Cinta Diam-diam

Cinta Diam-diam
Part 35: Percakapan Ayah dan Anak


__ADS_3


Di salah satu rumah mewah, di suatu ruang makan untuk beberapa orang disana terlihat memiliki suasana yang cukup tenang.


Ada dua orang, duduk di sisi masing-masing ujung meja makan disana.


Ketika makanan disajikan keduanya menikmati makanan yang disajikan dengan tenang tanpa mengatakan sepatah katapun.


Mereka punya kebiasaan untuk tidak bicara ketika makan malam dan akan berbicara setelah makan malam selesai.


Dari tempramen mereka yang tenang, mereka berdua terlihat mirip. Mereka juga kadang akan memiliki beberapa kebiasaan yang sama.


Jika kalian melihat fitur wajah dari kedua laki-laki ini, mereka memiliki tekstur mata dan hidung yang mirip satu sama lain.


Dua laki-laki yang terlihat tampan yang satu menunjukkan pesona orang dewasa yang matang sedangkan yang satunya sih menunjukkan sisi masa muda yang kekanak-kanakan.


Yah mereka adalah Ayah dan Anak, William Smith dan Reno Wilson.


Ayah dan Anak ini terlihat tidak memiliki hubungan yang cukup baik.


Terutama yang muda terlihat enggan untuk mencoba memulai percakapan bahkan ketika makan malam ini hampir berakhir.


"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini Reno?" Tanya William dengan tenang.


"Baik, tidak ada masalah," jawab Reno dengan tenang.


"Aku dengar nilai-nilaimu sudah cukup membaik belakangan."


"Ya, begitulah."


"Kamu bilang, kamu membutuhkan bantuan ku. Jadi katakan padaku, apakah kamu terlibat dalam suatu masalah lagi?"


"Ini tidak bisa dibilang suatu masalah."


"Biar Ayah tebak, apakah ini hal-hal yang berkaitan dengan seorang gadis?"


Mendengar tebakan Ayahnya tepat sasaran, membuat wajah Reno memerah karena malu, namun itu hanya sesaat sampai dirinya bisa mengendalikan diri lagi.


"Apakah putraku akhirnya cukup dewasa dan mengenal tentang cinta?" Goda Sang Ayah lagi.


Hubungan mereka selama beberapa tahun ini cukup dingin.


Untuk bisa kembali berbicara dengan hangat dengan putranya ini, membuat William cukup senang.


Itu seperti mereka kembali ke masa-masa beberapa tahun yang lalu ketika mereka masih menjadi sebuah keluarga yang lengkap dan utuh.


Putranya cukup dingin terutama setelah dirinya menikah lagi.


Mereka sudah tidak saling menghubungi cukup lama.

__ADS_1


Namun tiba-tiba suatu hari putra kecilnya ini menelepon, dan bilang ingin bertemu dan membutuhkan bantuan.


Waktu tak terasa bukan?


Sekarang putranya sudah berumur delapan belas tahun.


Sudah di usia yang hampir dewasa, dipuncak masa remajanya, sudah akan lulus Sekolah Menengah Atas.


Dirinya kurang lebih paham tentang karakter putranya ini.


Walaupun putranya sudah banyak berubah, tapi sikapnya belakangan ini yang terlihat dingin dan tidak tersentuh, seolah-olah bisa melakukan semuanya sendiri, seolah-olah bisa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa bantuan orang lain, dan suka membuat masalah.


Jadi untuk seseorang yang seperti itu tiba-tiba menelepon dan ini bener-bener pada usia yang pas.


Putranya memang selalu membuat masalah dan tengah memasuki masa-masa pemberontakan sejak masa Sekolah Menengah Pertama.


Tapi melihat putranya yang sekarang sudah terlihat tenang dan terkendali kurang lebih dirinya mengerti bahwa putranya telah jatuh cinta pada seseorang.


Cinta bisa merubah seseorang, yah itu mungkin yang membuat putranya terlihat lebih dewasa daripada sebelumnya.


"Ayah bisa menebaknya dengan baik," jawab Reno dengan tenang.


"Jadi siapa gadis itu?"


"Putri Keluarga Lee."


Putri Keluarga Lee dia bilang?


Ah pantas saja, ini benar-benar menjadi sebuah masalah besar.


Mengingat baik Mantan Istrinya ataupun Mantan Mertuanya sangat benci Keluarga Lee.


Mereka memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Keluarga Lee.


Apalagi melihat temperamen kedua orang itu yang sangat keras kepala akan keputusannya.


Jelas mereka berdua akan menentang hubungan ini.


"Kamu sungguh berani," respon William.


"Cinta tidak hanya soal keberanian,"


"Jadi sejauh mana hubungan kalian?"


"Aku sudah tidur dengannya, jadi aku harus menikahinya." Jawab Reno tenang.


Mendengar jawaban berani dari Putranya itu membuat William tertawa.


Benar-benar terlihat seperti dirinya saat muda, begitu berani dan Impulsif.

__ADS_1


Bagaimana jika Kakeknya atau Keluarga gadis itu tahu?


Benar-benar sangat berani dan cukup nekat.


"Tapi kamu masih delapan belas tahun."


"Ya, bukan sekarang, tapi nanti. Itulah kenapa aku membutuhkan bantuan."


Dan begitulah awal pembicaraan Ayah dan Anak ini.


Malam masih panjang, ini baru awal mula.


...####...


Ini adalah pagi yang baru, kebetulan saat ini di sekolah Reno kan diadakan pertemuan wali kelas dengan orang tua siswa untuk membahas soal masa depan anak mereka dan juga persiapan untuk ujian kelulusan.


Karena acara ini siswa-siswa dipulangkan lebih awal.


Tentu terutama siswa-siswi kelas 3 ini yang sudah sangat lelah belajar untuk mendapatkan hari libur walaupun hanya setengah hari ini adalah suatu berkah.


Akhirnya mereka bisa sedikit bernafas.


Namun di sisi lain ada beberapa siswa yang terlihat cemas, tentu saja cemas karena orang tuanya dipanggil ke sini bukankah mereka akan tahu semua hasil ujian mereka selama ini?


Ah bagaimana ini....


Yap begitulah pikiran-pikiran para siswa-siswi ini.


Namun ini berbeda dengan pikiran salah seorang pemuda tertentu.


Hari ini dia diantar untuk ke sekolah, jadi ketika dia sampai di gerbang menunggu sopir untuk menjemputnya, iya bertemu dengan Ibunya yang baru saja keluar dari mobil itu.


"Aku dengar kamu bertemu dengan Ayahmu semalam," tanya Ibu Reno.


"Ya, seperti yang Mama dengar."


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Pembicara Ayah dan Anak, apa lagi?"


Mendengar penjelasan putranya yang tidak jelas itu, Ibu Reno tidak bertanya-tanya lagi.


Karena dirinya tahu jika putranya itu keras kepala bahkan walaupun ditanya pun dia tidak akan menjawabnya.


Sudahlah sebaiknya menghindari pertemuan penting ini.



__ADS_1


__ADS_2