
Masih di hari yang sama, terlihat di sebuah ruangan tertentu, suasana didalamnya cukup mencengkeram.
Alasannya sudah jelas, orang-orang yang berada didalam persaingan satu sama lainnya.
Masing-masing, saat ini masih saling tatap dalam diam, seolah-olah sedang mengamati lawannya.
Disini tempatnya baru ada tiga kubu.
Sepertinya, Kubu terakhir belum muncul.
"Perwakilan dari Imperial City belum datang?" Tanya seorang perwakilan dari Perusahaan A, yang bertanggungjawab atas pelelangan proyek hari ini.
"Sepertinya belum, ini masih lima menit sebelum pertemuan resmi dibuka." Kata seseorang yang duduk disampingnya.
Disini, Reno duduk berhadapan dengan Serra kemudian disampingnya ada Sekertarisnya yaitu Merlin.
Merlin adalah seorang gadis yang sangat cakap dan efisien, selalu bisa mengatasi berbagai situasi rumit ataupun situasi tegang.
Merlin sudah menjadi Sekertaris Reno sejak tiga tahun yang lalu. Kebetulan mereka juga teman sekelas saat masih di Universitas.
Disini ini, Mikael yang ada diseberang Reno juga menatap kearah mereka berdua.
Dia sangat gemas ketika melihat Reno dan Merlin bersama, mengigatkannya akan masa-masa suram di Universitas, bagaimana dirinya kalah dalam pemilihan Perwakilan Mahasiswa, sampai dalam rapat BEM pun banyak perselisihan dikubu mereka.
Dan sekarang, masih harus menatap muka Reno Wilson.
Seolah-olah, dimana-mana dirinya selalu bertemu dengan orang itu kemanapun dirinya pergi.
Benar-benar menyebalkan hanya memikirkan Reno Wilson.
Lalu kemudian, disampingnya ada Kakak Tirinya Farrel yang sepertinya berkerja untuk Serra.
Serra si gadis aneh yang dijodohkan dengannya tempo hari.
Dirinya dan Serra masih belum bertemu lagi sejak hari itu.
Namun tidak mengira pertemuan berikutnya dengan gadis itu adalah untuk bersaing mendapatkan sebuah proyek.
Dan tentu dirinya harus menang dan mendapatkan proyek ini.
Alasannya?
Sungguh simpel, untuk membuat Reno malu bukan?
Tentu, kalau dirinya menang akan bisa menyampaikan beberapa kata lelucon untuk mengolok-olok Reno Wilson, dan ini menjadi kesempatan yang cukup baik.
Bahkan kalaupun dirinya kalah, kalau seandainya Serra menang, dirinya masih bisa membual kalau Serra calon tunangannya didepan Reno bukan?
Ya, semua rencana harusnya berjalan dengan baik-baik saja.
Benar-benar sempurna ketika memikirkan ini.
Ah, sebenarnya banyak kata yang ingin dirinya katakan.
Coba lihat tatapan Reno disana yang menatapnya dengan tajam.
Terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.
Jelas, itu karena sudah ada Klien dari Perwakilan Perusahaan A, mana bisa bercakap-cakap dengan santai disaat-saat seperti ini?
Deg
Tatapannya tiba-tiba bertemu dengan Serra yang kebetulan menatap kearahnya.
Kalau dilihat, gadis ini walaupun cukup dingin namun dia cukup manis juga.
__ADS_1
Ketika orang-orang ini masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, pintu arah ruangan itupun terbuka.
Disana terlihat seorang perempuan yang cukup cantik dengan penampilan yang terlihat menarik mata.
Disana dia mulai menyapa perwakilan Perusahaan A dan para peserta lainnya.
"Selamat pagi," katanya lalu duduk sambil tersenyum.
Disampingnya, terlihat seorang gadis muda yang membawa begitu banyak dokumen, penampilannya terlihat begitu gugup.
Apalagi melihat tatapan Atasannya yang seakan bisa membunuh hanya dari tatapannya itu.
Jelas sekali, alasan dirinya dan Atasannya itu terlambat karena dirinya yang lupa membawa beberapa bahan untuk presentasi ini.
Sungguh hari yang sial, dirinya sudah kena omel dari pagi.
Ketika gadis itu berpikir, dia yang terlihat ceroboh itu tidak segaja terpleset hingga membuat dokumen yang dibawanya jatuh termasuk dirinya sendiri menimpa pemuda sial yang duduk dikursi depannya itu.
"Ah.... Ma... Maafkan aku..." Kata gadis itu dengan canggung, sambil menatap pemuda yang tersenyum ramah padanya itu yang mencoba membantunya berdiri.
"Tidak masalah,"
Namun sialnya ketika gadis itu mau berdiri dia bahkan menggol minuman yang ada dimeja dan tumpah kecelana pemuda itu.
Dan sialnya, pemuda itu adalah Reno.
Sebisa mungkin, Reno tetap memasang senyumanya itu, walaupun dirinya sebenarnya kesal.
