
"Em... tadi aja bilang nya mau naik angkutan umum terus mamah di bilang bercanda juga. Giliran udah di turutin. Baru cepet jawab nya." kata mamah Vina pada Galang.
"Hehehe... mamah bisa aja. Ya udah mah kakak berangkat sekarang ya, dianterin sama adek."
"Hem... iya sana. Hati - hati di jalan nya. Jangan ngebut bawa motornya. Terus helm nya jangan lupa di pake."
"Siap mamah ku" kata Galang sambil memberikan hormat pada mamah Vina.
"Ya udah sana berangkat."
"Ayo dek, jangan duduk terus di sana."
Viona yang masih duduk di meja makan langsung berdiri saat Galang memanggil dirinya.
"Hem... iya kak"
Namun, sebelum ia melangkahkan kaki, ia pun berpamitan terlebih dahulu pada mamah Vina dan papah Gilang.
"Mah, pah, adek pergi anterin kakak dulu ya. Assalamualaikum."
"Iya dek, Waalaikumussalam." kata mamah Vina dan papah Gilang secara bersamaan.
Setelah Viona mendengar jawaban dari mamah Vina dan papah Gilang. Ia pun mulai melangkahkan kakinya.
Ketika ia sudah berada di samping Galang. Lalu ia berbicara terlebih dulu pada Galang.
"Kak yuk berangkat sekarang atau mau nunggu dulu aja."
"Sekarang dong dek, kalau nunggu ntar kakak datang ke kantornya telat."
"Ya udah kalau gitu. Yuk berangkat."
"Yuk" kata Galang yang langsung pergi meninggalkan Viona.
"Lah kak, ko adek nya di tinggal." kata Viona yang protes pada Galang.
"Karena kamu lama dek, ya udah deh kakak tinggal." kata Galang menjawab ucapan Viona dengan santainya.
"Tunggu deh kak, adek lama darimana nya ya."
"Menurut kamu dek darimana nya" kata Galang bukannya menjawab ucapan Viona tapi Galang malah bertanya pada Viona.
"Ih... gini nih kalau bicara sama kakak. Ya udah deh lupain aja. Tapi tunggu adek dong kak. Jangan cepet - cepet jalannya."
"Hem... ini kakak udah pelan jalannya. Bahkan udah kaya jalan siput." kata Galang yang saat ini telah memelankan langkahnya.
"Hahaha... nggak pelan kaya gitu juga kali kak. Kalau kakak jalannya terus kaya gitu. kakak beneran akan terlambat datang ke kantor."
"Nggak akan dek kalau nanti setelah kakak naik motor. Kakak akan bawa motor nya dengan kecepatan tinggi biar cepet sampai."
"Tunggu, tunggu kak maksudnya kakak. Kakak yang akan bawa motornya."
"Iya lah dek siapa lagi kalau bukan kakak. Masa iya kamu."
"Aku kira aku kak yang bawa motornya."
__ADS_1
"Nggak lah kakak aja."
"Kalau kamu dek, bawa motornya pas pulangnya aja."
"Hem... iya deh kak"
Mereka berdua pun kini tak berbicara lagi. Sampai akhirnya mereka telah sampai di dekat motor yang akan mereka gunakan. Baru di sinilah Galang mengeluarkan suaranya lagi pada Viona.
"Dek, mana kunci motornya."
"Em... bentar kak (Viona lalu mengambil kunci motornya yang ia simpan di saku celana yang saat ini ia kenakan) ini kak kunci nya." kata Viona yang telah mengambil kunci motornya. Lalu ia pun langsung memberikan kunci tersebut pada Galang.
Galang kemudian mengambil kunci yang di berikan Viona itu pada dirinya. Tanpa menunggu lama kini motor pun telah siap untuk di gunakan.
"Yuk dek langsung naik"
"Iya kak"
"Itu helm nya di pake dulu."
"Nanti aja kak pas di jalan."
"Sekarang jangan nanti - nanti."
"Iya deh iya, nih aku pake." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Nah kalau udah dipake kaya gini kan. Kakak bisa langsung berangkat."
"Ya udah ayo berangkat."
Motor pun telah pergi meninggalkan rumah untuk menuju ke kantor. Galang yang melajukan motor dengan kecepatan tinggi membuat Viona yang berada di belakangnya mengomel.
"Ih... kak jangan ngebut. Tadi kan mamah bilang jangan ngebut ko kakak malah ngebut kaya gini. Kak pelanin kecepatan nya. Kak... kak... ih... nyebelin banget sih."
