
Ini adalah kejadian beberapa menit sebelum Serra dan Reno bertemu di gedung.
Terlihat disana ada seorang gadis yang sedang membeli makanan di kantin sekolah.
Kantin itu kebetulan berada cukup dekat dengan Gedung Barat yang ditinggalkan, hanya tinggal melewati sebuah taman, lalu akan sampai ke Gedung Barat.
Gadis itu berpikir karena Barus aja Ujian, dirinya langsung lapar, jadi dia berencana membeli makanan disana, untuk mengisi perutnya.
Gadis itu melihat kearah langit, ah cuaca terlihat buruk, mungkin sebentar lagi hujan.
Lalu dia buru-buru mulai mengambil sebuah roti dan susu.
Dia langsung duduk disalah satu ujung kantin, makan di kantin itu dengan cepat, lalu hendak pergi dari situ, karena dirinya tidak sempat membawa jas hujan.
Soalnya tadi pagi cerah, siapa yang tahu kalau tiba-tiba setelah Ujian selesai, cuaca menjadi begitu buruk?
Ketika gadis itu duduk, dari sana dia melihat seseorang menuju kearah gedung barat.
Pemuda itu terlihat terburu-buru kearah sana.
Gedung barat ya?
Menurut gosip yang beredar, itu sebuah gedung yang sudah tidak lagi ditempati.
Jadi, gadis itu mulai bertanya-tanya,
"Bukankah itu, Reno? Kenapa dia berada disini? Bukankah dia sudah pulang bersama Alvin?" Pikir gadis itu binggung.
Karena pasalnya, dirinya tadi saat keluar Ruang Ujian melihat Reno pergi bersama Alvin, namun kenapa orang itu malah pergi ke gedung barat?
Nana terlihat penasaran akan hal itu.
Sebenarnya, Nana juga tidak mengerti sejak beberapa minggu lalu sepertinya Reno mulai menatap aneh setiap bertemu dengannya, seolah menghindarinya.
Nana tidak mengerti kenapa, tapi Reno benar-benar terlihat tidak ingin bertemu dengannya.
Ini benar-benar terasa aneh, dirinya pikir hubungannya dengan Reno berjalan cukup baik, bahkan ketika sesi belajar bersama sebelum-sebelumnya, hanya belakangan ini saja terlihat buruk.
Dulu ketika dirinya sempat dibully, Reno bahkan sempat menolongnya, Sang Tiran yang tidak tersentuh itu menolong seseorang bukankan ini semacam tanda?
Walaupun awalnya dirinya tidak menyukai pemuda itu yang terlihat menyebalkan, tapi melihat perilakunya yang perlahan membaik, dan ramah padanya membu hatinya berdebar-debar.
Sulit untuk mengingkari perasaan yang ada dihatinya.
Dirinya masih ingat hari dimana dia berdansa dengan Reno.
Disebuah pesta yang megah, hanya saling berpelukan dan begitulah dekat, terlihat sangat romantis ketika Reno mengulurkan tangan kearahnya.
Seperti seorang Pangeran.....
Itu adalah kenangan paling indah untuknya.
Dalam hidup Nana, tidak banyak orang yang memperlakukannya dengan cukup baik.
Dirinya bukan berasal dari keluarga yang kaya, namun juga tidak begitu miskin.
Ayahnya sudah meninggal sejak dirinya masih kecil, dan hanya hidup dengan Ibu dan Neneknya selama ini.
Ibunya selalu sibuk bekerja diluar, dan jarang menghabiskan waktu dengannya, hanya Neneknya yang masih menemaninya selama ini.
Dirinya tidak begitu ingat seperti apa wajah Ayahnya, karena saat itu dirinya masih terlalu kecil.
Karena sejak kecil tidak memiliki Ayah, dirinya kerap di bully anak-anak dikelasnya sejak kecil, jadi dirinya tidak memiliki teman.
