
Hari ini adalah awal bulan, awal bulan Mei.
Awal mendekati Musim Panas, cuaca akan lebih panas sekitar bulan-bulan itu, dan hujan akan lebih jarang turun.
Seperti keadaan malam ini, walaupun malam hari, suhu terasa lebih panas dari biasanya.
Malam yang cukup bagus untuk pergi keluar.
Lagipula Ujian Masuk Universitas sudah berakhir hari ini, jadi tidak perlu lagi belajar, hanya tinggal menunggu Pengumuman.
Semua orang yang sudah mengikuti Ujian Masuk Universitas akan merasa lega, dan mulai benar-benar menikmati hari Kelulusan mereka.
Termasuk, Reno yang telah menyelesaikan Ujiannya.
Sangat melegakan setelah Ujian selesai, dirinya jadi lebih bisa bersantai.
Jadi, Reno memutuskan untuk pergi ke Apartemen miliknya, bersantai disana, sejak Ujian dirinya memang tinggal disana dengan alasan ingin lebih konsentrasi belajar.
Dan lagi, ini artinya hari yang dinantikan akan segera tiba, waktu benar-benar terasa selamanya saat menunggu seperti ini.
Alangkah lebih baik jika bisa bertemu dengan Serra sekarang.
Tapi sayang sekali, saat ini tidak mungkin bertemu gadis itu.
Reno jadi penasaran, kira-kira bagaimana dengan Ujian Serra?
Apakah dia melakukannya dengan baik?
Namun begitu Reno membuka pintu Apartemennya, dia dikejutkan oleh pemandangan yang ada disana.
"Reno? Kamu sudah disini? Aku baru saja berpikir untuk meneleponmu agar kesini," kata gadis itu yang saat ini berdiri didekat telepon yang berada di ruang tamu.
"Serra? Bagaimana kamu bisa ada disini?"
"Karena aku ingin bertemu denganmu," kata gadis itu lalu langsung berlari kearah Reno dan memeluknya dengan erat.
Reno memang sempat memberitahu Serra soal Password Kunci Apartemennya, jadi tentu saja Serra bisa masuk kesini.
Tapi dirinya bertanya-tanya, bagaimana gadis itu bisa sampai disini?
Bukankah harusnya dia dibawah pengawasan orang tuanya?
Apakah gadis ini baru saja kabur dari rumahnya?
"Kamu kabur?" Tanya Reno heran, namun dia tetap membalas pelukan hangat Serra.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali melihat Serra.
Namun sebelum Serra sempat menjawabnya, tiba-tiba perut Serra berbunyi.
Serra yang merasa malu, wajahnya memerah sambil melepaskan pelukannya.
Kerena seharian dikurung di Apartemennya oleh Kakaknya, Serra sempat menolak makan, jadi belum makan sejak tadi pagi dan sekarang terlihat efeknya mulai muncul.
Dirinya sangat-sangat lapar sekali.
Dan kenapa perutnya sampai berbunyi segala?
Didepan Reno pula!!
Sangat memalukan!!
Keduanya saling tatap, lalu tiba-tiba keduanya mulai tertawa.
"Jangan tertawa, Reno!!"
"Baiklah-baiklah. Kamu lapar? Mari kamu duduk dulu, nanti aku akan mencari sesuatu dikulkas untuk dimakan." Kata Reno sambil menggandeng Serra untuk pergi ke dapur.
Serra hanya dibelakangnya mengikuti.
"Apakah kamu dingin? Kamu terlihat kedinginan," kata Reno sambil melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya pada Serra.
"Pfffff... Kamu terlihat semakin sangat romantis sekarang," kata gadis itu sambil membenarkan jaket Reno pada tubuhnya.
Hangat, dan beraroma seperti Reno, begitu wangi.
"Bukankah aku sudah pernah bilang? Aku hanya baik padamu,"
"Baik-baik, Reno. Jadi sekarang apa yang kamu punya dikulkas?"
Reno disana membuka isi kulkasnya, dan disana tidak ada apa-apa.
Hanya ada telur mentah, dan beberapa sayuran, bakso, sosis dan daging mentah.
Dia memang tinggal disini belakangan, jadi isi kulkas cukup lengkap.
Biasanya, ada bibi pelayan yang mengisi kulkas dan masak dipagi hari, jadi saat siang atau malam, Reno tinggal menghangatkannya.
Tapi, Reno baru saja ingat kalau bibi pelayan disini baru saja ijin untuk ambil cuti kemarin malam.
