
"Eh... ko jadi kakak sih dek"
"Ya terus siapa dong kak? aku mana inget bawa uang. Soalnya tadi buru - biru ganti bajunya juga."
"Em... bentar - bentar deh dek."
"Kenapa kak? jangan bilang kakak sama, nggak bawa uang." kata Viona menebak gelagat aneh kakak nya.
"Em... (sambil memasukan tangan untuk mencari uang di saku celana yang saat ini di gunakan nya) ini dek ada ko tapi cuman segini." kata Galang yang telah menemukan uang di saku celana nya dan menunjukkan pada Viona uang yang ia temukan di celana nya.
"Mana coba kak uang nya biar aku liat." kata Viona sambil meminta uang yang Galang tujukan pada nya.
Galang tanpa berpikir lagi langsung memberikan uang itu pada Viona.
"Ini dek uang nya." kata Galang sambil memberikan uangnya.
Dengan senang Viona mengambil uang tersebut lalu mengucapkan suaranya lagi.
"Em cukup - cukup deh kak, kalau pulang lagi capek juga. Terus yang ada malah waktu nya habis di jalan kalau pulang ambil uang lagi."
"Hem... ya udah yuk agak cepetan jalannya biar kita cepat sampai."
"Iya kak, eh tapi kita mau pergi kemana."
"Ke taman aja lah dek biar deket dan nggak buang - buang waktu sama uangnya juga biar cukup kalau bukan ke taman takutnya kita malah nggak beli apa - apa lagi jalan - jalannya. Kan rugi dek kalau kaya gitu."
"Hem... bener juga kak, ya udah deh kak adek mah ikut aja gimana baiknya."
"Oke dek, ya udah yuk cepetan."
"Siap kak"
Tak ada lagi yang bicara karena mereka berdua saat ini sedang berjalan dan menikmati setiap langkah yang mereka langkahkan menuju taman.
Apalagi Viona yang saat ini begitu menikmati perjalannya. Mungkin karena cukup lama ia tak keluar rumah karena mendapat hukuman dari mamahnya.
Setelah ia membuat ulah waktu itu. Sampai - sampai nggak di bolehin keluar rumah dan itu sangat - sangat membosankan.
Sekarang setelah Viona mendapatkan izin walau cuman satu jam setengah tapi iya merasa bahagia bahkan sangat bahagia.
"Dek bahagia bener kayanya dari tadi senyum - senyum terus" kata Galang yang melihat Viona terus tersenyum sepanjang perjalanan.
"Ya begitu lah kak, namanya juga udah lama nggak keluar rumah pasti akan kaya gini lah kak yang di tunjukan nya."
"Hem iya deh iya apalagi coba ya, eh tapi dek jangan buat ulah lagi deh kamu. Ntar bisa - bisa kamu malah selamanya nggak di bolehin keluar rumah."
"Iya kak siap nggak bikin ulah lagi."
"Bagus kalau gitu dek, tapi sebenernya kakak nggak begitu yakin sih sama ucapan kamu itu."
"Lah ko gitu kak"
"Ya kan itu kenyataannya dek, dari yang udah - udah aja kamu pasti bikin ulah apa lagi sekarang. Em... tapi semoga aja kali ini nggak bikin ulah sama sekali."
"Ah... kakak nggak asyik, malah curiga gitu sama keseriusan aku yang bilang nggak akan berulah."
"Bukannya gitu dek, buat jaga - jaga aja sih kakak mah bilang kaya gitu. Biar kamu inget jangan bikin masalah. Itu aja sih maksud kakak dek."
"Hem iya dek iya aku pasti inget."
"Oke kakak pegang omongan kamu ini dek"
"Terserah kakak aja"
"Hem"
__ADS_1
"Eh... ya ampun kak ini kita ko udah nyampe aja sih ke tamannya."
"Ya terus mau nya kaya gimana?"
"Em... nggak deh kak nggak jadi."
"Ih... kamu ya dek bikin naik darah aja sih."
"Caranya tau naik darah itu kaya gimana kak?"
"Seperti yang kamu lakukan tadi."
"Seperti yang aku lakukan, yang mana nya coba."
"Em... ya udah deh lupain malah panjang ntar."
"Ye... kakak ini ya, padahal kakak yang buat orang naik darah. Ini ko malah salahin aku."
