
Entah apa yang saat ini mamah Vina pikirkan. Apakah mamah Vina sedang memikirkan untuk memaafkan Galang atau ia malah sedang berpikir untuk memberikan hukuman lagi pada Galang.
Hal ini pun akhirnya membuat Galang yang mulai tak tenang kembali mengeluarkan suara nya pada mamah Vina.
"Mah, mamah mau maafin kakak kan." Kata Galang pada mamah Vina.
Sebelum menjawab ucapan Galang mamah Vina melihat Galang terlebih dahulu.
Lalu setelah melihat Galang, mamah Vina pun mulai mengeluarkan suara nya.
"Mamah akan maafin kakak, kalau kakak mau..." Kata mamah Vina yang sengaja tak meneruskan lagi ucapannya.
Membuat Galang yang sedari tadi menunggu mulai tak sabar lagi dengan jawaban mamah Vina.
"Mau apa mah? ko malah diem nggak di terusin lagi." Kata Galang pada mamah Vina.
"Mau nerima hukuman dari mamah, baru setelah itu mamah maafin kakak." Kata mamah Vina menjawab ucapan Galang.
"Mah jangan kasih hukuman lagi ya. Kakak tau kakak salah tapi kakak mohon sama mamah buat nggak kasih hukuman sama kakak. Ya mah ya jangan kasih hukuman sama kakak." Kata Galang dengan memelas memohon pada mamah Vina.
"Ya, kalau gitu mamah nggak akan maafin kakak, kalau kakak nggak mau nerima hukuman dari mamah." kata mamah Vina pada Galang.
"Jangan gini dong mah, em... ya udah deh hukuman nya apa mah? tapi adek di hukum juga kan mah." Kata Galang bertanya pada mamah Vina.
"Lah kak, ko malah bawa - bawa adek sih. Adek kan nggak punya salah kenapa harus di hukum juga." Kata Viona yang tak terima Galang malah ingin membawa dirinya untuk di hukum juga sama mamah Vina.
"Ya kamu juga kan ikut terlibat dek, jadi ya secara otomatis kamu juga harus dapet hukuman."
"Tapi kan adek nggak..."
"Udah, udah kalian ini ya malah berdebat lagi. Pusing lama - lama kalau deket sama kalian berdua." Kata mamah Vina yang seketika menghentikan ucapan Galang dan Viona.
Baik Viona dan Galang mereka berdua kini hanya terdiam tak ada yang mengeluarkan suara nya lagi.
Karena saat ini mereka sedang sibuk berbicara di dalam hatinya. Setelah mamah Vina berkata seperti itu pada mereka.
"Adek nih, jadi makin dimarahin deh sama mamah. Kira - kira hukumannya apa ya? jadi mulai takut nih, kalau hukumannya malah yang aneh lagi gimana?." Kata Galang yang berbicara di dalam hatinya.
"Argh... kakak ini makin nyebelin. Sekarang kan aku ada kemungkinan besar bakalan dapet hukuman juga. Argh... argh... sebel... sebel... deh." Kata Viona yang mulai kesal saat ia berbicara di dalam hatinya terhadap Galang.
Ternyata setelah mamah Vina menghentikan ucapannya. Ia pun mulai memperhatikan Viona dan Galang yang saat ini sama - sama terdiam dan menundukkan kepalanya.
Sehingga mamah Vina pun juga mulai berbicara di dalam hatinya.
"Pinter banget nih adek sama kakak terdiam dan menundukkan kepala. Seperti yang bener - bener merasa bersalah padahal yang sebenernya nih pasti kakak sama adek lagi bicarain sikap aku ke mereka. Hem..." Kata mamah Vina di dalam hatinya.
Setelah mamah Vina berbicara di dalam hatinya, ia pun mulai mengeluarkan suara lagi pada Viona dan Galang.
"Kak, dek kenapa malah diem dan menundukkan kepala? nggak mau jawab ucapan mamah atau gimana?" Kata mamah Vina pada mereka berdua.