Tadi pagi sebelum Ujian, Reno hanya sempat makan roti dan susu, dan sepertinya itu stok roti dan susu terakhir dikulkas.
Tadi siang, dirinya makan siang diluar bersama Alvin dan Revan, merayakan berakhirnya Ujian Masuk Universitas.
Jadi dirinya lupa kalau tidak ada makanan di apartemennya.
"Hanya ada bahan mentah. Apa mau delivery?" Tanya Reno kemudian.
"Emm, tapi sepertinya itu akan lama," kata Serra sedikit ragu.
Reno lalu berpikir sambil melihat-lihat kulkas.
Lalu terbesit sebuah ide.
"Bagaimana kalau aku membuatkanmu sesuatu? Ini akan cepat," kata Reno kemudian.
Disisi lainnya, ada raut wajah terkejut di wajah Serra.
"Kamu bisa masak?" Tanyanya heran.
"Tentu saja. Ini hanya membuat Mie. Ada beberapa Mie di instan disini,"
"Kamu bisa memasak Mie?"
"Ayolah, Serra ini hanya Mie oke? Kamu masihlah bisa membuat sesuatu semacam itu,"
__ADS_1
"Tapi aku pikir kamu adalah Tuan Muda yang hanya makan Masakan Koki bintang lima. Lagipula ini Mie Instan? Bukankan tidak baik untuk kesehatan?"
"Tapi ini sangat enak. Kamu belum pernah mencobanya?"
"Begitulah. Dirumah ada Koki yang cukup hebat, jadi dia akan memasakan Mie buatan tangan kalau aku ingin Mie. Lagipula Keluargaku cukup ketat. Aku tidak diijinkan makan sesuatu seperti Mie Instan."
Ah benar juga, Reno juga baru ingat gadis ini adalah Tuan Putri Keluarga Lee, walaupun tidak benar-benar seperti itu namun tentu saja hidupnya cukup mewah sejak kecil, seperti dirinya.
Gadis itu pasti tidak pernah menginjakkan kaki di dapur juga, Reno berani bertaruh soal ini.
Sebenarnya dirinya juga begitu, namun dia kenal Revan yang sangat suka mencoba berbagai macam hal dan yang aneh-aneh, karena dia bilang ini sesuatu yang sangat enak, dirinya harus mencobanya.
Saat masih SMP, mereka bertiga sempat hampir membuat kebakaran di Dapur Revan karena ingin memasak sebuah Mie Instan.
Itu adalah kejadian yang lucu jika dingat-ingat lagi, sebuah kehebohan yang bahkan sampai memanggil banyak mobil pemadam kebakaran, juga Tim Penyelamat yang dipanggil Mamanya karena terlalu khawatir, padahal ya saat itu hanya kebakaran kecil.
Dan tentu saja Reno tidak akan pernah mengulang kejadian memalukan itu, dan belajar memasak Mie dengan benar bersama Alvin.
Lupakan soal masakan buatan Revan, apapun yang dia kerjakan di dapur hasilnya sangat buruk, dan bisa meledakan dapur, tapi orang itu masih begitu bersemangat belajar memasak dengan alasan,
'Kamu bisa menunjukkan masakanmu pada gadis yang kamu suka nanti, dan membanggakannya! Lihat ini salah satu cara memikat hati seorang gadis, Ah,'
Dan bukankah ini saatnya memamerkan keahliannya?
Tentu saja dirinya tidak pernah memasakan sesuatu untuk gadis lainnya, ini hanya karena ini adalah Serra makanya dirinya mau.
Walaupun ini hanya Mie Instan, tapi bisa dimodifikasi jadi sangat enak dengan aneka macam bahan.
"Jadi tunggulah disitu, aku akan memasakan Mie yang enak, kamu akan suka ketika mencoba ini."
Serra tertawa kecil melihat tekat Reno, lalu berjalan menuju ruang makan yang juga dekat dari dapur.
Dari sana, Serra bisa melihat Reno mulai mengambil beberapa bahan dari kulkas, menyiapkan Mie, dan beberapa hal lainnya.
Pemandangan sangat langka untuk melihat Tuan Muda Keluarga Wilson yang selalu dimanjakan itu memasak, dan Serra sangat menyukai ini.
Dirinya sangat menantikan sesuatu yang akan Reno buat nanti, walaupun nanti hasilnya entah bagaimana dirinya bertekad akan bilang enak dan menghabiskannya.
Serra harap waktu akan berhenti.....
Dan hari-hari seperti ini tidak akan berlalu.....
