Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Season 2 Part 48: Mencari Keberadaanmu


__ADS_3

Ketika Reno bangun dari tidurnya di Rumah Sakit, sekali lagi dirinya mengecek ponselnya, namun tidak ada tanda-tanda kabar dari Serra.


Disini, Reno mulai penasaran kemana gadis itu pergi.


Namun, dirinya kembali mengingat hal-hal yang memimpanya.


Dirinya tidak mengira kalau Veronica bisa selicik itu dan mencoba menjebaknya seperti itu.


Namun sudahlah dirinya tidak mau memikirkan lebih dalam.


Sekarang yang terpenting adalah soal bagaimana soal Serra.


Disini, Reno tiba-tiba memiliki semacam firasat buruk.


Tidak biasanya Serra tidak ada kabar seperti ini, jadi setelah dirinya sudah merasa baikan, dirinya segera keluar dari Rumah Sakit secara menyelinap. Dirinya meminta bantuan Revan untuk menyelinap.


"Reno, kamu terlalu berlebihan menyelinap seperti ini, kamu belum sembuh bukan?"


"Namun aku khawatir pada Serra, dia belum ada kabar juga, dan lagi soal semua hal yang menimpanya..."


"Ya, soal semua Berita di Internet dan Televisi bukan? Aku juga yakin, kalau Ketua Kelas kita jelas bukan orang seperti itu, orang-orang yang tidak mengenalnya yang akan pendapat dan percaya hal-hal yang ada di internet itu."


Reno tersenyum melihat tanggapan Revan.


"Terimakasih untuk percaya padanya,"


"Bagaimana aku bisa? Lihat, kamulah yang paling percaya padanya,"


"Ini adalah bentuk dari rasa cintaku,"


Mereka lalu keluar dari Rumah Sakit dan memasuki mobil Revan, menuju ke Apartemen Serra.


Namun apa yang menunggunya adalah sebuah Apartemen Kosong.


"Apa.... Apa yang terjadi padanya..."


Ketika Reno membuka ruangan itu dengan Revan, tentu saja dia kaget.


"Ini seperti sudah ditinggalkan selama beberapa hari," komentar Revan, sambil membuka Kulkas disana yang isinya hampir kosong.


Ya, ini terlihat tidak berpenghuni, namun masih terlihat cukup bersih, mungkin petugas kebersihan Apartemen masih membersikannya, namun memang terlihat tidak ada yang menempati tempat ini.


"Kenapa dia bisa pergi?" Tanya Revan lagi.


"Aku tidak tahu. Harusnya dia tidak pergi ke mana pun, kecuali..."


Mereka lalu saling bertatapan,


"Jangan bilang insiden yang menimpamu tempo hari ada hubungannya dengan ini?"


Deg


Memikirkan ini, membuat Reno jadi semakin curiga.


"Itu bisa jadi... Itu terlalu mencurigakan ada orang yang tiba-tiba menyergapku tempo hari. Identitas mereka juga belum diketahui karena mereka semua berhasil kabur. Dan Serra....."


"Jangan bilang dia di culik atau sesuatu?"


Mendengar perkataan Revan, wajah Reno menjadi pucat.


"Ini... Ini tidak mungkin..."


"Ini mengingatkanku pada beberapa hal, tadi sepertinya aku merasa ada yang mengikuti kita,"


"Apa?? Kenapa kamu tidak mengatakannya?"


"Aku tidak begitu yakin."


"Aku akan mencoba mencari lokasi keberadaan, Serra."


Disini, Reno lalu mengeluarkan ponselnya.


Lalu membuka sebuah Aplikasi, dan disana ada titik merah tertentu.


Revan melihat sesuatu yang dipegang Reno.


"Astaga, ini GPS?"


"Aku memasangnya pada, Serra, untuk memastikan dia tidak bisa lepas dari pandanganku,"


"Astaga, kamu sungguh posesif,"


"Tapi ini akhirnya berguna bukan?"


"Itu benar, jadi apakah kamu mendapatkan petunjuk?"


"Ya, ini sepertinya ada di sebuah Villa di pegunungan,"


"Aku akan memanggil Alvin untuk mencari bantuan,"


"Itu benar, kita tidak tahu apa yang kita hadapi. Dan lagi, aku sudah sangat khawatir pada, Serra.... Sudah berapa hari dia menghilang.. Bagaimana keadaannya sekarang.."

