
Malam yang semakin larut, buat lalu lintas di jalan juga semakin sepi.
Saat ini di sebuah jalan tertentu hanya ada beberapa mobil yang lewat.
Disana ada suatu mobil sport tertentu, sangat buru-buru terlihat dari kecepatan mobil itu yang cukup kencang.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat.
Tadi setelah pemeriksaan dokter, Reno segera bertemu dengan Kakeknya.
Dan sesuai anjuran Mamanya, untuk sebaiknya berpura-pura memenuhi permintaan Kakeknya sementara ini, dan mencari cara agar hal ini bisa dibatalkan nanti.
Yang paling penting, setidaknya Kakeknya cukup percaya ketika dirinya mulai mengusulkan untuk menunda Pertunangan ini, dan baru akan tahap saling mengenal tidak perlu terburu-buru.
Salah-salah, tidak hanya sekedar disuruh bertunangan namun malah disuruh segera menikah.
Ini harus dilakukan dengan hati-hati.
Kakeknya juga sempat mengeluh ingin dirinya segera menikah tidak hanya bertunangan, soal ingin segera menimang cicit lah apa lah.
Benar-benar menyebalkan.
Baik lupakan dulu soal hal itu.
Sekarang yang paling penting, adalah menuju tempat dirinya dan Serra bertemu.
Awalnya dirinya ingin membatalkan acara ini, namun sepertinya Serra disana masih menunggu dirinya sampai datang.
Memikirkan batik itu menunggu dirinya sampai larut malam seperti ini, membuat dirinya merasa tersentuh.
Tapi sesungguhnya rencana malam ini benar-benar berantakan.
Awalnya dirinya ingin membuat malam ini menjadi acaranya spesial untuk mereka berdua.
Kencan yang tertunda selama tujuh tahun, dan akan membuat ini menjadi seromantis mungkin.
Namun tiba-tiba semuanya menjadi berantakan.
Begitu sampai, Reno lalu memarkirkan mobilnya, dan buru-buru masuk ke Taman Hiburan itu.
Disana ada sebuah restoran didekat pintu masuknya.
Awalnya dirinya memang menyewa tempat ini dari sore sampai nanti tengah malam.
Ini sudah jam segini hanya tinggal beberapa waktu sampai tengah malam.
Semua planning awalnya bener-bener rusak.
Tidak tahu apakah ini nanti bisa menjadi kejutan menyenangkan atau tidak.
Saat sibuk memikirkan itu Reno akhirnya sampai di ruangan tempat Serra menunggu.
Disana dia melihat seorang gadis tertentu duduk disalah satu kursi disana.
Gadis itu mengenakan kacamatanya, matanya fokus pada laptop yang ada didepannya, matanya sesekali akan menatap serius kearah dokumen disampingnya itu.
Dia terlihat sangat fokus, sampai-sampai tidak memperhatikan orang-orang disekitarnya.
Melihat pemandangan yang sangat familiar ini membuat Reno tertawa kecil.
Walaupun waktu berlalu, ternyata ada beberapa hal tidak berubah dari gadis ini.
__ADS_1
Ini masih gadis serius yang sama yang dulu suka sekali belajar di bawah pohon dengan serius, yang seringkali dirinya amati.
Sekarang pemandangan yang berada di depannya adalah seorang gadis yang serius mengerjakan pekerjaan yang bahkan sampai dibawa pulang.
Masih gadis pekerjaan keras seperti yang dulu, yang akan dirinya sukai.
Disini, Reno lalu duduk didepan Serra menatap gadis itu yang masih terlihat sangat fokus.
Gadis itu sangat cantik ketika dia seperti ini.
Mantap gadis depannya tidak bisa menghentikan apa senyum yang ada di wajah Reno.
Gadis itu yang akhirnya sadar kalau Reno sudah datang, lalu mulai menutup Laptopnya.
"Kamu akhirnya datang?"
"Aku melihat kamu sangat sibuk dengan dokumen-dokumen yang kamu miliki,"
"Aku kebetulan membawa mereka di mobil. Aku hari ini memang sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku. Namun sepertinya ada beberapa hal yang terjadi, dari pada aku tidak melakukan apapun saat menunggumu bukan ke hp lebih baik kembali mengerjakan pekerjaanku?" Kata gadis itu sambil tersenyum.
"Kamu marah?"
"Kurasa aku tidak memiliki hak untuk marah."
"Ayolah, kamu bisa marah padaku kamu selalu memiliki hak untuk marah padaku. Kamu bisa mengungkapkan semua yang ingin kamu katakan padaku,"
Lalu gadis itu mulai tertawa dan berkata,
"Ya. Aku sungguh kesal menunggu kamu tidak datang-datang kamu tahu?"
Dia mulai mencubit pipi Reno untuk meluapkan rasa kesalnya.
"Maafkan, aku Serra. Ada beberapa masalah dirumah."
"Baiklah-baiklah terkadang memang ada haha mendesak terjadi aku akan memaafkanmu kali ini. Tapi aku memiliki sebuah syarat sebelum aku bisa memaafkanmu."
"Apa itu?"
"Bagaimana kalau sebuah ciuman?"
Dengar permintaan nakal gadis itu, Reno hanya bisa tertawa, lalu mulai menggoda gadis itu.
"Kamu ingin dicium bagian mana? Apakah di pipi? Di bibir? Atau di bagian bagian tersembunyi lainnya?"
Mendengar Reno yang menggoda nya itu membuat wajah Serra tiba-tiba memerah.
Dia lalu melemparkan dokumen yang ada di tangannya ke wajah Reno.
