
Hari itu, Johan yang baru saja kembali kekamar Serra, melihat adiknya di lantai dengan darah yang keluar dari perutnya.
Gadis itu terlihat sudah tidak sadarkan diri...
Disini, Johan menjatuhkan makanan yang dipegangnya.
"Serra.... Kamu... Kamu kenapa!"
"Perawat!! Perawat segera datang!!"
Disini, Johan cemas lalu memencet tombol darurat disana.
Disana dia hendak mengangkat Serra, namun tidak berani menyentuh gadis itu, karena takut jika dirinya salah langkah, bukannya tertolong, namun kondisi gadis itu semakin buruk.
Tidak lama kemudian, beberapa perawatan datang kesana.
"Ah? Apa yang terjadi?"
"Aku... Aku juga tidak tahu.... Tolong adikku..." Kata Johan dengan cemas.
Ini baru beberapa menit dirinya keluar....
Kenapa bisa hal-hal seperti ini terjadi?
Apakah Serra mencoba mencelakakan dirinya sendiri?
Gadis ini memang sejak kecil cenderung memiliki kecenderungan seperti ini ketika dia dalam posisi yang sulit.....
Tidak....
Serra tadi berjanji pada dirinya kalau Serra tidak akan macam-macam.
Atau....
Jangan bilang ada seseorang yang mencoba mencelakakan nya??
Kecelakaan ini, setelah di selidiki memang ulah dari salah satu Anak Buah Keluarganya.
Dirinya sebagai calon Pewaris Keluarga Lee, tentu saja tahu seluk beluk Keluarga ini, dan tentu saja tahu organisasi tertentu yang mendukung Keluarga Lee dari balik layar.
Disini, dirinya benar-benar tidak suka dengan cara Kakeknya dan hal-hal yang Keluarga Lee selalu lakukan.
Ketika dirinya mendapatkan hak waris, dirinya sudah bersumpah akan menghilangkan hal-hal yang tidak perlu dalam Keluarga ini....
Termasuk dukungan gelap...
Ini juga sebuah rencana yang sudah lama dirinya siapkan...
Tidak mengira kalau itu akan dirinya lakukan secepat ini....
Jika ini perbuatan Serrly, dirinya tetap tidak akan memaafkan bahkan jika itu adalah Kakeknya...
Susunan Keluarga ini memang sudah buruk, itu juga alasan kenapa dirinya ketika masih kecil, Nenek dan Kakek dari pihak Ibunya mengasuh dirinya.
Melihat Serra saat ini terbaring ditempat tidur, Johan mulai bertekat dengan semua rencananya.
####
Butuh satu hari sampai Serra kembali sadar.
Ketika dirinya sadar, hal pertama yang dia lihat adalah, Kakaknya bersama dengan Farrel yang saat ini duduk di kursi roda.
Owh, iya dirinya dengar berkat Ulah Mikael itu, Farrel mengalami beberapa kecelakaan.
"Kamu sudah bangun, Serra? Jadi sebenarnya apa yang terjadi?" Johan bertanya dengan panik.
"Sebelumnya ada Veronica yang bertengkar dengan ku, hingga aku jatuh..." Kata Serra.
"Veronica? Siapa Veronica ini?"
"Ini, seseorang yang dijodohkan oleh Kakek, Reno. Apakah Kakak ingat seorang gadis yang tempo hari membuat masalah di Ruangan Reno?"
Johan mencoba mengali ingatannya, mencoba mencari tahu.
"Ah, benar!! Berani sekali dia!!" Guma Johan dengan marah.
"Aku juga tidak mengerti, dia sangat menyebalkan."
"Kamu tenang saja, Serra. Sekarang aku sudah memasang bodyguard didepan, dan tidak akan ada lagi yang bisa membuat masalah denganmu,"
"Aku pikir Kakak terlalu berlebihan,"
"Ini tidak berlebihan,"
"Baiklah, terserah Kakak..."
Lalu disini, Farrel yang dari tadi diam, lalu mulai berkata,
"Kamu sudah cukup baik Serra?"
Tatapan Serra menatap Farrel disana, tidak tahu harus berkata apa.