"Udah - udah yuk kita duduk di sana jangan terus - terusan bicara." kata Galang menghentikan Viona untuk tak mengeluarkan suaranya lagi sambil menunjukkan salah satu kursi yang ada di taman.
"Hem... ya udah kak yuk ke sana."
"Yuk"
langkah demi langkah mereka mulai pergi menuju kursi yang di tunjukkan Galang barusan pada Viona.
Sekitar beberapa langkah akhirnya mereka telah sampai ke kursi yang di maksud.
"Akhirnya sampai juga. capek nya kak pegel nih kaki dari tadi jalan terus menerus."
"Tadi katanya masih pengen jalan. Tapi sekarang malah bilang capek setelah kamu duduk, aneh - aneh aja sih dek kamu."
"Hehehe... itu tuh kode kak, biar kakak beli in aku minum kek apa kek. Ini malah nggak peka sama sekali." kata Viona sambil tertawa menjawab ucapan Galang.
"Ah bisa aja sih kak."
"Hem kan memang itu yang saat ini kakak rasakan dek."
"Iya deh iya percaya"
"Bagus deh kalau gitu."
Hening tak ada lagi yang bicara karena saat ini Viona maupun Gilang sedang menikmati pemandangan taman sambil menghilangkan rasa capek setelah cukup jauh berjalan dari rumah ke taman ini.
Di lihatlah sekeliling taman yang saat ini cukup banyak orang berada di taman ini.
Setelah beberapa menit Viona kemudian mengeluarkan suaranya lagi pada Galang.
"Kak"
"Hem"
"Ko cuman hem aja sih kak"
"Ya suka - suka kakak dong mau hem aja juga"
"Ya setidaknya kata lain nya juga ada kak, jangan cuman hem aja."
"Emang kenapa gitu kamu tadi panggil kakak?"
"Nah bilang ini kek dari tadi."
Dengan malas Galang hanya memutarkan bola matanya setelah Viona berucap seperti itu padanya.
"Ih... malah nyebelin sih kak, apa coba bola matanya di kaya gitu in. Bikin bete tau nggak."
__ADS_1
"Nggak tau dan nggak mau tau."
"Ih... lama - lama ko malah bikin kesel sih kak."
kata Viona mulai jengkel dengan jawaban Galang padanya.
"Biarin suka - suka"
"Ah... males di sini terus apa lagi deket sama kakak yang nyebelin kaya gini. Argh... bikin kesel." kata Viona menunjukkan ekspresi sangat geram.
"Ya udah sana jangan deket - deket kakak"
"Lah malah ngusir lagi"
"Bukan nyusir ya dek, itu cuman saran aja dari pada kamu di sini deket kakak yang akhirnya buat kamu kesel. Bukannya lebih baik kamu pergi."
"Sabar Viona, sabar harus bisa sabar hadapin kakak seperti ini."
"Nggak perlu sabar juga nggak papa dek"
"Ini ya kakak bener - bener deh. Ya udah deh aku pergi dulu."
"Mau kemana perginya?"
"Kemana aja yang penting nggak deket sama kakak yang nyebelin."
"Hem gitu ya, terus di sini kakak sama siapa?"
"Entahlah sendiri mungkin"
"Ko gitu sih dek"
"Ya suka - suka aku dong"
"Pergi sana dek biar kamu seneng ninggalin kakak di sini sendiri."
"Ih... kakak ini aneh tau nggak, tadi bilangnya aku suruh pergi sekarang giliran aku udah mau pergi malah di bilang ninggalin. Terus aku harus gimana?"
"Terserah kamu lah dek"
"Makin aneh bicara sama kakak itu, udah kak aku mau pergi."
"Pergi kemana kasih tau ngapa?"
"Pergi cari doi, biar nggak sendiri kaya jomblo." kata Viona dengan asal.
"Apa? yang bener aja kamu dek. Ini kamu nyindir nih ceritanya."
"Emang ada yang ke sindir gitu."
"Nggak tau mungkin ada"
"Berhubung masih kemungkinan jadi aku nggak mementingkan sama sekali. Ya udah kak aku pergi ya."
"Hem mau kemana sih dek? jangan pergi di sini aja temenin kakak."
"Nggak mau aku mau pergi aja."
"Hem ya udah deh sana pergi."
"Kakak marah nih ceritanya"
"Nggak siapa yang marah coba"
To be continued
__ADS_1