Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 29: Sebagai Ketua Kelas


__ADS_3


Flashback


Ini adalah hari yang lainnya, setelah Ujian Tengah Semester berakhir.


Serra ditahun pertamanya ini, kebetulan mendapatkan hasil rangking yang kurang memuaskan.


Menangapi hal itu, dia bersama beberapa temannya di OSIS berniat belajar bersama di perpustakaan.


Saat mereka berjalan kepustakaan, disudut lorong dekat tanga, ada sebuah perkelahian.


Bukan, itu bukan perkelahian.


Namun lebih ke tindakan pengeroyokan.


Ada beberapa siswa memukuli salah satu siswa disana, dan siswa yang dipukuli adalah seseorang yang cukup Serra kenal, dia adalah Farrel.


Orang yang memukulinya adalah kelompok Reno.


Ini sudah beberapa minggu sejak Farrel secara paksa dikeluarkan dari OSIS.


Ya begitulah perlakuan khusus yang didapatkan Farrel karena 'melanggar' pemahaman diam-diam di OSIS, yaitu berurusan dengan Reno Wilson.


Ini adalah perintah guru, jadi sebagai siswa, bahkan walaupun beberapa anggota OSIS tidak setuju, mereka tetap mengeluarkan Farrel.


Dua gadis yang berada disamping Serra terlihat cemas dan panik.


"Serra, mari pergi dari sini," bujuk gadis itu.


"Tapi, itu disana...." Kata Serra menatap kearah Farrel, namun disana juga ada Reno.


Serra paham, bahkan beberapa orang ingin melampiaskan rasa marah mereka.


Dan Serra sendiri tahu, kalau yang Reno lakukan salah.


Namun apa?


Serra tidak memiliki hak untuk bisa memberikan nasihat atau membujuknya.


Ya, karena mereka bukan siapa-siapa.


Reno juga memiliki masa-masa sulitnya sendiri, dirinya yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya tidak berhak ikut campur ataupun terlihat.


Namun.....


Kalau dipikir ini sudah keterlaluan....


Tapi....


Ketika Serra masih binggung dengan pikirannya sendiri, Reno dan rombongannya sudah akan pergi meninggalkan Farrel disana.


Kebetulan, rombongan itu melewati rombongan Serra disana.


Salah satu siswa terlihat berbisik pada Reno, sambil menatap kearah Serra.

__ADS_1


Perlahan Reno mendekat, lalu berkata,


"Ah... Kalian anggota OSIS bukan? Teman-teman orang itu bukan? Apakah sekarang kalian berniat membelanya, Heh?" Kata Reno dengan nada dinginnya.


Gadis disamping Serra terlihat ketakutan dan gemetar.


Gadis lainnya disamping kanan Serra memberanikan diri berkata,


"Dia bukan teman kami," lalu mencari persetujuan dari Serra dan gadis disebelahnya.


Gadis itu menggangguk takut, namun Serra hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa.


Melihat gadis-gadis membosankan dihadapannya, Reno segera pergi bersama rombongannya.


Setelah Reno dan rombongannya pergi, gadis-gadis disamping Serra berniat pergi juga namun, Serra menyuruh mereka duluan, dia bilang hendak kekamar mandi.


Namun setelah dua gadis itu pergi, Serra menuju kearah Farrel dan menolongnya, membawanya ke UKS.


"Farrel? Apa kamu tidak apa-apa? Bagaimana kalau kamu minta maaf saja, kamu tahu hal-hal seperti ini hanya akan membuatmu terlihat lebih banyak masalah,"


"Minta maaf kamu bilang? Kamu pikir aku sudi? Lihat kelakukan Kekanak-kanakannya itu!! Benar-benar menyebalkan! Jadi kamu juga bahkan takut padanya bukan?" Kata Farrel dengan nada marah.


"Aku tidak pernah takut padanya. Kamu pikir aku siapa?"


Mengingat tentang latar belakang gadis itu, Farrel tiba-tiba terdiam, lalu mulai berkata.


"Ini bukan apa-apa. Aku bisa menahannya ini hanya sampai orang itu bosan bukan? Kamu tidak perlu terlibat."


"Tapi, Farrel bukankah ada jalan yang lebih gampang?"


"Wow, Farrel kamu terlihat hebat bukan? Apakah jangan-janhan gadis tempo hari adalah orang yah kamu suka?"


"Jangan bicara omong kosong."


Serra hanya tertawa ringan mendengar jawaban dingin Farrel.


