Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 41: Rencana Kita


__ADS_3

Diluar, bisa dilihat kalau cuaca terlihat semakin buruk, hujan turun makin deras. Suara angin mulai menerpa melewati jendela, membuat suasana didalam ruangan menjadi dingin.


Bersama dengan suara petir dilangit yang gelap itu, Reno mulai menutup jendela ruangan itu, agar tidak ada angin masuk, juga agar tidak melihat cuaca yang terlihat buruk diluar.


Disana, Serra duduk menatap Reno dengan pandangan yang tidak bisa dikatakan.


"Apa sebaiknya kita mengakhiri hubungan kita?" Tanyanya dengan nada terlihat serius.


Reno yang mendengar omong kosong barusan, langsung menoleh kearah Serra.


"Kita bahkan belum memulai apapun, jangan bicara yang tidak-tidak,"


"Aku hanya membicarakan hal-hal logis yang harus dilakukan. Namun tentu saja aku tidak akan melakukannya, itu hanya omong kosong yang akan aku katakan pada Kakekku soal hubungan kita,"


Reno hanya bisa memejamkan matanya, mengigat lagi kenangan dimana dia juga dimarahi oleh Kakeknya ataupun Ibunya.


Memang, terlihat tidak ada harapan dalam hubungan mereka yang tidak direstui ini.


"Aku sudah meminta bantuan dan persetujuan dari Ayahku," kata Reno kemudian.


Serra membelalakkan matanya kaget mendengar itu.


Serra tahu kalau Reno membenci Ayahnya karena meninggalkan Ibunya lalu entah bagaimana Ayahnya menikah lagi.


Hubungan Ayah dan Anak itu terlihat buruk, sampai level dimana Reno tidak ingin menghubungi Ayahnya.


Namun untuk berpikir Reno rela menghubungi Ayahnya juga meminta bantuan darinya, itu membuat Serra tersentuh, itu benar-benar terlihat romatis, itu demi dirinya.


"Reno, kamu benar-benar terlihat keren. Haha, lagipula aku juga tidak ingin menyerah soal ini, sesekali aku ingin melihat wajah kesal Kakek dan Ibuku juga ayahku. Jadi menurutmu bagaimana caraku membuat mereka kesal?"


"Merger Lee Group dan Wilson Group?"


Serra tertawa mendengar jawaban Reno yang sangat tidak terduga ini.


Jelas siapapun yang mendengarnya akan kesal.


Itu karena dua group konglomerat ini saling bermusuhan dalam bisnis, dan tidak mungkin untuk melakukan penggabungan dan kerja sama.


Dan itu jelas akan membuat Kakeknya kesal.


"Reno, kamu benar-benar tidak terduga soal ini, jadi kamu benar-benar ingin mengambil alih perusahaan milik Keluargamu?"


"Ya, aku akan mengambil alih Perusahaan Keluarga,"


"Kemudian ketika hari itu tiba, mari buat Renoku yang jadi Presdir yang keren, tampan dan mendominasi!" Kata Serra terlihat bersemangat.


Muka Reno memerah karena malu mendengar kata-kata Serra yang energik itu.


"Kamu jangan bicara omong kosong,"


Lalu Serra tersenyum, lalu berkata,

__ADS_1


"Baik-baik, Pak Presdir! Aku akan menuruti perintah Pak Presdir yang mendominasi," katanya lagi sambil tertawa.


"Serra!!"


"Reno, kamu benar-benar lucu,"


"Ayolah bahkan sebelum itu kita harus lulus SMA, masuk Universitas, lalu lulus dari Universitas dulu,"


"Universitas X bukan? Tentu aku juga sudah menyiapkan bahan Ujian untuk masuk kesana,"


"Aku juga, kali ini bahkan Ujian ini aku cukup percaya diri," kata Reno dengan yakin.


"Aku juga cukup percaya diri soal ini, aku benar-benar menantikan kita ada di Universitas yang sama,"


Dua-duanya lalu sekali lagi tertawa, membayangkan rencana mereka berdua kedepannya.


"Ini akan menjadi rahasia antara kita, jadi sebenarnya kita lebih hati-hati, terutama belakangan ini. Aku sekarang sedang diawasi," kata Serra terlihat waspada.


"Mereka benar-benar terlalu ketat bukan?"


