
Cuaca yang awalnya cerah itu, tiba-tiba terlihat gelap, dan angin terlihat kencang membawa gumpalan awan hitam dilangit.
Disana yang awalnya panas itu, mulai terlihat teduh, karena awan yang menutupi matahari perlahan.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh, para siswa sejujurnya sudah tidak sabar menunggu hasil mereka.
Disana mereka berkumpul, dan mulai mengambil beberapa foto setelah mendengar kalau tingkat kelulusan adalah 100% di Sekolah mereka.
Kebetulan, salah satu siswa disini dapat bocoran dari Ibunya yang berada didalam ruang kelas.
Siswa itu terlihat dikerumuni oleh siswa-siswi lain Kelas 3 A.
"Hey, bagaimana dengan rangkaing kita? Apakah sudah dibagikan?" Tanya salah satu siswa dengan penuh semangat.
"Belum, belum. Tadi baru saja, Ibuku mengirimkan ku pesan kalau sekarang Guru sedang melakukan beberapa pidato, sepertinya sebentar lagi akan dibagikan nilai dan rangkingnya," jawab siswa itu.
"Ah, aku benar-benar tidak sabar dengan hasil nilaiku. Aku cukup yakin soal ini!" Kata Siswa itu.
Serra juga berada disamping siswa itu mendengarkan percakapan mereka, dan sesekali ada ikut mengobrol dengan mereka.
Disisi lainnya, Reno dan teman-temannya berada di jarak yang cukup jauh dari mereka.
Reno terlihat dag-dig-dug, menantikan hasil dari nilainya.
Keringat dingin mulai muncul ditangannya.
Revan yang melihat Reno begitu cemas itu menertawakannya.
"Tenanglah kawan, bahkan kalaupun kamu peringkat terakhir dikelas, kita tetap akan jadi teman," kata Revan dengan santai pada Reno, namun dapat jitakan dari Alvin.
"Jangan membicarakan tentang nilaimu sendiri. Dan jangan dengarkan omong kosong Revan, Ren! Tenang saja, semua baik-baik saja ok? Kamu sudah belajar cukup baik," kata Alvin mencoba membuat sahabatnya itu tenang.
"Tapi bagaimana kalian berdua berpikir, tentu saja asalkan aku lulus, tidak masalah mau berapa nilai dan rangkaingnya, aku sudah diterima di Universitas X!! Lihat bukankah aku begitu hebat? Aku sudah mendapatkan tiket pertama masuk Universitas dari pada kalian berdua! Jadi jangan mengecewakanku kalau sampai kalian tidak diterima di sana!" Kata Revan penuh dengan kesombongannya.
Alvin hanya memutar bola matanya karena kesal mendengar kata-kata Revan.
Orang itu terlihat begitu sangat sangat santai soal nilai-nilainya, sejak dia kecil.
Ini dia memang buruk tapi, Revan memiliki hal-hal lain yang sangat dia ahli.
Seseorang memang memiliki dan kekurangan masing-masing, mungkin semua bakat Revan sudah digunakan untuk hal-hal seputar Seni hingga, otaknya tidak bekerja ketika menghadapi soal-soal.
Dan Alvin tahu, Reno juga memiliki kelebihannya sendiri.
Dulu, ketika mereka masih disekolah dasar, rangkaing Reno selalu lebih baik darinya, dirinya dan Reno sempat bersaing mendapatkan tempat pertama dan dirinya selalu kalah, mereka adalah musuh.
Banyak hal yang terjadi kala itu, hingga mereka masuk Sekolah Menengah Pertama dan saat dimana Reno mulai berhenti belajar dan membuat dirinya kesal.
Awal mula kisah pertemanan mereka dimulai.
Pertemanan antara anak laki-laki menang sesuatu yang begitu lucu dan aneh.
Dan sekarang Alvin merasa jika Reno yang dulu sudah kembali.
Lagipula tidak akan ada masalah dengan nilai-nilai Reno sekarang, dan yang perlu dikhawatirkan, Alvin cukup yakin soal ini.
