
Malam ini masih terasa gelap dan dingin, jika melihat kearah luar jendela, hujan terasa semakin deras.
Disalah satu lorong rumah tertentu, terlihat seorang gadis keluar dari kamar mandi, dia lalu kaget melihat ada seorang pemuda didepan pintu itu.
"Serra...."
"Apa kak?"
"Ke Rumah Sakit besok denganku."
"Ya, aku mengerti."
"Kamu tidak terlihat cemas, aku sungguh terkejut."
"Aku bukanlah orang yang ceroboh jadi tidak perlu khawatir."
Wajah Johan terlihat marah, lalu lanjut berkata,
"Serra!! Aku sudah bilang untuk tidak berhubungan dengan bajingan itu!! Dan bahkan kamu.... Kejadian saat kamu pulang pagi itu ketika aku baru saja tiba...."
"Apa?" Tanya Serra dengan tenang.
"Baik, lupakan aku tidak akan menanyakan sesuatu yang sudah pasti."
"Itu, Kakak mengerti bukan? Dan aku juga tidak akan mengulang-ulang apa yang aku inginkan!"
"Jangan begitu keras kepala! Kamu tahu bukan siapa dia? Selain kelakuannya yang dia bisa aku maafkan, dia dari Keluarga Wilson! Apa kamu tidak lihat betapa Kakek sangat membenci Keluarga Wilson?"
"Apa Kakak tahu? Aku masih muda baru berumur delapan belas tahun, dan Kakek sudah tua, aku akan hidup lebih lama dari pada Kakek. Kenapa musti mendengarkan apa yang akan orang itu Katakan?
Bahkan bukankah logis hanya menunggu Kakek meninggal?" Kata gadis itu dengan nada dingin.
"Hah, jadi itu rencana mu dari awal hah? Menunggu saat yang tepat? Bahkan setelah tahu siapa dia?"
"Ya, sejujurnya dari awal aku tidak berharap salah satu dari keluarga ini akan setuju. Tapi setidaknya aku hanya berharap, Kakak untuk setuju."
"Jangan harap!"
Percakapan itu terhenti, ketika Johan pergi kearah sebaliknya dari Serra, tidak ingin mendengarkan lagi apa yang akan Serra katakan.
...####...
Hari-hari sekali lagi terus berlanjut, ujian-ujian dan tryout terus berlanjut, bahkan murid-murid kelas tiga tidak sempat memikirkan hal lainnya, itu juga termasuk untuk Reno dan Serra.
Mereka terlihat masing-masing terus fokus dengan belajar dan meningkatkan nilai-nilai mereka.
Ya, mereka belum sempat lagi berbicara banyak satu sama lainnya, karena sibuk dengan urusan persiapan ujian, dan Reno sendiri tahu pasti betapa pentingnya saat-saat seperti ini, bahkan walaupun saat ini harus menghadapi krisis antara hubungan mereka yang penuh kekawatiran, dirinya tidak bisa mengagu konsentrasi Serra sedikitpun.
Dari sini, Reno hanya bisa menghela nafas saat berpapasan di koridor dengan Serra.
Seolah kembali ke rutinitas masing-masing, seolah-olah tidak terjadi apapun.
Bahkan kelompok belajar bersama pun jadi berubah, Serra keluar dari kelompok dan bergabung dengan Kelompok lainnya, tidak ada yang berani bertanya kenapa dan mengapa, karena seluruh siswa dikelas diam-diam hampir tahu ini.
Secepat waktu berlalu, sebentar lagi akan ada Tryout Provinsi, hampir dua bulan lagi menjelang ujian kelulusan.
Tapi yang pasti, Reno menyadari beberapa hari ini Serra terlihat tidak begitu sehat, lihat wajahnya yang pucat, dia dengar dari beberapa siswa dari kelas kalau penyakit Mag dia kambuh.
__ADS_1
Itu mungkin karena gadis itu terlalu banyak berpikir dan kurang teratur makannya.
Reno bisa melihat, kadang-kadang Serra akan melewatkan makan siangnya, dan memilih belajar dikelas, atau hanya sekedar makan roti saat istirahat siang hari.
Serra selalu seperti ini, dia terkadang terlalu berlebihan dalam belajar.
Reno masih ingat beberapa bulan lalu ketika Serra mimisan karena terlalu banyak belajar.
Jadi diantara sela Istirahat, saat Serra duduk dibawah pohon biasa dia untuk belajar, Reno datang.
Tentu, Reno datang tidak dengan tangan kosong, dia sudah menyiapkan sekotak bekal di tangannya.
"Serra, kamu harus makan," kata Reno sambil menyerahkan kotak bekal pada Serra.
Serra yang awalnya begitu fokus pada buku, sekarang menatap kedepannya, kearah Reno.
Mata mereka saling bertatapan, lalu dia mulai tersenyum kecil.
"Itukah apa yang ingin kamu katakan padaku untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita tidak saling bicara?"
"Karena aku khawatir padamu."
"Aku tidak apa-apa, sini duduk disamping ku," kata Serra sambil menepuk-nepuk tanah disampingnya.
Tempat ini cukup terpencil, jarang ada yang berada disini, jadi hanya ada mereka berdua sekarang.
Menuruti perkataan Serra, Reno duduk disampingnya lalu menyerahkan bekal itu.
Serra menerimanya dengan senang hati.
Lalu tiba-tiba, setelah meletakkan bekal itu didampingnya, Serra menarik Reno kepelukannya, lalu menciumnya.
"Serra, bagaimana kalau ada yang melihat? Jangan terlalu Impulsif lagi,"
Mendengar kata-kata Reno barusan membuat raut wajah cemberut diwajah Serra.