Hal-hal terlihat begitu berat sejak kecil, jadi dirinya hanya bisa menghabiskan waktunya untuk belajar dari pada bermain.
Karena hal itulah satu-satunya yang dirinya bisa, itulah juga kenapa nilai-nilainya bagus.
Itu buka karena dirinya jenius, itu hanya karena dirinya tidak memiliki hal lain yang harus dilakukan selain belajar.
Jadi menerima perlakukan baik dari seseorang membuat Nana senang.
Sebenarnya, beberapa tahun lalu Ibunya menikah lagi dengan seseorang.
Namun setelah itu, banyak gosip buruk tentang Ibunya yang menggoda suami orang, dan bagaimana Ibunya ingin mengambil alih harta keluarga Suami barunya, gosip-gosip itu membuat dirinya muak, dan benci dengan pernikahan kedua Ibunya itu.
Jadi dirinya lebih memilih untuk tetap tinggal bersama Neneknya sampai sekarang.
Nanti malam, Ibunya mengundangnya untuk makan malam dirumahnya bersama keluarga barunya.
Sejujurnya, dirinya tidak ingin datang, namun apa boleh buat.
Untuk memberikan beberapa muka pada Ibunya, dirinya harus datang.
Ketika Nana sibuk melamun disana, dia melihat lagi seseorang yang menuju kearah gadung barat.
"Bukankah itu Ketua Kelas? Kenapa dia ke Gedung barat juga?"
Sedikit terdorong oleh rasa penasarannya, Nana mulai berdiri dari tempat duduknya, lalu hendak ke gedung barat.
Namun, siapa yang tahu, ketika dirinya baru sampai ditaman, hujan deras tiba-tiba.
__ADS_1
Sungguh sialan sekali, dan lagi ketika dirinya sampai ke gedung barat, ada seseorang yang menghalanginya untuk masuk.
Seseorang yang juga terlihat basah, yang kemungkinan besar mengejarnya untuk ke gedung barat.
"Jangan masuk!" Kata Revan dengan dingin, sambil menarik Nana menjauh dari Gedung Barat.
Benar, dirinya mendapatkan pesan dari Reno kalau dia akan bertemu dengan Ketua Kelas disana, dan tadi kebetulan saat berjalan menuju Kantin untuk membeli beberapa makanan, dia melihat Nana yang menuju ke Gedung Barat.
Tentu saja ini tidak bisa dibiarkan.
Kita tidak tahu, apakah Nana ini bisa dipercaya atau tidak.
Jika muncul suatu gosip, dan hal-hal ini sampai ke Keluarga Reno atau Keluarga Serra, hal-hal yang lebih merepotkan mungkin akan terjadi.
"Apa-apaan? Memangnya siapa kamu memerintahku?" Kata Nana dengan nada kesal.
"Tentu saja, aku Revan! Sang Pangeran Sekolah memang siapa lagi?" Kata Revan dengan penuh percaya diri.
Melihat pemuda didepannya yang terlihat narsis itu, membuat Nana semakin heran.
"Sudahlah, cepat minggir, aku ingin masuk,"
"Kenapa? Tidak ada apa-apa di Gedung Barat!! Kenapa kamu ingin kesana? Apakah kamu ingin melihat hantu?"
"Memang apa yang salah jika aku ingin kesana? Aku hanya ingin melihat-lihat!!"
"Sudah aku bilang, tidak ada apa-apa disana!"
"Kamu bilang begitu, pasti ada sesuatu disana!" Kata Nana lalu mencoba menelinap melewati Revan, namun dirinya malah ditarik dan dipojokkan di dinding, dikunci oleh kedua tangan Revan.
Deg
Sial, kenapa wajah Revan begitu dekat?
"Aku bilang kamu tidak boleh kesana!!"
Nana menarik nafas, lalu mencoba menenangkan dirinya.
Revan memang selalu terlihat tampan, seperti seorang pangeran kecil yang melakukan semua hal yang dia suka, dan begitu hangat pada semua orang.
