Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Side Story 2: Peter Pan dan Cinderellanya


__ADS_3

Ini adalah awal dari bulan Desember, dimana musim penghujan sudah dimulai.


Hujan yang lebih banyak turun dari pada reda.


Ini juga termasuk hari-hari yang sibuk di Universitas X, terutama bagi mahasiswa Semester 3 yang mulai lebih sibuk dengan tugas-tugas mereka.


Terutama anak-anak Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang begitu sibuk mempersiapkan Ujian Tengah Semesternya.


Namun disisi lainnya, dari Fakultas Seni disebelah, terlihat lebih banyak orang yang santai dari pada yang belajar.


Salah satunya adalah Sang Pangeran Kampus yaitu Revan Alvano, Idola dari Fakultas Seni karena ketampanannya itu.


Hari ini dia kebetulan sedang jalan-jalan sendirian tidak jelas, dia terlihat sangat bosan sekali, tidak tahu harus melakukan apa.


Sahabat-sahabatnya punya berbagai alasan untuk menolak ajakannya, yang satu tengah mengejar gadis lah, yang satunya fokus belajar lah apa lah.


Dan teman-temannya dari Fakultas Seni, pada pergi Karaoke dan Kencan Buta bersama gadis-gadis dari Fakultas sebelah namun dirinya tidak boleh ikat.


Dengan alasan, kalau dirinya ikut, mereka tidak akan mendapatkan seorang pacar.


Sungguh melelahkan menjadi orang tampan, itulah pikir Revan.


Sampai matanya bertemu seorang gadis tertentu.


Gadis itu terlihat sedang mau menaiki sepedanya diparkiran, terlihat sudah mau pulang.


Melihat itu, Revan langsung buru-buru menghampiri gadis itu, menghadang didepan sepedanya.


"Revan! Kamu apa-apa sih?!" Kata gadis itu kesal.


"Nana, bukankah kamu free sekarang? Kenapa tidak menemaniku untuk pergi ke taman hiburan, atau ke karaoke, aku sungguh sangat-sangat bosan." Kata Revan tanpa jeda.


Nana, gadis itu hanya menghela nafas kesal.


Sudah sejak mereka masuk Kuliah, orang aneh didepannya ini akan tiba-tiba menyapanya ketika dia sedang bosan.


Banyak sekali alasannya, entah itu alasan yang logis ataupun alasan yang dibuat-buat.


Nana selalu merasa hidup Revan terlalu santai, dia tidak pernah belajar, bahkan sampai saat ini Kuliah, walaupun Fakultas Seni termasuk lebih santai, namun tidak ada yang sesantai Revan yang kerjaannya hanya berpesta dan bermain-main kesana-kesini tanpa beban, sama ketika mereka sibuk belajar Ujian saat kelas tiga dulu, dan Revan tidak belajar, namun malah Revanlah yang pertama kali mendapatkan tiket masuk ke Universitas X.


"Aku sibuk, harus mengerjakan pekerjaan rumah."


"Ayolah, Nana. Aku tahu kamu bebas, kenapa membuat begitu banyak alasan? Kamu sudah pintar bukan? Tidak perlu belajar pula."


"Kenapa kamu tidak mengajak Alvin dan Reno saja?"


Revan menghela nafas kesal ketika memikirkan dua sahabatnya ini.


"Apa? Alvin terlihat sedang mengejar seorang gadis, dan dia begitu sibuk dengan gadis itu sekarang. Benar-benar menyebalkan, dan tidak mau aku ajak bermain lagi. Dan Reno? Lupakan, dia sudah seperti orang gila yang hanya belajar saja sejak kejadian itu."


"Reno masih terlihat pendiam? Ah itu tentu saja berat untuknya setelah ditinggalkan oleh gadis yang dicintainya ketika sayang-sayangnya seperti itu."


"Itu hanya ditinggalkan oleh seorang gadis kenapa dia bisa begitu terlihat depresi seperti itu? Bukankah masih begitu banyak gadis cantik diluar sana?"


Nana hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu yang tidak pernah jatuh cinta tidak akan pernah mengerti perasaan patah hati itu seperti apa." Kata Nana lagi dengan nada bijak.