Lihat, Mikael yang disana yang terlihat sedang menahan tawanya itu!!
Kamu pikir ini lucu?
Kalau itu kamu, bukankah kamu akan mulai mengamuk dan membuat banyak keributan? Mengigat Mysophobia yang dimiliki Mikael itu.
Lihat, bahkan sepertinya Serra juga sedang menahan tawanya.
Malu iya, Kesal iya.
"Ahhh.... Sekali lagi... A... Aku minta maaf... Aku akan membersihkannya..."
Sebelum gadis didepannya membuat masalah lainnya, untungnya Merlin Sekertaris Reno sudah siap sedia dengan sebuah saputangan.
"Tidak perlu, Nona. Nona bisa langsung kembali duduk, dan biar saya saja yang mengurus ini." Kata Merlin sambil menyerahkan saputangan pada Reno.
Bagus Merlin!!
Kamu memang selalu bisa diandalkan disaat-saat sial seperti ini!!!
"Benar, tidak perlu membuat terlalu banyak keributan."
Lalu gadis sial itu langsung duduk disamping atasannya, yang menatap gadis itu dengan tatapan horor.
Ah....
Kenapa semua hal sial selalu terjadi padaku?
Gadis itu hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.
Padahal begitu banyak pria tampan di sini, namun dirinya hanya membuat malu saja.
Benar-benar suatu kekonyolan!!
Jadi begitulah acara rapat dan presentasi itu dimulai setelah peserta terakhir datang.
####
Beberapa jam telah berlalu, sejak dimulainya rapat ini.
Saat ini, pemimpin perusahaan A terlihat sedang membuat keputusan untuk proyek kali ini.
__ADS_1
Jadi dia menyuruh mereka semua untuk keluar do you dan mulai mendiskusikan nya dengan beberapa petinggi di perusahaannya di sini. Sebelum mengambil sebuah keputusan.
Saat ini beberapa tokoh pokok dalam acara ini, tengah menunggu di kursi duduk diruang rapat dengan tenang cukup lama disana.
Masih ada keheningan yang jelas setelah rapat selesai.
Kalau ada seseorang yang begitu khawatir, itu adalah Serra.
Alasannya jelas, ada beberapa masalah dalam pelaksanaan presentasinya, entah bagaimana itu semua terjadi.
Dan ini semua jelas membuat dirinya sangat cemas.
Kenapa bisa ada kesalahan seperti itu?
Padahal dirinya yakin sudah mempersiapkan ini dengan baik.
Kenapa semuanya menjadi berantakan?
Ditengah gadis itu berpikir, disana beberapa orang tengah sibuk bertengkar.
"Kamu lihat, Reno? Ini pasti aku yang akan mendapatkan Proyek ini." Kata Mikael dengan angkuhnya.
"Kamu tunggu dan lihat saja siapa yang menang jangan kebanyakan berbicara, Mikael." Kata Reno dengan ketus.
Serra yang melamun dari tadi, sadarkan oleh kedua suara itu.
Disini Farrel tidak mengatakan apapun karena tidak ingin membuat keributan.
"Kalian saling kenal?" Tanyanya pada mereka berdua.
"Benar," jawab Reno dan Mikael serentak.
Sekali lagi mereka berdua saling bertatap terlihat heran.
"Teman sekelas ketika ada di Universitas," kata Reno kemudian.
"Ah begitu,"
"Kalian terlihat saling mengenal juga?" Tanya Reno.
Serra disini binggung harus menjawab apa.
"Jadi kamu juga mengenal, Reno ini Serra?" Tanya Mikael.
"Begitulah. Teman sekelas ketika, SMA." Jawab Serra.
"Dan kalian?" Tanya Reno lagi.
Namun belum sempat Serra atau Mikael menjawabnya, Farrel sudah menjawab duluan.
"Mikael Lewis adalah Adikku, itulah bagaimana Serra dan dia saling kenal."
Mikael menatap Farrel dengan kesal dan marah.
Disini, Farrel paham posisi Serra tidak menguntungkan.
Akan sangat buruk jika Mikael mulai berbicara omong kosong soal, Serra yang merupakan calon tunangannya itu.
Sekarang dirinya sedikit paham, matahari itu dirinya bertemu dengan Mikael di Restoran itu.
Jelas itu semua karena orang itu adalah orangnya dijadohkan dengan Serra.
Namun sebelum mereka bisa bercakap-cakap lebih banyak, perwakilan dari Perusahaan A sudah keluar dan menyuruh mereka masuk.
Memasuki ruangan itu, tentu saja mereka semua cukup cemas tentang hasilnya.
Jadi siapa yang menang?
Di dalam, salah satu perwakilan itu mulai berbicara,
__ADS_1
"Untuk proyek kali ini, PT Wilson Center City yang memang. Saya memberikan ucapan Selamat Pada Tuan Reno Wilson sebagai perwakilan dari PT Wilson Center City. Senang kami akan kerjasama di project Pembagunan Apartemen Mewah di Kota A. Dan terima kasih atas partisipasi yang lainnya."