"Berhentilah bicara omong kosong, Revan."
Lalu Revan mulai menutup mulutnya, Reno hanya tersenyum menanggapi kata-kata penyembuhan dari Alvin.
Ah, sepertinya dirinya terlalu cemas hingga perutnya tiba-tiba sakit, jadi dia memutuskan untuk pergi kekamar mandi dulu, dan minta dikabari kalau nilainya sudah keluar.
####
Disisi lainnya, diruang pertemuan, setelah hasil tiga peringkat besar diumumkan, segera lemparan pada dan nilai siswa mulai dibagikan pada wali murid.
Orang-orang sudah tidak sabar dengan hasil putra-putri mereka.
Namun disisi lainnya, Sarah benar-benar sangat tidak puas setelah tahu Putrinya bahkan tidak masuk tiga besar dikelasnya, dan ketika dia melihat hasil lengkap yang berada dilempar pengumuman, dia hampir meremas kertas itu.
__ADS_1
Sarah melihat kearah samping, dimana, Ellie terlihat bangga sekali dengan nilai Putranya itu, membuat Sarah begitu kesal.
"Lihat ini? Apakah bahkan Putrimu masuk peringkat 10 besar secara umum? Lihat rangkingnya itu! Dan lihat nilai Putraku ini?" Kata Ellie dengan sombongnya.
Sepertinya, Putranya sudah tidak lagi memasuki masa pemberontak dan benar-benar mulai serius sekarang, dirinya cukup senang.
Namun tiba-tiba, dirinya mengigat sesuai, sesuatu yang penting soal ini.
Alasan kenapa Putranya mulai berubah dan menjadi lebih baik.
Kata-kata penuh tekat yang dirinya dengar saat itu.
"Di Masa depan, aku akan belajar dengan baik, masuk Universitas yang bagus dan akan belajar Bisnis untuk meneruskan perusahaan, dan akan patuh dengan apa yang Mama inginkan, tapi jangan pernah memilih dengan siapa aku berkencan,"
Dirinya ingat kalau Putranya punya semacam tekad semacam ini sebelumnya, soal dia tengah mengejar seorang gadis tertentu....
Dan mungkinkah.....
Itu benar-benar, Serra Lee?
####
Setelah melihat hasil lengkap dari pengumuman, Serra tidak tahu harus berkata apa.
Nilainya cukup turun, tidak lagi masuk sepuluh besar dan hanya peringkat 15, juga secara juara kelas dirinya peringkat 9.
Mungkin belakangan, hal-hal membuat dirinya lebih tertekan.
Dirinya yang selama ini belajar dirumahnya, sangat tertekan karena keberadaan Ibunya yang selalu menekankannya, membuat dirinya lebih stres dan kehilangan konsentrasi.
Apa lagi perlakuan Ibunya, juga dirinya yang tidak bisa berhubungan dengan orang luar, tidak bisa keluar, dan dikurung di kamarnya, tekanan yang luar biasa menuju Ujian Kelulusan.
Membuat Nilai-nilainya sedikit menurun, dan benar-benar menurun disaat-saat yang paling penting.
Tidak tahu lagi nanti bagaimana respon Orang tuanya ataupun Kakeknya nanti.
Ketika dia mulai melihat rangking dengan lebih jelas, dia terkejut dengan nilai dan rangkaing Reno.
Perasaan yang kompleks.
Serra selalu mengagap dirinya bukanlah orang yang begitu pintar, ataupun seorang jenius, itu jelas sangat jauh jarak antara dirinya dengan seseorang seperti Merry atau Nana yang bisa mendapat nilai hampir sempurna.
Dirinya hanya cukup balajar keras selama tiga tahun untuk sampai diposisi ini.
Namun lihat, Reno....
Hanya kurang dari satu tahun, sudah cukup untuknya....
Perasaan merasa iri dan kesal, juga rasa frustasinya.
Walaupun Serra tahu, Reno berusaha keras untuknya.
Namun perasaan merasa kalah ini benar-benar membuat fustasi.