"Apa yang penting dari cinta? Itu hanya perasaan saling memanfaatkan satu sama lainnya untuk menuruti keinginan masing-masing entah itu keinginan untuk hal-hal seperti itu, atau keinginan soal materi. Seseorang berkencan karena saling ingin memanfaatkan satu sama lainnya, simbiosis mutualisme. Apakah karena itu seseorang yang cantik hingga bisa dipamerkan, atau itu kaya, agar bisa dapat dimanfaatkan uangnya. Atau hanya sekedar keinginan untuk memuaskan hasrat saja. Aku berkencan seperti itu sampai sekarang,"


"Itulah yang aku maksud kamu tidak mengerti soal cinta, dan tidak bisa membedakannya. Cinta tidak sesederhana itu."


"Seolah-olah kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?"


Namun Nana tidak menjawab, malah hanya menaiki sepedanya dan lanjut hendak pergi, namun sekali lagi Revan malah bergegas keboncengannya.


Kebetulan Universitas X ada dipinggiran Kota, biasanya para mahasiswa Kos agak dikota naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum agar cepat, namun rumah Nana kebetulan ada dipinggiran kota dan cukup dekat dengan Universitas.

__ADS_1


"Berat! Turun aku bilang!" Kata Nana kesal.


"Terserah aku. Sana cepat jalan."


"Revan!! Kenapa kamu bisa begitu menyebalkan!!"


Namun pada akhirnya, Nana tetap mengayunkan sepedanya, melewati gerbang belakang kampus yang cukup sepi, jadi tidak ada yang melihat adegan aneh ini, adegan seorang gadis memboncengkan seorang pemuda paling populer dikampus.


Namun sepertinya, tujuan Nana bukanlah rumahnya.


Itu adalah sebuah Cafe yang terlihat cukup bagus didekat sebuah pantai.


Benar, lokasi Universitas X memang agak dekat kearah pantai tidak sampai satu kilometer.


"Kenapa kamu kesini?" Tanya Revan heran ketika turun mengikuti Nana yang memarkirkan sepedanya.


"Bukankah tadi aku bilang aku tidak bebas? Aku ada kerjaan Part Time disini." Kata Nana kemudian.


"Eh? Kamu bekerja? Bukankah Ibumu cukup kaya? Dia kan menikah dengan....."


"Sudahlah, Revan. Ini tidak seperti itu. Lagipula ini buka urusanmu. Sebaiknya kamu pergi saja."


"Ayolah, aku benar-benar bosan oke? Bagaimana kalau aku ikut membantumu disini?"


"Hah? Kamu ingin bekerja? Kamu kira bisa?"


"Tentu saja Bisa! Kamu kira aku siapa?"


Itu adalah apa yang Revan katakan barusan, namun sekarang Nana berada di dapur dan mencuci piring, terlihat wajah pucat Revan ketika melihat tumpukan piring disitu.


"Bukankah kamu mau membantuku?" Kata Nana sambil tertawa, lalu lanjut berkata,


"Jangan bilang kamu tidak bisa mencuci piring?"


"Tentu saja aku bisa! Jangan sembarang!! Aku bahkan pernah memasak di dapur!" Kata Revan dengan bangga, walaupun hasil terakhir kali kedapur, dapurnya hampir kebakaran.


Dia hendak membantu Nana membereskannya, namun malah membuat lebih banyak kekacauan didapur, dan membuat seseorang hampir terpleset barusan.


Dan sekali lagi, mereka kena marah.


"Revan! Berhentilah mengacu dan pulanglah!!! Kamu hanya mengangguku saja!" Kata Nana dengan marah.


"Tapi, aku hanya berniat membantu mu."


"Tapi kamu hanya bisa membuat masalah!"


"Ayolah, aku tidak segaja oke?"


Namun akhirnya, Revan mengalah dan pergi kemeja depan, melihat pemilik cafe yang membuat kopi disana.


Pemilik cafe itu terlihat marah ketika melihat Revan yang katanya mau membantu secara gratis dia sengaja menerimanya karena cafe jadi ramai juga salah satu pegawainya ada yang minta cuti namun pemuda itu malah membuat masalah.


Revan hanya menatap kesal juga kearah pemilik, namu dia berubah pikiran ketika melihat ada beberapa alat musik yang berada di panggung kecil ditengah Cafe itu, terlihat tidak digunakan.


"Boleh aku memakai hal-hal yang berada di panggung?"


Awalnya, pemilik cafe terlihat curiga, namun mendengar kalau pemuda ini dari jurusan Seni Universitas X, dia memberinya kesempatan.


