
Rendi yang mendengar mamah Reni menangis dan berkata seperti itu pada dirinya. Seketika menjadi panik dan serba salah.
"Em... mah ko bicara gitu ke abang." Sehingga hanya kata inilah yang bisa Rendi keluarkan untuk mamah Reni.
"Ya kan, abang memang kaya gitu ke mamah. Hiks... hiks... hiks...."
"Ayolah bang bilang setuju kek, iya kek, oke. Kenapa lama banget sih bang. Udah capek nih mamah nangis kaya gini. Mana harus meyakinkan lagi." Kata mamah Reni di dalam hatinya setelah berkata pada Rendi.
"Abang nggak kaya gitu mah. Abang tuh sayang sama mamah dan selalu ngertiin mamah ko." Kata Rendi menjawab ucapan mamah Reni.
"Ta...pi... sekarang, hiks... abang nggak ngertiin apa yang mamah inginin dari abang. Hiks... hiks... hiks..." Kata mamah Reni menjawab ucapan Galang dengan masih menangis.
"Mamah mau nya apa dari abang." Kata Rendi pada mamah Reni.
"Tuh kan, abang masih tanya kaya gitu ke mamah. Hiks... hiks... hiks..." Kata mamah Reni menjawab ucapan Rendi.
"Abang kan nggak ngerti mah yang di maksud mamah itu apa? makannya Abang tanya lagi ke mamah." Kata Rendi berkata apa adanya pada mamah Reni.
"Abang bisa nya alasan aja. Terus yang abang bisa apa? abang tau nggak sih, semenjak abang kehilangan wanita itu. Wanita yang udah buat abang harus sibuk pada pekerjaan dan mau kerja di kantornya papah. Semenjak saat itu, mamah udah kehilangan anak mamah yang dulu. Sebelum abang kenal wanita itu. Abang yang selalu cerita setiap hal ke mamah, tertawa lepas saat apa yang abang ceritain ke mamah buat abang tertawa, bahkan waktu bicara kita juga kalau belum satu jam tak akan berhenti. Sekarang semua itu tak ada lagi. Kenapa bang? Kenapa? Apa karena sekarang abang udah dewasa makan nya abang malu cerita ke mamah atau abang memang belum bisa move on dari wanita itu."
"Mah cukup, jangan di terusin lagi. Abang nggak mau mamah bahas tentang dia lagi. Abang udah lupain dia mah."
"Lupain kata kamu bang, lupain apa? Hah... apa?"
"Lupain dia yang udah pergi tinggalin abang. Oke abang akan penuhi keinginan mamah itu. Dalam waktu satu minggu, abang akan bawa seseorang ke rumah."
"Bener bang, apa yang abang bilang itu." Kata mamah Reni bertanya lagi pada Rendi untuk memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah sama sekali.
"Iya mah, tapi abang perlu waktu satu minggu untuk meyakinkan dia untuk abang bawa ke sini mah." kata Rendi menjawab ucapan mamah Reni.
"Oke tak masalah, waktu satu Minggu tak terlalu lama. Jadi mamah akan memberikan waktu itu dan akan menunggu." Kata mamah Reni menjawab ucapan Rendi.
__ADS_1
"Hem... ya udah kalau gitu. Abang pergi ke kantor dulu ya. Mamah juga udah setuju kan. Abang berangkat sekarang ya. Assalamualaikum." Kata Rendi mengakhiri percakapan dengan mamah Reni.
"Iya bang, wa'alaikumussalam"
Kemudian Rendi pun mulai pergi meninggalkan mamah Reni dan papah Rudi.
Sebelum Rendi pergi terlalu jauh, mamah Reni pun sempat berkata lagi pada Rendi.
Hingga membuat Rendi harus menghentikan langkahnya.
"Bang, semangat ya buat bujukin dia nya. Semoga berhasil bang." Kata mamah Reni dengan sedikit berteriak pada Rendi.