Sikapnya selalu kekanak-kanakan, dan benar-benar melakukan hal-hal yang dia inginkan.
Misalnya, untuk tidak mau belajar atau membuka buku sedikitpun saat sesi belajar kelompok dengan alasan sedang tidak mood.
Lebih sering bermain ponsel ketika dikelas, juga sangat sering berfoto dan memamerkannya pada akun Media Sosialnya itu.
Dan itu tidak berubah sedikitpun, bahkan sampai Ujian Kelulusan ini.
Seperti sosok seorang Peter Pan yang tidak ingin dewasa yang tinggal di Neverland.
Sosok yang terlihat ceria, dan bebas, namun hangat.
Namun menurut kabar yang beredar, diam-diam Revan sudah diterima di Universitas X dengan jalur undangan karena bakatnya yang unik.
Dia juga seseorang yang takut hantu, namun mengajak orang kerumah hantu.
Dan kenapa dia tiba-tiba sangat bersikeras mencegah dirinya untuk masuk ke Gedung Barat?
Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Reno dan Ketua Kelas yang dirinya tidak boleh lihat?
Itu jelas sekali dari wajah Revan kalau dia seolah sedang melindungi temannya itu.
Jadi apakah benar-benar ada sesuatu antara Ketua Kelas dan Reno?
Selalu ada gosip yang beredar jika Sang Tiran Sekolah memiliki Kekasih Rahasia, dan kabarnya itu adalah dirinya, namun dirinyalah yang paling tahu jika ini semua tidak benar.
Dirinya tidak pernah berkencan diam-diam dengan Reno di jalanan saat itu.
Dirinya juga tidak pernah berciuman dengan Reno.
Jadi apakah itu jangan-jangan.....
Kalau dipikir-pikir, ini memang terlihat logis, walaupun terlihat aneh.
Kalau dirinya pikir-pikir lagi, Ketua Kelas adalah orang yang baik, yang selalu membantu yang menolongnya sejak masuk Sekolah ini.
Seseorang yang pertama kali menyapanya dengan ramah.
Dan Ketua Kelas selalu ada disana setiap kali ada masalah, juga ada menyusul Reno yang juga ada disana.
Memikirkan semua logika ini membuat dirinya sadar.
Jadi ini semua adalah salah paham?
Hari ketika dirinya berdansa dengan Reno.....
Itu adalah gaun yang Reno siapkan untuk Ketua Kelas?
Menyadari kenyataan ini membuat hati Nana sakit.
Tapi.....
Bukankah Keluarga mereka memiliki hubungan yang buruk?
__ADS_1
Ketika Nana sibuk melamun, dia dikagetkan oleh teriakan Revan,
"Hay!! Kamu dengar aku? Kamu tidak boleh kesana! Apa kamu paham?"
Hah, lagipula dirinya sudah tidak memiliki mood untuk masuk kedalam, ketika semua hal menjadi begitu jelas.
Semua kenyataan, bahwa yang dia harapkan hanyalah imajinasinya saja, hal-hal seperti seorang Pangeran bertemu Cinderellanya hanya ada di di dongeng-dongeng belaka.
Karena pada dasarnya, dirinya dan Reno memang dari awal memiliki kehidupan yang berbeda.
"Baik, aku tidak akan masuk? Jadi apakah kamu akan melepaskanku?"
Revan yang baru saja sadar akan posisinya yang ambigu ini, dia langsung menjauh dari Nana dengan canggung sambil tertawa tidak jelas.
"Ah, kamu basah karena hujan bukan? Kamu pasti dingin," kata Revan sambil memberikan jaket yang dipakainya untuk Nana.
Namun tidak lama setelah itu, Nana mulai merespon.
"Kalian para anak laki-laki, jangan terlalu baik pada seorang gadis itu bisa membuat seseorang salah sangka, dasar! Semua cowok sama saja!" Kata Nana kesal sambil melepaskan jaket Revan dan melemparkannya padanya.
