Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Side Story 1: Berdua Di Ruang Musik


__ADS_3



Ini adalah kisah dari beberapa tahun yang lalu ketika Serra dan Reno masih kelas dua SMA.


Seperti kebanyakan siswa kelas dua SMA lain, ini adalah masa-masa yang sangat indah, dimana bisa menikmati kehidupan remaja SMA yang santai, sudah mulai beradaptasi dengan lingkungannya tidak seperti Siswa Kelas Satu yang masih belum tahu apa-apa, memiliki lebih banyak kenalan, bisa ikut kegiatan klub, dan tentunya tidak perlu mengurusi soal masalah Ujian seperti Kelas Tiga.


Masa-masa santai dan indah dimana kamu bisa jatuh cinta.


Hal-hal ini termasuk siswa siswa disekolah Elite tertentu, Kelas 2 A yang saat ini sedang dalam pelajaran kosong.


Beberapa gadis mulai membicarakan, hal-hal manis seperti siapa laki-laki yang disukainya.


Atau mungkin membicarakan tentang bagaimana mulai ingin berkencan dengan seseorang.


"Ah~ Lihat, bukankah Alvin sangat tampan? Dia pintar, tampan dan kaya, benar-benar idaman bukan?" Kata salah satu siswi itu tengah terlihat ceria.


"Tidak-tidak, dia terlihat dingin bukan? Bukankah Revan jauh lebih tampan? Lihat senyumanya yang begitu indah itu, Ah~"


"Kalau soal yang paling tampan, bukankah itu Reno? Ah~ Dia terlihat sangat Badas!!" Kata gadis lainnya yang terlihat berani.


"Hey! Hey! Kamu jangan berani-berani menyukai Sang Tiran Sekolah kita! Apa kamu tidak tahu nasip seorang gadis malang yang terakhir kali menyatakan cinta padanya?" Kata gadis lainnya terlihat cemas.


"Apa yang kamu katakan? Itu hanya karena gadis itu terlihat bodoh dan tidak melihat penampilannya sendiri! Kalau kamu ingin naksir dengan Sang Tiran Sekolah kamu harus cantik, dan benar-benar cantik!! Seperi seorang Dewi! Lihat bukankah aku ini cantik?" Kata gadis pemberani itu terlihat menyanjung dirinya sendiri.


Gadis yang ada disampingnya terlihat merasa malu melihat temannya berbicara omong kosong seperti itu.


Kalau membicarakan soal hal-hal seperti cantik, dia jadi ingat siswa pindahan baru belakangan, dia sangat cantik bagaikan seorang Dewi Kecantikan bernama Merry.


Kalau itu secantik Merry, tentu tidak apa-apa jika naksir Sang Tiran Sekolah mereka, Ah~ Betapa iri dengan orang-orang cantik.


Disamping gadis-gadis yang sedang cekikikan soal membicarakan soal siapa yang paling tampan itu, terlihat seorang gadis tertentu sedang asik dengan buku miliknya sendiri, tidak terlalu memperhatikan hal-hal yang dibicarakan gadis-gadis itu.


Fokus gadis itu adalah sebuah buku not lagu. Sebentar lagi, dia akan mengikuti Kontes Piano, jadi dia masih melihat-lihat not lagu yang akan dia mainkan nanti.


Namun seorang gadis yang cukup berani, mencoba bertanya pada gadis itu,


"Ketua Kelas, bagaimana denganmu? Seperti apa tipe laki-laki yang kamu suka?"


Pertanyaan kejutan membuat gadis itu terdiam sesaat.


Disisi lainnya, di bagian belakang kelas, terlihat seorang pemuda tertentu tengah mencoba untuk tidur, namun suasana begitu gaduh jadi dia hanya bisa membolak-balik kepalanya dari tadi.


Alvin dan Revan sudah pergi entah kemana, hanya tinggal dia yang ada dibarisan belakang.


Mendengarkan hal-hal omong kosong yang dibicarakan gadis-gadis itu membuat pemuda itu muak.


Namun, begitu salah satu nama tertentu disebutkan, pemuda itu jadi bersemangat dan antusias untuk ikut mendengarkan, mulai mengintip dari balik tangannya kearah gadis-gadis itu.


Deg


Deg


Deg


Entah kenapa jantungnya merasa berdebar tidak jelas.


Ah~


Seperti apa tipe laki-laki yang Ketua Kelas sukai?


Ah~


Namun Ketua Kelas yang ditanya hanya tersenyum, lalu bertanya balik,


"Bagaimana menurutmu? Seperti apa laki-laki yang semua orang inginkan?"


"Tentu saja, dia harus tampan, baik hati, penyayang, pintar dan kaya, Ah~ Bukankah semua orang menginginkan tipe ini?" Kata gadis yang bertanya sebelumnya.


"Jadi, bagaimana menurut Ketua Kelas? Dari antara Tiga Pangeran Sekolah kita, siapa menurutmu mana yang lebih ke Tipe mu?" Tanya gadis lainnya.


Lalu gadis disampingnya ikut menambahkan sebelum Serra sempat menjawab.


