Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Season 2 Part 13: Bolehkah Aku Menyukaimu?


__ADS_3



Ini adalah sebuah ruangan kantor tertentu, Serra baru saja kembali ke kantornya.


Dia disana disambut oleh Sekertarisnya Farrel.


"Baru kembali?" Tanyanya sambil mengabilkan beberapa dokumen ke meja Serra.


"Begitulah. Ada beberapa hal yang aku lakukan."


"Sudah makan siang?"


"Sudah."


Namun sampai Serra duduk di kursinya, pemuda itu masih tetap ada didepannya, terlihat menatap ragu kearah Serra.


"Ada apa, Farrel?"


"Soal Calon Tunanganmu....." Tanya Farrel dengan ragu.


"Ya, dia memang Mikael Lewis."


Sebuah kerutan muncul diwajah Farrel sekarang.


"Kenapa harus dia?"


"Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya. Lagipula aku berniat untuk menolak perjodohan ini."


Mendengar itu, Farrel terlihat lega.


"Itu, bagus. Kamu tidak bisa bertunangan dengan orang itu."


"Kenapa?"


"Ya.... Karena....." Farrel yang ditanya balik itu terlihat kebingungan ingin menjawab apa.


"Aku mengerti, ini keluarga kalian bukan? Kamu tidak ingin membicarakannya aku tidak akan memaksa bertanya."


Farrel hanya tersenyum canggung, lalu mulai mengiyakannya.


Sebenarnya ada alasan lainnya lagi selain hari itu.


Membicarakan ini, Farrel kemudian ingat lagi beberapa hal penting.


"Soal Proyek ini...."


"Tidak masalah. Aku tidak apa-apa, masih ada project lain yang bisa diurus, bukankah ini alasan kenapa aku menyuruhmu menyiapkan dokumen-dokumen ini?"


"Aku mengerti." Kata Farrel lalu dia mulai keluar dari ruangan Serra.


####


Hari sudah menjelang malam hari, namun ketika Serra mengapa fokus dengan dokumen-dokumen yang ada di mejanya, tidak ada kedatangan yang tidak terduga.


Itu adalah kedatangan Kakeknya.


Dengan datangnya orang itu, suasana di dalam ruangan itu terlihat tidak bagus.


Serra langsung berdiri ditengah ruangan menyambut kedatangan Kakeknya.


Namun bukannya mendapatkan kata-kata ramah, Serra malah dapat kata-kata kemarahan.


Didepannya ada seorang pria tua ekspresi marah di wajahnya.


"Serra!! Kamu jelaskan ini padaku? Tidakah kamu tahu kalau ini adalah proyek yang penting? Bagaimana kamu bisa kehilangan project ini?" Kata orang itu sambil melemparkan beberapa dokumen laporan ditangannya pada gadis itu.


Gadis yang duduk di kursi itu hanya bisa diam saja menunduk kebawah dan mendengarkan apa yang pria didepannya itu katakan.


"Serra!! Jawab!! Bahkan berpikir kita kalah dari keluarga Wilson bajingan itu!!"


"Maafkan aku, Kakek." Kata Serra dengan singkat.


"Aku sudah memberimu kepercayaan. Namun ini hasil yang kamu berikan? Kamu sungguh mengecewakanku!!"


Disini, sebuah tamparan di pipi gadis itu.


"Kamu benar-benar tidak becus. Perbaiki ini bagaimanapun caranya!!"


"Aku benar-benar minta maaf, Kakek. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan proyek berikutnya."

__ADS_1


"Harus mendapatkan proyek ini bagaimanapun caranya!!"


"Tapi ini sudah tidak mungkin, Kakek!"


"Aku tidak mau tahu soal itu."


Ketika dua orang itu sibuk berdebat, dari arah pintu masuk lah seorang gadis tertentu.


Gadis itu adalah Serrly, sepupu Serra.


Gadis itu terlihat sangat puas lihat tontonan yang ada di dalam ruangan itu.


"Apa aku bilang Kakek? Kenapa kamu bisa percaya dengan orang itu? Serra selalu payah dalam hal-hal seperti ini. Harusnya Kakak memberikan kepercayaan Kakek padaku!"


"Diam, kamu Serrly!! Memang apa yang kamu bisa?" Kata Andrew Lee dengan marah.


"Aku akan membantu kakak untuk mendapatkan proyek itu! Aku memiliki sebuah rencana yang bagus."


"Baik Aku akan mendengarkan rencanamu,"


"Kurasa aku tidak bisa mengatakan ini di depan orang itu, Kakek. Iya aku pasti kan aku akan mendapatkan proyek ini dengan segala cara."


"Baik Mari kita bicarakan rencanamu itu di ruanganku." Kata Andrew Lee lalu berjalan keluar dari ruangan itu.


"Dan, Kamu Serra sebaiknya refleksikan semua hal yang kamu lakukan. Dan cobalah perbaiki kesalahan ini!! Kamu paham?"


Serra mengaguk menatap dua orang yang keluar dari ruangan itu.


Apa kira-kira yang akan mereka berdua rencanakan?


Ini bukan rencana yang buruk yang mungkin akan mencelakakan Reno bukan?


Melihat dari gelagat kedua orang itu, ini memang terlihat seperti rencana yang seperti itu.


Rencana licik yang buruk.


Sekarang harus bagaimana?


Pusing untuk memikirkan semua ini.


Setelah kedua orang itu keluar, Farrel datang untuk masuk kedalam, mendekat kearah Serra.


Namun dirinya tidak dalam posisi bisa berbuat sesuatu.....


