
"Adek tadi ketemu sama orang terus berdebat gitu. Adek nggak terima karena udah minta maaf tapi malah di kata - kata in gitu mah. Karena awalnya adek menghindar buat minta maaf secara langsung pada orang itu. Jadi sekarang adek masih marah karena kejadian itu mah." kata Galang menceritakan sebagian cerita yang terjadi pada Viona kenapa Viona bisa marah pada mamah Vina dan papah Gilang.
"Tadi kakak inget kan sebelum minta izin ke mamah buat adek bisa keluar rumah. Kakak kasih mamah apa coba biar mamah ngizinin kakak?" kata mamah Vina sengaja berkata seperti itu pada Galang.
"Tadi kakak bilang kalau adek nggak akan berulah lagi kalau pergi nya sama kakak. Tapi kenyataannya adek malah..." kata Galang yang seketika di potong oleh mamah Vina.
"Berulah lagi. Itu kan yang akan kakak bilang sama mamah." kata mamah Vina yang memotong ucapan Galang.
Dengan gugup dan takut Galang mau nggak mau memang harus mengakui nya karena memang itu lah kurang lebih yang akan ia ucapkan pada mamah Vina.
"I... ya mah itu yang akan kakak bilang sama mamah." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina.
"Terus sekarang mamah kira - kira harus kasih hukuman apa buat kakak yang udah lalai dengan ucapan yang kakak bilang itu pada mamah." kata mamah Vina bertanya pada Galang mengenai hukuman yang pantas untuk Galang.
"Kakak nggak berani mah, kakak serahin lagi semuanya sama mamah apapun itu kakak akan terima hukuman dari mamah." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina.
"Yakin kak, nggak mau kakak aja yang nentuin hukumannya." kata mamah Vina masih memberikan kesempatan Galang untuk memilih jawabannya.
"Yakin mah kakak terima apapun itu hukuman dari mamah." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina tanpa menunggu lama.
"Oke kalau gitu dalam satu Minggu ini kakak nggak boleh bawa mobil sendiri. Dan pergi kerja naik angkutan umum. Pulang jangan lebih dari jam lima kalau lebih kakak nggak akan bisa masuk ke dalam rumah. Sampai sini apa kakak setuju dengan hukuman yang mamah berikan itu." kata mamah Vina dengan santai bertanya pada Galang.
Galang yang mendapatkan hukuman seperti itu menjadi lemas seketika. Apalagi ia harus pulang jam lima sedangkan ia biasa pulang kerja sekitar jam empat.
Di tambah lagi jarak rumah ke tempat kerja itu bisa menempuh hampir empat puluh menit kalau jalan nya lancar dan nggak ada kemacetan.
Di tambah lagi ia harus naik angkutan umum dari mulai berangkat sampai pulang. Ini pasti sangat - sangat menyiksa.
Apalagi selama ini Galang selalu bawa mobil pergi kemana pun sekarang ia harus naik angkutan umum dan pastinya akan merasa kepanasan ketika terjadi kemacetan.
__ADS_1
Kalau pake mobil sendiri kan pasti tinggal nyalain AC nya beres nggak akan terlalu kepanasan tapi sekarang beda lagi.
Ini membuat Galang ingin berteriak karena hukumannya ini sudah sangat menyiksa.
"Gimana kak? ko malah diem." kata mamah Vina lagi setelah cukup lama menunggu jawaban persetujuan dari Galang atas ucapannya itu.
"Itu mah bisa nggak mobil nya tetep kakak gunain mah. Kakak..." kata Galang yang langsung dipotong mamah Vina.
"Nggak bisa soalnya tadi kakak yang bilang apapun itu kakak akan terima hukuman dari mamah. Jadi hukuman itu harus kakak terima suka atau nggak harus kakak terima." kata mamah Vina menjeda ucapannya.
"Dan satu lagi..." kata mamah Vina yang melanjutkan lagi ucapannya namun langsung di potong oleh Galang.
"Masih ada mah" kata Galang yang memotong ucapan mamah Vina.
"Iya masih ada tapi karena kamu malah memotong ucapan mamah yang awalnya mamah mau kasih kamu satu lagi hukuman jadi mamah tambahin satu lagi. Total hukuman kamu jadi ada empat kak." kata mamah Vina pada Galang.
"Nggak bisa kak itu karena kesalahan kakak yang langsung potong ucapan mamah gitu aja. Jadi hukumannya tetep empat nggak bisa nolak lagi." kata mamah Vina dengan tegas tanpa ingin ada penolakan dari Galang.
Dengan sangat terpaksa Galang menerima hukuman dari mamah nya itu.
"Ya udah mah, kalau gitu apa hukuman yang dua lagi nya." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina sambil bertanya juga mengenai hukumannya.
"Gampang ko kak, yang ketiga hukuman kakak itu harus cuci piring waktu kita selesai makan malam."
"Apa mah? ko kakak yang harus nyuci." kata Galang yang kaget dengan hukuman ketiga dari mamah Vina.
"Ya nggak papa kan kakak nyuci piring. Tadi aja kakak yang nyuci bukan, jadi karena kakak keliatan bisa dan mampu buat nyuci piring jadi hukuman ketiga nya ya itu. Nggak masalah kan." kata mamah Vina menjawab ucapan Galang.
"Iya deh iya mah terus yang ke empat nya apa?" kata Galang mau nggak mu menyetujui hukuman ketiga nya itu.
__ADS_1
"Nggak sabar bener sih kak menerima hukuman. Hem... berhubung kakak udah nggak sabar jadi mamah langsung kasih tau kakak."
"Hukuman ke empat kakak itu gampang ko kak malah seperti nya gampang banget."
"Iya apa mah?"
"Hukumannya itu kakak tidur di lantai jangan di tempat tidur selama satu Minggu full mau itu tidur pagi, siang, atau pun malah hari." kata mamah Vina memberitahukan hukuman Galang yang ke empat.
"Ya ampun mah tega bener sama anak sendiri juga. Ntar yang ada badan kakak pegel - pegel mah tidur di lantai." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina.
"Kan belum di lakukan kak bisa aja kan kakak nggak akan pegel - pegel. Maka dari itu kakak harus mencoba nya. Oke selesai hukuman kakak udah selesai tinggal kakak jalani." kata mamah Vina langsung meninggalkan Galang yang masih diam terpaku karena mendapatkan empat hukuman sekaligus.
Papah Gilang yang sedari tadi hanya diam melihat dan mendengar pembicaraan mamah Vina dan Galang. Sebelum pergi meninggalkan Galang ia menepuk bahu Galang terlebih dulu.
Lalu ia pun mengucapkan kata untuk Galang "Sabar kak, kakak pasti bisa ko. Semangat ya."
Dengan lemas dan lesu Galang hanya menjawab singkat perkataan papah Gilang
"Iya pah" inilah kata yang di ucapakan Galang.
Setelah itu papah Gilang mulai menyusul mamah Vina yang sudah pergi menuju kamar mereka.
Galang hanya bisa menerima nasib yang harus mendapatkan empat hukuman sekaligus karena ulah dari adek nya itu.
Sungguh Galang ingin memutar waktu agar ia tak menjanjikan ini pada mamah nya yang bisa ngejamin kalau adek nya itu tak akan membuat ulah.
Tapi gimana lagi semuanya sudah terjadi dan Galang hanya bisa menerima itu semua.
To be continued
__ADS_1