
Flashback
Ini adalah Kisah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Kisah tentang seorang gadis kecil yang harus selalu patuh pada perintah orang tuanya padahal saat itu dia baru berumur sekitar 5 tahun.
Di salah satu ruangan satu rumah mewah tertentu terlihat gadis itu sedang dihadapkan dengan beberapa buku.
Di sana ada beberapa perhitungan, gadis kecil itu terlihat bingung ketika menatap angka-angka yang berada dalam buku.
Walaupun Ibunya menyuruhnya untuk belajar menghitung tapi dirinya masih tidak mengerti.
Ini sudah 1 jam sejak ibunya menyuruhnya mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya ini.
Namun bahkan gadis kecil itu belum bisa mengerjakan separuhnya karena dia tidak mengerti.
Sebenarnya dia sangat ingin bermain di luar, ketika tadi dia pulang dari sekolah dia melihat beberapa anak-anak di taman sedang bermain dengan teman-teman mereka.
Kejar-kejaran, bermain perosotan, bermain ayunan dan lainnya.
Dirinya ingin sekali sekali bisa bergabung dengan mereka, bermain dan tertawa bersama seperti itu.
Namun dirinya harus belajar dan mendengarkan Ibunya selalu melarangnya untuk bermain.
Ketika gadis kecil itu tengah berpikir tentang dunianya sendiri pintu ruangan itu terbuka.
Terlihat sesosok wanita dewasa yang kira-kira berumur kurang dari 30 tahun.
Wanita itu mendatangi gadis kecil di sana, lalu memeriksa lembaran kertas yang berada di tangan gadis itu.
Melihat sosok wanita itu si gadis kecil merasa gemetar dan takut.
"Serra!! Bukankah aku sudah mengajarimu? Apakah kamu tidak paham? Kenapa jawabanmu salah semua?"
Mendengar nada suara keras dari wanita itu, membuat gadis itu hanya bisa menunduk takut.
"Kamu tahu Kakak kamu bisa menyelesaikan soal ini dengan mudah bahkan hanya dalam waktu singkat ketika dia berumur lebih muda darimu! Dan bagaimana denganmu? Kamu bahkan aku beri waktu 1 jam kamu bahkan tidak bisa menyelesaikan separuhnya itupun salah! Kamu harus dihukum!"
Wanita itu menarik gadis itu dari kursinya lalu memberikan pukulan dengan sebuah lidi pada tangan gadis itu membuat gadis itu menahan rasa sakit.
Di sana meninggalkan beberapa bekas merah ditangan kecil itu.
Gadis kecil itu ingin menangis tapi di dunia tahu kalau dirinya tidak bisa menangis.
Hanya bisa mengangguk patuh dan meminta maaf pada wanita itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah ibunya sendiri.
Hari-hari seperti ini sudah biasa dialami oleh Serra kecil.
Walaupun dirinya ingin bermain dengan teman-temannya dirinya tidak bisa, walaupun dirinya ingin menangis tapi dirinya tidak bisa menangis, walaupun dirinya tidak ingin belajar tapi dirinya harus belajar, ya hanya harus patuh pada Ibunya walaupun dia tidak ingin.
Gratis kecil itu mencoba kuat untuk menghadapi hari ini.
Itu karena besok adalah hari ulang tahunnya.
Dirinya yakin besok di hari ulang tahunnya itu setidaknya gadis itu bisa mendapatkan salah satu keinginannya.
Dirinya selalu ingin pergi ke sebuah Taman Hiburan bersama orang tuanya dihari ulang tahunnya.
Tepat ketika gadis itu sedang dimarahi, pintu itu diketuk oleh seorang pelayan yang mengabari bahwa Ayah Serra telah pulang, dan kunjungan dari Kakek Serra.
Lalu wanita itu segera bersiap dan mengganti pakaian Serra untuk menutupi bekas memar yang ada di tangannya.
"Kamu harus ingat untuk tidak memberitahu siapapun soal ini!" Kata wanita itu dengan dingin.
"Kamu harus menunjukkan perilaku yang baik kepada Ayahmu juga pada Kakekmu. Jangan pernah membuatku malu, apakah kamu paham?"
Gadis itu hanya mengangguk setuju.
Lalu keduanya pergi ke ruang tamu, namun mereka terkejut karena di ruang tamu tidak hanya Ayah dan Kakek Serra, namun ada seorang anak lelaki kecil disana.
Serra ada dibelakang Ibunya, menatap penuh tanya pada anak lelaki kecil yang ada disana. Dia terlihat lebih tua dari Serra.
"Serra, kemarilah. Ini Kakakmu Johan," panggil Ayah Serra.