"Kamu lihat hasil nilaimu ini, Hah? Kenapa hasilnya begini? Kamu bahkan kalah dari Putra Keluarga Wilson? Dan bahkan tidak masuk sepuluh besar!" Itu adalah suara omelan dari Sarah, saat dia mulai menampar Putrinya dengan keras.
Saat ini mereka ada disalah satu lorong yang cukup terpencil dan sepi.
Setelah mendapatkan hasil pengumuman, Sarah langsung keluar dari Kelas, dan ijin duluan lalu menyeret Serra untuk ketempat ini.
Ini membuatnya kesal bagaimana dirinya sempat dihina barusan oleh Ellie, bahkan nilai Putrinya terlihat sangat jauh dari pada nilai Putri Alice yang mendapatkan Peringkat 1.
Prakkk
Sekali lagi, Sarah menampar pipi Serra dengan keras.
Saat ini kedua pipinya, memerah lebam.
Serra sendiri sudah merasa cukup frustasi, namun ditambah dengan dimarahi dan ditampar beberapa kali dari Ibunya membuat dia lebih frustasi lagi.
__ADS_1
Ini seperti menghadapi Kakaknya Johan, seberapa jauh dirinya melangkah, itu tidak ada sampai pada level Kakaknya Johan.
Perasaan kadang bisa membuat Serra binggung.
Dan hal-hal kadang selalu bisa diluar ekpersinya.
Dirinya yang kalah, dan tidak cukup hebat, seolah-olah semua usahanya selama ini terbuang sia-sia hanya dengan kesalahan ini.
Dapat pengakuan apa?
Hanya hukuman yang tersisa.
Dirinya sudah cukup muak dengan semua ini.
Seolah segala rencananya cukup hancur sekarang.
Semua usahanya runtuh perlahan-lahan.
####
Disisi lainnya, Reno terlihat sangat bahagia dengan hasil Ujian miliknya
Dirinya tidak menyangka, nilai-nilainya akan sebaik ini.
Ini benar-benar sangat hebat.
Dirinya ingin segera bertemu Serra untuk mengatakan perasaan senangnya ini.
Dan pasti Serra akan membanggakan dirinya ini.
Ah, betapa senangnya....
Namun dimana Serra?
Dirinya dengar dari teman-teman sekelas kalau dia diajak oleh Ibunya pergi.
Apakah dia sudah pulang?
Reno mulai berkeliling, menuju tempat yang teman-temannya bilang, arah Serra pergi.
Ah, itu adalah sebuah lorong sepi menuju jalan lantai dua.
Namun siapa yang tahu ketika Reno akhirnya melihat Serra, dia melihat adegan dimana Serra dimarahi habis-habisan oleh Ibunya bahkan tamparan di pipi Serra terlihat memar, dan gadis itu bahkan tidak bergeming sedikitpun.
Melihat itu membuat perasaan Reno yang awalnya senang menjadi merasa sakit.
Untuk melihat orang yang disukainya diperlakukan seperti itu.
Tamparan di pipi Serra terlihat memar, dan gadis itu bahkan tidak bergeming sedikitpun ketika dia semakin disakiti.
Seolah-olah ini adalah hal-hal yang biasa gadis itu alami, hal natural seolah bukan apa-apa.
Reno mulai berpikir, apakah hal-hal ini sering terjadi?
Apakah selama ini Serra mengalami semua hal ini?
Reno yang melihat ini begitu marah dan kesal, juga frustasi, karena tidak bisa berbuat apa-apa, sadar betapa masih lemahnya dirinya.
Ketika Reno sibuk berpikir, disana dia mendengar percakapan mereka.
Serra dimarahi tidak hanya karena nilai dan peringkatnya, namun karena rangking dan nilai Serra lebih rendah darinya.
Reno tidak tahu apakah dirinya harus merasa senang dengan nilai-nilainya ini sekarang.
Reno baru ingat, kalau nilai dan rangking Serra adalah hal-hal yang paling penting untuk gadis itu.
Dan dirinyalah yang merebut posisi itu dari Serra.
####
__ADS_1
Bersambung