Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Season 2 Part 33: Menghabiskan Malam Bersama


__ADS_3

Malam ini sunyi, cahaya bulan terlihat cerah dan indah, bahkan setelah melewati jendela dan terlihat dari dalam kamar salah satu Apartemen.


Di Apartemen itu, duduk dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan.


Mereka masih duduk saling berhadapan-hadapan, namun disini lainnya suasana terlihat hening antara mereka berdua.


"Reno.... Aku....."


"Sudah, Serra, kita tidak perlu membahas masalah itu bukan? Yang paling penting sekarang kita sudah bersama bukan?"


Gadis yang berada didepannya itu masih terdiam, tidak tahu harus berkata apa lagi.


Mereka berdua memang saat ini bersama, namun tidak benar-benar bersama.


Memikirkan tentang rencana perjodohan Keluarga mereka masing-masing membuat Serra pusing.


Apalagi, sekarang Mikael jadi semakin menyebalkan dan sering mengagunya kemana-mana.


"Ya, kita bersama sekarang. Namun masih sulit untuk Keluarga kami. Kamu lihat sendiri bukan?"


"Ya, aku tahu ini akan menjadi hal yang cukup sulit... Tapi..."


"Keluargamu pasti akan membenciku," kata Serra lagi.


"Aku akan mencoba meyakinkan mereka,"


"Tapi jelas mereka membenci Keluarga Lee,"


"Ayahku mendukungku." Kata Reno dengan serius.


"Ayahmu?"


Mendengar soal ini tentu saja Serra merasa kaget, ah ya benar dulu Reno juga sepertinya mengatakan hal yang hampir mirip.


"Ya. Seperti yang dulu aku rencanakan," kata Reno lagi sambil tersenyum misterius pada Serra.


Serra kembali memikirkan lagi soal Rencananya dengan Reno dulu.


Sudah tujuh tahun berlalu....


Kalau dulu mereka tidak bisa apa-apa, sekarang berbeda.


"Jadi bagaimana?"


"Kamu mendapatkan setidaknya Kekuasaan Perusahaan untuk bisa mengabil keputusan Merger."


"Aku tidak yakin...."


"Aku tahu kamu bisa, hanya sesaat dan aku akan mengaturnya, lebih lanjut lagi sebaiknya kamu segera bekerja sama dengan ЯS Corporation,"


"Apa ini ada hubungannya dengan Perusahaan itu?"


"Kamu akan tahu nanti. Lagipula proyek mereka menjanjikan bukan?"


"Aku akan mencoba menjalankan ini segera, tapi kamu harus menjelaskannya padaku dulu soal rencanamu,"


"Aku hanya ingin membuat beberapa kejutan kecil. Jadi kamu cukup percaya padaku, oke?"


Mendengar pengakuan Reno barusan, Serra terdiam, lalu langsung menaguk setuju.


####


Malam semakin larut, disana jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Serra dan Reno telah menyelesaikan makan malam mereka, jadi saat ini mereka berdua ada diruang tamu untuk saling berbicara.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin bercerita padaku tentang beberapa hal?" Tanya Reno pada gadis dipeluknya itu.


"Apa yang kamu ingin tahu?"


"Kamu belum bercerita bagaimana kehidupanmu selama ini,"


"Tidak banyak yang bisa aku ceritakan,"


"Kamu bisa menceritakan apa saja,"


"Ada banyak hal yang aku lakukan ketika aku di Universitas. Mungkin karena perbedaan budaya, aku tidak memiliki banyak teman disana."


"Ya, itu cukup sulit ketika kamu pergi ke Luar Negeri bukan?"


"Itu benar. Aku rasanya masih ingat, hari ketika Ujian Masuk Universitas dilaksanakan disini, di hati terakhir, Kak Johan tidak mengijinkanku untuk ikut."


"Jadi hari itu....."


"Benar, hari terakhir kita bertemu... Aku memiliki begitu banyak pikiran saat itu.... Bagaimana cara aku memberitahumu? Kamu terlihat sangat bahagia hari itu....."


Serra mengalihkan tatapannya dari Reno, lalu melihat kearah televisi yang tidak menyala itu.


Dia mulai kembali memikirkan hal-hal lama yang terjadi.


"Hari itu aku sangat bahagia, karena akhirnya menyelesaikan Ujian Masuk Universitas seperti janji kita, sesuatu yang selalu aku nantikan, hari dimana aku akhirnya bisa menjadikan kamu milikku,"


"Aku tahu."


"Benar, bahkan ketika aku mendengar kabar jika aku diterima di Universitas X, aku sangat ingin bertemu denganmu dan memberitahumu.... Namun.... Kamu sudah pergi saat itu... Itu membuatku merasa frustasi."


"Aku begitu jahat bukan?"


"Tidak Serra. Walaupun aku sangat marah padamu.... Namun aku tahu, dalam hatiku aku tidak pernah bisa membencimu, bahwa keputusan yang kamu ambil adalah jalan terbaik untuk kita. Karena jika kita memaksa bersama saat itu, mungkin kita hanya akan bersama dalam jangka pendek, karena kita masih muda dan tidak bisa melakukan apa-apa.... Masa-masa begitu Impulsif.... Tapi tetap saja aku masih marah padamu karena kamu pergi tanpa sepatah katapun."


