
Ini masih hari yang sama, masih disuatu taman tertentu, dibawah sebuah pohon tertentu.
Langit yang begitu gelap ahirnya menunjukan akhirnya.
Hujan turun, langit mulai tambah gelap.
Reno disana masih memeluk Serra, seolah tidak akan melepaskannya.
Mengingat lagi masa lalu membuat air mata Reno tiba-tiba keluar, tidak terbendung.
Dirinya tahu, kalau dirinya sangat kekanak-kanakan.
Perbuatan yang menghancurkan hidup seseorang.
Awalnya, hal yang simpel yang dirinya inginkan adalah mendapatkan perhatian dan bersama orang tuanya, melihat keduanya berdamai dan tidak bertengkar lagi.
Dirinya hanya mencoba memberontak untuk mendapatkan sedikit perhatian.
Namun, itu berakhir dengan keterlaluan dan merusak hidup seseorang.
Serra masih memeluk Reno, sambil mengelus rambut Reno, mencoba menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Reno. Menangis lah," gumanya lembut.
Rasa bersalah, rasa sedih, keputusan muncul dalam hati Reno ketika dia kembali mengingat hal-hal dimasa lalu.
Seperti yang Serra bilang, ahirnya Reno benar-benar tidak bisa menahan air matanya, dan menangis cukup banyak.
Mereka tidak lagi peduli apakah air hujan mengenai tubuh mereka.
Atau apakah cuaca menjadi begitu dingin.
Mereka disana untuk waktu yang cukup lama, saling merasakan kehangatan masing-masing.
Serra sendiri perlahan ikut mulai menangis.
Dia sendiri paham betul apa yang Reno rasakan.
Rasanya sangat muak dengan seluruh keluarganya.
Perasaan ingin lari jauh namun tidak bisa.
Perasaan kesal, dan amarah namun tidak tahu harus dilimpahkan pada siapa.
Perasaan sedih yang menumpuk tahun demi tahun.
Kenangan sedih yang seakan kembali berputar dipikiran.
Dibawah derasnya hujan, keduanya saling membantu satu sama lain terasa nyaman.
__ADS_1
Namun pada ahirnya, Reno melepaskan pelukannya.
Keduanya saling menatap dalam diam.
Lalu keduanya mulai berciuman, dengan semua perasaan yang keduanya miliki.
Berciuman cukup lama, menentang derasnya hujan.
Dan seakan-akan menikmati hujan bersama kesediaan dan rasa frustasi masing-masing.
Keduanya memiliki kisah mereka sendiri.
Memiliki hari-hari sulit mereka sendiri.
Sama-sama muak dengan semua hal itu.
Terlalu takut menghadapi masa depan tentang hubungan mereka nantinya.
Apakah ini hal yang baik untuk mencoba bersama-sama?
Namun rasanya menyenangkan, sangat bagus bila bisa menentang Keluarga mereka.
Perasaan yang tidak bisa tertahankan untuk mencoba melanggar peraturan.
Perasaan memberontak yang tidak tertahankan.
Hujan jadi semakin kencang, dan Reno memutuskan mengajak Serra ke salah satu Apartemennya yang jaraknya cukup dekat dari sana.
Baju keduanya benar-benar basah.
Keduanya saling menatap satu sama lain, lalu keduanya mulai kembali berciuman, ciuman yang lebih dalam dan lebih provokatif dari sebelumnya.
Keduanya selalu memiliki pemahaman diam-diam.
Termasuk tentang hal ini.
Setelah agak kehabisan nafas, keduanya lalu melepaskan ciuman itu, lalu saling menatap.
"Serra, apa kamu mengerti apa yang akan terjadi berikutnya?" Kata Reno dengan ragu.
"Ya, aku tahu dan aku sangat sadar soal ini." Kata gadis itu penuh tekat.
"Kamu tidak akan menyesalinya?"
Gadis itu hanya mengangguk setuju.
Perasaan memberontak, cinta, dan melakukan hal-hal terlarang membuat keduanya terbawa suasana.
Keduanya kembali saling menatap lagi, tangan mereka ada ditubuh masing-masing, merasakan baju mereka yang basah.
Lalu perlahan, keduanya saling melepaskan baju satu sama lain.
__ADS_1
Ini adalah hari yang panjang, dua pemberontak kecil ahirnya ingin melampiaskan semua perasaan mereka.
Perasaan melanggar hal-hal yang terlarang begitu menyenangkan.
Seakan tidak peduli bahkan walaupun nanti Keluarga mereka tidak akan setuju.
Ini salah satu bentuk pemberontak kecil mereka, dan hanya keduanya lah yang saling mengerti diam-diam yang paham.
...####...
Ini adalah pagi yang baru, disalah satu rumah tertentu, terlihat seorang pemuda tertentu sedang berada diruang tamu sedang menunggu seseorang.
Wajah pemuda itu cukup tampan, namun ada beberapa luka lebam diwajahnya.
Saat ini dirinya dalam suasana hati yang buruk, terutama setelah bertemu seseorang beberapa hari yang lalu.
Hari ini dirinya baru saja dari Rumah Sakit menjenguk seseorang.
Seseorang yang sangat berharga dan disayanginya.
Melihat orang yang dijenguknya terbaring di ranjang rumah sakit, memejamkan matanya, seolah tidur dengan tenang, namun tidak akan pernah tahu kapan mata itu terbuka membuat pemuda itu frustasi.
Memikirkan ini membuat pemuda itu sangat sedih.
Lalu dia bertanya kearah pelayan yang ada dirumahnya.
"Apa kamu tahu Serra adikku ada dimana?"
"Maaf Tuan Muda. Kami tidak tahu Nona Serra ada dimana. Nona hanya menelepon kemarin kalau dia menginap dirumah temanya." jawab Pelayan itu sopan.
Namun belum sempat pemuda itu marah, orang yang dia cari baru saja muncul di ruangan itu.
"Dari mana saja kamu, Serra?"
Serra kaget melihat kedatangan Kakaknya tiba-tiba.
"Dari rumah teman." kata Serra dengan tenang.
"Teman yang mana?" interogasi pemuda itu.
"Itu bukan urusan Kakak. Lagipula kenapa dengan wajah Kakak? Bukankah Kakak harusnya lebih khawatir pada itu?" kata Serra dengan dingin.
"Bukankah kamu jadi semakin dingin dan dingin padaku, Serra?"
Itu adalah Reouni Keluarga yang terlihat biasa di kediaman Keluarga Lee.
Tuan Muda tertua Keluarga Lee pulang, atau bisa disebut Johan Lee, Kakak Serra.
__ADS_1