__ADS_1


"Reno, kamu harus yakin kalau Serra baik-baik saja,"


"Semoga,"


####


Disini, dengan bantuan dari Alvin, Reno dan Revan bersama dengan beberapa anak buah mereka berhasil mengecoh orang-orang yang mengikuti mereka.


Dan disini, mereka sekarang menuju ke jalanan perbukitan yang cukup sepi.


"Apakah ini benar jalannya?" Tanya Revan dengan ragu ketika dia melihat kearah peta.


"Iya, ini jalan yang ditujukan oleh simbol di GPS,"


"Tapi bisa saja, dia sudah tidak disini, dimana kamu memasang GPS?"


"Ini dikalung yang aku berikan tidak lama setelah bertemu dengan Serra lagi. Harusnya dia selalu memakai kalung itu,"


"Bagaimana kalau para penculik melemaskannya?"


"Revan, kamu jangan menakut-nakutiku,"


"Aku hanya berbicara tentang fakta yang memungkinkan untuk terjadi,"


"Sudahlah kamu diam saja, fokus mengemudi,"


Dibelakang mereka berdua, ada beberapa mobil yang mengikuti.


Tentu saja, mereka berdua begitu realitis, tidak mungkin berencana menyergap kemungkinan penculikan hanya degan dua orang.


Mereka bahkan juga sudah meminta Alvin untuk menyiapkan back up jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Selama perjalan ini, Reno hanya merasa cemas memilikirkan bagaimana keadaan Serra.


Serra....


Maaf karena aku tidak menyadari kalau kamu diculik...


Aku harap kamu baik-baik saja...


####


Di Rumah Sakit, saat ini Kakek Reno bersama Veronica hendak melihat Reno yang baru saja sadar dari penyergapan sebelumnya, namun siapa yang tahu, kalau ketika mereka masuk ternyata tidak ada orang dalam ruangan itu.


"Ellie! Dimana sebenarnya, Reno?"


"Aku tidak tahu!! Aku barusan hanya pergi untuk mencari makanan, dan ketika aku kembali dia sudah pergi,"


"Kamu, kenapa kamu meninggalkan dia sendirian?"


Memikirkan kejadian itu, Kakek Reno merasa lelah, lalu hanya duduk didepan ruangan ditemani Veronica untuk menenangkan diri.


"Kakek, aku rasa aku tahu kemana, Reno pergi,"


"Kemana?"


"Ketempat gadis itu,"


Mendengar kata 'gadis itu,' jelas Kakek Reno tahu, siapa yang di maksud, itu adalah Putri Keluarga Wilson.


"Gadis itu!! Dia benar-benar berani bermain-main dengan cucuku!"


"Itu benar, Kakek. Aku pikir itu akan berbahaya untuk reputasi Reno, siapa yang tahu kalau dia hanya menfaatkan Reno untuk kepentingannya sendiri, aku dengar dia dadi Perusahaan Saingan,"


"Aku sudah curiga dengan gadis itu, dia kemungkinan yang berada dibalik sabotase Pembangunan Apartemen Mewah di Kota A,"


"Maksud Kakek?"


"Kamu masih ingat kecelakaan yang menimpamu? Aku sudah menyelidikinya, dan pelakunya kemungkinan besar memamg suruhan Keluarga Lee. Mereka memang terkenal licik dari jalan dulu,"


"Kalau begitu kenapa kita tidak membuat beberapa pelajaran pada gadis itu?"


Itu adalah saran jahat dari Veronica.


Gadis itu berpikir, jika dirinya tidak bisa mendapatkan Reno, makan gadis bernama Serra ini tidak akan bisa juga.


Dalam hati, gadis itu tertawa memikirkan beberapa rencana dalam kepalanya.


####


Hari itu, Serra masih terlihat lemas di tempat tidur tempat dia disekap.


Walaupun dia sudah tidak diikat lagi, dan hanya disekap dalam ruangan, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada jalan keluar dari sini.


Serra mulai ingat penawaran Mikael tempo hari, dan tentu saja, Serra menolak.