Menuruti perintah ayahnya Serra menuju kearah Ayahnya.
Lalu perlahan melihat kearah anak itu.
Jadi ini Kakaknya yang selalu semua orang bicarakan itu?
"Hallo, adik kecil. Aku Kakakmu Johan," kata anak itu sambil mengulurkan tangannya.
Serra awalnya sedikit ragu, ada sedikit rasa takut dan rasa benci dalam dirinya ada sosok anak kecil yang memanggil dirinya Kakaknya itu.
Namun, anak itu terlihat ramah.
Namun Serra yang jarang mendapatkan kasih sayang itu untuk pertama kalinya mengerti apa itu diperhatikan dan mendapatkan kasih sayang dari Kakaknya.
__ADS_1
Dihari pertamanya bertemu dengannya, Johan mengajak Serra untuk bermain.
Mereka pergi ke taman, lalu bermain ayunan disana.
Johan membelikan Serra permen kapas.
Itu adalah permen kapas pertama yang Serra makan. Itu sangat manis dan lembut.
Bahkan, Johan Kakaknya sempat membantunya mengobati luka ditangannya. Dan bertanya kepadanya, namun Serra hanya menjawab kalau itu jatuh.
Dimalam hari, Serra tidur bersama dengan Kakaknya itu.
"Aku senang bertemu denganmu Serra. Apa kamu tahu? Aku sangat menginginkan seorang adik. Sedikit sepi sendirian. Mulai sekarang kita akan selalu bersama oke?" Kata Johan kecil dengan senyumannya, yang membuat hati kecil Serra menjadi senang.
"Ya, aku akan selalu bersama, Kakak," Jawab yakin Serra.
"Owh iya bukankah bisa ulang tahunmu? Apa yang kamu inginkan Serra?"
"Ku ingin pergi ke Taman Hiburan bersama Ayah Ibu dan juga tentu saja dengan Kakak!"
"Tentu saja! Mari kita ketaman hiburan besok!"
Dua anak itu terlihat bersemangat dan untuk pertama kalinya Serra benar-benar tidur nyenyak malam ini, dan tidak sabar untuk menantikan hari esok.
*Dua sosok kecil meringkuk dalam tidurnya, saling berpelukan satu sama lain mencari kehangatan.
Sesuatu yang belum pernah Serra rasakan.
Ternyata begitu menyenangkan memiliki seorang Kakak*.
...####...
Keesokan harinya, ketika sarapan, Serra mulai mengajukan permintaannya untuk pergi ke Taman Hiburan kepada Ayahnya.
Namun baik Ayahnya maupun Ibunya terlihat tidak senang.
"Hari ini Ayah ada beberapa hal yang harus diurus. Bagaimana kalau lain kali saja?" Kata Ayah Serra.
"Itu benar, Serra. Bukankah kamu masih harus ikut kelas piano nanti?" Kata Ibu Serra.
"Tapi hari ini hari ulang tahunku aku ingin sekali pergi bersama kalian," kata Serra memohon.
Benar ini sudah sekian kalinya Serra mencoba untuk mengajak Ayah atau Ibunya untuk pergi ke Taman Hiburan.
Di sekolahnya teman-temannya selalu bercerita bagaimana orang tua mereka mengajak mereka pergi ke taman hiburan. Serra benar-benar merasa iri dan ingin bisa merasakan hal itu bersama orang tuanya.
Ketika Serra sedang murung tiba-tiba ada suara lain yang mendukungnya.
"Ayolah Ayah! Hari ini adalah hari Ulang Tahun adikku! Kita harus pergi ke Taman Hiburan untuk merayakannya! Dan melihat kembang api bersama disana nanti!"
Dan begitulah ketika Johan meminta, akhirnya Ayah Serra menyetujui ini.
Mereka bencana untuk pergi ke sana nanti siang.
Serra benar-benar sangat senang untuk ini.
Ini akan menjadi ulang tahun terindah dalam masa hidupnya.
Memiliki seorang kakak yang bisa diandalkan benar-benar hebat.
Kakaknya Johan sangat keren!!
Itulah bagaimana Kakak Beradik kecil ini mulai menjalin hubungan mereka.
Namun siapa yang tahu bahwa rencana kecil ini akan berakhir dengan sebuah tragedi.
Awalnya ketika mereka sampai di Taman Hiburan, dua anak kecil itu terlihat heboh.
Terutama Serra, dia akan mengandeng Johan untuk menemaninya keberbagai wahana dengan semangat.
Dia juga akan menggandeng Kakaknya itu untuk membeli beberapa makanan ringan yang ada di sana.
Dari permen kapas, Lollipop, Es Krim dan lainnya.
