
Sudah satu minggu lebih telah berlalu sekali lagi.
Belakangan jika menyimak dan membaca soal berita Bisnis, akan ada beberapa rumor dan gosip yang tidak enak yang akan terdengar.
Ini menyangkut suatu insiden kecil saat pembukaan pembangunan Apartemen Mewah di Kota A, yang rencananya akan dibangun oleh PT Wilson Center City.
Beberapa rumor tidak enak tersebut menyangkut, jika sepertinya pembangunan yang akan dilakukan oleh PT Wilson Center City bukanlah hal yang baik, mengigat pertanda sial yang muncul saat pembukaan, entah siapa yang mulai menyebarkan desas desus tersebut.
Namun setelah semua, pembangunan Apartemen Mewah tersebut tetap dilaksanakan oleh PT Wilson Center City sesuai rencana dan prosedur yang ada.
Lagipula, Reno tidak percaya akan tahayul dan mitos, jadi dia tetap santai dan mengawasi proyek dengan baik.
Sejak proyek dimulai, tidak banyak pekerjaan yang harus Reno lakukan.
Dirinya memang masih akan memantau proyek ini untuk satu bulan kedepannya disini.
Namun, hari ini dia harus kembali ke Kota J, ini saatnya dirinya mengambil cuti.
Dirinya memang sempat mengambil cuti untuk beberapa hari kedepannya, karena akan ada acara penting yang akan segera berlangsung.
Reno mulai menatap sebuah kartu undangan yang berada ditangannya.
Itu adalah sebuah undangan pernikahan dari salah satu sahabat baiknya.
Melihat dua nama dalam undangan ini, membuat Reno tidak pernah menduganya.
Ya bukannya dirinya tidak pernah menduga, namun lebih seperti cukup terkejut.
Hubungan mereka berdua ternyata sudah begitu serius dan sampai pada tahap ini.
Ini masihlah cinta diam-diam yang lama yang berlangsung hampir sama seperti cintanya pada Serra.
Namun berbeda dengan dirinya dan Serra yang memiliki banyak hal yang harus diurus, dan banyak konflik antara Keluarga mereka.
Hubungan dua orang ini terlihat cukup lancar, padahal diawal-awalnya, jelas Sahabatnya ini ditolak, namun pada akhirnya setelah perjalanan yang cukup panjang, sampailah pada tahap berikutnya yaitu Pernikahan.
Memikirkan soal Pernikahan, tentu saja, Reno tidak bisa merasa untuk tidak Iri.
Kalau ditanya dengan jujur, tentu saja dirinya ingin segera menikah juga, ingin segera melamar gadis pujaan hatinya itu.
Namun apa daya, mereka bahkan baru bertemu sebulan lalu, dan baru saja memperbaiki hubungan mereka yang renggang.
Dan lagi, disini dirinya juga merasa belum terlalu mengenal sosok Serra dengan baik.
Hanya sedikit hal dari gadis itu yang dirinya tahu.
Terlihat seperti gadis itu tahu segalanya tentang dirinya.
Di sini masih sebuah misteri, gadis itu masih belum menceritakan ini padanya.
Ya, karena memang mereka belum sempat bertemu lagi sejak Kencan Tengah Malam hari itu.
Sepertinya Serra juga cukup sibuk dan memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Sedangkan dirinya juga menjadi sibuk mengurusi Proyek ini, bahkan harus pergi keluar kota.
Namun terkadang, dirinya akan berkirim email dengan gadis itu, menanyakan kabar atau mulai membicarakan beberapa hal santai.
Rasanya masih belum puas untuk bertemu dengan gadis itu.
Walaupun tempo hari mereka menghabiskan malam bersama, namun tetap saja masih kurang.
Jelas dirinya selalu ingin berada bersama Serra, disampaignya, bergandengan tangan, memeluknya setiap hari, menciumnya dan....
Masih banyak yang ingin dirinya lakukan dengan gadis itu.
Kekosongan selama tujuh tahun sangat banyak.
