Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 11: Tuan Putri Manis yang di Manjakan


__ADS_3



Disuatu ruangan tertentu, terlihat beberapa orang tengah menikmati cemilan, dan bersantai sejenak. Disitu hanya ada tiga orang, seorang gadis dan dua orang pemuda.


"Hey, Hey, bagaimana kalau habis ini kita pergi ke taman hiburan? Lumayan mengisi hari libur," kata Revan dengan semangat.


"Itu terlihat seperti ide yang cukup bagus," kata Merry, sambil meletakkan Dessert Chesscake nya.


Merry benar-benar menikmati camilan disini, benar-benar berkelas dan sangat enak.


Sudah diduga dari Ketua Kelas yang begitu baik dan bisa diandalkan.


Owh, bahkan disini ada puding kopi kesukaan Reno.


Seolah hanya dengan bertatapan dengannya, dia bisa membaca isi pikiran mu.


Tapi disisi lain, Ketua Kelas agak misterius kalau menurut Merry.


"Bukankah kalian tahu, kenapa acara belajar ini dibuat dipagi hari? Setelah siang ini, Ketua Kelas ada Les tambahan diluar," kata Alvin dengan tenang.


"Ah, benar juga, Ketua Kelas ada Kelas Tambahan nanti Siang, bukan? Ini berlebihan padahal ini hari libur," kata Merry sedikit kaget.


"Ya, aku juga heran kenapa dia sangat suka belajar? Ah~" kata Revan heran.


Ketika mereka mengobrol, Ketua Kelas dan Nana kembali keruangan dengan membawa bahan materi yang dari Nana cari.


"Ketemu materi yang kamu cari?" Tanya Alvin langsung.


"Eh?? Kalian sudah kembali, apa kalian tidak melihat, Reno? Bukankah dia sudah di kamar mandi begitu lama? Kenapa tidak ujung kembali?" Tanya Merry heran.


Nana dan Serra hanya saling tatap lalu menggelengkan kepalanya. Dan Serra mulai membuat beberapa kesimpulan seperti bilang, mungkin Reno sakit perut apa sesuatu, bahkan dia menyarankan apakah perlu dirinya susul?


"Halah, Reno bukan anak kecil. Lagi pula ini hanya masalah kecil, hal-hal apa yang mungkin terjadi dikamar mandi?" Kata Revan dengan bosan.


Namun tidak beberapa saat berlalu, Reno kembali keruangan itu dengan penampilan yang begitu menyediakan, baju yang dia pakai basah semua.


Dan Revan ketawa terpingkal-pingkal karena hal itu.


Reno hanya menunjukkan tampang kesal sekarang.


Ini semua gara-gara Serra!!


Ketika Nana hampir membuka pintu, Serra langsung sewenang-wenang mendorong Reno ke kamar mandi kamarnya, lalu menutup pintu kamar mandi, tanpa tahu, kalau Reno malah terpeleset disana saking buru-buru nya mana kena semprot air pula, sungguh sial.


Setelah itu Serra menawarkan untuk meminjamkan baju, lalu mengantarkan Reno ke ruang ganti milik Kakaknya.


"Reno, jangan marah, ayolah," kata Serra yang berjalan di samping Reno, melihat wajah Reno terlihat masih kesal.


"Reno..."

__ADS_1


"Ren??"


"Kupikir tidak ada alasan menyembunyikan ini dari orang lain," kata Reno dengan kesal.


"Tapi Reno, aku tidak ingin ada gosip atau sesuatu seperti itu tentang ku, kamu tahu kan alasan kenapa kita tidak bisa berkencan sekarang?"


"Ya, ini bukan saat yang tepat membahas soal ini bukan?"


"Itu benar, sebaiknya kita tidak perlu menarik beberapa perhatian yang tidak perlu. Tapi mungkin beberapa gadis perlu tahu tempat mereka," kata Serra lagi dengan nada dingin.


"Sungguh, kamu hanya berani mengatakan nya tapi tidak berani melakukannya," kata Reno heran.


"Terkadang aku tidak memiliki cukup keberanian."


"Tapi kadang kamu cukup terlalu berani pada hal-hal tertentu," kata Reno sembil mencium singkat bibir Serra, lalu langsung pergi ke tempat ganti tanpa menunggu Serra membalas.


"Seperti hal-hal, ini kamu begitu berani, Serra!"


"Awas, Ren! Nanti kamu terpleset lagi!" Kata Serra yang tiba-tiba merasa malu.


...####...


Pada ahirnya setelah kejadian kecil yang terjadi ditengah sesi belajar, tidak ada lagi hal-hal yang menarik terjadi.


Reno dan kelompok belajar nya, telah mengerjakan soal sampai jam menunjukkan pukul setengah satu, lalu merekapun makan siang ditempat Serra.


Disana Revan mulai membahas acara tentang pergi ke taman hiburan, dan itu disambut sangat antusias oleh Nana.