"Ya, aku sudah cukup baik-baik saja sekarang. Aku dengar dari Kakak kamu sempat kecelakaan?"
"Ya, dan ini berkat Mikael sialan itu... Aku dengar dia bahkan sempat menculikmu... Bukankah aku sudah bilang? Jangan bermain-main dengan dia, Mikael memang seperti itu."
"Aku tidak tahu kalau dia bisa berbuat nekat."
"Dia memang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapat hal yang dia mau bahkan..."
Disini, Farrel mengingat kenangan buruk, dimana tangannya dibuat celaka oleh Mikael, membuat dirinya tidak lagi bisa memainkan Piano yang sangat dirinya sukai.
Disini, Johan lalu menepuk pundak Farrel.
"Kalian tenang saja, aku akan memberi pelajaran dengan Si Bareng Mikael itu. Dia berani sekali melakukan hal-hal ini pada kalian!" Kata Johan penuh emosi.
"Untuk beberapa alasan, kadang Kak Johan bisa diandalkan bukan? Kakak memiliki banyak kekuasaan dan kekuatan," kata Serra lagi dengan tanpa emosi disana.
__ADS_1
Johan kemudian terdiam mendengar komentar dari adiknya itu, tidak tahu harus berkata apa.
Disini, ketika ada keheningan, pintu diketuk oleh bodyguard.
"Ada apa?" Tanpa Johan.
"Begini Tuan Muda, diluar ada orang yang ingin menjenguk Nona Serra. Apakah boleh?"
Disini, Serra penasaran lalu bertanya,
"Siapa?"
"Mereka bilang ini teman sekelas Nona Serra dulu, ini beberapa orang salah satunya mengaku bernama Merry dan Alvin."
"Ah? Apakah mereka? Silahkan, biarkan mereka masuk."
Lalu sesuai perintah, Bodyguard itu keluar dan menyusun orang-orang diluar masuk.
Disini, begitu masuk, Revan langsung berkomentar,,
"Ya ampun, disini ada bodyguard juga? Aku melihat di Kamar Reno barusan juga ada beberapa Bodyguard bahkan disini juga? Owh astaga, masalah macam apa yang kalian buat?" Kata Revan sambil membuat lelucon.
Namun melihat ada Kakak Serra disana, dan suasana disana tegang, dia langsung menutup mulutnya.
Seorang gadis disampingnya lalu memukul kepala Revan.
"Kamu jangan banyak omong,"
Itu adalah Nana.
"Nana, semakin kesini kenapa kamu jadi begitu kejam padaku? Lihat itu Ketua Kelas! Nana baru saja mengertakku!"
Disini, Serra lalu berkomentar,
"Kamu benar-benar tidak berubah Revan," sambil sedikit tertawa.
"Dia memang selalu seperti ini sejak kecil, aku selalu merasa ada beberapa ons yang kurang di otaknya,"
Ini adalah komentar kejam lainnya dari Alvin.
"Ya ampun, Alvin setelah kamu menikah sekarag kamu juga mulai mengertakku... Kamu begitu jahat Ah~"
Melihat beberapa teman lama ini membuat Serra sedikit terhibur.
"Ah, kurasa kami sebaiknya pergi, kalian mengobrol saja dulu," kata Johan dengan tenang sambil mendorong kursi roda Farrel.
Disini, lalu Revan menatap orang di Kursi Rodanya menjadi panik seperti melihat hantu.
"Ah... Hantu!!" Kata Ravan panik sambil bersembunyi dibelakang Nana.
"Kamu apa-apaan sih, Revan!" Kata Nana dengan risih.
"Tapi... Lihat wajah itu bukanlah itu Farrel? Ini benar-benar Farrel?"
"Bukankah Reno sudah bercerita soal ini? Juga apakah kamu tidak pernah membaca berita atau menonton televisi?" Komentar Alvin.
"Sudahlah, Alvin jangan terlalu memanjakan Revan, dia menjadi kekurangan beberapa ons karena kamu selalu memanjakannya sejak kecil." Itu adalah komentar Merry yang dari tadi berdiri disana.