Disisi lainnya, Revan menatap kearah Nana dengan penuh tanya.
Namun Nana hanya terus berlari menantang hujan, disana.
Sampai lampu tiba-tiba mati, membuat suasana gedung menjadi agak seram, Revan lalu mengejar Nana.
"Hey! Tunggu aku!! Bagaimana kalau hantu tiba-tiba muncul!"
Nana yang mendengar itu tidak bisa menahan tawanya, dasar cowok aneh.
####
Malam telah tiba, cuaca malam ini masih terlihat suram.
Itu karena tidak ada bulan dilangit, juga karena mendung yang menutupi hujan.
Disebuah Villa tertentu, diatas meja makan, terlihat sebuah hidangan lengkap.
Disana, ada tiga orang duduk, dua perempuan dan satu laki-laki.
Laki-laki satu-satunya yang ada disana mulai menyapa,
"Nana, tidak perlu malu-malu kamu bisa menikmati semua hidangan ini. Aku dengar dari Mamamu kalau kamu menyukai Iga bakar bukan? Aku telah menyiapkannya untukmu," kata laki-laki itu sambil tersenyum ramah.
Nana, yang duduk disana hanya bisa ikut tersenyum canggung.
"Terimakasih, Paman William," kata Nana dengan canggung, tentu saja walaupun laki-laki didepannya ini sudah menikah dengan Ibunya, tidak mungkin untuk dirinya memanggil orang ini Ayah.
"Kamu anak yang baik. Aku dengar kamu habis menyelesaikan Ujian Nasional hari ini?" Tanya William lagi.
"Iya, Paman,"
"Apakah semua berjalan dengan baik?"
Namun sebelum Nana menjawab, Ibunya Alice sudah menjawab duluan.
"Tentu, saja tidak akan ada masalah dengan Putriku. Nilainya selalu baik, dan dia selalu peringkat satu, jadi masuk Universitas X akan menjadi hal-hal mudah baginya,"
Nana sekali lagi hanya tersenyum canggung, dirinya tidak benar-benar dekat dengan Ibunya, apalagi dengan seseorang yang menikah dengan Ibunya itu.
Dirinya tinggal bersama, Nenek dari pihak Ayahnya selama ini.
"Ya, Nana terlihat seperti anak yang pintar. Putraku selalu memiliki masalah dengan nilai-nilainya, walaupun belakangan nilai-nilainya sudah cukup membaik, dia bilang dia ingin belajar yang rajin demi mengejar seorang gadis. Anak laki-laki jaman sekarang, begitu bersemangat bukan?" Kata William tiba-tiba.
Hal itu mencairkan suasana, dan Ibu Nana ikut tertawa.
"Sebentar lagi, Putraku akan kesini. Dia juga baru saja menyelesaikan Ujian miliknya. Dia seumuran denganmu, Nana."
"Eh? Benarkan?" Tanya Nana kaget, dirinya sampai lupa kalau memiliki saudara tiri.
Nana jadi sedikit penasaran, siapa identitas dari Saudara Tirinya itu?
Namun, seolah seperti takdir, orang yang baru saja dibicarakan itu tiba.
Pemuda itu memasuki ruangan dengan tenang, dengan tempramen dinginnya yang jelas.
Disana dia menatap Nana sekilas, karena kaget, namun dia segera menetralkan wajahnya.
"Selamat, malam. Maaf aku telat," katanya dengan nada dingin.
Reno cukup terkejut melihat Nana ada disini.
Tentu saja, ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan untuknya, karena sudah tahu ini sebelumnya.
Namun sepertinya, gadis itu masih belum tahu apa-apa soal ini?
Itu terlihat jelas dari wajah syok dan kaget Nana.
"Perkenalkan, ini Putraku Reno Wilson," kata William dengan ramah.
__ADS_1