"Iya, itu jelas terutama setelah Inside pertengkaran kedua Ibu kita tempo hari diacara pertemuan wali kelas,"


Mengingat itu membuat Reno merasa malu.


Dirinya ingat bagaimana Revan menggambarkan pertengkaran meanjubkan itu, hubungan mereka berdua tentu saja pasti sangat buruk.


"Aku tidak tahu harus berkata apa, kelihatannya mereka berdua punya semacam masalalu,"


"Entahlah, tapi kalau tidak salah mereka berdua dulu satu kampus. Kalau menurut perkataan Revan, mereka berdua sepertinya terlibat memperebutkan laki-laki yang sama dimasa lalu,"


"Eh? Bahkan ada kejadian konyol seperti itu?"


"Ya, dan sepertinya mereka berdua akhirnya sama-sama tidak mendapatkan orang itu,"


Serra lalu mulai tertawa mendengar hal itu.


"Mereka berdua terlihat kekanak-kanakan, masa bertengkar demi seorang cowok?"


"Kalau itu aku, apakah kamu juga akan memperebutkan aku dengan bertengkar dengan gadis lainnya?"


Namun Serra tidak segera menjawab, hanya tersenyum lalu berkata,


"Coba tebak?"


"Kamu terlihat tidak ingin terlibat?"


"Tentu saja, karena aku yakin kamu akan memilihku, jadi tidak perlu repot-repot untukku terlibat pertengkaran tidak jelas," kata Serra lalu menarik Reno mendekat, mencium bibirnya singkat.


"Karena kamu dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah milikku," kata Serra sambil tersenyum nakal.


"Kamu begitu percaya diri bukan?"

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku percaya padamu. Jadi bagaimana denganmu? Apakah kamu akan percaya padaku?"


"Apakah itu perlu ditanyakan lagi?"


"Ya, jadi apapun yang terjadi nanti, kamu akan percaya padaku dan aku akan percaya padamu, ini adalah janji mengerti?"


"Tentu saja, dari awal aku sudah bilang bukan?"


"Tapi kita tidak tahu hal-hal dimasa depan,"


"Bahkan walaupun tidak tahu, terus kenapa? Hanya ini yang kita miliki sekarang, saling percaya,"


Serra lalu hanya tersenyum mendengar kata-kata Reno yang terlihat percaya diri itu.


Tentu saja, jalan masih panjang, hari dimana cinta mereka dapat bersama masing panjang.


Saat ini, yang mereka miliki adalah perasaan mereka dan rasa percaya mereka.


...####...


Disisi lainnya, terlihat disebuah Kantor tertentu terlihat seorang pemuda tengah disibukkan dengan beberapa berkas.


Berkas yang ada didepannya adalah rencana kuliah adiknya di Luar Negeri juga mengurus dokumen kepindahan juga pasport adiknya.


Lagipula ini lebih baik jika Serra belajar di Amerika.


Cepat atau lambat, karena waktu Serra pasti akan bisa melupakan cinta kecilnya ini.


Jika dia tumbuh dewasa dia nanti akan mengerti, mengerti apa yang lebih jadi prioritasnya.


Saat ini dia masih begitu muda, jadi masih bisa melakukan hal-hal impulsif, namun jika ini sampai ketahuan oleh Kakeknya, dirinya takut ini akan berpengaruh pada masa depan Serra.


Dirinya tahu betapa pentingnya urusan tentang persaingan Serra sejak kecil untuk mendapatkan warisan Keluarga Lee dari Kakeknya, dan tahu betapa pentingnya itu untuk Serra.


Dirinya masih tidak mau hal-hal ini menjadi sebuah resiko dan memberikan reputasi buruk Serra didepan Kakeknya.


Lagipula ini masih belum terlambat, lagipula saat ini apa yang bisa Putra Keluarga Wilson itu lakukan?


Dia bahkan hanya mengikuti Keluarganya dan tidak bisa apa-apa, tidak bisa melakukan apapun untuk Serra.


Mungkin dengan ini Serra akan sedikit membencinya, namun itu tidak masalah.


Ini semua demi kebaikan Serra.


Nanti dia akan mengerti.


Didunia ini memiliki banyak kemungkinan.


Baik, semua rencana telah selesai, dia akan segera memberi tahu Serra ketika semuanya siap.


####

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2