__ADS_1
Dirinya masih sangat ingin untuk bertemu dengan gadis itu segera.
Namun sebaiknya dirinya mengurus hal-hal ini dulu, membantu mempersiapkan pernikahan sahabat baiknya ini.
####
Setelah beberapa jam, akhirnya Reno sampai kerumah Sahabatnya.
Disana, Revan sudah menunggu dan mengoceh tentang pernikahan Alvin yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Tentu saja rencana pernikahan ini sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, dan dirinya juga ikut membantu mempersiapkan ini, hanya saja sejak dirinya pergi ke kota A, dirinya belum sempat ikut membantu lagi, hanya sekarang dirinya baru sempat kesini lagi.
Terlihat dari ocehan Revan yang kesal ketika menyambutnya.
"Owh akhirnya Pangeran kita yang selalu sibuk ini datang,"
"Diamlah kamu, Revan. Aku tidak seperti kamu yang memiliki terlalu banyak waktu luang."
"Reno, kamu baru saja bertemu denganku namun kamu masih begitu menyebalkan." Kata Revan sambil cemberut.
"Ya ya, jadi apakah aku harus kesini lalu memelukmu begitu?"
Disini Revan menunjukan muka jijiknya.
"Tidak terimakasih, aku tidak tertarik pada laki-laki sepertimu, bahkan walaupun kamu sekarang sudah menjadi idola yang diinginkan untuk dinikahi para gadis jaman sekarang,"
"Kamu akhirnya datang, Reno." Sapa Alvin dengan tenang.
"Tapi, Alvin aku tidak mengira ini benar-benar sebentar lagi kamu akan menikah... Bukankah kamu curang? Kamu lebih muda dariku pula, tapi kamu menikah duluan."
Disini Alvin lalu tertawa, dan membalas,
"Menunggumu untuk menikah duluan membutuhkan waktu yang sangat-sangat lama kurasa,"
Disini Revan juga mulai berkomentar,
"Aku tidak pernah ingat janji seperti itu, Revan."
"Lihat itu, Reno. Sekarang setelah Alvin ingin menikah dia melupakan sahabat baiknya ini... Ah begitu menyebalkan, sekarang dia akan mulai sibuk dengan Istrinya dan melupakan sahabatnya ini, Ah...."
"Iya, dia benar-benar curang untuk menikah duluan."
"Ayolah, itu karena kalian begitu lama bukan? Jadi bagaimana denganmu, Revan? Apakah kamu jadi menyatakan cinta pada dia?"
Mendengar pertanyaan ini, Revan tidak tahu harus berkata apa,
"Ayolah.... Jangan mulai membahasnya, aku mengira dia hanya mengagapku sebagai teman... Bagaimana kalau aku ditolak?"
"Nah, aku tahu akhirnya jadi begini, menuggu kamu menikah akan menjadi hal yang begitu lama bahkan sepertinya hubunganmu terlihat tidak ada harapan."
"Kamu jahat sekali, Alvin." Rengek Revan kesal.
"Tapi setidaknya kamu harus menungguku, dulu Alvin." Tambah Reno.
"Aku sudah mendengar kalau, Serra sudah pulang, jadi apakah hubungan kalian ada peningkatan?" tanya Alvin penasaran.
"Tidak ada hal baru sebenarnya. Tapi melihatmu akan segera menikah membuatku ingin segera melamarnya."
Disini Revan juga mulai berkomentar lagi,
"Ya, akhirnya penantian tujuh tahu tidak sia-sia kenapa tidak kamu lamar saja? Takut ditolak?"
"Bukannya begitu, tapi bayak hal yang terjadi kalian tahu? Dia bahkan sudah memiliki Calon Tunangan yang dijodohkan oleh Keluarganya. Dan lagi, Kakekku juga memaksaku untuk terlibat perjodohan! Apakah kalian tahu? Ini benar-benar menyebalkan."
"Hahahaha, seperti yang aku duga hubunganmu masih begitu rumit seperti biasanya. Kalian berdua sama saja, terlihat tidak ada harapan."