"Bawel banget sih dek kamu. Nih udah kakak turunin kecepatannya."
"Tapi masih ngebut kak kalau kaya gini. Turunin sedikit lagi coba."
"Ini tuh udah pelan dek masa iya harus diturunin lagi."
"Itu sih menurut kakak, lah beda lagi kalau buat aku."
"Ya udah lah segini aja."
"Turunin nggak kak kecepatan nya atau mau aku pukul helm nya kakak kalau kecepatan nya nggak kakak turunin lagi."
"Em... jadi kamu mau buat kakak takut nih, tapi emangnya kamu berani dek pukul helm kakak."
"Berani siapa bilang nggak berani."
"Ya udah coba kamu pukul."
Viona lalu tanpa berpikir lagi langsung memukul helm yang digunakan Galang saat ini.
"Aduh dek sakit tau, kakak kira kamu nggak akan pukul helm kakak. Eh... malah dipukul lagi."
__ADS_1
"Ya kan barusan kakak yang bilang pukul, ya aku langsung pukul aja. Lagi pula kakak yang suruh aku kan. Jadi jangan salahin aku."
"Iya sih emang kakak yang bilang. Tapi itu tuh kakak cuman... em... ya udah deh lupain aja. Nih kakak udah turunin kecepatan nya jadi jangan pukul helm kakak lagi."
"Nah kalau segini kan nggak terlalu ngebut dan nggak terlalu pelan juga. Pas deh kecepatannya."
"Hem" kata Galang menjawab ucapan Viona dengan deheman saja.
Sementara di rumah Rendi. Tak jauh berbeda dengan apa yang Viona alami di rumah nya.
"Pagi mah, pagi pah" kata Rendi pada mamah Reni dan papah Rudi.
"Pagi juga bang" kata mamah Reni dan papah Rudi.
"Lah bang ko tumben bang udah siap kaya gini. Kemarin aja kesiangan. Ini masih pagi udah siap aja." kata mamah Reni yang heran melihat Rendi sudah siap jam segini.
"Abang lagi semangat kerja mah hari ini." kata Rendi menjawab ucapan mamah Reni.
"Oh jadi kemarin Abang nggak semangat kerjanya. Makannya bangunnya siang, bener kaya gitu bang." kata papah Rudi yang ikut dalam pembicaraan.
"Em... nggak gitu pah, kemarin Abang semangat juga ko. Tapi karena Abang tidurnya terlalu malem jadi bangun nya kesiangan deh." kata Rendi menjawab ucapan papah Rudi.
"Oh jadi karena itu, emangnya semalem Abang nggak tidur terlalu malem lagi gitu." kata papah Rudi lagi pada Rendi.
"Nggak pah, jadi sekarang abang bangunnya pagi."
"Udah pah abangnya jangan terus di ajak bicara. Sekarang lebih baik kita langsung sarapan dulu aja." kata mamah Reni pada papah Rudi.
"Hem... iya deh mah. Ayo kak duduk." kata papah Rudi menjawab ucapan mamah Reni dan berkata juga pada Rendi.
"Iya pah" kata Rendi menjawab ucapan papah Rudi dengan singkat.
Setelah Rendi duduk bergabung bersama mamah dan papah nya. Tanpa menunggu lama mereka pun kini mulai memakan apa yang telah mereka ambil.
Beberapa menit kemudian mereka bertiga telah selesai sarapan.
"Pah, mah, abang langsung berangkat ke kantor ya."
"Ko cepet banget bang." kata mamah Reni pada Rendi.
"Em... biar di bilang rajin sama papah, jam segini udah berangkat kerja mah." kata Rendi menjawab ucapan mamah Reni.
"Emangnya Abang mau di bilang kaya gitu sama papah." kata papah Rudi pada Rendi.
"Hehehe... iya dong pah, Abang kan ingin papah bilang kaya gitu."
"Hem... ya udah kalau gitu papah bilang nih. Abang rajin banget berangkat ke kantor pagi - pagi kaya gini." kata papah Rudi pada Rendi.
"Papah bisa aja. Tapi papah ini sungguh luar biasa selalu dukung dan selalu turutin apa yang aku mau dari dulu sampai sekarang."
"Itu kan memang yang harus papah lakuin, selagi itu tak membuat Abang melakukan hal yang salah papah selalu dukung dan turutin bukan." kata papah Rudi pada Rendi.
"Iya pah, makasih ya papah udah selaku dukung Abang dan turutin apa yang Abang mau."
"Iya bang" kata papah Rudi menjawab ucapan Rendi.
__ADS_1
To be continued