"Tentu saja, bukankah Tipe yang Ketua Kelas suka pasti seseorang seperti Alvin bukan? Dia rajin, tampan, pintar dan baik hati! Ini terlihat seperti Tipe mu?"


Gadis lainnya terlihat tidak setuju, lalu berkata,


"Pasti Ketua Kelas lebih menyukai tipe ceria, lembut dan penyayang seperti Revan bukan?"


Mendengar ucapan para gadis barusan yang memperdebatkan mana yang lebih ke Tipe Serra antara Alvin dan Revan entah kenapa membuat Reno kesal dan kecewa.


Kenapa tidak ada yang mencoba merekomendasikan dirinya sebagai tipe yang Ketua Kelas suka?


"Ahahahaha, dan aku berani bertaruh pasti Sang Tiran Sekolah jelas bukan tipe Ketua Kelas," kata gadis lainnya terlihat begitu yakin, disertai anggukan oleh siswi lainnya.


Mendengar itu dari belakang membuat Reno merasa ingin menagis.


Namun, tiba-tiba Serra mulai berkata,


"Bagaimana kalau aku bilang, aku menyukai Tipe seperti Reno?"


Gadis-gadis dihadapannya terlihat sangat syok mendengar itu, kaget ada yang hampir menyemprotkan jus dari mulutnya, atau ada yang hampir jatuh dari kursinya.


Dan Reno yang jantungnya barusan hampir copot, dan hampir jatuh dari kursinya.

__ADS_1


Melihat reaksi terkejut semua orang, Serra lalu melanjutkan,


"Tentu saja aku hanya bercanda. Lagipula aku masih harus memikirkan bagaimana menaikan nilaiku dan harus belajar, jadi tidak memiliki waktu untuk memikirkan soal laki-laki dan cinta,"


Gadis-gadis disana lalu hanya saling mengauk setuju dan mulai berkata,


"Ah benar juga, sudah kami duga dari Ketua Kelas kita! Jelas belajar lebih penting dari pada memikirkan laki-laki!!"


Reno yang berhasil menenangkan dirinya itu, tiba-tiba merasa kecewa.


Ah~


Benar juga, itu memang benar-benar seperti Serra, dia tentu tidak memikirkan soal kencan.


Ini seperti ditolak bahkan sebelum melakukan pengakuan, lagipula dirinya sepertinya memang bukan Tipe Serra pula.


...####...


Hari itu, karena Reno mulai bosan dikelasnya, dia lalu pergi menyusul teman-temannya ke lapangan basket untuk bermain.


Untuk menghilangkan beberapa rasa kesal dan memperbaiki mood.


Jatuh Cinta memang sesuatu yang merepotkan yang bisa membuat hatimu berdebar tidak karuan dan bisa membuat moodmu berubah-ubah.


Jadi begitulah, Reno lalu menikmati siang itu dengan bermain basket ditengah cuaca yang panas itu.


Itu panas, namun begitu asik dan seru.


Namun hari yang semakin siang membuat beberapa orang yang bermain semakin kepanasan dan lelah, jadi mereka mulai menuju tempat teduh untuk istirahat.


Disini terlihat sangat ramai, karena sudah memasuki jam istirahat, para siswi-siswi segera berkerumunan disamping lapangan.


Begitu berisik, membuat Reno kesal, jadi dia segera pergi ke ujung lapangan yang cukup sepi disana untuk duduk.


Namun cuaca masih begitu panas, keringat mulai bercucuran diwajah dan tubuh Reno dan sekarang dia sangat haus.


Lupa tidak membawa minum, dan terlalu malas ke kantin untuk membeli minuman.


Ketika Reno masih sangat kepanasan tidak nyaman itu, tiba-tiba sebuah botol dingin menyentuh pipinya.


Reno hendak marah karena merasa kaget, namun dia segera menenangkan dirinya karena orang yang memberikannya minuman dingin ternyata adalah Serra.


"Kamu ingin?" Tanya gadis itu,


"Aku kebetulan tadi membeli dua karena terlalu malas mengurusi uang kembalian, kamu bisa mengambilnya jika mau," kata gadis itu lagi.


Reno mencoba menahan tawanya melihat gadis itu mulai membuat alasan.


"Ya, ya, aku mengerti. Aku akan mengambilnya kalau begitu," kata Reno sambil menerima minuman dingin itu, membuka botolnya, lalu meminumnya.


Mungkin hanya kebetulan dan mengambil random.


Gadis itu lalu tersenyum, dan berniat meninggalkan Reno disana, namun sebelum gadis itu pergi, Reno tidak sengaja mengandeng tangan gadis itu agar dia tidak pergi.


"Tunggu...."


Namun begitu gadis itu menoleh, dan Reno menyadari saat ini sedang bersentuhan dengan gadis itu, dia jadi merasa malu membuat wajahnya sedikit memerah, lalu buru-buru melepaskan cengkraman tangannya pada tangan gadis itu.


Owh tidak!!


Tangannya bahkan berkeringat!!!


Sangat berani menyentuh Serra dengan tangan yang begitu kotor seperti ini!!


Ah.....