"Serra? Kamu tidak apa-apa?" Kata Farrel sambil membantu Serra untuk berjalan dan kembali duduk di kursinya.


"Sudah biasa seperti ini. Tidak masalah."


Melihat gadis itu hanya mengatakan ini, mambuay Farrel merasa kesal.


"Kenapa mereka berbuat begitu kasar padamu? Itu sangat membuatku kesal! Juga tentang Presentasi kita tadi siang, aku yakin ada orang yang mengsabotase kita."


"Hal yang sudah terjadi biarlah terjadi. Seperti kita bisa melakukan sesuatu soal tadi?"


"Aku akan mengambil kompres dingin untukmu. Pasti sakit bukan?" Tanya Farrel sambil melihat pipi Serra yang agak memar itu.


"Ini tidak apa-apa nanti juga akan sembuh."


"Tapi... Ini terlihat sedikit memerah, kalau dibiarkan...." Kata Farrel khawatir sambil tangannya ada dipipi Serra.


"Aku bilang tidak apa-apa." Kata Serra lagi, menyingkirkan tangan Farrel dari wajahnya.


"Baiklah-baiklah, kalau begitu bagaimana kalau aku menyiapkan makan malam saja?"


"Nanti saja. Aku masih harus mengurus beberapa hal disini."


"Serra! Kamu harus makan oke? Nanti kamu bisa sakit. Kamu selalu makam tidak teratur begitu."


"Baiklah-baiklah, aku akan segera makan oke?"


Dan begitulah akhirnya, Farrel pergi kebawah memesan makanan di Restoran dekat kantor, tidak lupa membeli minuman dan menyiapkannya kompres dingin untuk Serra.


Melihat Farrel yang terlalu berlebih-lebihan itu, mau tidak mau Serra menerimanya.


Dan begitulah, mereka makan malam di ruangan Serra berdua.


Dan melihat Serra yang sekarang menikmati makanannya itu, membuat Farrel senang.


Dirinya juga sudah sengaja memesan makanan kesukaan gadis itu, walaupun hari ini menjadi hari-hari yang buruk, dirinya harap ini bisa membuat Serra merasa lebih baik.


Disini Farrel menatap Serra yang sedang makan.

__ADS_1


"Apa? Apakah ada sesuatu diwajahku? Kamu menatapku dari tadi?"


"Kamu cantik jika kamu tersenyum,"


"Jangan bicara omong kosong."


Farrel yang menyadari ucapannya barusan merasa malu juga.


Ini benar-benar keceplosan.


Sial.


####


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul hampir 11 malam.


Namun disalah satu ruangan kantor tertentu, terlihat lampu masih menyala.


Menandakan bahwa masih ada orang yang ada di dalamnya.


Namun yang dilihat di dalam ruangan itu, adalah seorang gadis yang tertidur pulas diatas mejanya.


Farrel memasuki ruangan itu, menatap Serra yang tengah tertidur pulas itu.


"Dia pasti lelah."


Disini Farrel lalu melepaskan jas yang dipakenya untuk menutupi tubuh Serra agar tidak kedinginan.


Tapi melihat Serra tidak memiliki respon.


Sepertinya tidurnya terlalu lelap.


Namun tidak baik untuk tidur disini seperti ini.


Namun karena Farrel tidak ingin membangunkan gadis yang terlihat begitu lelah itu, Farrel mulai pelan-pelan mengangkat Serra.


Masih tidak ada respon?


Ya biasanya memang seperti ini, ketika mereka masih di luar negeri.


Ada saat dimana Serra akan terlelap di ruangannya.


Dan seperti sekarang, dirinya makan menggendong Serra dan membantunya untuk pindah tidur dikamar tidur ruangan Serra.


Benar, seperti kebanyakan ruangan-ruangan petinggi memang ada tempat tidur yang sengaja disediakan khusus termasuk dalam ruangan ini.


Farrel mengendong Serra ala Birdal Style.


Dari sini, dirinya bisa melihat wajah Serra dengan begitu dekat, mencium aroma lembut dari tubuhnya.


Dirinya selalu mengakui, kecantikan gadis ini, juga kadang sikapnya yang berada diluar pertahanan jika ada bersamanya, seolah percaya sekali pada dirinya.


Juga, gadis yang baik hati dan pekerjaan keras ini, masih tidak berubah walaupun waktu berlalu.


Dia masih lah seperti gadis yang dirinya kenal 10 tahun yang lalu.


Cinta pertamanya, Serra Lee.


Dalam tidurnya dipelukan Farrel, Serra terlihat nyaman lalu membenarkan posisinya untuk memeluk Farrel lebih dekat, dan mulai sedikit mengigau.


"Hmm, sangat nyaman seperti ini, kamu begitu hangat Reno... Aku selalu ingin bisa bersamamu seperti ini...."


Deg


Mendengar nama orang lain yang keluar dari gadis itu membuat hatinya sakit.


Dirinya juga sadar akan fakta ini.


Bahkan walaupun bertahun-tahun berlalu, masih akan ada orang lain dihari gadis ini.


Bahwa dirinya tidak ada dihati gadis ini.


Bahkan walaupun rasanya masih sangat sakit, tapi dirinya masih ingin tetap ada disampingnya.


Mungkin suatu saat akan ada kesempatan....


"Jadi, Serra? Bolehkan aku menyukaimu seperti ini?" Gumanya dalam heningnya malam, sambil meletakkan Serra ditempat tidurnya, lalu mulai mencium dahinya dengan lembut.



__ADS_1


__ADS_2