Dan Reno sangat senang mendengar Serra akan ikut, awalnya dia bilang dia tidak ikut, namun setelah Serra bilang ikut, tanpa pikir panjang dia langsung ikut.


Benar-benar terlihat jelas niat Reno dimana Revan dan Alvin.


Sampai diparkiran, dua gadis tertentu terlihat sedang berdebat saat berniat naik Mobil Reno, mereka juga terlihat berminat duduk di kursi depan mobil Reno.


Disisi lainnya, tanpa memperdulikan pertengkaran mereka, Serra mengeluarkan mobil sport silver miliknya, sepertinya dia berniat menyetir sendiri.


Tanpa pikir panjang, Reno melemparkan kunci mobilnya ke Revan, seolah bilang, stir mobil ku dan bawa mereka berdua.


Lalu langsung terlihat jelas, Reno memasuki mobil Serra.


Niatnya sungguh terlihat jelas, membuat Revan dan Alvin benar-benar tidak bisa berkata-kata, dan membuat dua gadis tertentu binggung.


Didalam mobil, Serra terlihat sudah menebak apa yang akan Reno lakukan, hanya menatap datar kearah Reno lalu berkata,


"Membiarkan seorang gadis menyetir?"


"Bukankah ini seharusnya saatnya Ketua Kelas yang dingin memanjakan Tuan Putri Manisnya?" Kata Reno terlihat santai, sepertinya dia tidak komplain lagi dengan julukan apapun yang Serra berikan.


Serra tertawa menanggapi lelucon Reno, lalu dia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Reno, dan memasang sabuk pengaman Reno.


"Sangat dekat, Sangat dekat, itu membuat ku berdebar-debar saat dia memasangkan sabuk pengaman padaku," kata Reno seolah mendramatisasi suasana.

__ADS_1


"Berhentilah bicara omong kosong," kata Serra lalu mulai menyalakan mobilnya.


Namun Reno yang awalnya tertawa itu tiba-tiba menjadi ingin berteriak setelah melihat cara Serra mengendarai mobil, sungguh ini kebut-kebutan dan berbahaya sekali.


Sepertinya Serra memilih jalan yang sepi, jadi dia bisa naik mobilnya dengan kecepatan penuh. Mengabaikan mobil yang Revan kendarai dibelakang, lagipula tujuan masih sama, terserah mau lewat mana.


Dan Serra jelas sangat menikmati ekspresi Reno yang dari tadi berubah-ubah.


Bahkan setelah sampai ditempat parkir taman hiburan, Serra keluar mobil duluan, dan membukakan pintu untuk Reno, lalu mengulurkan tangannya.


Menerima uluran tangan Serra, Reno lalu bilang,


"Kamu sangat totalitas sekali, Serra."


Serra hanya tersenyum kearah Reno, terlihat sangat menikmati ini.


Mereka lalu duduk didekat parkiran menunggu teman-teman yang lain datang.


Setelah mereka datang, mereka antri membeli tiket, dan masuk kedalam.


Disana sangat ramai, karena ini adalah akhir pekan.


Sekali lagi, Reno menatap gadis disampingnya yang terlihat tersenyum saat memasuki tempat ini.


Reno mulai bertanya-tanya, Keluarga gadis itu begitu ketat, apa ini pertama kalinya dia ditanam hiburan?


Melihat tatapan Reno, lalu Serra berkata,


"Dulu saat kecil sekitar umur 5 tahun? Aku pernah ke taman hiburan, mungkin cuma sekali. Karena itu hari ulang tahunku, jadi orang tua ku yang biasanya sibuk, karena permintaan egois ku, menuruti ku. Tapi itu berakhir dengan bukan dengan hal yang baik, jadi kami tidak pernah kesana lagi."


"Jadi mari kita buat kali ini menjadi hari yang baik dan tidak terlupakan," kata Reno dengan semangat.


Lalu dia diam-diam, menggandeng tangan Serra, dan berjalan mengikuti yang lainnya di bagian paling belakang.


Serra lalu tersenyum kearahnya, dan mempererat kaitan tangan mereka.


Reno sebenarnya cukup menikmati ini, bagaimana jarak antara mereka menjadi lebih dekat, terutama setelah hari itu di perpustakaan.


Seolah rahasia kecil mereka terungkap sekaligus hingga sekarang tidak ada lagi yang perlu ditutupi.


Bahkan sampai tahun lalu, dirinya dan Serra, selain berbagai catatan, mereka bahkan tidak pernah mengobrol dikelas.


Adapun mereka berbicara santai, itu hal yang cukup langka.


Dan berpikir dirinya hanya bisa menatap Serra dari jauh selama ini.


Namun sekarang hal-hal menjadi semakin baik.


Reno berharap hari-hari indah ini akan berlangsung sampai kelulusan nanti.


__ADS_1


__ADS_2