Galang yang mendengar ucapan mamah Vina seketika ingin menjawab ucapan mamah Vina.
__ADS_1
Namun, aneh nya di saat ia ingin mengeluarkan suaranya. Tiba - tiba ia menjadi bingung jawaban apa yang harus ia berikan untuk ucapan mamah Vina tersebut.
Mungkin ini terlihat konyol tapi inilah yang Galang rasakan saat ini.
Bahkan Galang yang mengalaminya pun juga tidak tahu sama sekali kenapa hal ini bisa terjadi pada dirinya.
Yang biasanya dalam situasi apapun ia pasti menjawab ucapan seseorang yang berbicara dengannya.
Tetapi saat ini situasinya sangat berbeda bahkan ia pun sulit memahami apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Apa mungkin karena ia takut salah bicara. Hingga besar kemungkinan hukuman dari mamah Vina akan membuat dirinya menjadi kesulitan lagi.
Atau karena hal lainnya. Entahlah Galang pun tak tahu apa yang ia rasakan saat ini.
Sedangkan Viona yang melihat Galang malah terdiam menjadi greget dengan tingkah kakaknya ini.
"Ih... kakak ko malah diem sih. Bukannya langsung jawab ucapan mamah. Ini ko malah diem kaya patung. Masa iya aku yang harus jawab duluan ucapan mamah. Ntar kalau aku salah bicara gimana? kan nanti aku jadi bingung sendiri buat ambil solusi dari ucapan yang salah itu. Kak ayolah bicara duluan jawab ucapan mamah nya." Kata Viona di dalam hatinya berbicara mengenai sikap Galang saat ini.
"Kak ayolah bicara jangan diem terus." Kata Viona lagi di dalam hatinya setelah menunggu sekitar satu menit Galang masih tetap terdiam.
Sementara mamah Vina yang menunggu Galang dan Viona menjawab ucapannya itu. Kini mulai merasa bosan karena tak ada yang berniat untuk menjawab ucapan darinya itu.
"Ini ko kakak sama adek malah makin diem sih. Bukannya langsung jawab. Eh... malah pada diem." Kata mamah Vina yang melihat Viona dan Galang malah terdiam.
"Oke kalau dalam hitungan tiga kalian berdua nggak jawab ucapan mamah. Mamah langsung kasih hukuman sama kalian." Kata mamah Vina lagi di dalam hatinya.
Kemudian ia pun mulai menghitung di dalam hatinya.
"Satu.."
"Tig..."
Belum sempat kata tiga itu di ucapakan oleh mamah Vina. Seketika terdengar suara, hingga membuat mamah Vina tak jadi mengucapkan kata tiga tersebut.
"Mah, kak, dek ko malah pada diem - dieman kaya gini. Lagi ada masalah apa sampai seperti ini." Inilah suara yang terdengar oleh mamah Vina yang ternyata berasal dari papah Gilang.
Mamah Vina kemudian mulai melihat ke sumber suara tersebut tepatnya mamah Vina langsung melihat ke arah papah Gilang yang sedang berjalan mendekati mereka saat ini.
"Em... ini pah mereka berdua buat ulah lagi. Terus jadi gini deh sikap nya." Kata mamah Vina menjawab ucapan papah Gilang.
"Buat ulah maksudnya mah buat ulah kaya gimana?"
"Ya itu pah kebiasaan mereka."
"Kebiasaan yang mana mah."
"Masa nggak tau sih pah, kebiasaan mereka loh."
"Kebiasaan yang mana sih mah? ini papah beneran nggak tau sama sekali."
"Ya ampun pah, masa nggak tau sih. Itu loh yang mereka berdua selalu berdebat."
__ADS_1
"Hem... berdebat apa lagi sih mereka mah."
"Entahlah pah, mamah juga nggak tau, tapi yang mamah tau mereka ini udah buat mamah pusing denger ucapannya itu."