Disini, lalu Alvin mulai berkata,
"Farrel, selagi kita bertemu, aku juga Ravan dan Reno meminta minta maaf atas hal-hal dimasalalu."
"Itu sudah dimasalalu. Hal-hal sudah lewat, tidak perlu terlalu memikirkannya,"
Dan dengan itu, Farrel dan Johan keluar dari sana, membiarkan teman-teman Serra mengobrol disana.
"Ketua Kelas apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Merry cemas.
"Aku sudah bukan Ketua Kelas kalian lagi? Oke? Kenapa tidak mulai memanggil namaku? Aku selalu bertanya-tanya kenapa semua orang tidak pernah memanggil namaku selama ini."
"Ah itu. Memang semua orang memanggil mu begitu bukan? Kami selalu berpikir kalau yang boleh menyebut namamu hanyalah orang khusus untuk Ketua Kelas, seseorang seperti Reno, kami tidak berani menyebut nama mu, ini adalah hal yang tabu... Kami tidak berani... Apalagi kamu tahu bukan? Reno itu sangat cemburuan!" Kata Revan panjang lebar.
Disini, Serra tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata,
"Ada hal-hal seperti itu?"
"Tentu saja ada!" Kata Merry menambahkan.
Mereka lalu mulai tertawa bersama, rasanya sangat menyenangkan untuk mengigat masa lalu.
Ada hari-hari yang indah dimasa lalu...
Ada saat juga dimana, Reno hanya memanggilnya Ketua Kelas, tidak dengan namanya.
Seolah-olah dirinya ingin kembali kemasa-masa itu.
Membangunkan Reno dan memberinya tugas ketika di Kelas..
Diam-diam memberinya minuman dingin, ketika cuaca panas...
Kencan diam-diam setelah Ujian Berakhir...
Sebuah kesalahpahaman lucu dengan semua orang...
Belajar Kelompok dengan Kelompok Dewa Belajar dan mengajari Reno...
Sebuah janji kecil yang dirinya dan Reno buat di Perpustakaan diam-diam...
Walaupun masih memikirkan soal Ujian Kelulusan saat itu, namun itu adalah hal paling indah dalam hidupnya.
Namun sepertinya semua waktu berjalan dengan cepat....
Hal-hal berlalu dengan cepat dan saat ini mereka telah dewasa, harus menghadapi rumitnya urusan orang dewasa.
Dan saat ini hubungan dirinya dan Reno telah berakhir....
Semua terasa tidak nyata...
__ADS_1
Setelah mereka bercakap-cakap itu, lalu Merry tiba-tiba ingin meminta untuk bicara dengan Serra berdua saja.
Dan sesuai permintaannya, mereka semua lalu pergi, meninggalkan Merry dan Serra sendirian disana.
"Ada apa, Merry? Apa yang ingin kamu katakan?"
"Aku sudah mendengar hal-hal soal hubungan mu dan Reno.... Kalau kamu meminta putus dengannya..."
Mengingat itu, wajah tersenyum Serra lalu berubah menjadi suram.
"Aku... Aku harus melakukannya.. aku hanya bisa menjadi beban untuk Reno..."
"Aku juga sudah dengar soal Operasi itu. Ini pasti sulit bukan?"
"Ya, sekarang aku sudah bukan lagi wanita yang sempurna untuk Reno..."
"Serra... Aku tahu perasaan mu, sebagai sesama seorang wanita, untuk menjadi seseorang yang tidak lagi sempurna sebagai seorang wanita. Ini akan menjadi hal yang sulit, namun lihat aku? Kamu tahu, Alvin mau menerimaku yang seperti ini, bahkan setelah tahu kalau mungkin saja penyakitku kambuh di masa depan... Dia masih mau menerimaku yang seperti ini...."
Serra menatap Merry didepannya,
"Namun Serra, kesulitan ini tidak membuat aku memutuskan untuk tidak bahagia. Aku memutuskan untuk bahagia, bahkan walaupun mungkin aku tidak akan memiliki anak dengannya juga karena kondisi ku dan mungkin aku tidak akan memiliki umur yang panjang... Aku masih ingin bersama Alvin, aku tahu ini egois, namun aku masih ingin tetap bersamanya, itu karena aku mencintainya."