"Kamu tidak merasa rindu padaku, Reno?"
"Kamu bicara apa? Jelas aku sangat merindukanmu, sangat, sangat merindukanmu,"
"Jadi tidak masalah bukan?"
"Bagaimana kalau ketahuan lagi?"
"Itu masalah nanti bukan?"
Itu adalah kata-kata Serra hari itu, namun nyatanya, ketika hal-hal itu benar-benar terjadi, Reno tidak tahu harus berkata apa.
...####...
Seperti saat ini, Reno keluar dari gerbang sekolah, namun dia tiba-tiba dihadang oleh beberapa orang yang menyeretnya ke dalam sebuah gang.
Dan seorang pemuda tertentu yang sangat Reno kenal muncul disana.
"Reno Wilson, kamu pasti tahu untuk apa aku kesini bukan?" Kata Johan dengan nada dingin, sambil menatap tajam kearah Reno.
Reno hanya diam melihat Johan disana, tidak tahu harus berbuat apa.
Lalu beberapa lembar foto Johan lempar kedepan wajah Reno.
__ADS_1
Disana ada banyak foto, termasuk foto Reno dan Nana bergandengan tangan, juga ada Foto Reno dan Merry berpelukan belum lagi ada Foto dia berciuman dengan Serra dibawah pohon.
"Lihat? Tidaklah kamu keterlaluan? Berapa gadis yang kamu ajak kencan? Apakah adikku hanya salah satu dari mainamu ini Hah?" Katanya dengan marah.
"Aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang ada difoto," kata Reno dengan nada cemas dan panik.
"Semua sudah ada disitu, apa lagi yang perlu dijelaskan? Aku tahu adikku begitu keras kepala dan tidak mau meninggalkan mu. Tapi apakah kamu layak untuk mendapatkan cinta darinya? Kamu memiliki sifat buruk, lihat kamu bahkan hampir membuat seseorang mati, memiliki nilai buruk, reputasi buruk, playboy, selain kamu Kaya, apa yang layak darimu untuk Serra?"
"Aku sudah berubah, aku tidak akan seperti itu lagi. Aku memang tidak bisa merubah hal-hal yang terjadi dimasa lalu, namun aku bisa mengubah diriku yang sekarang dan untuk masa depan. Aku akan menjadi seseorang yang layak untuk Serra."
"Kamu pikir kamu mampu, hah? Kamu tidak layak untuk, Serra! Kamu hanya bicara omong kosong!!"
"Aku akan membuktikannya! Aku akan memulai dengan memperbaiki nilai-nilai ku!"
"Dengan nilai katamu? Hah? Kamu berniat menjadi juara satu begitu?" Kata Johan meremehkan.
Reno lalu terdiam, hal-hal seperti peringkat satu sangat sulit sekali, bukankah Serra belajar begitu keras bertahun-tahun namun bahkan belum menyentuh tiga besar?
"Jadi apa yang Kakak mau untuk aku buktikan?"
"Bukankah itu simpel? Tinggalkan, Serra. Jika kamu benar-benar menyukainya, kamu tahu apa yang terbaik untuknya, dan kamu bukanlah yang terbaik untuknya, kamu jauh dari kata layak untuknya. Kamu dari Keluarga Wilson? Apakah menurut mu bahkan Keluarga mu akan setuju dengan Serra?"
Sekali lagi Reno terdiam mendengar itu, dirinya jelas tahu, kalau bahkan Keluarganya kemungkinan susah untuk setuju dengan ini namun.....
"Aku tidak akan pernah meninggalkan, Serra. Untukku, dia adalah satu-satunya cintaku."
"Kamu masih muda, kamu masih begitu Impulsif. Apa yang membuat mu yakin? Sudahi permainan kalian ini, atau ini akan merusak masa depan Serra. Jika kamu mengenal Serra dengan baik, kamu tentu paling tahu soal hal-hal ini untuk Serra bukan?"
Reno sekali lagi terdiam, tentu Reno tahu pasti apa yang Johan maksud dengan hal-hal ini bisa merusak masa depan Serra.
Karena Serra sampai saat ini masih berjuang untuk mempertahankan dan membuktikan dirinya didepan Keluarganya jika hal-hal dan hubungannya terbongkar, kepercayaan dan perjuangan yang Serra bangun bertahun-tahun akan rusak.
"Dan aku tidak akan pernah bisa memanfaatkan mu atas semua yang sudah kamu lakukan, pada Farrel. Sebaiknya kamu pikirkan lagi hubungan mu dengan Serra."
Johan lalu pergi dari sana meninggalkan Reno yang tengah memiliki wajah putus asa disana.
...####...
Disisi lainnya, disalah satu ruangan kantor tertentu, terlihat seorang pria berumur sekitar lebih dari 70an berdiri didekat meja, bertanya pada pelayan disana, kemana pemilik meja itu.
"Tuan Muda sedang keluar ada beberapa perlu mendadak."
"Baiklah kamu bisa pergi, aku akan menunggu nya disini," kata pria itu lalu duduk di Kursi kerja disana.
Dia mulai melihat-lihat kearah meja, dia terkejut di atas meja ada foto seorang pemuda tertentu.
Dimeja itu ada banyak foto, foto seorang pemuda dengan gadis yang berbeda-beda.
Dirinya bertanya-tanya, siapa pemuda difoto ini?
Terlihat wajah yang cukup familiar, tapi siapa?
Namun dia jadi begitu terkejut ketika melihat foto terakhir disana.
Foto gadis tertentu yang dirinya kenal, sedang berciuman dengan seorang pemuda tertentu yang ada difoto-foto sebelumnya.
Ini cucu perempuannya, Serra Lee.
Dengan siapa?
__ADS_1