Ketika melewati sebuah danau yang ada di Taman Hiburan itu Serra terlihat bersemangat dan mulai mengajak kakaknya untuk naik salah satu kapal yang ada disana.
Gadis kecil yang begitu bersemangat untuk naik kapal untuk pertama kalinya itu, tidak terlalu memperhatikan jalan, hingga dia hampir saja terjatuh kedalam danau, benar dia diselamatkan oleh Johan tepat waktu, namun Johan yang jatuh dalam danau.
Dan begitulah mimpi indahnya yang begitu singkat itu hancur.
Serra kena marah oleh orang tuanya, bahkan Kakeknya, dan dihukum dengan buruk oleh ibunya, juga di kurung selama beberapa hari dikamarnya.
Itu adalah harga dari bermimpi dan memiliki keinginan.
Semua orang terlihat sangat menyayangi Johan, Kakaknya namun tidak dengan dirinya.
Dirinya dan Johan berbeda.
__ADS_1
Dirinya benar-benar benci pada Kakaknya yang mendapatkan semua perhatian itu.
Begitu menyebalkan!!
Ketika Serra kecil dikurung dikamarnya, Johan yang ahirnya sadar dari sakitnya datang menemuinya.
Ketika itu perasaan campur aduk dalam hati Serra.
"Serra? Apa kamu tidak apa-apa? Apa kamu terluka?"
Namun ketika dia mendengar suara Johan saat itu hatinya sekali lagi lembut.
Sejak kejadian itu, di Danau itu, sebenarnya dirinya juga terluka lecet karena jatuh, namun tidak ada orang yang bertanya padanya semua orang sibuk menyalakannya.
Tapi mendengar Kakaknya bertanya tentang keadaannya membuat hati Serra merasa tersentuh.
Ah.....
Dirinya tidak bisa membenci Kakaknya Johan.
"Maafkan aku, Serra.... Gara-gara aku, kamu sampai dihukum seperti ini..." Kata Johan kecil sambil menagis.
"Aku tidak apa-apa, Kakak. Ini bukan salah, Kakak. Mereka memang selalu seperti itu."
Namun sejak saat itu, Serra mulai menutup hatinya untuk apapun, dan mulai tidak memiliki keinginan apapun.
Dirinya juga merasa bersalah karena inside itu, ada harga yang harus dibayar karena memiliki sebuah keinginan.
Dan itu sangat mahal, sejak saat itu Kakaknya Johan memiliki masalah dengan paru-parunya, dan Kakaknya harus mengalami hal-hal sulit karena itu.
Jadi, setelahnya Serra mulai menahan dirinya dan tidak mencoba menginginkan apapun lagi.
Flashback End
...####...
Kembali kemasa kini, disana Johan mengigat kejadian itu.
Serra juga harus dihukum karena dirinya setelah itu.
Dan sejak saat itu, dirinya jarang melihat senyum Serra lagi.
Seakan-akan Serra kecil yang dikenalnya pada hari sebelumnya yang begitu penuh ekpersi dan riang telah hilang.
Hubungan mereka tidak begitu buruk namun juga tidak begitu baik.
Namun dirinya sangat menyayangi Serra.
"Aku tahu, hal-hal akan menjadi seperti ini," kata Serra kemudian.
"Jika kamu tahu, kenapa kamu melakukannya? Dan kenapa harus dengan anak Keluarga Wilson itu?"
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu. Cinta begitu aneh dan sangat acak."
"Apakah kamu begitu menyukainya, Serra?"
"Ya."
"Apakah kamu percaya jika dia bisa membawamu pergi dari Keluarga terkutuk ini?"
"Ya, aku selalu percaya padanya,"
Mendengar kata-kata tulus dan yakin dari adiknya itu, membuat Johan menghela nafas.
Dirinya sendiri tidak bisa membebaskan Serra dari jeratan Keluarga ini.
Dirinya juga ingin untuk melihat adiknya satu-satunya ini tersenyum dengan bebas.
"Jika kamu percaya, maka aku akan percaya padamu. Mari lihat dan tunggu." Kata Johan lagi, sambil memeluk Serra.
Walaupun itu masih tidak bisa menerima orang itu, dan tidak bisa memaafkannya, namun ini demi Adiknya.
Serra hanya menunduk, dan membalas pelukan Kakaknya itu.
Jalan masih panjang, dan terjang, namun itu bukan alasan untuk menyerah.
Walaupun awalnya Serra juga takut, takut mencoba dekat dengan Reno.
Tapi bahkan walaupun harga dari sebuah keinginan begitu mahal...
Dirinya masih ingin berharap....
Dan dirinya percaya pada Reno.
__ADS_1