Merry mulai sedikit menagis ketika mengatakan ini.
"Ini hal yang simpel bukan? Apakah kamu masih menyukai Reno apa tidak? Kalau kamu masih menyukai dia, jangan menyerah. Aku tahu kalau Reno masih sangat menyukaimu. Jadi kejarlah kebahagiaan mu sendiri, Serra. Tidak masalah untuk sedikit keras kepala dan egois." Kata gadis itu sambil tersenyum, lalu memeluk Serra yang sedang menagis itu.
"Ini begitu sulit...."
"Aku, tahu. Tapi Ketua Kelas yang aku tahu, dia adalah seseorang yang kuat, seseorang yang hebat dan begitu keren! Aku yakin kamu bisa mengatasinya."
"Terimakasih, Merry."
"Tidak masalah sama sekali, ini adalah perkataan seseorang yang sudah ditolak Reno. Kamu mengerti? Aku adalah seorang Gadis egois yang mengejarnya, tanpa pusing, namun kemudian aku menemukan Pangeran ku sendiri, itu bukan dia,"
"Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian,"
Kata-kata itu begitu lembut dan hangat, kata-kata seorang teman yang menyentuh hati Serra.
Ini adalah kedua kalinya dirinya mendengar nasihat dari Merry.
Dari seorang gadis yang dulu mengejar Reno tanpa ampun, namun akhirnya ditolak.
Jika ditanya, apakah dirinya masih menyukai Reno...
Jawabannya sudah pasti...
Dirinya masih sangat menyukai Reno...
Masih sangat mencintai pemuda ini...
Ini adalah cinta tanpa akhir...
Jadi apakah tidak masalah kalau dirinya sedikit egois?
Ingin membawa Reno dalam kolam yang dalam dan berlumur ini?
Apakah tidak masalah membawa Reno ke Jurang ini?
####
Tidak lama, sampai siang hari setelah mengobrol dengan Merry, dan yang lainnya kembali masuk, mereka lalu mulai berpamitan untuk pulang.
Disini, Serra masih memikirkan kata-kata Merry soal hubungan dirinya dan Reno...
Namun ketika Serra masih sibuk berpikir, seseorang sekali lagi masuk kedalam kamar nya.
Ini adalah Farrel, kali ini dia sendirian.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Ya? Tentang?"
"Aku minta maaf sebelumnya, karena salah paham ini dan juga soal malam itu. Aku tidak melakukan apapun padamu, aku bersyukur soal hal ini. Maaf telah membuat kamu dalam masalah, coba saja tidak ada aku..."
"Ini bukan salahmu, ada seseorang yang memang ingin menjebak ku."
"Dan juga soal malam itu, soal pengakuan ku... Apakah benar-benar tidak ada kesempatan?"
"Aku minta maaf, Farrel. Aku memiliki seseorang dalam hatiku. Sebaiknya kamu melupakanku dan mencari orang lain, aku yakin kamu akan segera menemukannya."
Disini, Farrel hanya bisa tersenyum redup.
"Apakah ini Reno?"
Serra lalu mengaguk ringan.
Farrel yang mengerti itu, lalu dia pergi dari ruangan itu. Walaupun perasaannya hancur, namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena cinta tidak bisa dipaksakan.
Saat dia membuka pintu ternyata ada seseorang disana.
Dua orang yang sama-sama dalam kursi roda itu saling menatap.
Farrel lalu mengaguk ringan untuk menyapa, dan pergi meninggalkan dua orang itu didalam ruangan.
Saat ini Serra menatap Reno yang memasuki ruangan.
Tatapan mereka bertamu....
Bersama semua emosi yang masing-masing miliki...
####
Bersambung
####
__ADS_1
Ketika menulis ini, aku tiba-tiba juga jadi ingat kenangan tulisan pas Serra dan Reno masih SMA, kisah-kisah lucu dan manis, 😆
Apakah ada yang berpikir begitu juga?