Revan yang terlihat bahagia itu, lalu mengambil gitar yang ada disana, mulai bermain gitar dan menyanyi.


Begitu Revan, dia tidak hanya ahli dalam permainan musik klasik seperti biola dan piano, dia juga mahir dalam bermain akan musik modern lainnya juga memainkan musik Pop.


Juga dia memiliki suara yang merdu dan bagus, itulah kenapa dia menjadi Idola di kampusnya.


Diacara penutupan penerimaan mahasiswa baru sebelumnya, dia yang ikut menjadi panitia menyanyi dan menaikan alat musik diatas panggung.


Tampan, keren, kaya dan habat dalam bermain musik, menjadikan nilai tampan baginya.

__ADS_1


Sayangnya, orang ini hanya suka bermain-main, tidak pernah benar-benar berlatih dengan begitu banyak. Dia hanya melakukannya jika ada mood, itu juga yang membuat para Dosen pusing dengan kelakuannya.


Mendengar Revan bernyanyi dipanggung, para pengunjung cafe sangat senang dan bersemangat.


Termasuk pemilik Cafe yang merasa senang.


Begitulah akhirnya, Revan menikmati bernyanyi disana.


Kemudian Nana yang akhirnya menyelesaikan kekacauan didapur, terkejut ketika melihat ke depan Cafe.


Disana para pengunjung terlihat sangat menikmati musik disana.


Dan diatas panggung, terlihat Revan menyanyikan lagu cinta dengan begitu bebas.


Suara alunan musik yang indah, dan suara Revan yang merdu bersatu dalam harmoni, dan terlihat kalau pemuda itu sangat menikmati ini.


Sekarang Nana jadi mengerti kenapa Revan dijuluki Pangeran dari Fakultas Seni, walaupun kelakuannya sedikit nakal dan suka iseng dan kadang bisa menyebalkan dan kabarnya membuat beberapa Dosen jengkel, namun dia sangat keren saat bermain musik atau bernyanyi diatas panggung.


Terlihat seperti seorang anak kecil yang menemukan mainan yang disukainya.


Seolah dia tidak peduli pada dunia, dan hanya ada didunia penuh musik miliknya, menikmatinya dengan bebas, dan menghibur orang-orang disekitarnya.


Ah, benar dirinya pernah memikirkan ini sebelumnya, Revan benar-benar terlihat seperti Pater Pan yang tidak ingin tumbuh dewasa yang ingin tetap berada di Neverland.


Namun dia benar-benar sangat keren!


Memikirkan ini wajah Nana kemudian memerah.


Apa yang aku pikirkan???


Ditengah lamunannya itu, ternyata musik Revan sudah selesai, dan dia sudah ada didepan Nana, membuat Nana kaget.


"Bagaimana? Bukankah aku cukup keren?"


Seperti anak kecil yang suka minta pujian setelah melakukan sesuatu.


"Biasa saja."


"Ayolah, jangan berbohong! Lihat wajahmu memerah!" Kata Revan sambil menatap Nana lekat-lekat.


"Kamu jangan menggodaku!!"


"Tapi, Nana sebenarnya kamu cukup cantik. Lihat walaupun penampilanmu terlihat biasa-biasa saja, kalau didandani dan memakai gaun yang indah ini akan terlihat sangat cantik, seperti seorang Cinderella." Kata Revan terlihat serius sambil menatap kearah Nana.


"Jangan bicara omong kosong! Aku tahu kamu mengunakan trik ini untuk menggoda beberapa gadis!"


"Ayolah aku hanya berkata jujur!"


Dan begitulah mereka akhirnya saling tertawa disana.


Ini adalah salah satu keseharian mereka setelah memasuki masa Kuliah di Universitas X.


Semua orang memiliki jalan yang berbeda, dan ada juga yang berubah, namun masih tetap ada seseorang yang tidak pernah berubah dari dulu sejak kecil, yaitu Revan Alvano.


Masih seperti seseorang yang begitu bebas dan menikmati dunianya sendiri.


Mungkin karena dia belum melewati pait manisnya cinta.


Dan disini ada seorang gadis yang sudah melewati rasa pahitnya cinta, dan tidak ingin jatuh cinta lagi dalam waktu dekat.


Namun siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti?


...####...


...Akhir Side Story 2...


...####...

__ADS_1


__ADS_2