Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Jujur Lebih Baik


__ADS_3

Sikap Rendi yang malah terdiam lagi. Membuat Viona mengeluarkan suaranya lagi untuk Rendi.


"Bang kenapa malah diem lagi? mana coba kuncinya biar aku yang buka." kata Viona sambil meminta kunci pada Rendi.


Entah karena refleks atau apa. Rendi seketika langsung memberikan kunci nya pada Viona tanpa menjawab terlebih dahulu ucapan Viona itu.


Tanpa berlama - lama, saat Rendi memberikan kunci itu untuk nya. Viona pun mengambil kunci itu. Sambil ia pun mengeluarkan suara nya.


"Nah gini dong bang, coba aja kaya gini dari tadi. Aku kan nggak perlu harus panggil abang berulang - ulang kali." kata Viona yang telah mengambil kunci dari Rendi.


Setelah kunci itu berada di tangan Viona. Viona lalu mulai membuka pintu dengan kunci tersebut.


Ceklek... Ceklek...


Dua kali Viona memutar kunci untuk membuka pintu. Setelah selesai ia pun mulai membuka pintu tersebut secara perlahan demi perlahan.


Saat pintu hampir terbuka sempurna. Rendi seketika langsung menutup lagi pintu tersebut.


"Lah, lah bang ko pintunya malah di tutup lagi. Kasian loh itu di luar ada yang ketuk - ketuk pintu terus."


"Hem... biar sama abang aja dek. Kamu duduk lagi aja di sana." kata Rendi meminta Viona untuk kembali duduk.


"Aku nggak mau bang, mau liat yang ketuk pintu aja siapa. Bolehkah bang aku liat."


"Dek duduk ya, biar sama abang aja."


"Hem... jadi aku nggak boleh liat."


"Iya dek"


"Ko gitu sih bang, aku janji deh nggak akan bicara hanya mau liat aja. Bolehkan." kata Viona dengan penuh harap agar Rendi mengizinkan nya.


"Maaf dek, adek duduk aja ya."


"Ih... nyebelin deh. Masa liat aja nggak boleh. Apa jangan - jangan itu pacarnya abang ya. Makannya abang takut kalau aku tiba - tiba ada di sini sama abang." kata Viona pada Rendi.


"Jangan aneh - aneh deh kamu dek. Sana duduk atau kamu mau abang berbuat sesuatu sama kamu."


"Coba aja kalau abang berani berbuat kaya gitu sama aku."


"Berani lah, kenapa harus takut."


"Masa, coba berbuat sesuatu sama aku."


"Kamu ya dek. Di bilangin malah nantangin kaya gini lagi. Cepet duduk lagi sana dek."


"Ih... iya iya aku duduk lagi. Abang nyebelin bikin kesel, emosi kan aku jadinya." kata Viona yang mengomel - ngomel sambil berjalan meninggalkan Rendi untuk kembali duduk lagi.


"Hahaha... ko kamu malah lucu sih dek. Pengen ku cubit deh pipi kamu itu dek. Lucu nya. Ya ampun Rendi jangan aneh - aneh deh. Dia itu anak orang ntar kalau orang tuanya marah gimana coba? hem... bener juga ya, aku kan ntar malah bingung mau bilang apa sama orang tua nya nanti. Apa lagi kalau ditanya kenapa cubit anak saya. Kan nggak lucu seorang Rendi di tanya seperti itu. Hem... bener banget. Ya udah deh sekarang aku buka pintu aja." kata Rendi berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Kemudian Rendi pun mulai membuka pintu. Perlahan demi perlahan pintu kini telah terbuka sempurna.


Terlihat disana sekretaris Reta membawa sesuatu di tangannya. Lalu sesuatu itu pun di berikan pada Rendi.


Viona pun melihat mereka berdua yang sedang berbicara. Lalu setelah itu Rendi pun mulai menutup pintu nya kembali dan membawa sesuatu yang di berikan sekretaris Reta.


