Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 42: Melepas Kerinduan


__ADS_3



Cuaca terlihat semakin buruk, petir mulai menyebar diluar sana, suaranya yang keras kadang bisa membuat orang kaget.


Didalam ruangan suatu gedung tertentu disekolah itu, masih terlihat dua orang yang tengah melepaskan rindunya, saling berpelukan satu sama lainnya.


Tangan Si Gadis, ada dileher pemuda disana, menggelantung untuk menarik lebih dekat kepelukannya.


Bibir mereka bertautan, seolah tidak ingin dipisahkan, begitu pula tubuh mereka.


Udara seharusnya dingin, namun kedua orang itu tidak merasakannya.


Terasa panas, itulah yang mereka berdua rasakan saat ini.


Sensasi hangat antara tubuh satu dan yang lainnya, dan gesekan tipis antara kulit mereka.


Didalam ruangan cukup terang, hingga ketika ciuman itu dilepaskan, Serra bisa melihat wajah memerah Reno.


Reno benar-benar sangat tampan, Ah~


Dirinya benar-benar tidak bisa menahannya.


Lihat wajahnya yang memerah itu, lalu kulitnya yang begitu putih, hidungnya yang mancung, matanya yang agak sipit, juga bibirnya yang terlihat merah muda alami, melihat ini benar-benar tidak tertahankan untuk tidak menciumnya.


Dan ciuman itu terasa manis dan lembut, seolah membuat candu.


Ditambah aroma maskulin yang berasal darinya.


Ah....


Memang layak untuk disebut seluruh sekolah sebagai Sang Pangeran.


Reno benar-benar memang tampan, dan merupakan laki-laki paling diinginkan diseluruh penjuru sekolah untuk dijadikan pacar.


Dirinya selalu berdebar saat berhadapan dengan Reno begitu dekat.


Sangat dekat, hingga hanya ada jarak kecil antara mereka berdua.


Dirinya bisa menyentuh ataupun menciumnya semaunya, benar-benar perasaan yang sangat menyenangkan.


Perasaan berdebar dirasanya terasa makin kencang, apalagi ketika dirinya juga bisa mendengarkan suara nafas dan detak jantung Reno dari dekat.


Menatap Reno dari dekat begitu lama, membuat Serra merasa makin candu.


Sungguh dirinya tidak bisa menahannya, untuk tidak meminta lebih.


Tatapan mereka bertemu, seolah memberikan kode satu sama lainnya, untuk terus melanjutkan ini.


Jadi sekali lagi, bibir mereka bertautan satu sama lain, sebuah ciuman yang lebih dalam, satu sama lainnya.


Lalu ketika keduanya tengah asik dengan kegiatan mereka, lampu tiba-tiba mati, membuat mereka berdua cukup kaget, lalu melepas ciumannya.


Namun itu hanya sesaat, sampai Serra yang tidak melihat hal-hal dibelakang, lalu hampir tersandung sofa. Namun dirinya berhasil ditangkap oleh Reno tepat waktu.


Namun sepertinya malah Reno kehilangan keseimbangannya, lalu terjatuh kebelakang, dan Serra menimpanya diatasnya.


Untungnya itu adalah tempat tidur.


Dibalik cahaya yang remang-remang masuk, keduanya sekali lagi saling menatap.


"Aku masih punya waktu sekitar tiga puluh menit, mau melakukannya sekali?" Kata Serra yang ada dipelukan Reno, sambil sedikit membuka kancing baju atas Reno.


"Aku rasa itu tidak akan cukup," kata Reno sambil tertawa, mendengar perkataan berani milik Serra barusan.


"Harus cukup! Kamu membawa barang itu kan?" Tanya Serra lagi.


"Kamu tahu? Ini kita baru selesai Ujian. Dan aku ke sekolah untuk mengerjakan Ujian, jadi apakah kamu pikir aku akan membawanya?"


"Aku tahu, kamu pasti membawanya."


"Hanya untuk jaga-jaga saat keadaan darurat, itu ada didompet."