"Hmm, aku tahu. Aku tahu. Aku senang akhirnya kamu mau bercerita padaku soal dirimu. Jadi apa lagi yang terjadi setelah itu?"


"Kak Johan mengajakku ke Luar Negeri bersama Farrel, yang juga akan melakukan rehabilitasi disana."


"Degan Farrel?"


"Ya, setelah dia sadar dari Komanya, dia kehilangan ingatannya, dan entah bagaimana hanya ingat padaku,"


Mendengar itu, Reno menunjukkan wajah cemberutnya, lalu mencubit hidung Serra.


"Kamu selalu begitu populer dikalangan para Lelaki," katanya dengan nada yang dibuat-buat.


"Tapi kamu juga begitu populer dikalangan gadis-gadis,"


"Aku tidak dekat dengan siapa-siapa,"


"Dulu dengan Nana dan Merry bukan?"


"Ah, ya mungkin kamu belum tahu soal ini? Kamu tahu kalau Ayahku menikah lagi? Dan kebetulan itu adalah Ibu Nana, aku dan Nana adalah Saudara Tiri sekarang."


Serra terkejut mendengar berita itu.


"Benarkah?"


"Kamu tidak menyangka bukan? Dunia terlihat begitu sempit."


"Hal-hal memang selalu penuh dengan kejutan tidak terduga, seperti hari ketika aku bertemu denganmu...."


"Kapan?"


"Aku berjanji akan mencarikannya bukan? Dahulu kala, ada seorang pangeran kecil yang suka diganggu oleh teman-temannya... Itu karena dia kecil dan begitu manis, setiap kali dia digoda, wajahnya yang hampir menagis itu membuat seseorang tidak tahan.... Hingga suatu hari, ada seseorang pemberani yang menyelamatkan Pangeran Kecil itu."

__ADS_1


Disini, Reno kembali menelusuri ingatannya.


"Kita bertemu saat kecil?"


"Tentu, tapi mungkin kamu tidak mengingatku."


Reno kembali memutar ingatannya saat kecil.


Memang ada sebuah periode dimana dirinya di ganggu oleh Revan dan Alvin saat masih kecil.


Ada adegan yang tidak pernah Reno lupakan saat itu, itu adalah seseorang yang menyebut dirinya Kakak Ketua yang menyelamatkan dirinya, seorang pahlawan dihatinya, yang membuat dirinya memiliki keberanian saat itu untuk melawan.


Tunggu....


Kakak Ketua?


Itu.....


"Kamu masih sangat suka menyebut dirimu sebagai Ketua bahkan ketika masih kecil?" Tanya Reno.


Disini, Serra terkejut melihat reaksi Reno yang masih ingat dengan kejadian itu.


"Kamu ingat?"


"Ya, bagaimana aku tidak ingat? Itu adalah hari-hari paling memalukan dalam hidupku. Namun suatu hari aku bertemu dengan Pahlawanku... Kakak Ketuaku yang begitu keren... Dan itu kamu...."


"Tuan Putri Kecil Manisku yang selalu dimajakan ini sudah tumbuh dewasa sekarang."


Mendengar itu, muka Reno memerah karena malu.


Jadi ini alasan kenapa Serra selalu manggilnya begitu?


Disini, melihat Reno yang malu itu, Serra tertawa.


"Jangan mengodaku," kata Reno lagi.


"Itu karena kamu begitu manis, membuatku tidak tahan,"


Disini, Serra lalu memeluk Reno, dan mencium pemuda itu dengan agresif.


Ciuman yang cukup panjang antara mereka berdua.


"Ini adalah cinta pada pandangan pertama. Aku memiliki hari-hari sulit sejak aku kecil, hingga aku sudah tidak lagi memiliki keinginan apa-apa, dan hanya mematuhi perintah orang tuaku sejak kecil. Lalu aku bertemu denganmu,"


"Kamu.... Itu kita masih umur berapa?"


"Ayolah, ini awalnya hanya cinta monyet, tapi semakin aku melihatmu, aku semakin menyukaimu...."


"Kamu sudah menyukaiku begitu lama?"


"Ini adalah cinta abadi yang tidak akan pernah berakhir....."


Disini, dimalam yang indah ini bersama cahaya bulan yang cerah, mereka menghabiskan malam ini untuk saling bercerita, tentang semua hal yang masing-masing mereka alami.


Saling bergulau malam, melewati malam ini tanpa sadar kalau waktu cepat berlalu.


Sampai mereka ketiduran, disana disofa, berbagi kehangatan selimut dan suhu badan satu sama lain, tertidur saling memeluk satu sama lainnya, melewati malam ini.


Malam yang begitu damai dan indah.....


Malam yang mirip entah bagaimana dengan malam tujuh tahun yang lalu.


####


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2