Jelas, dirinya yakin kalau Reno bisa menjaga dirinya sendiri, dia adalah Tuan Muda Keluarga Wilson, bahkan mungkin akan ada kesulitan untuk Mikael menyentuhnya dengan mudah.


Ini adalah hal yang bisa Serra harapkan.


Dirinya juga sedikit bertaruh soal ini.

__ADS_1


Namun ketika Serra masih berpikir, sebuah langkah masuk.


Itu adalah suara Mikael yang datang dan membuka pintu ruangan, membawa sebuah nampan berisi air minum.


"Ah? Sudah berapa lama kamu bertahan seperti itu, Ah? Aku Benar kehabisan kesabaran, bagaimana kalau kita sedikit bermain-main?"


"Mikael!! Kamu tidak akan selamat jika kamu berani bermain-main denganku?!"


"Owhh, aku takut!" Disini, Mikael lalu mulai mendekati Serra yang sudah terpojok di pojok ruangan itu, dia mulai memaksa Serra meminum sesuatu.


Itu adalah sebuah obat, yang memiliki efek tertentu.


"Ukhahahahah...." Disini, Serra tidak bisa melawan, karena dia begitu lepas.


"Obat apa yang kamu berikan?" Kata Serra mencoba mendorong Mikael.


"Coba tebak obat apa itu?"


Disini, wajah Serra menjadi tambah pucat, dia tidak akan pernah berpikir kalau Mikael akan menggunakan obat itu....


Disini, Mikael semakin mendekat kearah Serra.


"Lepaskan!!!"


Mikael mengendong paksa, Serra kearah tempat tidur lalu menindihnya disana.


Efek dari obat mulai beraksi, tubuh Serra menjadi lebih panas, dan kesadarannya sedikit memudar.


Disini, Mikael perlahan membuka kancing kemeja Serra.


"Lepaskan!!" Serra yang mencoba mendorong Mikael itu membuat baju yang dipakainya menjadi robek, dan memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya yang seharusnya tidak dilihat Mikael.


"Ah, kamu suka bermain kasar, Eh?"


Ketika Mikael tengah sibuk fokus pada Serra, dia tidak akan pernah mengira kalau pintu keruangan itu tiba-tiba didobrak secara paksa.


Wajah yang familiar terlihat, disana, Reno melihat keadaan Serra yang terlihat menyediakan dan berantakan disana, dari sini, Reno yang melihat Mikael disana hampir tahu apa yang orang itu akan lakukan pada Serra.


"Beraninya!!!"


Reno langsung memukul pipi Mikael.


Reno jelas begitu emosi, melihat gadis yang dicintainya diperlakukan seperti itu, setelah memberikan pukulan pada Mikael, Reno melepaskan jaketnya, dan memakainya pada Serra.


"Maaf aku terlambat,"


Mendengar suara Reno, air mata Serra tumpah.


"Reno...."


Reno berpikir, kalau dirinya tiba tepat waktu....


Atau tidak?


Sudah beberapa hari berlalu tapi....


Tidak....


Jangan memikirkan hal-hal yang buruk.


####


Di tempat lainnya, ini adalah Kantor PT Antlantis City, disana ada Sherry dan Kakeknya sedang mengobrol.


"Kakek, lihat, Serra benar-benar membuat malu nama Keluarga."


"Aku tidak menyangka dia akan berbuat seperti itu,"


"Iya, Kakek. Kakek harusnya tidak mudah percaya padanya, dia pada akhirnya hanya akan mengecewakanmu."


"Kamu benar, Serrly."


"Jadi, bagaimana kalau Kakek sekarang memberikan Perusahaan ini dan posisi CEO padaku?"


Mendengar itu, membuat Andrew Lee gemetar, dan ingat sesuatu.


"Sialan!! Gadis itu menipuku! Dia sudah memintaku tanda tangan pengalihan Perusahaan."


"Apa?? Serra melakukan itu?"


"Aku tidak mengira, gadis itu benar-benar kurang ajar."


Disini, Serrly merasa begitu marah.


Dia tidak mengira kalau pada akhirnya Rencananya gagal, Serra yang licik itu satu langkah lebih dulu darinya.


Baik, sekarang apa berikutnya?


Serra benar-benar hanya merusak pemandangan, apakah sebaiknya langsung melenyapkannya saja?


Ah....

__ADS_1


####


Bersambung


__ADS_2