"Apa kamu tahu? Reno sebenarnya tidak seperti itu, dia itu seperti seorang Tuan Putri Manis yang di manjakan, namun saat ini ada dalam fase pemberontakan." Katanya ringan, sambil menatap kearah luar jendela dimana Reno dan rombongannya lewat.


Tatapan mata Serra terlihat jelas dimata Farrel.


"Serra... Kamu...."


Sekali lagi itu adalah papasan ringan antara keduanya.


Dan mereka masih ada dikubu yang berbeda.


...####...


Bulan-bulan cepat berlalu, dan hampir Ujian Semester.


Namun hal-hal buruk terjadi tepat sebelum Ujian Semester hampir dimulai beberapa minggu lagi.


Ada sebuah berita jika ada salah satu siswa dikabarkan melakukan percobaan bunuh diri.


Hal itu membuat banyak orang merasakan trauma cukup dalam terutama siswa-siswi teman sekelas siswa itu, juga anggota OSIS yang seharusnya teman-teman siswa itu.

__ADS_1


Berita itu cukup menghebohkan tidak hanya diseluruh sekolah, namun juga diberitakan di Media Massa.


Dan ini membuat Keluarga Wilson malu, membuat Reno Wilso menjadi tahanan dirumahnya dan tidak diizinkan keluar rumah dulu sementara.


Saat hari kejadian adalah terakhir kalinya Serra bertemu dengan Reno pada semester itu.


Pada hari itu, seluruh sekolah langsung heboh dan ketakutan.


Termasuk Serra, ketika dia tiba di tempat kejadian, hanya ada darah Farrel yang tersisa dilantai, seperti Farrel tengah dibawa oleh ambulan. Lalu siswa dan siswi disana langsung dibubarkan oleh petugas sekolah.


Tempat kejadian yang awalnya ramai, sekarang sudah sepi, hanya ada seorang pemuda tertentu yang berdiri dalam diam disana, namun tidak ada yang berani mendekatinya, jadi bahkan petugas keamananpun meninggalkannya setelah mencoba memberikan beberapa arahan.


Walaupun dari sudut mata orang luar, tatapan pemuda itu terlihat dingin, namun bagi Serra tidak seperti itu.


Itu tatapan frustasi, penyesalan dan rasa bersalah.


Serra perlahan berjalan mendekati Reno yang ada disana.


Dari samping, perlahan Serra bisa melihat air mata mulai turun, namun melihat itu, Serra tidak berani mendekat.


Serra sedikit mengerti perasaan Reno saat ini, karena dirinya juga merasa bersalah.


Merasa bersalah karena walaupun dirinya tahu semua awal mula kejadian ini, tahu dirinya sebenarnya bisa mencoba menghentikan semua hal ini, namun dirinya tidak melakukan apapun dan hanya menonton dari jauh seolah-olah tidak terlibat.


Walaupun dirinya sangat mencintai Reno, namun tidak mencoba mencegah Reno untuk jatuh dalam lubang ini.


Namun saat ini sekali lagi, ada jarak antara mereka yang tidak bisa ditembus.


Ini bukan tempat dirinya bisa menghibur Reno seperti ini. Dirinya tidak bisa memeluk dan menghibur Reno, dan bilang agar tidak sedih lagi. Bahkan walaupun dirinya ingin melakukan itu.


Ketika Serra berpikir, hujan tiba-tiba turun.


Serra mengeluarkan payung dari dalam tasnya.


Sekali lagi berniat memberikan payung itu pada Reno, namun dirinya tidak memiliki keberanian.


Ini bukan tempatnya......


Dan begitulah, Serra pergi dari sana seperti orang-orang lainnya.


Namun selama libur semester ini, Serra sudah banyak berpikir.


Berpikir matang-matang tentang hal-hal yang harus dirinya lakukan nanti.


Jika saat ini dirinya masih memiliki jalan yang berbeda dan jarak yang begitu jauh dengan Reno, mari buat itu sedikit lebih dekat, sedikit demi sedikit.


Jadi ketika beberapa hari semester baru dimulai, dan tahu Reno satu kelas dengannya, Serra akan mulai menyapa Reno.


Membangunkan Sang Pangeran tidur dari tidurnya.


Namun dirinya bukanlah Tuan Putri atau Cinderella, hanya seorang Ketua Kelas biasa dari suatu kelas.


"Ini catatan dan tugas saat kamu bolos, kamu bisa menyalinnya, kalau tidak kamu bisa juga mengfotokopinya," kata Serra sebagai seorang Ketua Kelas.


__ADS_1



__ADS_2