Bukankah ini sangat memalukan?


Bagaimana kalau keringatnya menempel pada gadis itu lalu membuat gadis itu terasa terganggu olehnya?


Ah....


Bagaimana ini.....


Dalam sepersekian detik, boombastis pemikiran muncul dibenak Reno.


Mengalihkan tatapannya dari Serra, dia mencoba mencari beberapa topik pembicaraan, mencoba menghilangkan rasa malunya.


"Aku hanya ingin tahu, kamu ingin kemana saat Istirahat?"


"Ke Ruang Musik."


"Untuk apa?"


"Untuk berlatih Piano. Sebentar lagi akan ada Kontes bermain Piano."


"Kamu bisa bermain Piano? Aku baru tahu. Aku kebetulan juga bisa beberapa."


"Owh? Benarkan?"


"Kamu tidak percaya? Mari kita lihat kalau begitu." Kata Reno lagi, karena gadis didepannya terlihat tidak mempercayainya.


Dan tentu saja dirinya bisa bermain Piano dengan sangat baik, yah walaupun tidak sebaik Revan namun ini tidak dilevel tidak bisa bermain.


Dulu saat masih disekolah dasar, dirinya ikut les piano.

__ADS_1


Emmmm....


Tapi itu ketika masih kecil.....


Dan sudah lama dirinya tidak bermain piano....


Owh tidak!!!


Bukankah dirinya baru saja mempermalukan diri sendiri lagi?


Dirinya tidak begitu ingat beberapa not lagu.


"Kenapa tidak menunjukkannya?"


Dan begitulah entah bagaimana, Reno yang dalam keadaan blank itu sampai keruang musik.


Disana sepi, tidak ada seorangpun ketika Reno memasuki ruangan itu.


Hanya ruangan yang cukup besar, dengan jendela besar disana juga ada piano besar ditengahnya.


Ada rak berisi not-not musik, dan beberapa alat musik lainnya seperti biola disana.


Reno duduk dikursi depan piano, menatap binggung kearah piano putih didepannya.


Sekarang dirinya harus bagaimana?


Sesudah sejauh ini?


Apakah ini saatnya untuk menyerah??


Ayo, Reno!!


Kamu bisa!!!


Ayo otakku!! Saatnya kamu digunakan!!!


Reno yang gugup akhirnya menekan tus piano yang salah, dan membuat nada yang cukup tinggi membuat Serra tertawa.


"Aku, bisa!! Aku hanya sedikit lupa notnya. Aku sudah lama tidak memainkannya."


"Bagaimana kalau lagu 'Twinkle Twinkle Little Star' ini terdengar not yang mudah?"


"Ku rasa aku bisa, hanya sedikit lupa not awalnya," kata Reno sambil dengan malu mengakui.


"Aku akan menyenandungkan notnya untukmu, dan kamu bisa mencoba memainkannya? Bagaimana?"


Bersama dengan suara Serra, alunan musik piano dimulai.


Mendengar senandung suara Serra, membuat Reno kembali mengingat not lagunya.


Ini mengingatkannya ketika dirinya masih kecil.


Dulu, untuk mendapatkan pujian orang tuanya, dirinya berlatih keras saat bermain piano, dan saat ulang tahun Mamanya, dia memainkan lagu ini.


Disana bermain piano dipangkuan Ayahnya, dan Ibunya mendengarkan dari samping, orang tuanya terlihat tertawa riang saat itu.


Kemudian, dirinya mulai dipuji oleh mereka, dan dirinya mulai memainkan lagu lainnya.


Sangat menyenangkan melihat mereka berdua tersenyum seperti itu.


Dan mengingat-ingat kalau dirinya masih punya saat-saat bahagia seperti itu, entah kenapa membuat Reno ingin menagis.


Reno tengelam dalam lamunannya, hingga memencet not yang salah.


"Bukan yang ini, namun yang ini?" Kata Serra sambil membenarkan posisi jari Reno dengan tangannya, dan mulai memandu Reno menaikan Pianonya.


Suara Serra yang menyadarkan Reno, jarak yang begitu dekat tiba-tiba membuat jantungnya begitu berdebar.


Dan senyumam Serra yang begitu manis membuat Reno tersipu.


Bersama dengan hembusan angin dari jendela....


Suara not piano yang indah,


Memainkan piano bersama....


Dirinya rasa bisa bermain Piano bukan hal yang buruk, dan bisa membuat beberapa kenangan indah.


Seperti hari ini, dirinya akhirnya memiliki beberapa percakapan yang layak dengan gadis itu.


Menikmati suasana siang hari berdua diruang musik.....


Dengan gadis yang dicintainya...


Ini adalah kenangan berharga yang tidak akan pernah Reno lupakan.


...####...


...Side Story 1 Berakhir...


...####...


Catatan Penulis: Sampai jumpa lagi, nantikan terus kelanjutan ceritanya di Season 2 beberapa hari lagi, juga ada bonus Side Story tentang hal-hal yang belum sempat aku tulis, semoga kalian menikmatinya sambil menantikan Season 2 dimulai. 😆


__ADS_1


__ADS_2