__ADS_1


"Anggap saja ini hadiah karena kamu sudah berusaha cukup keras ketika Ujian," kata Serra lagi dengan senyum nakalnya.


Tiga puluh menit adalah waktu yang singkat, namun juga bisa jadi waktu yang cukup panjang untuk beberapa orang, seperti dua orang itu yang saat ini saling melepaskan kerinduan satu sama lainnya ini, ini benar-benar terasa singkat.


####


Disisi lainnya, ini adalah kejadian beberapa menit sebelum Serra dan Reno bertemu, tepatnya ketika saat Reno habis berpisah dengan Alvin lalu menuju kearah gedung tertentu tempat dia dan Serra janjian.


Ini adalah suatu lorong tertentu, dekat dengan Ruang Ujian.


Disana terlihat seorang gadis, sedang menatap pergi kearah seorang pemuda tertentu, yang berbelok melewati lorong itu, hingga gadis itu tidak bisa lagi melihat bayangannya.


Gadis itu adalah Merry, setelah kejadian hari itu, hatinya merasa hampa.


Dia sudah menyukai seseorang pemuda tertentu untuk waktu sepuluh tahun lamanya.


Dan itu benar-benar berakhir beberapa minggu lalu.


Rasanya sangat menyakitkan untuk ditolak.


Rasanya seperti baru kemarin dirinya bertemu dengan Pangerannya, namun sekarang Pangerannya sudah meninggalkannya.


Ini terasa sangat sedih untuk ditinggalkan, walaupun sebenarnya orang itu memang tidak pernah menjadi miliknya.


Apa yang Reno bilang beberapa minggu lalu?


'Kamu sudah aku anggap sebagai adikku, Merry,'


Hanya sebatas itulah hubungan mereka, Merry tidak bisa meminta lebih.


Itu juga alasan kenapa Reno bersikap ramah dan baik padanya belakangan ini.


Ketika gadis itu melamun disana, Alvin datang kearahnya, lalu berkata,


"Bukankah aku sudah berulangkali bilang padamu untuk menyerah? Reno sudah ada yang memiliki. Kamu sudah tahu bukan?"


Merry hanya diam mendengar perkataan Alvin barusan.


"Kamu tidak akan mengerti perasaanku karena kamu belum pernah ditolak sebelumnya. Tidak, lebih tepatnya kamu belum pernah jatuh cinta jadi kamu tidak akan mengerti," kata Merry kemudian.


"Apa yang kamu mengerti hah? Kamu tidak mengerti!!!" Kata Merry merasa sedikit emosional, lalu memukul-mukul ringan dada Alvin melampiaskan rasa kesal dan frustasinya.


"Menyukai seseorang memang selalu menjadi hal-hal rumit, karena kita tidak akan pernah tahu akan jatuh cinta kepada siapa. Cinta datang bisa begitu tiba-tiba dan tidak terkira, juga bisa datang dan jatuh cinta pada orang yang hatinya milik orang lain,"


"Apa? Kamu bicara seolah kamu mengerti itu,"


"Tentu saja aku mengerti, karena aku juga mengalaminya.... Dan mungkin cinta ini seolah tidak ada harapan, karena orang yang aku sukai hatinya dimiliki orang lain, seolah tidak ada tempat untukku dihatinya,"


"Apa-apa.... Bahkan seorang Pangeran Sekolah sepertimu bisa merasakan sakit hati?"


"Haha, apa? Kamu yang disebut-sebut Sang Dewi oleh seluruh sekolah juga barusan ditolak bukan?"


"Jadi, apakah kamu akan menyerah?"


"Tentu saja tidak, aku pikir aku bisa melihat sedikit harapan, karena orang yang aku sukai sepertinya dia habis dicampakan,"


"Kamu benar-benar aneh, Alvil."


"Aku memang seperti ini,"


Disana Merry tidak bisa menahan lagi air matanya, dia lalu menangis dalam pelukan Alvin.


Dan kembali mengingat lagi kenangan lama antara dirinya dan Reno.


Kenangan ketika mereka masih muda dulu.


