melamar.
Tentu saja bagi semua gadis-gadis ini, puncak dari suatu hubungan adalah memasuki jenjang yang lebih serius yaitu sebuah pernikahan.
Itu merupakan sebuah acara sakral yang sangat dinantikan oleh semua orang.
Acara menyatukan dua orang yang saling mencintai, dalam janji suci pernikahan, untuk selalu bersama selamanya, untuk membangun keluarga baru bersama-sama.
Itulah kenapa gadis-gadis ini sangat bersemangat.
__ADS_1
Disana diantaranya, terlihat Serra juga diseret oleh teman-temannya untuk ikut acara itu.
Disamping Serra juga ada gadis tertentu yah cukup Serra kenal dengan baik, yang juga ikut diseret kesana.
Tadi barusan mereka berdua baru saja mengontrol namun malah diseret kesini.
"Ketua Kelas, aku merasa ini sedikit berlebihan jika aku disini. Aku bahkan tidak punya Kekasih," keluh Nana.
"Mungkin saja ada hal-hal baik yang menanti bukan?" Kata Serra sambil tersenyum nakal.
"Ah... Bukankah ini bisa menjadi hal baik untukmu juga Ketua Kelas? Tapi ngomong-ngomong siapa pemuda yang mengajakmu ke panggung tadi?"
"Ah... Itu merupakan perkara yang rumit. Lagipula ini tidak seperti aku ingin buru-buru menikah,"
Namun pembicaraan mereka cukup singkat karena Acara sudah dimulai.
Disana didepan, terlihat Merry mengedipkan matanya kearah Nana dan Serra, membuat kedua gadis itu keget.
Apa-apaan itu Merry?!
Ah~
Dan begitulah, ketika bunga tiba-tiba dilempar, itu mengarah kearah mereka berdua pas.
Dan.....
Ada banyak pesaing yang memperebutkan bunga itu....
Namun bunga yang malah terlempar-lemper keatas, sampai terkena tiang didekat sana dan akhirnya mengenai kepala seseorang didekat tiang itu.
Acara lempar bunga biasanya dikhususkan untuk para gadis tentu saja.
Tapi hasil kali ini sungguh mengejutkan.
Ya itu, benar.
Berdiri didekat tiang, terlihat wajah seorang pemuda tertentu yang kesal, pemuda itu tidak pernah mengira kalau sebuah bunga bisa terlempar kearahnya!!!
Menahan rasa sakit di kepalanya, Reno mengambil bunga itu ketangannya.
"Ah, bukankah acaraya musti diulang?" Katanya binggung.
Disini Revan yang kebetulan tidak jauh dari sana malah mengoda Reno.
"Di ulang bagaimana? Bukankah ini sudah sampai pada sasaran? Lihat, bunga ini didapatkan oleh Tuan Putri Manis kita yang selalu dimanjakan, dia tinggal menunggu untuk dilamar oleh seseorang bukan? Ah~"
Semua yang ada disana lalu tertawa mendengar lelucon Revan barusan.
"Kalian!!!!"
Disini muka Reno memerah karena benar-benar malu!!
Acara seperti itu hanya untuk gadis!!
Kenapa bunganya bisa nyasar ke tangannya?
Akhhhh......
Siapa yang dilamar?
Dirinya???
.
####
Bersambung
__ADS_1