"Iya mah, makasih" kata Rendi menjawab ucapan mamah Reni.
"Hem" kata mamah Reni menjawab ucapan Rendi dengan deheman saja.
Rendi pun pergi setelah mendengar jawaban dari mamah nya barusan.
Tap... tap...
Tak lama setelah itu, Rendi pun telah sampai di luar rumah nya.
Terlihat di sana Bayu yang sudah membuka pintu mobil untuk ia masuk ke dalam nya.
Sehingga tanpa menunggu lama, Rendi pun bergegas memasuki mobil yang terbuka itu.
Setelah Bayu menutup pintu yang dibuka untuk Rendi, ia pun bergegas masuk ke dalam mobil juga.
"Tuan muda mau langsung pergi sekarang atau nanti." kata Bayu yang telah menutup pintu mobil.
"Besok Bay, ya sekarang dong Bay masa besok. Dan ya panggilannya jangan tuan lagi. Abang aja." kata Rendi yang sedikit terbawa emosi dengan pertanyaan Bayu pada dirinya.
__ADS_1
Bayu yang mendengar suara Rendi seperti ini. Sempat kaget di buat nya. Karena ini tak seperti biasanya Rendi bersikap emosi seketika saat di tanya hal yang sama oleh Bayu.
"Ya ampun kaget aku, bang Rendi ini kenapa ya? ko malah jadi emosi gini. Aku kan tanyanya biasa aja. Tapi ko malah di jawab kaya gini. Jadi takut juga liat bang Rendi kalau emosi kaya gini. Apa aku salah bertanya kali ya. Hingga buat bang Rendi bersikap seperti ini." kata Bayu di dalam hati dan pikirannya.
Rendi yang melihat Bayu malah terdiam dan tak ada pergerakan untuk menjawab ucapannya. Kini mulai mengeluarkan suara nya lagi.
"Bay ko kamu malah diem. Kapan jalannya? ntar saya telat lagi." kata Rendi pada Bayu.
Dan suara Rendi ini pun langsung membuat Bayu menjawab ucapan nya itu.
"Eh... iya tu... em... maksudnya bang. Maaf barusan saya malah terdiam. Saya langsung berangkat sekarang ko." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
Selain itu, mobil pun pergi meninggalkan rumah Rendi menuju kantor.
Sementara di dalam rumah Rendi, mamah Reni yang berhasil dalam drama nya itu pun merasa senang dan bahagia. Akhirnya dramanya itu berjalan sesuai yang ia inginkan.
"Ah... pah, mamah seneng banget. Bentar lagi punya temen bicara. Tapi pah, menurut papah abang beneran akan bawa seseorang ke sini atau nggak ya."
"Em... sedikit kurang yakin juga sih mah. Papah antara percaya sama nggak. Mamah barusan bisa liat sendiri kan, abang kaya orang yang bingung gitu. Jadi kasian juga liat abang kaya gitu tadi."
"Ko gitu sih pah, ah... papah matahin harapan mamah. Dukung dong pah, biar cepet abang bawa seseorangnya ke sini."
"Bukan papah nggak dukung mah. Kalau masalah dukung, papah jadi nomor satu yang dukung nya mah. Tapi karena papah sedikit kurang yakin abang bisa bawa seseorang itu. Jadi ada sedikit keraguan gitu."
"Ye... itu mah sama aja. Papah ujung - ujungnya masih setengah dukungnya juga. Harus full dong pah yakin kalau abang bisa bawa seseorang itu ke rumah."
"Iya deh papah dukung abang sepenuhnya." Kata papah Rudi menjawab ucapan mamah Reni.
"Nah, ini baru bener pah" kata mamah Reni menjawab ucapan papah Rudi.
"Iya deh iya mamah paling jago kalau soal bujuk membujuk. Sampai abang aja langsung bilang oke sementara papah juga sama tak jauh beda sama abang."
__ADS_1
"Hehehe... papah ini bisa aja."
To be continued