####
Disisi lainnya, di Apartemennya, Johan sudah mendengar kalau adiknya Serra berhasil menyelinap keluar dari bawahannya.
Namun dia tetap terlihat tenang, lalu menyuruh bawahnya untuk pergi.
Johan bisa tahu kemana Serra akan pergi.
Mungkin ini untuk menemui Reno.
Tapi Johan tahu kalau adiknya Serra cukup masuk akal.
Gadis itu pasti nanti akan kembali.
Jadi yang dirinya lakukan sekarang hanya menunggu.
Lagipula ada hal lainnya yang harus dirinya pikirkan sekarang.
Namun sepertinya, Farrel kehilangan ingatannya, dan hanya mengingat beberapa hal saja.
Tadi dirinya juga sudah ke Rumah Sakit untuk menjenguknya, namun sepertinya Farrel bahkan tidak ingat dengan dirinya.
Dan saat dirinya di sana barusan, terlihat tidak ada satu pun keluarga Farrel yang datang menjenguknya.
Terlihat tidak ada yang peduli.
Dirinya dan Farrel adalah teman masa kecil.
Dia dan Farrel cukup dekat saat dirinya tinggal di rumah Kakek dan Neneknya dari pihak Ibu.
Rumah mereka bertetangga saat itu.
Saat itu dirinya tidak tahu apa-apa soal Keluarga Farrel, dirinya pernah menyangka, jika orang itu memiliki hubungan yang rumit dengan Keluarganya.
Dan lagi ada sesuatu yang memangajal dalam dirinya, bahwa sesuatu yang Farrel ingat selain namanya adalah adiknya Serra.
Apakah mereka memiliki semacam hubungan?
Mereka memang sempat satu sekolah sebelumnya.
Entahlah lebih baik nanti akan mencari tahu ini lebih lanjut.
####
Tidak sampai menunggu cukup lama, Reno telah menyelesaikan masakannya itu.
Lalu dia membawa dua mangkuk Mie Rebus ke Meja makan.
Kebetulan dirinya juga cukup lapar, jadi membuat dua porsi.
Dua mangkuk Mie hangat dimeja, yang terlihat harum dan enak itu membuat Serra terkejut.
Itu tidak hanya Mie biasa, namun ditambah dengan telur, sayur dan beberapa bahan lainnya, juga kuah nya yang terlihat kental membuat Mie itu tambah menggugah selera.
Apalagi untuk Serra yang lapar, dan lagi belum pernah mencoba memakan Mie Instan sebelumnya.
Diapun memakan masakan didepannya tanpa ragu-ragu.
Sesuai aroma dan penampilannya, itu benar-benar terasa enak.
Dan tanpa sadar, Serra memakannya dengan lahap.
Disisi lainnya, Reno hanya menatap gadis itu yang makan dengan lahap, dan terlihat menyukainya.
Lihat seberapa lahapnya gadis itu saat makan.
Ini pasti pertama kalinya, gadis itu makan Mie Instan seperti ini.
Artis itu lebih banyak dikekang oleh keluarganya, dari dulu.
Jadi pasti ada banyak hal yang belum pernah gadis itu coba.
Misalnya seperti menonton di bioskop, pergi karaoke, atau beberapa hal menyenangkan lainnya.
__ADS_1
Dirinya tidak sabar untuk bisa mengajak Serra melakukan semua itu, hal-hal yang belum pernah gadis itu coba.
Menantikan hari-hari ketika mereka berkencan kedepannya, saya sangat menyenangkan hanya dengan membayangkannya.
Dan itu tidak bisa membuat senyumam bodoh menghilang dari wajah Reno.
Serra yang merasa dari tadi di pandangi, lalu mulai bertanya pada Reno,
"Kenapa?"
"Apakah enak? Kamu terlihat sangat-sangat menyukainya,"
"Iya ini sangat enak. Aku menyukainya,"
"Aku senang kalau kamu menyukainya,"
"Aku terkejut melihat bahwa kamu benar-benar bisa memasak. Apakah kamu sering melakukan hal-hal ini pada gadis-gadis yang kamu kencani sebelumnya? Pasti mereka suka untuk dimasakkan sesuatu yang enak seperti ini olehmu,"
Reno lalu tertawa kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kamu adalah yang pertama aku masakan seperti ini, kamu tahu?"
"Owh, banarkah?"
"Tentu itu hanya untukmu. Nanti aku akan belajar memasak lebih banyak, dan lebih enak lagi," kata Reno terlihat bersemangat.