"Kak, dek berdebat tentang apa sih kalian? kalian nggak kasian apa liat mamah jadi pusing."
"Em... itu anu pah, em... kakak sama adek nggak bermaksud buat mamah pusing ko." Kata Galang yang saat ini sudah mulai mengeluarkan suara nya lagi.
"Lah terus kalau gitu, kenapa kakak sama adek malah berdebat?" kata papah Gilang menjawab ucapan Galang.
"Itu karena kakak sama adek nggak sengaja berdebat ko pah. Jadi ini nggak direncanain sama sekali kalau kakak sama adek malah jadi berdebat." kata Galang yang malah buat pusing papah Gilang dengan jawabannya itu.
"Ya ampun kak, kamu ini ya bener - bener jawab nya itu. Bikin orang pusing tau nggak sih. Udah lah sekarang kakak sama adek langsung ke atas aja. Selesain perdebatan kalian pusing lama - lama bicara sama kamu kak. Sana pergi ke atas." kata papah Gilang menjawab ucapan Galang sambil menyuruh Galang dan Viona untuk pergi meninggalkan mamah Vina dan dirinya.
Namun, selain itu papah Gilang sempat mengedipkan matanya sebanyak tiga kali. Entah itu kode atau apa.
Tapi yang jelas baik Viona mau pun Galang sempat melihat hal tersebut.
Setelah Galang melihat kedipan dari papah Gilang. Ia awalnya ingin bertanya mengenai papah Gilang yang berkedip tersebut.
Tetapi hal itu tak terjadi karena Viona tiba - tiba menarik salah satu tangannya untuk pergi meninggalkan papah Gilang dan mamah Vina.
"Ayo kak kita ke atas aja. Pah, mah adek sama kakak ke atas dulu ya." kata Viona sebelum pergi meninggalkan papah Gilang dan mamah Vina.
"Iya dek, sana selesain perdebatan kalian ya." kata papah Gilang menjawab ucapan Viona.
"Iya pah" kata Viona menjawab ucapan papah Gilang dengan singkat.
Setelah itu, Galang dan Viona pun mulai melangkahkan kaki menuju ke atas.
Di perjalanan menuju ke atas, Galang yang masih penasaran mengenai kedipan dari papah Gilang. Mulai bertanya pada Viona.
"Dek" kata Galang memanggil Viona.
"Iya kak, apa?" kata Viona menjawab panggilan Galang.
"Barusan kamu liat papah mengedipkan matanya nggak, sebanyak tiga kali kalau nggak salah." kata Galang yang mulai bertanya pada Viona.
"Liat" kata Viona hanya menjawab satu kata tersebut.
"Tau nggak dek itu karena apa, papah malah mengedipkan matanya seperti itu." kata Galang lagi pada Viona.
"Entahlah kak, adek juga nggak tau. Tapi yang adek tau papah menyelamatkan kita dari hukuman mamah dengan menyuruh kita langsung ke atas." kata Viona menjawab ucapan Galang sesuai yang ia rasakan saat ini.
"Hem... gitu ya dek. Tapi setelah kakak pikir - pikir lagi ucapan kamu itu ada benernya dek. Apa itu barusan kode ya dek, papah mau bantu kita." kata Galang menjawab ucapan Viona sambil bertanya juga pada Viona.
"Mungkin bisa di bilang kaya gitu."
"Kalau beneran kaya gitu, kita harus berterima kasih ke papah dek. Jangan sampai nggak."
"Hem... iya kak, nanti kita berterima kasih ke papah setelah mamah nggak ada di samping papah. Bisa - bisa kalau mamah ada di samping papah, ntar papah juga dapet hukuman dari mamah karena bantuin kita."
__ADS_1
"Ye... itu mah kakak juga tau dek, masa iya kita berterima kasih di depan mamah. Yang ada bukannya di jawab sama papah. Tapi nanti di omelin sama mamah." kata Galang menjawab ucapan Viona.
To be continued