Reno yang menolong dan memberikan semangat padanya untuk bisa sembuh.


Reno yang memberikan dirinya keberanian selama ini ketika dirinya menjalani operasi.


Reno Pangerannya.....


Namun sepertinya Reno bukan miliknya, dan tidak akan pernah menjadi miliknya.

__ADS_1


Tapi ini masih sedikit membuat dirinya merasa kesal dan sedih.


Dan orang yang Reno suka benar-benar tidak pernah dirinya kira.


Ketua Kelas mereka....


Itu benar-benar Ketua Kelas mereka!!


Ketua.....


Tunggu, ini semacam mengigatkan Merry hal-hal yang berkaitan dengan kata-kata Ketua.


Dulu, Reno kecil begitu mengidolakan seseorang yang dia panggil Kakak Ketua.


Reno kecil ingin menjadi seseorang yang begitu keren seperti Kakak Ketuanya itu.


Entah siapa orang itu, Reno kecil sendiri tidak bisa menjelaskannya.


Pembicara ringan itu adalah awal dari perkenalan mereka.


'Kamu pasti akan sembuh, dan mari aku akan menunjukkan mu dunia diluar sana!! Disana ada banyak bunga yang belum pernah kamu lihat, ada pelangi dengan aneka warna, ada pantai dan gunung yang begitu indah, dan mungkin kamu akan menemukan seorang pangeran yang membuatmu jatuh cinta.... Lalu... Aku akan mempertemukanmu dengan Kakak Ketuaku yang sangat-sangat keren yang sangat aku sukai!'


Hanya sebatas kata-kata simpel namun memikat hati....


Cinta memang selalu terlihat rumit, bisa datang tiba-tiba tanpa dikira.


Sesuatu yang sangat-sangat random.


Memikirkan hal-hal lama ini membuat Merry jadi bertanya-tanya.


Siapa Kakak Ketua yang Reno maksud dulu?


Kenapa hatinya yang sedih tiba-tiba mulai memikirkan hal-hal yang tidak berguna itu?


####


Beberapa saat telah berlalu, dan listrik kembali menyala.


Tiga puluh menit telah berlalu, dan sesuai kesepakatan ini adalah saat dimana Serra akan pergi.


Mereka berdua merapikan pakaian mereka yang berantakan.


Serra mulai menatap kearah Reno yang saat ini membenarkannya bajunya.


"Reno, apa kamu tahu? Ada sesuatu dibibirmu! Lihat ini sedikit bengkak dan ada bekas liptin milikku, jadi sebaiknya kamu bersihkan," kata gadis itu sambil tertawa.


"Ah? Benarkan?" Kata Reno kaget lalu mengambil kaca yang ada dimeja dan melihat kearah bibirnya, dan memang iya, bibirnya terlihat aneh sekarang.


Akhhh.....


Terlihat memalukan.


"Kamu terlihat manis seperti itu, ahahahaha,"


"Hentikan, Serra! Jangan tertawa!" Kata Reno sambil mengunakan tisu untuk menyeka bibirnya.


"Reno, apakah kamu ingat dengan rumor yang sempat beredar beberapa bulan lalu saat Ulang Tahun Revan? Lihat kamu bahkan belum merapikan baju juga menghilangkan liptik di bibirmu saat itu, membuat gosip yang begitu heboh jika kamu habis berciuman dengan seorang, seolah-olah sedang memamerkannya, terlihat begitu lucu," kata Serra lagi.


"Kamu pasti sengaja, bukan saat itu?"


"Apa?? Entahlah," kata Serra sambil tersenyum nakal.


"Namun kamu terlihat manis seperti itu, Ah~ Reno terlihat lucu,"


Muka Reno lagi-lagi memerah mendengar godaan Serra itu, kalau memikirkan hari itu di pesta dan betapa dirinya kurang waspada hingga muncul kembali di pesta dengan penampilan seperti itu benar-benar membuat dirinya malu.


Itu sangat memalukan!!


Dan semua orang tahu!!!


"Serra!!!"


__ADS_1



__ADS_2