"Kamu cukup habat juga bisa memasak. Pasti sangat beruntung Istrimu dimasa depan nanti, bisa kamu buatkan masakan enak setiap hari olehmu," kata Serra sambil bercanda.
"Ya, itu pasti. Dan tentu saja itu kamu. Seseorang yang akan menjadi Istriku kelak, tidak ada yang lain. Aku akan memasakan banyak makanan enak setiap hari untukmu jika kamu mau," kata Reno begitu yakin.
Serra terlihat kaget mendengar ucapan Reno barusan.
Dan ketika Reno menyadari apa yang barusan dia katakan pada Serra, mukanya memerah karena malu.
Apa-apaan dengan omong kosong yang barusan dirinya ucapkan itu?
Bukankah ini terdengar seperti melamar Serra?
Dan ini terlihat sangat sepontan, dan tidak romantis sama sekali.
Dirinya selalu mengatakan hal-hal sudah di saat-saat yang sangat tidak tepat.
Ketika Reno masih tegelam dalam rasa malunya, tiba-tiba dia mendengar Serra berkata,
"Hmm, tentu saja aku mau. Aku akan menantikannya."
"Eh???" Respon Reno terlihat kaget tidak mempercayai apa yang barusan dirinya dengar.
Melihat respon lucu dari Reno, Serra tertawa, lalu mencubit pipi Reno.
"Aku bilang, aku mau. Aku mau kelak menjadi Istrimu, lalu memakan masakan yang kamu buat untukku setiap hari. Aku menyukaimu, lebih dari yang kamu kira," kata gadis itu sambil tersenyum.
Reno tidak tahu harus merespon seperti apa, itu hanya dirinya tidak bisa menahan rasa gembiranya, dan tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.
"Tunggu... Tunggu, ini terlalu.... Cepat...." Kata Reno gugup.
"Apa?" Respon Serra pura-pura tidak dengar apa yang Reno katakan.
"Mari, kita mulai dengan resmi berkencan. Ujian Masuk Universitas telah berakhir, ini saatnya aku memenuhi janjiku," kata Reno kemudian.
Mendengar kata Ujian Masuk Universitas, hati Serra terasa hancur, dirinya tidak tahu bagaimana cara memberitahu Reno soal ini.
Bagaimanapun, dirinya tidak jadi ikut Ujian Masuk Universitas yang dirinya janjikan sebelumnya dengan Reno.
Tidak tahu juga, bagaimana cara mengatakan kalau mungkin nanti mereka tidak akan satu Universitas.
Jadi, Serra hanya tersenyum lalu berkata,
"Tentu. Hari ini kita resmi berkencan."
Reno terlihat sangat gembira,
"Jadi mulai sekarang kamu adalah Kekasihku. Aku milikmu, dan kamu milikku. Aku sangat menyukaimu, Serra...."
"Ya,"
"Aku tidak sabar sampai kita nanti masuk di Universitas yang sama,"
"Ya,"
"Nanti, ketika selesai kelas nanti kita bisa makan siang bersama,"
"Tentu,"
"Nanti ketika akhir pekan, kita akan pergi berkencan ke tempat romantis. Aku ingin menonton film denganmu di bioskop, lalu pergi karaoke, dan makam bersama disebuah restoran mewah, kecan yang indah," kata Reno lagi terlihat sangat bersemangat.
Lalu Reno mulai mengatakan hal-hal lainnya, yang ingin dia lakukan nanti dengan Serra ketika mereka masuk Universitas yang sama.
Mendengar keinginan-keinginan Reno, Serra merasa ingin menagis.
Dirinya benar-benar tidak tahu harus bagaimana cara memberitahu Reno.
Jika mungkin dirinya akan pergi jauh, dan tidak bisa melakukan semua hal itu ketika Reno masuk Universitas nanti.
"Ya, aku juga menantikannya,"
"Benar bukan?"
Ya, sebaiknya, dirinya tidak perlu memberitahu Reno.
Dirinya tidak ingin merusak momen-momen bahagia ini.
Biarkan hal-hal ini tetap menjadi hari yang indah.
"Mari kita bersama selamanya. Dan tidak akan pernah terpisah."
Itu adalah separuh kebohongan yang Serra katakan.
"Ya, kita akan bersama selamanya," ucap Reno, mulai membuat janji dengan Serra lagi, dan mencatat hari ini sebagai hari jadi mereka.
Seandainya waktu bisa benar-benar berhenti hari ini....
Dirinya ingin seperti ini selamanya dengan Reno.
####
__ADS_1
Bersambung