Di sini rena mulai membaca dokumen yang ke dilemparkan ke wajahnya itu.
"Apakah ini project baru yang ingin kamu ambil?"
"Itu benar karena project pembangunan Apartemen Mewah di Kota A gagal, aku tentu harus fokus ke project berikutnya yang aku cari."
"Kamu mengincar pembangunan kawasan pemukiman di Kota B?"
"Sebenarnya aku sedikit ragu aku dengan proyek saat ini. Tapi kalau melihat sedikit peluangnya mungkin ini juga bisa menghasilkan keuntungan yang cukup bagus di masa depan."
"Tapi ini jelas proyek yang bagus bukan? Jika awalnya jika project pembangunan Apartemen Mewah di Kota A gagal, aku akan memilih project ini."
"Tapi proyek ini jelas akan memakan waktu yang sangat lama untuk benar-benar berhasil."
__ADS_1
"Tidak selama itu. Ini hanya kurang lebih mungkin sekitar 3 tahun, usaha pembangunan lengkap."
"Itu kalau semuanya berjalan dengan lancar,"
"Tapi project ini benar-benar sangat menjanjikan kamu tahu? Konsep Kota Masa Depan, yang hubungkan dan membuat pemukiman baru di wilayah industri di Kota B, belum lagi lokasinya yang juga cukup dekat dengan Ibu Kota, ini bisa menjadi sarana pemukiman yang bagus. Terhubung dengan sebuah jalan tol yang menghubungkan kota J dan kota B."
"Tapi seseorang yang mengusulkan project ini masih lah sebuah perusahaan baru."
"ЯS Corporation? Bagaimana itu menurutmu?"
"Itu merupakan perusahaan yang memiliki prospek yang bagus. aku bisa melihat segala seseorang yang mengembangkan usaha and ini adalah seseorang yang cakap dan hebat, hanya dalam 5 tahun, dan menghasilkan perusahaan sebesar itu. Benar terlihat seperti seseorang yang ambisius,"
Mendengar dirinya dipuji seperti itu, Reno bisa menahan kegembiraan didalam hatinya, tentu saja siapa lagi CEO ЯS Corporation kalau bukan dirinya?
Owh, dan bahkan gadis di depannya ini mengakui kemampuan dirinya.
"Aku juga merasa tidak itu adalah perusahaan yang bagus."
"Tapi aku merasa jika CEO nya terlalu ambisius. Ya langsung melebarkan sayapnya ke bisnis Real Estate, belum lagi rencananya dengan konsep Kota Masa Depan yang besar. Disana rencana ada beberapa unit apartemen, pusat perbelanjaan, juga berbagai hiburan dan fasilitas lengkap. Akan di sana juga ada beberapa rencana untuk bekerjasama mendirikan sebuah sekolah dengan salah satu yayasan tertentu."
"Bagaimana dengan itu tidakkah itu keren?"
Serra lalu tertawa mendengar komentar Reno.
"Itu benar-benar terlihat keren dan imajinatif, aku bisa melihat sisi Impulsif dari CEO mereka. Konsepnya benar-benar cukup bagus, dia pasti sangat percaya diri dengan kemampuannya untuk bisa meyakinkan banyakan Investor dan klien bisa menjalankan proyek sebesar ini."
"Itu mungkin benar. Namun jika Kota ini benar-benar jadi, seorang bisa tinggal di luar ibukota, sedikit jauh dengan keramaian ibukota namun juga tidak terlalu jauh, dah pulang pergi kesana dengan jarak yang cukup dekat. Orang-orang yang belum memiliki rumah, ini bisa menjadi lokasi yang sangat pas untuk mereka daripada berdesakan di Ibukota. Lagipula lokasinya yang juga cukup pas, juga cukup dekat dengan berbagai wahana wisata di sekitar daerah sana. Udara disana masih cukup hijau daripada di ibu kota."
"Cukup menarik."
"Aku juga ingin tinggal disana suatu hari nanti, apakah kamu tidak menginginkan ini? Kota itu akan menjadi sesuatu yang bagus."
"Kamu sepertinya juga memiliki Visi yang bagus dan panjang untuk masa depan bukan?"
"Tentu saja. Jadi kamu juga harus ikut ambil dalam proyek ini, ini benar-benar tidak akan membuatmu kecewa."
"Tapi ngomong-ngomong bukankah kita akan berkencan? Kenapa malah jadi sebuah pertemuan bisnis?"
Reno yang dari tadi malah membicarakan soal konsep-konsep Kota Impiannya itu merasa malu sendiri.
Benar, ini sebuah kencan!
Kenapa menjadi sebuah Pertemuan Bisnis untuk mendapatkan investor seperti ini?
Tapi Kota itu benar-benar, Kota Impiannya yang suatu saat nanti dirinya ingin tinggal disana bersama Serra.
Mengurus perusahaan bersama-sama, menikmati suasana pinggiran kota yang damai dan segar.
Sebuah Kota yang sangat indah dan damai.
"Baiklah-baiklah, itu hanya karena kamu membawa berkas dan dokumen-dokumen proyek hingga aku terbawa suasana."
"Sekarang kamu sudah menjadi seseorang yang begitu rajin bukan, Reno?"
"Dan kamu masih menjadi seseorang yang begitu rajin."
Di tengah malam ini keduanya menikmati suasana malam ini dengan damai membicarakan hal-hal tentang Bisnis bersama, tentang konsep yang mereka inginkan, dan impian yang diinginkan dan akhirnya mereka akan memulai sesi Kencan Tengah Malam mereka.
####
Bersambung
__ADS_1