
"Hem... gitu ya kak, tapi semoga kakak masih mau beli baso di sini lagi ya kak."
"Gimana nanti aja mba? Walau nanti saya nggak pesen baso isi cabe. Baso yang lain nya enak ko mba. Apalagi ini baso telur. Em... enak banget mba. Kapan - kapan beli di sini lagi deh mba."
"Oke kak di tunggu kedatangan nya lagi. Kalau gitu saya permisi ya kak mau lanjutin pekerjaan saya."
"Iya mba semangat kerjanya."
"Iya kak makasih"
"Sama - sama"
Kemudian mba - mba itu pun pergi meninggalkan Viona untuk melanjutkan lagi pekerjaannya.
Sementara Viona ia pun juga sama melanjutkan lagi memakan baso yang terakhir yaitu baso yang berisi baso. Jadi seperti baso di dalam baso gitu.
"Satu lagi nih yang belum aku coba dan aku potong. Bentuk nya aja udah paling besar. Jadi penasaran ada berapa banyak baso di dalam nya."
"Kalau gitu kita langsung aja potong basonya buat tau ada berapa banyak baso di dalam baso ini."
"Em... jadi nggak sabar. Eh... sendok, sendok nya tadi mana ya." kata Viona yang kebingungan mencari sendok.
"Oh iya ya kan ada di baso pedes." kata Viona yang mulai mengingat sendok nya.
"Aku ambil dulu deh. Nah sekarang sendok nya udah aku pegang tinggal sekarang kita potong deh baso nya."
Setelah berkata seperti itu tanpa menunggu lama Viona mulai memotong baso terakhirnya ini.
"Wow... baso kecil nya banyak banget. Gimana cara buat nya ya. Baso sebanyak ini bisa ada di dalam baso."
"Em... kamu Vio penasaran cara buat nya. Kalau udah tau gimana cara buat nya emang kamu mau buat apa?" Kata Viona di dalam pikirannya.
"Dari pada banyak berpikir kaya gitu. Lebih baik nikmati aja baso yang udah ada di depan mata." Kata Viona pada dirinya sendiri.
"Iya juga ya, daripada ribet belajar cara buat nya. Mending belajar bagaimana caranya menghabiskan baso yang ada di depan mata. Hehehe... bisa aja kamu Vio bicaranya. Ckckck..."
"Cara terbaik buat nggak ribet ya langsung beli. Tanpa harus membuatnya terlebih dahulu."
__ADS_1
"Udah ah jangan banyak bicara ntar yang ada baso nggak akan habis malah dingin yang ada."
Viona pun mulai memakan baso yang dipotong tersebut. Lalu setelah tiga suap ia pun menghentikan makan baso nya.
Karena ia ingin memakan baso telur lagi. Setelah memakan baso telur sampai habis Viona mulai memakan dua suap di masing - masing baso yang telah ia potong.
Dan kemudian ia pun menghentikan memakan baso nya karena sudah sangat kenyang.
"Em... Kenyang nya. Tapi ini baso belum pada abis lagi. Ah... Vio kamu ya makannya jangan banyak - banyak pesen baso nya. Nggak abis kan jadinya."
"Kalau udah kaya gini baru deh aku sadar. Hem... lain kali aku nggak akan ulangi lagi deh."
"Eh... iya beliin buat mamah nggak ya, biar ntar kalau marah nggak terlalu marah karena udah di beliin baso. Iya deh aku beliin dulu."
"Mba" kata Viona memanggil mba - mba nya lagi.
"Iya kak" kata mba - mba nya setelah ia berada di hadapan Viona.
"Saya mau pesan baso nya lagi tapi di bungkus ya mba, tiga aja ya baso ini, ini, sama ini." kata Viona sambil menunjuk beberapa baso yang sudah ia makan pada mba nya untuk di buatkan lagi.
"Iya kak siap, di tunggu sebentar ya kak" kata mba nya menjawab ucapan Viona.
Tak menunggu lama lagi mba - mba nya pun pergi setelah ia mendengar jawaban dari Viona untuk menyiapkan pesanan Viona.
Dan Viona kemudian melihat hanphone nya untuk memastikan apakah ada yang menghubungi nya atau tidak.
Termasuk ia ingin memastikan bahwa mamah nya menanyakan atau tidak keberadaan ia saat ini.
Jika tidak ia masih tenang untuk pergi jalan - jalan hari ini. Walaupun ia setuju dengan permintaan kakak nya tadi.
Tapi kalau ada kesempatan mana bisa ia menolak untuk pergi jalan - jalan menghabiskan waktu hari ini.
Ketika melihat hanphone milik nya Viona mulai merasa lega karena ternyata mamah nya tak menghubungi nya sama sekali dan ini merupakan kesempatan yang harus dan wajib untuk di manfaatkan dengan sebaik - baik nya.
Tak masalah jika ia harus mengembalikan uang yang di berikan kakak nya setengah dari uang yang di kasih nya itu untuk dirinya.
"Aman mamah nggak hubungi aku. Main dulu bentar boleh kali ya." kata Viona setelah ia melihat hanphone nya.
__ADS_1
"Hem... iya kaya nya harus main dulu. Tapi ntar uang yang di kasih sama kakak harus aku kembalikan dong setengah nya. Gimana ya jadi bingung gini?" kata Viona lagi.
"Em... nggak papa kali ya, kapan lagi pergi jalan - jalan kaya gini. Aku kan dapet hukuman dari mamah. Jadi nggak masalah kalau harus kembalikan uang kakak setengah nya."
"Iya deh aku main dulu aja" Kata Viona yang akhirnya memutuskan untuk main terlebih dahulu.
Tapi seketika ia pun teringat sesuatu hal dan akhirnya ia mulai memikirkan lagi keputusannya itu.
"Eh... tapi aku kan barusan pesen baso. Kalau aku pergi main dulu yang ada basonya keburu dingin dong. Ntar malah nggak enak di makannya."
"Argh... jadi serba salah gini sih. Mau tetep main tapi baso takut dingin. Kalau nggak jadi pergi ntar malah jadi... argh udah deh pulang aja."
"Mungkin lain kali ada kesempatan buat main"
"Tapi kapan ya lain kali itu"
"Hem... jadi sedih kalau kepikiran itu"
"Ya udah deh semoga aja ada kesempatan buat aku bisa main di waktu dekat ini."
Beberapa menit setelah Viona selesai berbicara pada diri nya sendiri mba - mba yang menyiapkan baso pesanan Viona pun kini telah selesai menyiapkannya dan saat ini sedang berada di hadapan nya.
"Kak ini pesenan kakak udah selesai di buatkan. Tiga bungkus kan kak. Coba di liat dulu takutnya salah." kata mba - mba nya pada Viona.
"Iya mba saya liat dulu" Kata Viona sambil menerima baso dari mba nya kemudian melihat pesanan baso nya.
"Iya mba udah semua nya ko, makasih ya mba."
"Iya kak" kata mba nya menjawab ucapan Viona.
"Oh iya mba semua pesenan saya ini berapa mba? saya udah selesai makan nya jadi mau langsung pulang."
"Oh bentar kak saya hitung dulu" kata mba nya meminta Viona untuk menunggu.
"Iya mah kalau gitu silahkan" kata Viona menjawab ucapan mba nya.
Mba nya pun kini mulai menghitung semua yang di makan dan di minum Viona. Selain itu tiga baso yang di bungkus pun tak lupa mba nya hitung juga.
__ADS_1
To be continued