__ADS_1
Revan dan Reno jadi kesal mendengar komentar Alvin itu.
"Alvin, kamu jadi begitu sombong setelah mau menikah!!" Respon Reno.
"Ya, itu benar! Kamu menyebalkan sekali! Aku harus bilang pada Merry bertapa menyebalkannya calon suaminya ini!!"
"Ayolah, kalian bisa santai oke? Kalian adalah pendamping pengantin Pria, mungkin kalian bisa mengambil beberapa langkah dan mencoba beberapa hal di Pesta Pernikahan ini bagaimana?"
Revan yang penasaran lalu bertanya,
"Seperti?"
"Bukankah kamu pintar menyanyi, Revan? Kenapa tidak menyikan lagi romantis untuk Nana nanti di Pernikahanku? Mungkin saja dia akan tersipu, lalu menerimamu."
Senyum kecut muncul diwajah Revan.
"Kamu tahu? Sudah berapa kali kali aku bernyanyi untuknya? Namun sepertinya dia tidak merespon."
Disini Reno juga memberi berberapa ulasan,
"Bukankah itu karena kamu bodoh? Kamu dari dulu selalu menggoda banyak wanita dengan cara seperti itu, bahkan didepan Nana, jadi dia akan berpikir jika kamu lagi-lagi hanya bermain-main dan membuat lelucon untuknya."
"Ayolah, dulu aku tidak menyadari perasaanku... Hanya saja...."
Melihat ekpersi Revan yang cemberut itu, membuat Alvin dan Reno tertawa.
"Alvin, kamu harus mengajari dengan baik pada Revan, bagaimana kamu bisa mendapatkan Merry, orang ini benar-benar tidak ada harapan!!" Komentar Reno.
"Aku tidak ingin mendengar ini dari seorang yang terlihat tidak memiliki harapan juga soal hubunganmu dan Ketua Kelas!" Respon Revan kesal.
"Setelah acara pernikahan ada juga acara lempar bunga kalian tahu? Nanti aku akan bilang pada Merry agar melemparkannya pada Nana atau Serra, jadi kalian bisa mengambil kesempatan ini bukan?"
"Itu terdengar ide yang menarik," respon Reno.
Dan begitulah percakapan mereka saat ini.
Mereka mulai membicarakan berbagai hal disana, dan mempersiapkan acara untuk Pernikahan Alvin nanti.
Alvin sudah tidak lagi memiliki orang tuanya, apalagi saudara, jadi disini Revan dan Reno akan mengantikan posisi untuk mengisi kekosongan ini.
Ya terutama Revan yang memang memiliki begitu banyak waktu luang, dia sudah yang paling heboh sejak acara lamaran Alvin pada Merry dulu.
Ya begitulah persahabatan, pertemanan yang dimulai dari awalnya musuh, namun sekarang mereka menjadi sahabat yang sangat baik dan begitu dekat.
####
Disalah satu ruangan digedung tertentu, terlihat seorang pemuda tertentu melihat sebuah undangan ditangannya, dia adalah Mikael Lewis.
Itu ada Undangan Pernikahan Alvin dan Merry.
Itu akan berlangsung dalam waktu dekat, jadi untuk memberi muka dirinya harus setidaknya membelikan hadiah pada mantan teman sekelasnya saat Kuliah itu. Tapi masih terlalu malas untuk datang.
Ya, lagipula dirinya tidak terlalu dekat dengan mereka.
Mereka adalah rombongannya Reno yang menyebalkan itu.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi, bukankah Serra dulu sekelas dengan mereka saat SMA?
Jadi apakah dia akan datang?
Bukankah ini akan menjadi hari yang baik untuk bisa menjadi lebih dekat dengan gadis itu?
Ini bisa menjadi satu hal yang cukup menarik.
Baiklah, sebaiknya dirinya memang datang. Mungkin akan ada hal-hal baik yang menunggu.
__ADS_1
####
Bersambung