
" ya nish.. aku selalu berdo'a untuk kamu untuk aku dan untuk orang-orang yang ada di sekitar aku "
" iya nggi, "
" nah sekarang nama apa yang cocok untuk anak kita nish "
" mas "
Galih berjalan mendekati baby boy radit dan anggia dan menggendong nya bayi itu terbangun dan menguap menandakan dia sangat mengantuk
" bayi yang tampan, namanya juga harus tampan ya kan sayang? "
" iya mas baby boy nama yang cocok untuk mu apa ya sayang "
" Radit anggia kalian beneran kan mempercayai kami memberikan anak kalian nama? "
" iya sob, anggia sudah menceritakan semuanya, dia mempercayai anisha dan suaminya untuk memberikan nama kepada anak laki-laki kita "
" baiklah "
" apa ya mas? "
Galih terlihat sedang berfikir rupanya dia sedang berusaha mencari nama yang cocok dan bagus bahkan sangat bagus untuk anak laki-laki nya dan sahabat nya itu
" Muhammad Rayyan Sabir "
nama itu langsung terlintas di pikiran nya dan langsung dia katakan melewati bibirnya
" mas itu nama yang sangat indah, anggia kamu setuju kan anak kita di beri nama itu? "
" iya nish.. "
" mas arti nama itu apa? "
" Muhammad adalah nama Nabi terakhir kita sayang, Rayyan berarti gerbang di surga, Sabir bermakna sabar "
" MasyaAllah mas nama itu sungguh indah "
" terimakasih sob ente sudah memberikan nama yang sangat-sangat indah untuk anak kita "
Galih tersenyum kepada Radit dan beralih ke anggia dan beralih ke anisha dan beralih ke bayi kecil mungil itu
" baby Rayyan anteng banget ya sama abi galle "
" alhamdulillah nggi "
" ya sudah sob ini Rayyan sama ente.. ana sama anisha mau pulang dulu.. "
" iya sini nak sama abi "
" ah iya sob bukannya ente di jakarta ya kenapa bisa ke Bandung? "
" jadi kemaren malam kita sampai ke bandung niatnya kita hendak langsung menemui kalian berdua tapi tiba-tiba di tengah perjalanan anggia sakit perut nah ana kan panik kan anggia nya langsung ana bawa ke rumah sakit deh.. gitu cerita nya sob "
anisha dan Galih mengangguk paham dengan penjelasan Radit
" ya sudah kira-kira kapan anggia boleh pulang sob? "
" ana juga ga tau sob, nanti kalo dokter periksa anggia ana akan tanya deh "
" ya sudah kalo udah tau kapan anggia bisa pulang jangan lupa telfon ana oke "
" iya sob sesuai keinginan mu "
Galih menoleh ke arah anisha yang sedang asik bercanda dan tertawa bersama anggia mengingat saat-saat mereka di kairo kuliah bersama dan melakukan ini dan itu bersama
Galih berjalan menuju anisha duduk dan memegang kedua pundak istri nya itu
" apa mas? "
" kita pulang sekarang ya sayang ini sudah hampir maghrib "
__ADS_1
" ah baiklah mas, kita pulang sekarang oke "
" iya "
" nggi aku pulang ya, kamu jangan lupa telfon aku kalo kamu mau pulang dari sini oke "
" iya nish, sini peluk aku dulu "
" aaaaaaa aku sayang banget sama kamu nggi "
" aku juga nish.. "
" sayang yuk pulang "
" iya mas, nggi aku pulang ya "
" iya nish.. Hati-hati di jalan "
" iya.. assalamu'alaikum "
" waalaikumsalam "
saat Galih dan anisha hendak keluar seorang perawat datang dengan dua keranjang buah di tangannya
" maaf benar ini ruangan nya ibu anggia putri? "
" iya bener Sus ada apa? "
" ini tadi ada kurir yang menitipkan di meja resepsionis dua keranjang buah ini, katanya tolong antarkan ke ruangan ibu, dan atas bapak Galih Asfaradzhi "
" ah benar sus tadi saya memesan buah-buahan itu, kemarikan sus buah nya, dan terimakasih banyak "
" iya Pak.. mari semua "
suster itu keluar saat sudah memberikan keranjang buah itu kepada Galih
" ya ampun galle, aduhh aku jadi ga enak sama kamu ngerepotin tau "
" engga repot kok nggi cuma dua keranjang aja yang repot itu kalo lima keranjang buah baru tu repot bukan hanya repot tapi ngerepotin hahahaha "
" makasih banyak sob "
" iya sob.. ana pulang dulu ya "
" iya sob.. Hati-hati "
" iya Assalamu'alaikum "
" waalaikumsalam "
Galih dan anisha keluar dari ruangan anggia meninggalkan 3 makhluk hidup itu siapa lagi kalo bukan anggia, Radit, dan si kecil baby Rayyan
***
di mobil
" mas aku telfon kak Rya dulu ya siapa tau dia belum pulang dan malah nungguin kita "
" ya sudah telfon aja "
anisha menelfon rya menggunakan ponsel Galih karena pulsanya sedang habis
" assalamu'alaikum kak Rya, ini anisha "
.........
" kakak sekarang di mana? sudah di rumah kah? atau belum pulang? "
..........
" owh ya sudah kak, kakak mau nisha bawain apa? mumpung masih di jalan "
.........
__ADS_1
" owh yang di jalan anggrek itu ya kak? "
............
" ya sudah kak ada lagi? "
........
" ya sudah tunggu aja ya kak di rumah, assalamu'alaikum "
.......
setelah selesai dengan bicara nya dengan Rya anisha segera menutup telfon nya
" apa kata mbak Rya sayang? "
" kita ke jalan anggrek mas, kak Rya minta beliin bakso sama mie ayam "
" ya sudah sekarang kita ke masjid terdekat dulu ya karena ini sudah hampir memasuki waktu maghrib "
" iya mas oke "
Galih memarkirkan mobil nya di pekarangan masjid terdekat dari lokasi mereka saat ini
" sayang nanti tunggu mas di mobil ya kalo kamu sudah selesai sholat "
" iya mas "
anisha dan Galih masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat maghrib berjama'ah dengan imam masjid tersebut
setelah sholat anisha keluar dan dia melihat gerobak pentol juga di kerumuni anak-anak dia Segera menghampiri penjual pentol itu
" mang pentol nya berapaan? "
" yang kecil 500 neng kalo yang besar 1000 kalo yang pake telur puyuh 1.500 neng "
" Saya bungkus mang yang kecil 20 rebu terus yang besar 20 rebu terus yang pake telur puyuh nya 20 rebu mang "
" iya neng bungkus nya di pisah kah? "
" Iya mang "
" saos nya apa neng "
" pedas sama manis ya mang di pisahin "
" iya neng "
" ini neng "
" berapa semuanya mang? "
" 58 rebu aja neng "
" Loh mang bukannya 60 rebu ya? "
" ga papa eneng belinya banyak liat pentol saya sisa sedikit "
" yasudah mang, benar ya mang 58 kan? "
" iya neng "
" nah mang 60 rebu kembaliannya buat adek-adek nya aja ya mang "
" iya neng makasih neng "
" iya mang saya permisi "
setelah membeli pentol anisha masuk ke dalam mobil sesuai perintah sang suami tadi
" aduh mas galle lama banget ya.. aku udah ga sabar ini makan pentol nya "
" aaahh mending scroll instagram "
__ADS_1
tanpa di sadari oleh anisha Galih sudah duduk di depan kemudi dan menjalankan mobilnya
Bersambung