"Dek lama nggak nunggu nya." kata Rendi yang kini telah ada di hadapan Viona.


"Lumayan bang"


"Lumayan apa dek?"


"Lumayan lama bang, kalau boleh tau itu siapa nya abang."


"Kenapa gitu dek?"


"Pengen tau aja bang. Ya udah kalau abang nggak mau kasih tau juga nggak papa."


"Bukan gitu dek abang bukannya nggak mau kasih tau. Tapi abang pengen tanya aja, kenapa kamu pengen tau dia siapa."


"Oh... ya udah bang lupain aja."


"Dia sekretaris abang namanya Reta." kata Rendi memberitahukan pada Viona.


"Oh... aku kira pacar abang."


"Bukan dek"


"Ko gitu sih dek"


"Ya memang seharusnya kaya gitu bang."


"Ya udah deh abang langsung bicara. Tapi setelah makan ya dek. Kamu mau ikut makan nggak."


"Emangnya abang nggak sarapan dulu di rumah."


"Sarapan sih dek, tapi pengen makan ini aja. Temenin ya dek."


"Nggak bang, aku udah kenyang."


"Hem... kalau gitu minum ini dulu deh kamu dek. Pasti haus kan dari tadi panggil - panggil qbang terus." kata Rendi memberikan minum untuk Viona.


Viona lalu menunjukkan ekspresi wajah yang merasa aneh dengan perlakuan Rendi untuk nya ini.


Membuat Rendi yang melihat ekspresi aneh pada wajah Viona langsung berucap lagi pada Viona.


"Tenang dek, minumannya nggak abang kasih apa - apa ko. Kalau kamu nggak percaya abang langsung minum, minumannya."


"Bukan gitu bang, tapi aku aneh aja liat sikap abang kaya gini."

__ADS_1


"Ko aneh sih dek"


"Ya karena memang aneh bang, biasanya juga nyebelin. Eh sekarang malah beda gitu."


"Oh jadi karena itu, abang kira karena kamu takut abang masukin sesuatu ke minumannya. Eh... tapi ko abang di bilang nyebelin sih dek."


"Ya kan abang memang nyebelin."


"Ngangenin juga nggak dek." kata Rendi seketika malah berkata seperti itu pada Viona.


"Sejak kapan bang orang nyebelin bisa bikin kangen."


"Sejak kamu ketemu abang"


"Ko gitu sih bang"


"Ya memang itu kenyataannya dek, kamu kangen kan sama abang yang nyebelin ini."


"Jawab jujur ya bang aku nggak kangen sama sekali sama abang, bahkan buat ketemu sama abang saat ini aku terpaksa."


"Ya ampun dek kamu jujur banget bicaranya"


"Hem... soalnya tadi ada yang bilang jujur lebih baik dari pada berbohong. Kurang lebih kaya gitu kata orang yang bilang nya."


"Hahaha... kamu masih ingat dek."


"Ya masih dong bang, abang kan bicaranya juga nggak dari satu minggu lalu kan. Jadi masih inget lah."


"Bisa aja kamu bicara nya dek"


"Vio kan memang kaya gitu bang orang nya."


"Iya deh iya percaya."


"Hem"


"Dek temenin ya, makan juga."


"Nggak bang, aku minum aja."


"Nggak akan habis loh dek ini makanannya kalau hanya abang aja yang makan nya. Bantuin ya dek. Dua porsi itu bisa buat abang kekenyangan. Temenin ya." kata Rendi masih mencoba membujuk Viona.


"Hem... ya udah deh bang, walau sebenernya aku juga udah kenyang sih." kata Viona menjawab ucapan Rendi.


"Ya udah nggak papa dek, setidaknya kamu makan dulu aja ini. Abis nggak abis kamu kan udah temenin abang makan." kata Rendi menjawab ucapan Viona.


"Iya bang" kata Viona menjawab ucapan Rendi dengan singkat.


Kini diantara mereka berdua pun tak ada lagi yang berbicara. Karena saat ini mereka berdua sedang memakan makanan nya.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2